Bila Seks Pranikah Dianggap Lumrah

KCM-Kamis, 12 September 2002

Ilustrasi: Tanto Weng-Senior

Perilaku seksual yang semakin longgar merupakan fakta yang tak dapat ditutup-tutupi. Sayang, sosialisasi penggunaan kondom menemui hambatan karena dihadapkan pada pendekatan moral. Hasilnya? Risiko tertular penyakit seksual dan HIV/AIDS meningkat.

Sebuah acara TV swasta Senin tengah malam yang lalu mengangkat topik one night stand alias kencan semalam. Di situ antara lain ditampilkan seorang pemuda yang dengan enteng mengatakan bahwa ia tidak keberatan melakukan one night stand, jika memang ada yang mau dengannya.

Kita tidak pernah tahu apakah pemuda itu melakukan kencan semalam secara aman dengan menggunakan kondom. Yang pasti pernyataan itu hanya merupakan salah satu gambaran yang bisa menunjukkan betapa hubungan seks pra-nikah kini makin dianggap lumrah, bahkan jika itu dilakukan dengan orang yang baru dikenal.

Tertular PMS
Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan, Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora Yogyarakarta belum lama ini memaparkan hasil penelitiannya yang memperkuat asumsi semakin longgarnya perilaku seksual masyarakat kita.

Penelitian yang dilakukan sejak Juli 1999 hinggi Juli 2002 terhadap 1660 responden mahasiswa dari 16 perguruan tinggi di Yogyakarta, diperoleh hasil bahwa 97,5 mahasiswa perempuan sudah pernah melakukan hubungan seksual (mereka menyebutnya ‘hilang kegadisannya’, istilah yang sebetulnya kurang tepat). Bahkan diketahui pula 90 persen di antaranya telah melakukan aborsi.

Dalam Konggres Nasional I Asosiasi Seksologi Indonesia (Konas I ASI) di Denpasar Juli lalu, Hudi Winarso dari Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya juga mengemukkan penelitian serupa.

Dari angket yang disebarkan pada bulan April 2002 terhadap 180 mahasiswa perguruan tinggi negeri di Surabaya, berusia 19 hingga 23 tahun, ternyata 40 persen mahasiswa pria telah melakukan hubungan seks pra-nikah. Dari jumlah itu, 70 persennya melakukan dengan pasangan tidak tetap (multiple), bisa teman, pekerja seks, atau lainnya dan 2,5 persen di antaranya pernah tertular PMS (penyakit menular seksual).

Adapun pada mahasiswa perempuan, terdapat 7 persen yang telah melakukan hubungan seks pra-nikah, 80 persen di antaranya hanya melakukan dengan pacarnya. Pada mereka ini 10 persen di antaranya pernah tertular PMS.

Disimpulkan pula bahwa kelompok yang ’setia’ pada pasangan maupun yang berganti-ganti pasangan memiliki risiko yang sama untuk tertular PMS.

Perilaku Berisiko Tinggi
Mengutip Muhajir Darwin dari Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, penularan PMS dan HIV/AIDS lebih banyak disebabkan oleh perilaku seksual berisiko tinggi, yang intinya adalah perilaku seksual berganti-ganti pasangan tanpa disertai penggunaan kondom, baik pada masa pra-nikah maupun setelah menikah.

Data dari Ditjen PPM Departemen Kesehatan hingga September 2001 tercatat 2313 kasus HIV/AIDS di Indonesia, dan 57,42 persen di antaranya disebabkan oleh perilaku seksual yang dilakukan oleh kelompok heteroseksual (tertarik pada lawan jenis) dan 6,1 persen oleh kelompok homo-biseksual (kecenderungannya tertarik pada sesama jenis tapi memiliki pasangan lawan jenis).

“Belum tersosialisasinya konsep seks aman inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab semakin merebaknya insiden PMS dan HIV/AIDS di Indonesia,” ungkap Muhajir.

Dua Pilihan
Dalam Konas I ASI itu Prof.DR.Dr. Wimpie Pangkahila antara lain menyatakan bahwa masyarakat sekarang memang perlu mengelola hasrat seksualnya sedemikian rupa, mengingat usia perkawinan yang semakin tua.
“Orang sekarang cenderung menunda perkawinannya sampai pada usia matang, tapi hasrat seksual tidak bisa diundur kemunculannya sampai yang bersangkutan menikah. Nah, ini masalah,” kata guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali ini.

Menghadapi hal ini maka pilihannya hanya dua, yaitu safe sex (melakukan seks aman dengan menggunakan kondom) atau no sex (tidak melakukan hubungan seks sama sekali). Fakta menunjukkan bahwa tidak semua orang mampu untuk menahan diri, tapi sayangnya kampanye untuk perlindungan diri dengan kondom mendapat tentangan dari kaum agamawan yang menggunakan pendekatan moral.

Dalam kaitan ini, Muhajir pun sependapat bahwa sikap ambivalen, yaitu masih setengah-setengah dalam mengambil sikap antara penggunaan pendekatan moral dan kesehatan, menyebabkan upaya-upaya penanggulangan penyebaran PMS dan HIV/AIDS tidak tertangani dengan baik.

“Berkembangnya sikap radikalisme agama juga mengakibatkan upaya penanggulangan PMS menjadi mentah, karena perilaku seksual tidak aman dilakukan secara terselubung,” kata Muhajir Darwin.

Pekan ini, entah karena salah informasi atau memang tidak mampu memahami secara baik, bahkan Wakil Presiden Hamzah Haz mengatakan bahwa program KB (yang di dalamnya mencakup program sosialisasi penggunaan alat kontrasepsi) tidak meningkatkan kualitas intelektual penduduk sehingga dananya perlu dialihkan.

Jika demikian halnya, tampaknya persoalan yang berkaitan dengan perilaku seksual ini akan semakin rumit. Di satu sisi informasi seksual yang mengarah pada pornografi semakin mudah didapat, di sisi lain usia menikah semakin mundur, sedangkan tidak semua orang mampu memilih prinsip no sex sampai menikah.
Apa yang Anda sarankan untuk diri sendiri atau putera-puteri Anda, safe sex atau no sex? @ Widya Saraswati

7 Komentar

  1. Arsyad Salam berkata,

    Januari 4, 2008 pada 9:54 am

    Waaahh sudah begitu hancur rupanya perilaku generasi muda kita. Data dari Lembaga Studi Cinta kemasnusiann itu merupakan angka yang fantastis. Tapi bisakah hal itu dijadikan patokan secara nasional? Tapi trus terang memang perilaku seks pra nikah di kalangan generasi muda kita kian meningkat. Tak ada lagi hal tabu berkaitan dengan virginitas (keperawanan). Sungguh sangat disayangkan.
    Salam

  2. Mardies berkata,

    Januari 4, 2008 pada 4:13 pm

    Bagus! Saya mendukung! *merencanakan tulisan dengan tema yang sama*

    Salam kenal!

  3. aRuL berkata,

    Januari 4, 2008 pada 6:28 pm

    pencegahan lebih dini merupakan solusinya.

  4. deteksi berkata,

    Januari 5, 2008 pada 5:54 am

    NO SEX adalah pilihan terbaik! (kalo belum menikah)

    kalo mau ngesex sembarangan silakan saja! pake kondom, silakan saja kalo itu dianggap paling baik. tapi tolong jangan kampanye kondom di sembarang tempat.

    tolong dipikirkan juga dampak negatif dari kampanye kondom. remaja jadi tahu kalo pake kondom maka aman. gak hamil. akhirnya mereka ngesex sembarangan

    kampanye kondom adalah pilihan bodoh yang membuat bangsa ini makin bobrok moralnya!

    sebuah survey di surabaya membuktikan bahwa remaja yang freesex 80% menggunakan kondom! dan darimana mereka tahu tentang kondom? jawaban terbesar adalah dari iklan kondom dan kampanye kondom!

    jadi kalo ada orang yang mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara kampanye kondom dengan free-sex, itu adalah pembelaan ngawur dan argumentasi yang dibuat-buat!

    cara sosialisasi kondom adalah dengan mendatangi mereka yang beresiko tinggi, jangan langsung dikasih kondom, tapi harus diingatkan pula bahaya dan dosa!

    kecuali sudah tidak percaya adanya agama dan tuhan!

  5. Abeeayang™ berkata,

    Januari 5, 2008 pada 8:30 am

    astagpirloh…………

  6. sang komentar berkata,

    Januari 9, 2008 pada 2:36 am

    menurut saya itu tidak terlalu berlebihan karena remaja yang masih SMP,\ dan SMA terutama SMA sudah sekitaran 50% melakukan hubungan seksual dengan pcarnya.
    hal ini hanya terkait dengan kesadaran mereka sendiri,apakah yang perempuan mau mengorbankan virginitas mereka demi kepuasan sesaat mereka saja.
    selain itu,,ini juga terkait dengan iman seseorang.trims!!!

  7. Agus Madyana berkata,

    April 27, 2009 pada 1:01 am

    Data sangat baik.. Mungkin perlu dikaitkan dengan fenomena pabertas dini.. Hal tersebut akhir2 ini menjadi gejala pada banyak anak.. Bahkan di Jakarta dalam sebuah seminar diinformasikan anak berusia 6 tahun sudah mengalami menstruasi. Apabila anak sudah matang secara seksual namun belum matang secara mental, secara nalar sederhana tentunya akan memicu tindakan seks bebas..
    Dan banyak informasi dari beberapa penelitian bahwa fenomena pubertas dini ini disebabkan karena asupan makanan dari protein hewani. Seperti diketahui hewan ternak pada saat ini percepatan pertumbuhannya dipicu dengan hormon2 yang pasti akan mempengaruhi mereka yang memakannya…

    Jadi solusi tercepat adalah menghilangkan asupan hewani pada makanan anak..


Tulis sebuah Komentar