| Minggu, 30-12-2007 | 04:00:00-tribunkaltim.co.id | |
|
AKHIR-Akhir ini perfilman Indonesia diwarnai dengan bermunculan film-film horor. Mulai dari kisah pocong hingga kuntilanak. Berbagai adegan yang mengerikan ditayangkan di film-film ini. Mulai dari bermuluran darah, pembunuhan, hingga memperlihatkan wajah-wajah yang menakutkan.
Akan tetapi tayangan seperti ini justru disukai. Buktinya dengan makin banyaknya film-film horor yang terus dibuat oleh insan film. Menjadi masalah, ketika film-film jenis ini juga tayang di televisi. Akibatnya, anak-anak pun semakin memiliki kesempatan untuk menontonnya. Menurut Psikolog, Patria Rahmawaty Psi, pada dasarnya manusia memiliki ketertarikan pada hal-hal di luar yang normal, sehingga tayangan semacam ini tumbuh dan berkembang. Namun masalah akan timbul jika tontonan yang menakutkan ini diputar ketika anak-anak bisa ikut menonton. “Saat anak-anak menonton film horor, sebaiknya orangtua harus mendampingi. Beritahukan kepada anak, bahwa adegan yang diperlihatkan hanya fiktif, dan tidak ada di kehidupan nyata. Diharapkan dengan penjelasan ini, anak-anak tahu apa yang dilihat tidak sepenuhnya ada di dalam kehidupan,” ujarnya. Patria mengatakan, pendampingan orangtua saat menonton film horor sangat diperlukan, tujuannya agar anak dapat berpikir secara rasional. “Sebab anak balita memiliki pola pikir yang penuh dengan imajinasi. Sehingga apa yang dilihat akan terus direkam dalam ingatannya,” katanya. Anak pun bisa paranoid. Bahkan kalau sampai anak itu mengembangkan imajinasinya akibat menonton film horor, akibatnya anak akan menjadi orang yang terlalu memikirkan hal-hal yang mengerikan dan menakutkan, dan ini tentunya telah melewati batas. Anak balita kata Patria, belum bisa membedakan mana tontonan yang baik atau tidak. Pasalnya ini berkaitan dengan cara berpikir anak-anak yang masih terbatas. “Bila tidak dijelaskan orangtua, maka anak akan tumbuh menjadi remaja yang penakut dan lemah,” ujarnya. Sedangkan anak usia sekolah bisanya sudah berpikir secara logis, dan keinginan tahunya lebih besar ketimbang anak balita. “Nah di sinilah orangtua mermberikan penjelasan dan pemahaman yang lebih agar anak tahu yang sebenarnya,” tuturnya. Patria mengatakan setelah menonton film horor anak biasanya jadi takut tidur sendiri, bahkan sampai terbawa mimpi. Terutama kepada anak usia sekolah sekitar usia 6 atau 7 tahun. “Bila anak takut ajarkan anak berdoa dahulu sebelum tidur agar ia tidak diganggu mimpi buruk,” ucapnya. Wanita yang memakai kerudung ini menyayangkan dengan banyaknya film horor yang ditayangkan.. Sebab tayangan yang menakutkan ini pada umumnya mengandung kekerasan. “Saya melihat di setiap adegan film horor pasti memperlihatkan yang namanya pembunuhan dan pemerkosaan. Bila ini ditonton anak-anak, dikhawatirkan saat anak-anak beranjak remaja dapat meniru hal ini,” ucapnya Tak hanya itu, tayangan semacam itu juga bertentangan dengan nilai-nilai agama pada umumnya. “Anak jadi takut berlebihan pada hantu. Juga bisa muncul kepercayaan pada anak bahwa ia bisa meminta segala sesuatu kepada hantu,” ucapnya. Patria juga menyayangkan dengan adanya sebuah iklan televisi yang menayangkan sebuah cerita horor yang menggambar seorang wanita dengan wajah yang cukup menyeramkan dan seorang suster yang mengesot. “Kalau iklan seperti ini ditayangkan terus menerus pastinya membuat anak takut,” ucapnya Melihat hal ini, Patria menyarankan agar televisi dapat menyeleksi kapan tayangan film dan iklan horor sepantasnya ditayangkan. “Sebaiknya kalau film dan iklan ini mau ditayangkan, sewaktu jam tidur anak, ya mungkin tengah malam ketika anak telah tidur lelap,” ujarnya.(jnh) |









fiqran berkata,
Februari 13, 2008 pada 7:29 am
Seharusnya para pemilik TV harus ada niat untuk membangun gerasi muda yang baik jika masih seperti sekarang rakyat kedepan akan menjadi rakyat yang lemah kepribadian yang pada akhrirnya menjadi bangsa budak yang hanya mengekspor TKW untuk jadi budak