Pemanas Air Tenaga Surya Belum Tentu Hemat Listrik

karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bdg- utkampus.net


Pemanas air model panel sinar matahari selama ini diklaim sebagai perangkat hemat energi alias hemat biaya. Belum tentu benar. Sebab, jika diperhatikan, alat semacam itu banyak terdapat di rumah ukuran besar yang memiliki listrik berdaya besar pula. Hampir tak ada rumah sederhana yang dipasangi alat ini, karena untuk menghidupkan electric booster (elemen pemanas), diperlukan listrik yang cukup besar.

Cara kerja alat ini terbilang sederhana. Ada termos besar penampung air berkapasitas antara 180 – 600 l air. Ada panel lebar untuk menerima sinar matahari, juga pipa-pipa yang menyerap panas di sekitar panel. Air masuk disirkulasikan terus-menerus. Air panas dipasokkan ke dalam termos, sementara air dingin kembali ke panel. Air panas itu yang kemudian dihubungkan dengan pipa tahan panas ke kamar mandi, wastafel, atau kolam renang untuk dipergunakan pemilik rumah.

Tak ada produsen pemanas air tenaga matahari yang bisa menentukan jumlah listrik yang dihemat, dibandingkan misalnya dengan pemanas tenaga listrik atau gas. Karena andalan utama alat ini sinar matahari, pasti ada perbedaan efektivitas penggunaan pada dataran rendah (kota dekat pantai) atau dataran tinggi (pegunungan). Sementara, efektivitas kerja alat ini sangat ditentukan oleh lamanya panas matahari menyinari panel.

Jika matahari lebih banyak bersinar ke arah panel, elemen pemanas tak banyak bekerja, sehingga penggunaan listrik pun tidak banyak. Sebaliknya, jika langit banyak berawan, atau posisi panel teralang, elemen pemanas lebih sering bekerja, menyebabkan listrik boros. Mudah dibayangkan, jika daya yang dimakan pada sekali pemanasan sekitar 900 – 5.000 watt, pemanas air jenis ini tak lagi hemat listrik.

Energi matahari yang mencapai bumi diukur dalam satuan gram-kalori, joule, atau kwh. Energi listrik rumah pun diukur dalam satuan kwh. Diperkirakan, setiap tahun energi matahari yang mencapai bumi sekitar 745 ribu triliun kwh. Jika pembuatan pemanas air tenaga matahari dilandasi ide penyimpanan sebagian dari jumlah panas itu, secara logis bisa dipahami bahwa alat itu lebih hemat daripada pemanas bertenaga lain. Tentu disertai syarat pemilihan lokasi, pemasangan, dan cara pengoperasiannya mendukung ide penghematan itu. (Robert M. Erwinn)

Beberapa saran untuk efisiensi:

  • Lengkapi pemanas air tenaga matahari Anda dengan kontak pemutus arus, operasikan elemen pemanas (booster) secara manual. Sebab, lamanya nyala elemen pemanas menentukan banyaknya listrik yang dipergunakan.
    1. Gunakan penyaring air untuk mencegah terjadinya pengerakan atau pengendapan kotoran pada pipa saluran air panas dan panel, sehingga penyerapan panas lebih efisien.
    2. Tempatkan alat pada lintasan matahari secara benar. Pengawasan tetap diperlukan, meski pemasangan dilakukan oleh teknisi dari penjual/produsen.
    3. Kabel penghubung ke elemen pemanas (booster) harus bermutu tinggi. Daya yang dibutuhkan cukup besar akan berbahaya jika menggunakan kabel yang tidak sesuai. Hindari pemasangan kabel terbuka tanpa pipa pelindung. Kabel yang mengelupas bisa menyengat atau menyebabkan hubungan singkat.
    4. Jangan gunakan produk dengan bahan yang kurang bermutu. Anoda magnesium, misalnya, dapat mencemari air dan menimbulkan reaksi menjadi gas hidrogen.
  • source : indomedia.com/intisari/1998/maret

    About these ads

    12 Komentar

    1. sinta dewi said,

      Februari 27, 2008 pada 7:18 am

      kalau di daerah saya untuk memanaskan air dengan tenaga matahari caranya. air dimasukin keember terus dijemur dibawah terik matahari. hemat biaya dan hemat energi / langsung aza mandi ditengah sawah yang akan ditanami padi hemaaaaaaaaaaaaaat dah. tawaran diatas beliinya pakai duwit. kalau cara saya udah hemat terus geratis lagiiiiiiiiiii.

    2. Robet said,

      Februari 27, 2008 pada 7:21 am

      Wah Mbak Sinta Klo habis tempur mau mandi air anget tunggu siang ,
      weleh-weleh.
      Hemat tenan rek

    3. adi said,

      Maret 3, 2008 pada 12:26 am

      kami perlu petunjuk mengenai cara membuat surya matahari dijadikan energi listrik

    4. Sudarsono said,

      Agustus 21, 2008 pada 2:19 am

      Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan tulisan ini.

      Matahari sebagai alternative yang menjanjikan sumber energi harusnya sudah menjadi pemikiran yang fokus, terutama di negara tropis seperti negara kita yang sepanjang tahun disinari matahari.

      Sebaiknya kita sudah mulai menjauh dari bahan bakar fosil BBM Solar, Gas dan listrik (yang notebene-nya masih kebanyakan diproduksi dari BBM Solar juga).

      Apalagi harga minyak yang melambung dipasaran dunia. Ingat, pemerintah terus mensubsidi minyak di Indonesia. Pemakaian minyak secara hemat dapat mengurangi pengeluaran subsidi pemerintah di sektor ini.

      Ini tercermin dengan makin naikknya harga minyak atau regulasi baru tarif listrik. Makin mahal semua…..

      Selain itu dunia juga sudah berpikir untuk menjauh dari energi solar. Walau masih tahap experiment, tekhnologi mobil tenaga surya terus diperbaiki diseluruh dunia.

      Kelebihan Energi matahari ialah GRATIS, dapat diperoleh sepanjang tahun, meskipun intensitasnya berbeda beda.

      Adapun untuk analisa perbandingan kehematan pemanas air surya dengan tipe pemanas air lainnya dapat anda lihat di website kami, tentu semua dengan anggapan anggapan yang ideal :

      http://www.indonesia-property.com

      Lalu ikuti menu di Solar Water Heater klik bagian “Referensi” lalu klik “Analisa Studi Biaya Hotel”

      Terima Kasih

      Semoga membantu

    5. memeing said,

      Januari 18, 2009 pada 12:22 pm

      kalau saya biasa kalau mau mandi air panas gampang bgt. kamar mandi tinggal bolongin aja atapnya atau sekalian mandi diatas tungku atau atap gampang khan……artikel diatas cukup menarik, sebab matahari tidak selalu terlihat jadi sebagai pengganti kita pakai listrik. Kabel penghubung ke elemen pemanas memang perlu diperhatikan jangan sampai terjadi sesuatu yang membahayakan hanya gara-gara salah pilih kabel. OK….

    6. setyawati said,

      Januari 20, 2009 pada 10:03 am

      Bagus tulisan ini, memberi pencerahan…

    7. ali said,

      April 7, 2009 pada 11:56 am

      Saia ganpang aja kalau mo mandi air panas, tinggal ngempakno panci di kompor, mendidih, sak pancine dibawa ke km. bereeeeeeees

    8. ardian said,

      Maret 11, 2010 pada 2:06 pm

      Menaggapi bapak sudasono,memang energi matahari gratis,tetapi pada saat malam hari atau sedang berawan apakah elemen pemanas tidak akan bekerja untuk menjaga air tetap hangat? apakah jumlah energi yang dikeluarkan untuk menjaga air tetap hangat lebih sedikit daripada jumlah energi yang dipakai untuk memanaskan air ketika ingin dipakai saja?

    9. Christian said,

      Juni 2, 2010 pada 11:34 am

      Menanggapi bapak Ardian…,

      “…benar bahwa matahari hanya ada pada saat siang hari…dan malam hari Solar Cell tidak bekerja, melainkan…system lah yag bekerja. Artinya…Solar Cell bekerja menyerap panas matahari pada siang hari ( kondisi panas ) untuk memanaskan air yang di suplay ke unit Water Heater, tentunya dengan jumlah energi yang besar. Tapi tunggu dulu…Air Panas yang sudah mengalami pemanasan sampai pada tempertaur tertentu (sesuai dengan settingan) akan disimpan dalam satu wadah / tangki, nah…tangki ini lah yang berperan aktif untuk menjaga suhu air agar tetap terjaga sampai pada waktu tertentu.

      Jadi…itulah sedikit penjelasan dari saya, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan bwt kita semua…

      Thanks…

    10. Jihan said,

      Februari 3, 2011 pada 4:06 am

      klo qt mw mandi pakai air hangat…. beli mesin’y aj…. dicolok langsung hangatt

    11. rosihan said,

      Februari 6, 2011 pada 10:09 am

      Saya setuju, belum tentu benar….., tp mungkin jg ada benarnya…tergantung lokasi ya….,btw alat yang paling efisien apa ya…..

    12. Haslizen H said,

      Maret 8, 2011 pada 1:55 am

      Betul anda Sudarsono, energi radiasi matahari tetap energi yang gratis apalagi di daerah tropis seperti Indonesia. Energi matahari itu secara garis besar diabagi dua yaitu energi panas untuk pemanasan secara alamiah dan cahaya tampak untuk peneranagn alami dirumah-rumah dn photosisntesis cuma masyarakat belum memahani secara total tentang energi radiasi matahari.


    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

    %d bloggers like this: