MENEMBUS WAKTU DI LEBANON
Maret 10, 2008 pada 10:30 pm (Tak Berkategori)
Tags: mancanegara
Lebanon dan Suriah yang selalu akrab dengan berita pertempuran, punya daya tarik khas sebagai daerah tujuan wisata. Banyaknya kawasan tua yang sarat sejarah menjadi pesona tersendiri.
Biasanya orang Indonesia yang ke Timur Tengah berkunjung ke Israel, Mesir, atau Turki. Namun, November lalu saya mendapat kesempatan untuk pergi ke Lebanon dan Suriah. Semula sempat ragu, apakah tidak berbahaya? Bukankah sering terbetik berita masih berkecamuknya pertempuran dengan Israel di Lebanon Selatan? Tetapi akhirnya, saya pergi juga.
Dengan penerbangan Emirates rombongan kami menuju Dubai. Esok harinya penerbangan dilanjutkan ke Beirut. Dari sana kami langsung naik bus menuju selatan, ke Tyre. Asyik juga, karena di sepanjang perjalanan kami mampir-mampir ke beberapa peninggalan kuno dan tempat wisata.
Warung kopi berjalan
Perhentian pertama ialah Pigeon Rock. Sesuai dengan namanya, tak ada pemandangan istimewa di sini kecuali batu karang yang mencuat di pinggir laut. Namun, kata orang, pemandangannya menjadi spektakuler di saat matahari turun ke peraduan di senja hari. Tidak heran penduduk setempat menyukai tempat itu untuk menikmati matahari terbenam. Sayang, karena keterbatasan waktu, kami tidak mungkin tinggal di sana sampai sore hari.
Namun, pagi itu ada juga yang menarik. Di sepanjang pantai, terlihat seorang penjaja membawa teko besar berkeliling ke mana-mana. Setiap kali ada pembeli yang berminat, isinya dituang ke dalam gelas. Rupanya, dia menjual kopi. Pemandangan serupa juga ada di Yerusalem. Selain kopi, bersliweran juga penjual roti yang bersepeda. Rotinya bulat, pipih tapi agak gembung. Diameternya barangkali sekitar 20 cm dan berlubang di bagian tengah. Roti-roti itu tidak dimasukkan ke dalam kotak kaca atau dibungkus, tetapi diikat dan digantungkan demikian saja pada palang-palang kayu yang dipasang di depan setang sepeda. Menurut yang pernah menyantapnya, roti berlubang itu rasanya gurih, mirip “roti guling” french bread.
Dari sana kami beranjak menuju Sidon, yang dalam bahasa Arab sering disebut Saida atau Sayida. Kalau ada pemilihan kota yang paling sarat dengan cerita, pastilah Sidon bisa diajukan sebagai calon. Kota Sidon, yang terletak 25 mil (sekitar 40 km)selatan Beirut boleh dikata hampir setua peradaban manusia. Ia dibangun pada milenium ketiga sebelum Masehi. Jadi, hampir 5000 tahun lalu. Pada milenium kedua sebelum Masehi, ia sudah menjadi kota yang makmur. Pantas Sidon sudah sering disebut-sebut dalam Kisah Perjanjian Lama Alkitab umat Nasrani. Sidon juga banyak disebut oleh penyair Yunani klasik, Homer (sekitar 8 atau 9 SM).
Sebagai salah satu kota bangsa Funisia yang tertua, Sidon kenyang berpindah tangan dari penguasa yang satu ke penguasa lain, mengikuti perjalanan sejarah. Bergantian ia dikuasai pelbagai bangsa, dari Asiria, Babilonia, Persia, Alexander Agung dari Macedonia, Suriah, Mesir, dan bangsa Romawi. Waktu itu Sidon sudah terkenal akan produk pewarna ungu dan pecah belahnya. Namun, Raja Herodes I yang Agung (73 SM - 4 SM), yang hidup sezaman dengan Kaisar Agustus dan Cleopatra, menghancurkan kota ini.
Pisang berbuah biru
Pada zaman Perang Salib (1095 - 1270), Sidon berpindah tangan beberapa kali, dihancurkan dan dibangun kembali. Sekarang, kenangan akan perang itu tertinggal di sisa-sisa benteng kota, yang umum disebut citadel. Citadel di sana dibangun oleh tentara kerajaan-kerajaan Eropa dalam Perang Salib. Sebagian dari benteng yang terletak di tepi pantai itu masih gagah berdiri. Dindingnya terbuat dari batu-batu persegi berwarna kuning, yang pada titik-titik tertentu diselingi batu berbentuk silinder berwarna abu-abu.
Silinder-silinder itu ternyata penguat yang khusus diangkut dari Roma, agar bangunan benteng tahan gempa bumi. Uniknya, di sebelah citadel masih berdiri juga bangunan yang dulunya losmen bagi para pedagang zaman dulu. Apakah keduanya sezaman? Rasanya sulit membayangkan sebuah losmen bersebelahan dengan benteng yang demikian kekar. Di Sidon, sang Waktu dengan gampang mengecoh kita, karena saksi sejarah dari pelbagai zaman berjajar demikian akrab.
Lebanon terasa sepi. Betapa tidak. Sekitar 9 juta orang penduduknya telah kabur ke luar negeri waktu perang saudara berkecamuk selama bertahun-tahun sejak 1975. Yang tersisa tinggal sekitar 4 juta jiwa. Namun, kesepian itu sedikit terobati melihat pemandangan lucu kebun pisang di sepanjang jalan. Kehijauan daun dan pelepahnya dihiasi plastik-plastik biru pembungkus buahnya. Dari kejauhan seperti pisang berbuah biru. Lebanon memang terkenal sebagai penghasil buah pisang, di samping jeruk.
Harus diakui, objek wisata paling menarik adalah Tyre, yang sudah merupakan pelabuhan penting bangsa Funisia sejak tahun 2000 SM sampai zaman kekaisaran Romawi (27 SM hingga abad ke-15). Tyre itu aslinya dibangun di sebuah pulau. Sebuah catatan di Mesir dari abad ke-14 SM sudah menyebut Tyre sebagai wilayahnya. Sekitar abad ke-10 dan ke-9 SM Tyre mencapai zaman keemasannya dibandingkan kota-kota Funisia yang lain. Dalam dua abad selanjutnya, Tyre banyak dikuasai bangsa Asiria. Di abad ke-6 SM Tyre sanggup bertahan terhadap serangan raja Babilonia, Nebuchadnezzar II yang berlangsung selama 12 tahun. Namun, yang paling terkenal adalah peristiwa serangan Alexander Agung.
Bom pasir dan minyak mendidih
Begini kisahnya. Melihat bahwa tak mungkin menaklukkan Persia tanpa lebih dulu menaklukkan Tyre, Alexander Agung memutuskan untuk menguasai Tyre dulu. Namun, salah satu ketangguhan Tyre adalah posisinya di sebuah pulau, bentengnya yang kuat dan angkatan lautnya barangkali salah satu yang paling tangguh di dunia saat itu. Alexander tahu, tak mungkin menggempurnya dari laut. Bagaimana ribuan tentaranya bisa mencapai gerbang Kota Tyre?
Pada bulan Januari 332 SM, Alexander memerintahkan untuk membangun jembatan selebar 20 m yang akan menghubungkan pulau Tyre dengan daratan. Puluhan ribu budak, tentara, dan buruh murah dikerahkan. Usaha pertama untuk menguasai pulau itu gagal karena orang Tyre menyerang jembatan itu dengan perahu-perahu kecil yang cepat. Fondasi jembatan dirusak, beberapa penjaga dan pekerja bangunan dibunuh.
Untuk mencegah jangan sampai kapal-kapal Tyre melaut untuk menyerang para pekerja dan tentara, Alexander mengerahkan armada dari kota-kota Phunisia yang lain. Tyre memang tangguh. Segala cara ditempuhnya untuk bertahan, termasuk menembakkan “bom” pasir panas dan minyak olive mendidih. Namun, karena dikeroyok dan tanpa sekutu, akhirnya ia jatuh pada bulan Agustus, setelah tujuh bulan perlawanan. Jembatan buatan Alexander itu tidak pernah dibongkar, dan dengan adanya endapan lumpur berangsur-angsur letak Tyre menyatu dengan daratan, di sebuah semenanjung.
Konon, tidak lama kemudian Alexander mengadakan pertandingan olahraga di Tyre. Sampai kini orang masih bisa menyaksikan puing-puing sebuah tribun olahraga sepanjang 400 m dan selebar 120 m. Cukup untuk menampung 40.000 penonton. Di bawah stadion yang utamanya untuk adu chariot ini dulu ada kompleks pertokoan. “Gelanggang olahraga” itu mempunyai beberapa pintu masuk, tergantung dari status sosial penonton dan tim yang akan berlaga. Sampai sekarang, tiang tempat berbeloknya chariot-chariot yang sedang ngebut itu masih ada. Anda yang pernah menonton film klasik Ben Hur pasti dapat membayangkan serunya lomba kereta kecil yang ditarik kuda itu.
Uniknya, tribun ini berdampingan dengan kompleks pemakaman. Makam-makam di dekatnya ada yang merupakan kotak-kotak di atas tanah dengan pahatan indah. Ada juga yang berbentuk laci bertumpuk berbentuk kotak-kotak.
Gua bertingkat
Yang menarik di kedua kota itu adalah menu makanannya. Di sepanjang perjalanan kami hanya menjumpai restoran yang sajiannya terbatas pada sayuran segar mirip lalapan kita, ditata indah di tengah meja dengan bermacam-macam colekan ditambah beberapa gorengan dan roti pipih.
Dalam perjalanan ke utara menuju Suriah kami juga lewat Beirut. Banyak gedung korban pengeboman masih bopeng, namun banyak juga yang sudah direnovasi. Umumnya, Lebanon sibuk membangun diri.
Di Gua Jeita, kami menikmati keindahan stalagmit dan stalaktit bertingkat dua. Uniknya, untuk masuk ke gua kami harus melewati pintu putar yang dioperasikan dengan kartu magnetis. Kartu itu dapat dipakai untuk tingkat bawah dan atas, tanpa penjaga karcis. Gua sebelah atas dinikmati sambil berjalan kaki, tetapi di lantai bawah kami naik perahu berkeliling gua.
Yang menarik ialah di Lebanon kami banyak menjumpai patung Maria di atas bukit. Untuk mencapai patung Maria Lebanon misalnya, kami harus naik kereta gantung selama 10 menit, dilanjutkan dengan kereta yang merayapi bukit, seperti yang digunakan di Titlis, Swis.
Pegunungan Cedar yang zaman dahulu terkenal sebagai penghasil kayu aras Lebanon juga kami kunjungi. Dulu kayu dari sana banyak digunakan untuk membuat kapal dan Bait Allah di Yerusalem. Namun, sekarang hutan itu sudah menjadi hutan lindung, tidak boleh ditebangi lagi. Di tengah hutan pohon cedar ada sebuah gereja Kristen Maronit dan karya pahatan tubuh Yesus Kristus yang unik sekali pada sebatang pohon mati.
Bicara soal unik, mengingatkan saya pada sebuah restoran bernama Chateau Liban. Restoran ini terletak di atas sebuah bukit yang dikelilingi lembah. Dari restoran berarsitektur unik ini kita dapat melihat ke arah lembah yang disebut Valley of the Saints. Memang dari restoran Chateau Liban kami dapat melihat di kejauhan sebuah gereja tua bernama Hamatour. Gereja itu rupanya warisan orang Kristen Maronit. Mereka membuat gereja dan biara di tempat yang sulit dijangkau, ya menempel pada lembah curam itu. Saya hanya bisa membayangkan, betapa sulit membangunnya kalau untuk mencapainya saja sudah demikian sulit. Maka lembah itu diberi nama Valley of the Saints.
Pemilu meriah di Suriah
Sayang, kenikmatan perjalanan kami diusik oleh berita keadaan di Indonesia. Waktu itu sedang berlangsung sidang umum. Meski tak semua hotel menyediakan saluran TV CNN, TV lokal berbahasa Arab juga menyiarkan berita tentang Indonesia. Biarpun tidak mengerti bahasanya, dengan melihat gambar kami tahu bahwa itu berita tentang Indonesia. Misalnya, pernah saya melihat gambar jalan tol dengan papan petunjuk “Kelapa Gading”, salah satu kawasan di Jakarta.
Dari Lebanon kami beranjak ke Suriah di mana selain beberapa masjid besar, kami juga mengunjungi mausoleum Saladin (1137 - 1193), salah seorang pahlawan besar dalam sejarah Arab. Saladin yang terlahir dari keluarga Kurdi ini dulu sultan dari wilayah yang cukup besar, meliputi Mesir, Suriah, Yaman, dan Palestina. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tak cuma gagah dan disiplin, tapi juga murah hati. Semasa Perang salib pada 1187, ia berhasil menaklukkan dalam sekali pukul serangan tentara-tentara Perang Salib dari kerajaan-kerajaan Kristen di Eropa.
Setelah kemenangan itu, hanya dalam tiga bulan tentara Saladin berhasil merebut seluruh Kerajaan Jerusalem, Acre, Toron, Beirut, Sidon, Nazaret, Caesarea, Nabulus, Jaffa, dan Ascalon. Namun, sukses besarnya adalah ketika berhasil merebut kembali kota suci Yerusalem pada 2 Oktober 1187. Kota yang dipandang suci oleh baik umat Muslim maupun Kristiani itu sudah 88 tahun dikuasai orang Prancis. Tentara Saladin menguasai kembali Kota Yerusalem tanpa tindakan barbar pembantaian sama sekali. Ketika Saladin meninggal, para familinya dengan heran baru mengetahui kalau orang yang paling berkuasa dan sultan yang amat murah hati ini ternyata tak punya cukup simpanan uang untuk membeli tanah bagi makamnya sendiri.
Di mausoleum itu ada dua pusara. Yang satu asli, yang lain pusara kosong hadiah dari seorang kaisar Jerman. Di sana terpampang juga gambar-gambar yang menceritakan kunjungan kaisar itu ke sana. Rupanya, Saladin sempat menjalin persahabatan juga dengan sang kaisar.
Di Aleppo dan Damaskus kami mengunjungi beberapa masjid besar yang indah. Di Aleppo kami juga melewati sebuah citadel berbentuk mirip nasi tumpeng raksasa tanpa puncak.
Yang menarik, saat itu Suriah sedang dalam suasana menjelang pemilu. Jalan-jalan penuh dengan foto para kontestan. Poster serta umbul-umbul beraneka warna terbentang di taman-taman, dengan dihiasi bendera-bendera kecil. Persis suasana pesta. Memang mereka sedang merayakan “pesta demokrasi”. Di Suriah, hari libur adalah hari Jumat, sedangkan hari Minggu hari kerja biasa. Biaya menuntut ilmu di universitas praktis gratis.
Dari Aleppo menuju Damaskus, kami langsung diantar ke bandara untuk terbang menuju Dubai. Jalan yang kami lalui tidak seindah jalan tol kita, tetapi mulus sekali.
Bersafari gurun
Ketika tiba di Dubai, kesan pertama adalah kota itu seperti sebuah kota di Eropa, andaikata udaranya sejuk. Selain diajak ke museum untuk melihat keadaan Dubai saat belum semakmur sekarang, kami juga ke Gold Souk. Souk sebenarnya pasar yang juga pernah saya jumpai di Istambul. Tapi Gold Souk cukup istimewa, terutama karena ukuran pasar ini yang amat panjang, barangkali sekitar 200 m. Diberi nama “Gold” karena di bagian tengah dikhususkan untuk pedagang emas.
Di tengah kota, dengan terkejut saya melihat ada badan dan ekor pesawat besar yang seperti nyungsep ke suatu gedung bertingkat. Saya lega begitu menyadari itulah pusat pendidikan untuk para awak penerbangan Emirates.
Sore harinya, di luar Kota Dubai, kami sempat mencicipi rasanya bersafari di padang pasir. Dengan kendaraan jip besar yang tinggi (bahkan untuk naik saja sulit), kami dibawa naik turun bukit gurun pasir yang terjal. Rupanya, untuk itulah kami semua harus mengenakan sabuk pengaman, kalau tidak, kami bisa terpental. Ketika kami bertanya, apakah reli gurun pasir juga seperti itu rasanya, si pengemudi menjawab, tur “Dessert Safari” kami itu belum apa-apa.
Pengemudi yang orang Amerika itu sudah 10 tahun menggeluti profesinya. Ketika diminta supaya ia lebih halus membawa mobil, dengan enteng ia menjawab, “Jangan takut, saya juga punya anak istri.” Namun, saya sendiri berpikir, andaikata jip kami terguling pun, tak akan ada yang cedera serius, mengingat permukaan pasir yang begitu empuk.
Di salah satu bukit kami berhenti untuk menikmati matahari terbenam. Rupanya, itu termasuk “menu” utama karena sudah banyak jip lain berjajar di sana. Dengan bersemangat saya turun dari jip, ingin merasakan empuknya permukaan pasir. Ternyata, mencoba berjalan di atas pasir sungguh sulit, karena kaki kita langsung terbenam. Pasirnya begitu “cair”, sehingga konon jam tangan yang jatuh pun tak dapat ditemukan lagi. Langsung terbenam. Itu pernah dialami seorang anggota rombongan anak muda yang karena asyik bergurau, jam tangannya terlepas.
Pengalaman gurun pasir semakin lengkap saat kami dibawa berkunjung ke peternakan unta dan diberi kesempatan menunggang unta. Pengalaman itu menjadi makin sempurna, ketika di saat makan malam disajikan daging panggang (di bawah tenda), berikut tontonan tari perut. Dini hari malam itu juga, kami terbang kembali ke Jakarta.
Meski hati dibayangi rasa was-was akan apa yang menunggu di tanah air, pengalaman di Lebanon dan Suriah telah membangkitkan kesadaran saya, betapa panjang sejarah manusia dan betapa konflik, ketenteraman, kejayaan, dan kejatuhan terus terjadi silih berganti dari zaman ke zaman. (I)
dari : intisari/1999/Mei

