Biogas

dari Kotoran Sapi
Jum’at, 21 September 2007 | 21:13 WIB

TEMPO Interaktif, Donggala:

Bahan bakar pengganti minyak tanah ini dikembangkan oleh kelompok tani Pasanggani Limboro. Mereka bekerja sama dengan Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah melalui Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi yang dibiayai Asian Development Bank.
Tenaga teknisi biogas Limboro, Ahyar, mengatakan biogas itu berasal dari empat ekor sapi yang dikandangkan. Tiap sapi menghasilkan 10 kilogram kotoran, sehingga tiap hari tersedia 40 kilogram tahi sapi yang siap diolah menjadi biogas.
Pria 35 tahun itu mengatakan cara pembuatan gas itu lumayan gampang. Tiap pagi kotoran dikumpulkan dalam bak penampung dan dicampur dengan satu ember air, lalu campuran itu dialirkan ke dalam bak penampung dari plastik tebal berkapasitas 2 ton. Gas yang dihasilkan dialirkan melalui pipa menuju plastik penampungan. Gas yang tertampung ini kemudian dialirkan ke kompor gas.

Bak penampungan pertama, kata Ahyar, berisi gas kasar. Sedangkan bak penampungan kedua berisi gas bersih siap pakai.
Dari proses ini, tak cuma gas yang bisa dihasilkan, tapi juga pupuk kompos. Ampas dari bak penampungan pertama bisa dijadikan pupuk. “Ini juga banyak peminatnya karena kami jual murah, yakni Rp 6.000 per lima kilogram,” katanya.
Saat ini sudah tiga rumah yang yang memakai gas dari tahi sapi itu. Penghematan jelas terasa bagi penggunanya. Setelah menggunakan biogas ini, istri Ahyar, yang sebelumnya butuh 20 liter minyak tanah tiap bulan, kini cukup membeli dua liter. “Kami bisa menghemat minyak tanah,” katanya.
Selain ibu rumah, warga desa lainnya ikut senang. Biogas memiliki empat faedah, yaitu sapi tak lagi berkeliaran di jalan-jalan, karena dikandangkan, dan menghasilkan pupuk. Manfaat lain adalah membantu program penggemukan sapi serta meningkatkan harga sapi dua kali lipat karena sudah gemuk.
Rencananya, bak penampungan akan dibuat di beberapa tempat agar warga lainnya dapat menikmati gas itu. “Beberapa desa tetangga dan kecamatan lain di Donggala minta diajari membuat gas dari tahi sapi ini. Cuma kendalanya, kompor gas tidak tersedia karena perlu kompor khusus,” kata Ahyar.
Anggota staf BPTP Sulawesi Tengah, Cahya Haerani, mengatakan teknologi biogas ini merupakan hasil rekayasa teknologi Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian. Transfer teknologi ini cocok diterapkan di Limboro karena memiliki banyak ternak sapi. Untuk mengatasi masalah kompor, kini sudah ada bengkel yang akan memproduksi. “Mudah-mudahan daerah lain bisa melakukannya untuk menghemat minyak tanah,” kata Cahya.

Darlis

About these ads

38 Komentar

  1. aji said,

    Desember 29, 2007 at 7:06 am

    saya adalah perternak sapi perah: dengan harga minyak tanah dan kelangkaan, untuk itu saya mohon bantuannya untuk memberikan bagan/sketsa gambar kompor bio gas tersebut. saya berharap untuk membantu kepada saya karna di desa kami sangat sulit sekali mendapatkan minyak tanah. sebelum dan sesedahnya kami ucapakan terima kasih

  2. tolong saya juga menginginkan bagamana cara membuat bio gas dr ternak.karena didesa kami banyak peternak sapi dan limbahnya masih belum dimanfaatkan secara benar.kami menginginkan gambar n cara membuat tempat bio gas tersebut? said,

    Februari 27, 2008 at 5:50 am

    semoga kliping ini bermanfaat unt semua orang,karena sangat membntu perekonomian sekarang.

  3. wandy purnomo said,

    Maret 9, 2008 at 3:08 pm

    saya mohon bantuannya untuk memberikan bagan/sketsa gambar kompor bio gas tersebut. saya berharap untuk membantu kepada saya karna di desa kami sangat sulit sekali mendapatkan minyak tanah. sebelum dan sesedahnya kami ucapakan terima kasih

  4. hehe said,

    Maret 29, 2008 at 3:44 am

    Please…cepet kirim gimana cara termudah ngebuat biogas. Butuh bgt nih, buat tugas

  5. klipingut said,

    Maret 29, 2008 at 8:33 am

    Tolong baca : Biogas dari Bungkil Biji Jarak Pagar, Inovasi Terbaru dari Teknik Kimia ITB di

    http://my-curio.us/wp-admin/post.php?action=edit&post=631

    )
    1. Pengadaan Alat biogas Limbah Tahu pada Kegiatan Pengembangan Teknologi biogas Limbah Tahu

    2. Pengadaan Alat Percontohan Demonstrasi Pemanfaatan biogas di Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato

    3. Alat Percontohan Demonstrasi Pemanfaatan biogas di Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango

    4. Perancangan, Pembuatan dan Pengujian Sistem PLTG Berbasis Turbocharger Senagai Pembangkit Daya Listrik Berbahan Bakar biogas

    5. Eksplorasi Pemanfaatan Tumbuhan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) Sebagai Biofertilizer, Animal Feed, biogas, dan Pulp

    di :

    http://www.lppm.itb.ac.id/search.html?q=biogas

    detail hubungi :

    http://www.lppm.itb.ac.id/detail_proyek.html?id_proyek=2041

    http://www.lppm.itb.ac.id/detail_proyek.html?id_proyek=3017

    http://www.itb.ac.id/contact/index.html?to=reporter

  6. felix said,

    Maret 31, 2008 at 3:01 am

    bisakah menggunakan tai babi?

    sya minta tolong di kirimkan skema dari pembuatan biogas ini dan kompornya di beli dimana?

    Terima Kasih

  7. Bambang Tanto said,

    April 9, 2008 at 10:47 am

    Salam Hormat,
    saya bambang , saya mau tanya bisakah kalau membuat biogas dari metana manusia, tapi dari spi-teng dirumah maksudnya? dan boleh saya di beri info lebih detail dan gambarnya untuk membuat biogas dari metana manusia di spiteng rumah? dan dimana ya kalau mau membeli kompor biogas.

    terima kasih,

    Bambang Tanto

  8. klipingut said,

    April 11, 2008 at 4:29 am

    Saya pernah nonton di TVswasta Bandung ada kerjasama antara pemerintah daerah dengan perusahaan swasta PT Mutiara dalam penerapan dan pengelolaan biogas untuk pengadaan energi di desa Cipageran, Cimahi.

    Coba hubungi pak Lurah Cipageran ,Danu A dan pak Aceng warga RW 12 di desa tersebut, karena mereka muncul di TV sebagai profil dalam pemanfaatan biogas untuk kesejahteraan desanya.

    Saya juga pernah lihat masyarakat aktivis biogas di desa Cihideung, Lembang. Coba dihubungi mungkin disana ada kompor yang dimaksud, lokasinya kalau dari arah bandung, jl. Sersan bajuri setelah kantor kelurahan Cihideung di sebelah kiri jalan sebelum ke the Peak.

  9. fachry said,

    Mei 26, 2008 at 3:04 am

    saya ingin buat gasbio untuk membantu orang tua,dan tetangga tetangga sekitar,kalo ada orang yang mau bantu aku,tolong hunungi saya,nih no aku 081913943678

  10. Darwel said,

    Juni 1, 2008 at 8:44 am

    mas tlg dong kasih penjelasan yang lebih detail cara penbuatan biogas nya, dan cara pembuatan alatnya, trims

  11. jian said,

    Juni 4, 2008 at 8:22 am

    maap kalau boleh saya minta gambar dan cara cara nya

  12. fauzi said,

    Juni 17, 2008 at 8:25 am

    saya sangat tertarik sekali untuk bisa memasyarakatkan biogas di daerah medan. tlg dong kirimkan ke email saya detail disertai gambar contoh. thx banget semoga bangsa kita bangkit trz d tengah keterpurukan yg tak bisa dihindari…

  13. Hasan said,

    Juni 24, 2008 at 5:55 am

    Mau nanya, knp bio gas tdk bisa menggunakan kompor biasa, mohon penjelasannya, trims.
    Hasan

  14. Wahid said,

    Juli 4, 2008 at 2:07 pm

    Mohon Kirim Skema Pembuatan Biogas Lengkap Dalam Format .Jpg
    Kirim Ke Ke Email saya Yah CJ_net@plasa.com
    Wahid Brebes MAKASI BANGET

  15. micki said,

    Juli 17, 2008 at 1:08 am

    tolong gambar membuat instalasinya

  16. m.h.akbar khan said,

    Juli 27, 2008 at 4:25 am

    tolong beritahu cara pembuatan biogas/bioetanol,dan juga alat-alatnya.ya…..
    terima kasih

  17. Sigit Mahendro said,

    Agustus 8, 2008 at 4:49 am

    begini mass,saya tuh dari jurusan Teknik Konversi Energi Politeknik Negeri Bandung,,,dalam waktu dekat ini saya akan menyusun TA (Tugas Akhir).
    Nah rencana yang akan saya jadikan TA adalah tentang biogas yang terbuat dari ampas tahu.
    beberapa pertanyaannya:
    1. Ampas yang dipakai ampas cair atau padat?
    2.cara pembuatannya?
    3.bila memakai biodigester,tolong dong saya minta lebih spesifik gambar dari biogigesternya!!
    4.jika ada perhitungannya tolong dilampirkan juga beserta rumus-rumus yang tersedia!!
    sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya, dan untuk balasannya ditunggu di emai saya.
    sekali lagi saya ucapkan terima kasih.

  18. agus said,

    Agustus 12, 2008 at 9:42 am

    bagus kali biogas ini untukdikembang kan di INA

  19. Handika said,

    Agustus 17, 2008 at 3:26 am

    Teknologi biogas ini tentu memerlukan beberapa ekor sapi dan alat alat pembuat gas namun bagaimana caranya supaya gas tersebut apakah dapat ditampung atau disimpan dalam sebuah tabung seperti halnya tabung gas elpiji

  20. tunjung sulistyo said,

    Agustus 23, 2008 at 3:36 pm

    saya minta gsmbar yang sederhan mengenai bio gas..kl bs dengan rincianya

  21. September 11, 2008 at 7:00 am

    Kepada yang terhormat Bapak/Ibu yang mengasuh rubrik ini, mohon saya dikirim atau diberitahu tentang gambar/skema instalasi dari biogas enceng gondok.dimohon secepatnya dikarenakan akan digunakan untuk bahan presentasi saya.
    Atas perhatian dan bantuannya, saya ucapkan terima kasih.

  22. AnNa said,

    September 19, 2008 at 6:30 am

    Yang Terhormat Bapak/Ibu pengelola rubrik ini.
    Saya mohon Bapak/Ibu berkenan mengirim artikel tentang bagaimana cara membuat biogas dari kotoran sapi, beserta gambar-gambarnya, untuk keperluan percobaan pembuatan biogas di tempat saya.
    Atas perhatian dan bantuannya diucapkan terima kasih.
    Hormat saya,

  23. Sofwat Sanjaya said,

    Oktober 29, 2008 at 12:24 pm

    saya ingin tahu tentang pembuatan biogas dengan memanfaatkan biji jarak sebagai bahan bakunya secara lengkap!
    tolong kirim ke email saya….
    thanks………

  24. aRHam said,

    November 6, 2008 at 12:43 pm

    saya mau lihat gambar proses pembentukan bio gas

  25. ujangdinar said,

    November 26, 2008 at 7:48 pm

    akang tolongin dah dimana yang ada bio gas di bandung tuh? klo bisa kasih alamat ma no telp nya saya dari tasik, tetangga ama saudara2 pengen banget kembangin di kampung saya kang..hubungi saya kang.. ujangdinar@yahoo.com

  26. evi wahyu harini said,

    November 28, 2008 at 4:33 am

    Saya punya beberapa ekor sapi. Tolong saya dikirimi cara pembuatan biogas plus bahan-bahan yang dibutuhkan

  27. klipingut said,

    November 30, 2008 at 12:42 pm

    Bagi mereka yang tertarik membuat biogas dan dan membutuhkan data desain instalasi biogas harap hubungi : kamase_ugm@yahoo.co.id bahkan mereka bersedia menjadi konsultasn membimbing, kerjasama yang detail dan serius.

  28. dadang said,

    Desember 31, 2008 at 8:34 pm

    dapatkah saya minta data disain instalasi biogas saya sangat kesulitan mencari minyak tanah.untuk memasak sehari hari

  29. yandri said,

    Januari 13, 2009 at 9:23 am

    saya sekarang sedang mencari tiori mengenai pembuatan bio gas dari eceng gondok yang menghasilkan gas untuk ke kompor?

    tolong krimkan literarurnya dan buku yang bisa d pelajari

  30. matha said,

    Februari 5, 2009 at 10:13 am

    saya pernah baca lokasi pembuatan biogas dari eceng gondok ada di Mrican yogyakarta. please help me, saya mau tau alamatnya yang jelas. atau kalo bukan di mrican yogya ya yang di yogya aja boleh. tolong kirim alamatnya ke email saya di atamilan@yahoo.com. tx yah atas bantuannya.

  31. ACED said,

    Februari 5, 2009 at 2:25 pm

    Sy jg ingin mengembangkan biogas enceng gondok.tolng kirim skema/gbr detailnya

  32. indra said,

    Februari 6, 2009 at 6:57 am

    bolehkah saya mengetahui cara2 menghasilkan biogas dari eceng gondok?

  33. ipong said,

    Maret 2, 2009 at 11:10 am

    halo… ada informasi tentang biogas dari eceng gondok gak?? perlu banget nih… and terus siapa ya yang pertama kali nemuinnya…..

    hehehe… sory ya… gak maksud nyuruh kok, nanya doang… mungkin bisa diskusi tentang biogas gitu… soalnya saya tertarik dengan teknologi yangramah lingkungan dan juga menghemat SDA….

    oke… thanks

  34. bayu aji saputro said,

    Maret 8, 2009 at 3:49 pm

    tolong dikirim skema instalasi untuk membuat biogas dari kotoran sapi….! trima kasih

  35. nurhayati said,

    Mei 21, 2009 at 5:15 am

    huh ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

  36. marijem said,

    Juli 22, 2009 at 7:36 am

    pemerintah tu nggak peduli. mbok ya para pejabat dinas turun kelapangan mengadakan penyuluhan dan mempasilitasi, biar para oknum masyarakat dan pejabat yang cari untung nggak berkeliaran.

  37. agus saputra said,

    November 17, 2009 at 11:53 am

    berapa persen penambahan bahan material organik perharinya dari berat awal bahan material organik?

    tlg kirim gambar buat biodigester lansung dari septi tank?
    maci,,,,

  38. wajib said,

    Juli 15, 2010 at 1:19 pm

    PEMBUATAN BIOGAS
    1. PENDAHULUAN

    Ketika seseorang berbicara mengenai biogas, biasanya yang dimaksud adalah gas yang dihasilkan oleh proses biologis yang anaerob (tanpa bersentuhan dengan oksigen bebas) yang terdiri dari kombinasi methane (CH4), karbon dioksida (CO2), Air dalam bentuk uap (H20), dan beberapa gas lain seperti hidrogen sulfida (H2S), gas nitrogen (N2), gas hidrogen (H2) dan jenis gas lainnya dalam jumlah kecil.
    Secara lebih singkat, biogas dapat diartikan sebagai “gas yang diproduksi oleh makhluk hidup”.
    Dalam artikel seri pertama ini penulis tidak akan menceritakan mengenai konsep konsep yang melatarbelakangi biogas secara mendalam untuk menghindari terlihat seperti text-book :). Akan tetapi disini penulis akan menceritakan dan mendokumentasikan pengalaman penulis mengenai pembuatan dan instalasi pembangkit (digester) biogas di areal Manglayang Farm yang menggunakan bahan baku kotoran sapi seperti yang telah penulis lakukan.
    Pembangkit yang kami buat adalah pembangkit biogas terbuat dari plastik polyethylene tubular dengan tipe pembangkit horizontal continous feed, biasa disebut juga tipe plug-flow, atau terkadang disebut juga sebagai model Vietnam karena dikembangkan terakhir disana.
    Pertimbangan kami mengadopsi tipe ini adalah: a. Biaya relatif rendah b. Instalasi relatif mudah c. Bahan serta alat yang digunakan dapat ditemukan di sekitar kota Bandung.
    Ada banyak tipe pembangkit biogas yang telah diciptakan dan dikembangkan. Tidak kurang dari Kolombia, Etiopia, Tanzania, Vietnam dan Kamboja telah mengembangkan pembangkit dengan harga murah, dengan tujuan utama mereduksi biaya produksi dengan menggunakan bahan bahan baku yang tersedia di lokal dan instalasi dan proses operasi yang sederhana. (Botero dan preston 1987; Solarte 1995; Chater 1986; Sarwatt et al 1995; Soeurn 1994; Khan 1996).
    Model yang digunakan ini berbasis dari model “red mud PVC” yang dikembangkan oleh Taiwan seperti dijelaskan oleh Pound et al (1981) yang kemudian lebih disederhanakan lagi oleh Preston dan kawan kawan untuk pertama kali di Etiopia (Preston unpubl.), dan Kolombia (Botero dan Preston 1987) dan terakhir dikembangkan di Vietnam (Bui Xuan An et al 1994).
    Tujuan utama kami melakukan instalasi pembangkit biogas di areal Manglayang Farm adalah bukan pencapaian produksi gas yang maksimal. Namun selain sebagai proses pembelajaran teknologi, juga untuk mendapatkan hasil keluaran dari pembangkit biogas yang merupakan pupuk organik dengan kualitas baik.

    2. PERSIAPAN INFRASTRUKTUR PEMBANGKIT
    Mari kita lihat konsep dasar alur proses produksi biogas.

    Gambar 1: Diagram Alur Proses produksi biogas
    Tahapan awal adalah mempersiapkan bahan baku organik yang dapat dicerna oleh bakteri dan mikroorganisme yang ada didalam pembangkit biogas. Dalam hal ini karena instalasi biogas dilakukan di areal peternakan sapi perah, bahan baku utama yang digunakan adalah kotoran sapi. Perlu diketahui, bahwa apabila yang menjadi tujuan utama dari instalasi biogas adalah pencapaian produksi gas yang optimal, kotoran sapi bukan bahan baku yang baik.

    Tahap selanjutnya adalah yang kami sebut dengan fase input. Di dalam fase ini dilakukan pengolahan terhadap bahan baku agar dapat memenuhi persyaratan yang telah kami tentukan sebelumnya yaitu:
    a. Filtrasi pertama.
    Target dari penyaringan ini adalah bahan baku tidak mengandung serat yang terlalu kasar. Serat kasar disini berarti sampah sampah atau kotoran kandang selain kotoran ternak, seperti batang dan daun keras, sisa batang rumput dan kotoran lainnya yang sebagian besar adalah sisa sisa pakan ternak yang terlalu kasar. Hal ini dapat menimbulkan scum/buih dan residu di dalam pembangkit yang dapat mengurangi kinerja dari pembangkit itu sendiri.
    b. Pencampuran dengan air dan pengadukan.
    Dilakukan pencampuran kotoran sapi dan air. Air sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme di dalam pembangkit sebagai media transpor. Oleh karenanya tahapan ini cukup krusial mengingat campuran yang terlalu encer atau terlalu kental dapat mengganggu kinerja pembangkit dan menyulitkan dalam penanganan effluent (hasil keluaran pembangkit biogas). Sebagai panduan dasar, campuran yang baik berkisar antara 7% – 9% bahan padat. Disini juga dilakukan pengadukan agar campuran bahan organik – air dapat tercampur dengan homogen.
    c. Filtrasi kedua
    Target kami dengan melakukan penyaringan tahap kedua adalah untuk memisahkan kotoran sapi sebagai bahan baku organik pembangkit dengan bahan anorganik lain yang lolos di saringan tahap pertama terutama pasir dan batu batu kecil. Proses ini cukup penting mengingat kandungan bahan anorganik (pasir) di dalam pembangkit tidak dapat dicerna oleh bakteri dan dapat menyebabkan residu di dasar pembangkit.
    d. Pemasukkan bahan organic
    Kami membuat semacam katup/keran sederhana agar proses pemasukkan bahan organik kedalam pembangkit dapat dilakukan dengan semudah mungkin.
    Memang cukup banyak parameter parameter yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pembangkit biogas ini (parameter dan syarat syarat lain seperti temperatur, rasio karbon – nitrogen, derajat keasaman dan lainnya mudah mudahan dapat kami singgung di tulisan selanjutnya). Nampaknya hal hal inilah yang menjadi kendala operasi dalam pemasyarakatan dan penggunaan pembangkit biogas secara masal di banyak negara.
    Target kami dalam melakukan desain pembangkit dan infrastruktur ini adalah pengerjaan dan operasi dapat dilakukan oleh anak kandang atau pegawai kebun. Sehingga proses proses yang rumit ini harus dibuat sesederhana mungkin dan tidak menambah beban pekerjaan pegawai lebih banyak.
    2.1 BAK MIXER
    Di dalam bak ini kotoran ternak dicampur dengan air untuk kemudian dialirkan menuju pembangkit. Ukuran bak pencampur yang kami buat adalah 50x50x50cm sehingga volume yang dapat ditampung dengan kapasitas maksimum 80% bak adalah 100 liter. Desain bak permanen dengan bahan semen dan batu bata.

    Gambar 2: Bak mixer
    Gambar 3: Bak mixer dengan screen terpasang
    Bak mixer ini memiliki celah miring di kedua sisinya sebagai tumpuan filter/screen untuk memisahkan serat yang terlalu kasar. Screen ini dapat diangkat untuk dibersihkan.
    Screen terbuat dari kawat ayam dengan mesh +/- 1cm. Sebelumnya kami sudah mencoba dengan mesh yang lebih rapat, namun ternyata kotoran sapi tidak dapat lewat mesh tersebut. Dengan mesh 1cm inipun kami masih merasa terlalu rapat. Pada gambar terlihat bahwa serat yang kasar tersangkut pada screen.
    Desain ini kami anggap masih belum cukup baik, karena untuk melakukan penyaringan, masih diperlukan effort yang besar untuk mengayak kotoran tersebut.

    Gambar 4: Proses pengayakan kotoran, masih membutuhkan usaha yang cukup keras.

    Di bagian belakang bak ini (arah kiri pada gambar 4) terdapat 1 buah lubang (¾”) untuk overflow apabila air terlalu penuh atau apabila bak terisi air hujan. Kemudian 1 lubang lagi (2”) untuk pencucian/drainase dan 1 lubang (PVC 4”) dengan sumbat untuk pengaliran bahan baku ke dalam pembangkit.

    2.2 PARIT PEMBANGKIT

    Pembangkit yang terbuat dari plastik polyethylene kami tempatkan semi-underground, setengah terkubur di dalam tanah. Untuk itu perlu dibuatkan semacam parit sebagai wadah agar pembangkit yang berbentuk tubular dapat disimpan dengan baik.
    Parit ini berukuran panjang 6m, lebar atas 95cm, lebar bawah 75cm, tinggi di ujung input adalah 85cm, dan tinggi di ujung output 95cm. Untuk lebih jelas, perhatikan skema berikut.

    Gambar 5: Skema parit pembangkit.

    (1) Dimensi Parit. (2). Bentuk parit yang cekung pada dasar, membentuk mangkok.

    Dimensi parit yang dibuat sangat tergantung pada dimensi pembangkit yang akan dibuat dan tentu ukuran plastik polyethylene (PE) yang tersedia di pasaran. Kami menggunakan plastik PE dengan lebar bentang 150cm, sehingga apabila membentuk tubular, diameternya sekitar 95cm. Kapasitas pembangkit yang kami buat kurang lebih 4000 liter. Parit ini memiliki inklinasi sekitar 2 – 3 derajat turun mengarah ke lubang output. Inklinasi ini dibuat untuk memaksimalkan volume pembangkit yang dapat diisi oleh bahan baku.
    Setelah dilakukan penggalian parit, pembentukan dinding parit dapat dilakukan dengan campuran semen-tanah, semen-batu bata, atau seperti yang kami lakukan, menggunakan campuran air dan tanah saja. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya produksi. Tanah galian dicampur dengan air dan diaduk aduk dengan cara di injak injak hingga didapatkan tanah yang memiliki tekstur liat. Setelahnya dengan menggunakan sendok tembok dapat dibuat dinding, persis seperti menembok dengan semen. Cara ini sangat murah dan sederhana, namun memang dari sisi ketahanan tidak baik, karena pengaruh suhu, dan campuran yang tidak homogen dinding tanah akan mudah retak dan pecah. Dinding ini perlu kami buat karena lokasi pembangkit berada di tanah urugan, sebaiknya memang parit dibuat di tanah bukan urugan, sehingga pembuatan dinding dapat memanfaatkan kekerasan tanah yang ada.

    Gambar 6: Parit pembangkit, bagian atas adalah bak mixer.

    Gambar 7: Parit pembangkit, sudah dibuatkan tiang tiang untuk atap

    Seperti terlihat pada gambar, bagian atas parit untuk sementara ditutupi dengan bekas karung agar tidak pecah sebelum kantung plastik pembangkit masuk ke dalamnya. Yang perlu diperhatikan juga adalah kerataan permukaan pinggir dan dasar parit. Pastikan tidak ada batu atau akar yang tersisa yang dapat melukai kantung plastik. Selain itu buatkan selokan kecil di sekeliling parit agar air tidak masuk ke dalam instalasi pembangkit.
    2.3 PEMBANGKIT BIOGAS

    Desain pembangkit biogas dari kantung plastik polyethylene ini adalah sebagai berikut:

    Gambar 8: Skema pembangkit biogas dari kantung plastik polyethylene.

    Bagian cukup penting adalah yang ditandai dengan nomor 1 dan 2, dimana nomor 1 adalah gas outlet. Skemanya adalah sebagai berikut:

    Gambar 9: Skema gas outlet. Kami menggunakan PVC ¾”.
    Kami menggunakan koneksi selang 5/8” dari gas outlet menuju botol jebakan uap air. Sayang kualitas selang yang digunakan kurang baik karena tidak anti tekuk. Kami merencanakan akan menggantinya apabila ada kesempatan. Selang di klem ke socket selang plastik kemudian disambungkan ke PVC SDD dan dengan menggunakan lem PVC disambung ke pipa PVC ¾”. Dari situ sebagai washer/cincin digunakan plastik yang dipotong dari jerigen bekas oli yang menjepit washer kedua yaitu karet ban dalam mobil. Di dalam kantung plastik, juga terdapat 2 buah washer dan SDL. Trik lain yang kami lakukan adalah memotong ujung bawah SDL, sehingga dasar permukaan SDL lebih tinggi terhadap cairan kotoran. Hal ini untuk menghindari terjadinya mampet pada saluran gas outlet.
    Kami menyarankan untuk menggunakan karet ban dalam mobil untuk membuat washer, karena lebih tebal, selain itu karena dalam kegiatan ini banyak digunakan karet ban (motor), harap perhatikan kualitas karet ban tersebut, terkadang ada yang karetnya sudah keras sehingga mudah robek.

    2.3.1 Mempersiapan Kantung Plastik Polyethylene
    Kantung plastik polyethylene dengan lebar 150cm ini kami dapatkan di toko plastik di seputaran Gardu Jati, Bandung. Spesifikasinya adalah 150×0.15. Ini adalah spesifikasi plastik yang paling tebal yang bisa kami dapatkan. Tentu akan lebih ideal bila plastik yang digunakan adalah yang lebih tebal. Di pasaran tersedia lebar mulai 80cm, 100cm, 120cm dan 150cm. Menurut FAO akan lebih baik apabila menggunakan plastik yang memiliki anti ultra-violet (UV) seperti yang digunakan di rumah rumah kaca (biasanya berwarna kuning agak kehijau hijauan). Namun kami tidak dapat menemukan plastik UV yang masih dalam kondisi kantung tubular (sisinya tidak terpotong).
    Harap diperhatikan juga penanganan terhadap plastik ini. Plastik PE adalah bahan yang cukup kuat, namun apabila terlipat dapat meninggalkan goresan dan ketika terkena panas matahari dan air hujan bisa retak dan sobek. Kita tentu tidak menginginkan hal ini terjadi. Oleh karenanya kami menyarankan untuk membeli dan menangani plastik secara hati hati dalam gulungan, jangan dilipat. Dalam percobaan instalasi ini kami menggunakan plastik dirangkap dua. Hal ini disebabkan masalah ketebalan dan kekuatan. Namun ternyata aplikasi rangkap dua ini juga dirasa memiliki kekurangan yang akan kami jelaskan di bawah.
    Pertama tama gelarlah alas untuk melindungi plastik dari benda benda tajam seperti batu dan ranting pohon apabila anda akan membuat di tanah lapang seperti yang kami lakukan. Tentu akan lebih baik apabila pembuatan pembangkit dilakukan di alas yang licin seperti tegel keramik. Hati hati juga terhadap benda benda metal yang anda bawa seperti sabuk, jam tangan ataupun gantungan kunci. Benda benda tersebut dapat melukai plastik, jadi tanggalkanlah dahulu benda benda tersebut dari tubuh anda.

    Gambar 10: Menggelar plastik PE Gambar 11: Memotong lembar pertama

    Gambar 12: Memasukkan lembar ke dua, perhatikan
    tali karet untuk mengikat ujung lembar ke dua.

    Teknik yang kami gunakan untuk merangkapkan plastik adalah dengan memasukkan sedikit bagian lembar ke dua dan diikat ujungnya dengan tali, kemudian ujung tali yang satu lagi dilemparkan ke ujung lembar pertama. Selanjutnya tali tinggal ditarik dan plastik lembar ke dua masuk ke dalam lembar pertama dengan mudah.
    Selanjutnya setelah ke dua lembar plastik disamakan ujung ujungnya, dan lembar kedua dipotong, kini saatnya memasang gas outlet.
    Tentukan salah satu ujung yang akan menjadi ujung atas dan ukurlah sepanjang 1.5 meter dari ujung tersebut dan tandai dengan spidol. Tanda tersebut harus tepat berada di tengah tengah plastik, sehingga diharapkan gas outlet tepat berada di tengah atas permukaan pembangkit.
    Lubang yang akan dibuat sebaiknya lebih besar sedikit dari diameter luar dari ulir SDL (socket drat luar) gas outlet. Apabila terlalu pas dikhawatirkan ujung plastik akan tertarik ketika anda mengencangkan socket.

    Gambar 14: Memasang dan mengencangkan gas outlet. Gambar 15: Gas outlet sudah terpasang ditempatnya.

    Langkah selanjutnya adalah memasang saluran kotoran, baik masuk maupun keluar. Ini adalah tahap yang perlu dikerjakan dengan hati hati karena memerlukan kerapihan agar tidak menimbulkan kebocoran.
    Kami menggunakan pipa yang berbeda untuk saluran masuk dan keluar, karena pertimbangannya adalah ketersediaan bahan yang ada di gudang .kebun
    Sebaiknya ukuran pipa masuk dan keluar adalah sama, kurang lebih memiliki diameter antara 10 – 15cm. Dapat menggunakan PVC dengan ukuran 4” atau 6” (namun harganya mahal) bisa juga menggunakan pipa keramik (sudah agak sulit mencarinya di kota Bandung) atau memakai ember plastik yang dipotong dasarnya dan disambung serta lain sebagainya, silahkan kreatif.
    Panjang pipa kurang lebih 75 – 100cm. Masukkan setengah dari panjang pipa ke dalam 2 lembar plastik PE. Dan dengan hati hati lipat plastik menjadi satu dengan pipa (perhatikan gambar)

    Gambar 16: Memasang pipa inlet

    Gambar 18: Setelah dilipat, ikat dengan tali karet untuk memudahkan pengikatan selanjutnya.

    Gambar 19: Ikatan dimulai 25cm sebelum tepi plastik (1) menuju ke arah luar pipa (2)
    Pastikan ikatan tali karet benar benar kuat, kembali mengingatkan, banyak tali karet bekas yang karetnya rapuh dan mudah putus. Anda tidak ingin pembangkit anda bobol kan ? Ikatan dapat di rangkap untuk memperkuat simpul. Yang perlu diperhatikan juga adalah pengikatan tali karet harus saling meliputi (overlap), dan ujung plastik jangan sampai terlihat, tambahkan beberapa putaran lagi untuk memastikan sambungan kedap.

    Dengan menggunakan dua lapis plastik PE kesulitannya adalah adanya udara yang terjebak diantara lembar plastik tersebut. Hal ini kami rasa dapat memperpendek umur plastik. Sayangnya hal ini baru kami sadari belakangan setelah biogas terpasang. Solusinya adalah dengan mengeluarkan udara terjebak sebanyak ketika memasangkan pipa inlet dan outlet.

    2.3.2 Menggelembungkan Pembangkit
    Setelah kedua pipa terpasang dengan baik, langkah selanjutnya adalah memindahkan pembangkit ke dalam ‘rumahnya’ yaitu parit yang telah dibuat sebelumnya. Untuk memindahkan plastik pembangkit kami menyarankan untuk menggelembungkan dahulu plastik pembangkit sehingga pembangkit dapat ‘duduk’ dengan rapih dan mengisi ruangan parit dengan baik. Selain itu fungsi penggelembungan adalah memastikan bahwa semua sambungan telah terpasang dengan baik.
    Karena konsep dasar pembangkit biogas adalah anaerob atau tidak bersentuhan dengan udara bebas, terutama oksigen, maka metoda yang kami gunakan untuk penggelembungan awal adalah mengisi plastik pembangkit dengan gas buang kendaraan bermotor. Metoda lain adalah mengisi pembangkit dengan air. Namun karena ketersediaan air untuk penggelembungan terbatas, kami memilih menggunakan gas buang dari knalpot kendaraan operasional kami.
    Sebelumnya pipa outlet kita tutup terlebih dahulu dengan plastik kresek dan diikat dengan tali karet. Demikian pula dengan gas outlet.

    Gambar 20: Mempersiapkan kendaraan dan saluran pengisian.

    Gambar 21: Mulai melakukan pengisian. Gambar 22: Dibutuhkan sekitar 5 menit untuk memompa kantung plastik 5000 liter.

    Karena menggunakan gas buang dari kendaraan berbahan bakar solar, plastik pembangkit sedikit ternoda oleh bercak bercak hitam dari uap gas buang. Rasanya bila menggunakan gas buang kendaraan premium, hal ini bisa dihindari.

    2.3.3 Memasang Pembangkit.
    Pembangkit dapat segera dipasang. Setelah terpasang pada tempatnya, kami mengisi pembangkit dengan sedikit air untuk menghindari terlipatnya plastik dan membuatnya duduk lebih enak. Pipa inlet dipasangkan pada lubang outlet dari bak mixer dan dipasangkan sumbat, sedangkan gas outlet dan pipa outlet kami biarkan tetap tertutup

    Gambar 25: Biogas mulai dihasilkan
    Gambar 24: Memasang pembangkit
    Proses pengerjaan yang kami lakukan membutuhkan waktu sekitar 8 hari kerja efektif. 2 hari untuk membuat bak mixer (2 HOK; hari orang kerja), 5 hari (15 HOK) untuk membuat parit pembangkit dan 1 hari (2 HOK) untuk pembuatan pembangkit. Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah 19 HOK sampai pembangkit terpasang.
    Sekitar 20 hari kemudian, terlihat bahwa gas sudah mulai di produksi. Indikatornya plastik pengembang mulai menggelembung dan keras.
    3. PEMBUATAN ALAT PENUNJANG PEMBANGKIT BIOGAS
    Langkah selanjutnya adalah pembuatan tanki penampung biogas, saluran biogas, termasuk jebakan uap air dan kompor biogas.
    3.1 TANKI PENAMPUNG
    Tanki penampung dalam desain yang kami buat minimal memiliki kapasitas 2500 liter. Namun ternyata karena keterbatasan ruang (kami menyimpan tanki penampung biogas diatas kandang sapi) kami hanya dapat membuat dengan kapasitas 1700 liter. Di masa yang akan datang kami merencanakan untuk menambah kapasitas penampungan dengan membuat satu buah lagi tanki penampung yang dihubungkan dengan sistem biogas.
    Tanki penampung juga terbuat dari plastik polyurethane, yang membedakan adalah lapisan yang digunakan hanya 1 lapis. Kami rasa dengan 1 lapis saja sudah cukup untuk menahan tekanan biogas yang tidak seberapa besar.
    Dimensi tanki yang kami buat adalah diameter 95cm dan panjang 250cm.
    Pengerjaannya mirip dengan pembuatan pembangkit, perbedaanya hanya satu ujung saja yang diberi pipa. Untuk instalasi utama kami selalu menggunakan pipa PVC ¾”. Beberapa artikel menggunakan pipa dengan diameter ½”. Lagi lagi pertimbangannya adalah karena bahan yang tersedia di areal kebun adalah pipa ¾” yang digunakan untuk sistem irigasi kebun di musim kemarau.

    Gambar 26: Membuat tanki penampung Gambar 27: Ujung bawah tanki langsung di lipat dan di ikat dengan tali karet.
    Akan lebih baik apabila ujung bawah tanki tidak diikat langsung, tapi diberi pipa PVC yang ditutup oleh dop PVC, baru kemudian lembaran plastik diikatkan pada pipa tersebut seperti langkah sebelumnya.
    3.2 SALURAN BIOGAS
    Untuk pipa utama kami menggunakan pipa PVC ¾”. Sambungan dapat dibuat permanen dengan lem PVC. Tapi kami memilih metoda semi permanen yaitu dengan mengikat sambungan pipa dengan tali karet. Hanya sambungan yang penting saja yang kami beri lem. Sambungan penting ini diantaranya adalah sambungan katup bola/keran (ball valve).

    Gambar 28: Sambungan pipa saluran biogas.

    Kami menggunakan banyak ball valve, dengan tujuan untuk memudahkan apabila ada perubahan skema saluran. Pada gambar diatas terlihat bahwa di ujung tanki juga terdapat ball valve, hal ini memungkinkan untuk tanki dipindah pindahkan tanpa mengganggu kinerja biogas secara keseluruhan.
    Di sebelah kanan pada gambar diatas juga terlihat botol bekas air mineral 1.5 liter yang berfungsi sebagai water vapor (penjebak uap air) dan katup keamanan. Skema water vapor adalah sebagai berikut:

    Gambar 29: Skema botol penjebak kondensasi sekaligus katup keamanan.

    Botol penjebak ini sebaiknya diletakkan pada bagian terbawah dari saluran biogas, tepat setelah pembangkit. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan uap air hasil kondensasi turun dan masuk ke dalam botol. Air yang berlebihan dalam sistem dapat memampetkan saluran biogas, selain itu adanya kandungan air dalam biogas menurunkan tingkat panas api dan membuat api berwarna kemerah merahan.
    Perhatikan muka air yang dibutuhkan. Kami menyarankan tinggi permukaan air dari batas bawah pipa antara 20 sampai 25 cm. Apabila terlalu rendah, gas akan mudah keluar dari air sebelum mencapai tekanan yang diinginkan. Apabila muka air terlalu tinggi, tekanan yang ada membesar dan hal ini dapat menghambat proses produksi biogas itu sendiri.
    Kami sangat ingin mencoba membuat manometer untuk dapat mengontrol dan mengukur tekanan yang ada dalam sistem biogas, namun pada saat ini hal tersebut belum tercapai.
    Lubang air pada botol penjebak selain berfungsi sebagai lubang pengisian juga sebagai pengatur tinggi muka air.

    Gambar 30: Botol penjebak kondensasi dan katup keamanan.

    3.3 KOMPOR BIOGAS
    Penggunaan biogas yang paling mudah tidak lain dan tidak bukan adalah sebagai bahan bakar dalam kegiatan masak memasak. Sebetulnya masih banyak fungsi lain yang ingin kami cobakan juga, namun karena ) baru kompor biogas saja yangketerbatasan waktu (dan dana tentunya kami cobakan. Fungsi lainnya antara lain sebagai pencahayaan (ini yang ingin segera kami coba), bahan bakar untuk menjalankan mesin, pendingin, pemanas dan masih banyak bentuk pengembangan lain. Test pertama untuk mengetahui apakah biogas yang dihasilkan dapat terbakar atau tidak, kami lakukan dengan cara menyambungkan pipa biogas ke selang yang biasa digunakan pada kompor gas LPG, kemudian diujungnya kami sambungkan dengan selang tembaga dengan diameter dalam (Internal Diameter; ID) sekitar 0.5cm. Katup gas dibuka dan ujung pipa didekatkan dengan sumber api. Api pun menyala. Hurray!.
    Ada banyak desain burner yang digunakan pada kompor biogas, target kami saat membuat kompor ini adalah harus sesederhana mungkin, dapat dibuat dari bahan bahan yang tersedia dan semurah mungkin, serta .. asal jalan dulu, sebagai tahap pembelajaran.
    Percobaan pertama pembuatan kompor menggunakan bahan baku kaleng bekas permen jahe yang kami temukan di dalam mobil operasional. Permennya kami habiskan dulu, baru kalengnya di pakai.
    Skema desain kompor pertama ini sebagai berikut:

    Gambar 31: Skema burner biogas #1

    Cara pembuatannya adalah kaleng permen dilubangi sesuai dengan ukuran diameter luar pipa tembaga kemudian ujung pipa tembaga dimasukkan ke dalam lubang tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat melihat skema diatas. (PERHATIAN: Desain kompor ini tidak bagus, lihat penjelasannya pada bagian kesimpulan)

    Gambar 32: Kompor biogas untuk menggoreng ketela pohon. Gambar 33: Api biru biogas.

    4. KESIMPULAN
    Kesimpulan sementara yang kami peroleh dari percobaan pembuatan dan instalasi pembangkit biogas dari kotoran sapi ini adalah kalori panas yang dihasilkan tidak cukup panas untuk bisa disebut fungsional. Hasil menggoreng ketela pohon kurang bagus karena minyak kurang panas. Singkong kurang kering dan tidak mengembang.

    Kami rasa hal ini bisa disebabkan beberapa hal:
    1. Tekanan gas kurang tinggi.

    Percobaan penggorengan ini kami lakukan pada ketinggian muka air di botol penjebak kurang lebih 10cm (perhatikan gambar 26). Kami akan lakukan percobaan lagi pada ketinggian muka air 20 – 25cm.

    2. Kandungan methane dalam biogas masih terlalu rendah.
    Beberapa literatur menyebutkan, untuk biogas dapat terbakar, kandungan methane-nya minimal 50%. Karena biogas yang di hasilkan dapat terbakar, kami cukup confident untuk menyatakan bahwa kandungan methane sudah diatas 50%. Tapi karena gas terkadang tidak stabil (salah satu indikator kandungan karbon diosida tinggi) dan panas yang dihasilkan rendah, ada kemungkinan kandungan methane masih di bawah 60%.

    3. Desain kompor dan burner yang kurang baik.
    Kompor dan terutama burner yang kami gunakan disini masih bersifat sementara. Beberapa literatur menyebutkan juga bahwa campuran udara dan biogas cukup krusial untuk menghasilkan api yang baik. Campuran udara-biogas yang baik adalah sekitar 15:1 (15 udara dan 1 biogas). Selain itu desain kompor yang SS (sangat sederhana) ini tentu memiliki banyak heat-loss. Untuk kedepan, kami harapkan dengan desain burner dan kompor yang lebih baik hal ini dapat diatasi.

    4. Faktor eksternal

    Kondisi alam pegunungan yang cukup dingin (berkisar 15 – 20 derajat celcius) sedikit banyak berpengaruh terhadap suhu minyak. Selain itu hembusan angin di dalam dapur juga terasa cukup menganggu.
    Kesimpulan lain yang dapat diambil dari percobaan implementasi teknologi biogas ini adalah adanya resistensi dari pengguna biogas (yang adalah ibu rumah tangga peternak, yang terbiasa menggunakan tungku kayu bakar) untuk menggunakan kompor bioga. Beberapa alasan yang dapat kami tangkap adalah faktor psikologis akan bahaya kebakaran atau meledak dan juga kecenderungan untuk memang resisten terhadap teknologi teknologi baru yang dipandang cukup rumit.
    Namun setelah dilakukan pengamatan beberapa hari, kecenderungan ini perlahan lahan mulai hilang, ditandai dengan adanya laporan yang menyatakan bahwa kompor biogas hasilnya cukup bagus apabila dipakai menggoreng telur.

    Akan tetapi kami cukup yakin bahwa lambat laun teknologi ini dapat diterima oleh pengguna yang ditandai bahwa mereka cukup senang dengan adanya kompor yang tidak menimbulkan polusi dan tidak merusak alat alat masak.

    Hal lainnya yang terungkap adalah perawatan dan operasi sistem biogas ini memang cukup rumit, hal inilah tampaknya yang mendasari bahwa banyak instalasi biogas di negara di dunia yang kurang berhasil dalam jangka panjang.

    Tujuan utama dalam implementasi biogas biasanya adalah sebagai energi pengganti yang dapat mengurangi biaya yang diperlukan untuk memasak. Nampaknya hal ini harus kita tinjau ulang secara lebih seksama. Mengapa ?. Karena faktanya, penggunaan tungku kayu bakar berbahan tanah liat membutuhkan biaya yang lebih murah dari biogas, lebih mudah dibuat, dioperasikan dan di rawat. Bila dibandingkan dengan perapian kayu bakar biasa, tungku tanah liat menggunakan bahan bakar lebih irit dan tidak menimbulkan polusi asap di dalam ruangan (karena memiliki cerobong keluar).
    Sistem biogas yang profitable seharusnya di desain secara lebih terintegrasi, digunakan untuk menjalankan mesin statis yang dapat memutar generator penghasil listrik, sekaligus sebagai pabrik penghasil pupuk dan penyubur bagi kolam ikan, taman atau lahan pertanian.

    Sebuah operasi biogas yang sukses, sukses dalam arti dapat menghasilkan atau menabung uang lebih banyak daripada biaya yang dikeluarkan adalah sebuah operasi bisnis. Oleh karenanya, sebuah pembangkit biogas harus dipandang sebagai bagian sebuah sistem. Sistem yang terdiri dari banyak hal, tanki penyimpan gas, kolam ikan atau tanaman air, lahan pertanian, ternak, produksi pupuk dan gas, dan sebagai bisnis serta keahlian teknis.

    Dibawah ini pernyataan yang diadaptasi dari buku “Biogas and Waste Recycling, The Philippine Experience” karya Felix Maramba, seorang pengembang sistem biogas yang sukses, terkenal dan menguntungkan secara finansial.

    “Pengembangan sistem biogas akan meningkatkan kehidupan sosial dan ekonomi di daerah pedesaan. Caranya adalah dengan mengendalikan polusi yang terjadi pada udara dan air, sehingga menjamin hidup yang lebih sehat. Biogas dapat meningkatkan standar hidup yang berarti juga akan meningkatkan laju perekonomian. Dengan memanfaatkan limbah dan bahan yang tersedia di daerah setempat sebagai penunjang kebutuhan pertanian, dan dengan membuat lahan semakin produktif melalui sistem daur ulang akan menimbulkan sebuah pola kehidupan pedesaan yang baik yang menunjang kemandirian.”

    Referensi:

    1. Biodigester Installation Manual, Lylian rodriguez and T R Preston. FAO.
    2. Livestock House and Biogas System. FAO.
    3. How To Install Polyethylene Biogas Plant. Fransisco X. Aguilar. The Royal Agricultural College
    Cirencester.
    4. Biogas/Biofertilizer Business Handbook Manual. Michael Arnott. Peace Corps.
    5. The Biogas Handbook. David House. Peace Press.
    6. Chinesse Biogas Manual. English version by Ariane van Buren. Intermediate Technology Publication,
    Ltd.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: