Penyebab Konflik dalam Pilkada

Rabu, 26-12-2007 | 04:00:00-tribunkaltim.co.id
Oleh: Tri Sunardi Wardoyo *)
SETIAP penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) selalu dijumpai yang namanya konflik. Faktor-faktor penyebab konflik dalam pilkada antara lain:
* Kepentingan setiap elite lokal, elite nasional, pengusaha dan kepentingan kekuatan-kekuatan politik lain di daerah yang sedang bertarung memperebutkan kekuasaan.

* Kesalahan penafsiran terhadap implementasi undang-undang yang mengatur persoalan pilkada

* Belum bakunya infrastruktur pemilihan pejabat publik yang sering kali kontroversial
* Lemahnya institusionalisasi demokrasi di tingkat lokal (KPUD) yang menjadi faktor dominan timbulnya konflik antarkekuatan politik. Akibatnya, aturan main berdemokrasi sering berubah, berbeda-beda, dan tidak ditaati karena bergantung pada persepsi pusat yang menentukan hasil akhir proses politik di tingkat lokal, contoh kasus Pilkada Maluku.
Diversifikasi sumber konflik
* Dendam kelompok dan dendam sejarah, yang umumnya sangat peka untuk diprovokasi.
* Pola kompetisi yang bergerak tidak sehat melalui intervensi kekuasaan, politik uang, anarkis dan arogansi.
* Sistem manajemen termasuk payung hukum yang tidak berwibawa, tidak berfungsi dan tidak dihormati.
* Rapuhnya simbol perekat dan pemersatu yang mencakup nasionalisme, etnisisme, etika dan budaya politik yang luhur.
* Sikap dan perilaku aktor politik yang tidak terkendali, menerabas dan terjerumus ke deviant politik.
Dilihat dari Jenisnya potensi konflik bisa melibatkan
* Internal partai yang mendukung calon.
* Konflik yang melibatkan antara kandidat satu dengan lainnya atau antara pendukung-pendukung kandidat. Konflik antarkandidat dapat berupa black campaign berupa usaha-usaha untuk mendeskriditkan kandidat lain dengan cara-cara yang tidak gentle, bukan melalui adu visi-misi tetapi dengan penyebaran berita bohong dan fitnah.
* Konflik antarelemen masyarakat. Konflik ini berskala sangat besar, karena melibatkan berbagai elemen masyarakat, baik antar pendukung masing-masing kandidat melibatkan pula aparat keamanan.

*) Penulis: Mahasiswa S2 Sosiologi UGM

 

About these ads

2 Komentar

  1. ardiyanto said,

    Mei 4, 2008 at 1:44 pm

    kurang lenkap tolong isinya yang agak pas/lenkap

  2. dewi sartika said,

    Desember 10, 2009 at 8:18 am

    menurut saya ketika diadakan pembinaan jangan lupa agar disarankan tidak mempunyai sifat yang angkuh sehingga disetiap sifat para kapolri tidak ada benak tuk sewenang-wenang


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: