Karena itu, pemanfaatan energi alternatif listrik tenaga surya (LTS) dan biogas kotoran sapi merupakan alternatif jitu, terutama bagi warga di daerah yang sulit dijangkau, seperti pulau-pulau terpencil, di mana kenaikan harga BBM tidak bisa dikontrol karena mahalnya transportasi.
Alex RW Retraubun, Direktur Pemberdayaan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), memaparkan contoh program pengembangan energi alternatif yang sangat membantu penduduk miskin dari daerah terpencil itu, Selasa (13/5) di Kantor Harian Kompas, didampingi David Manariur, Direktur Utama PT Mulya Tiara Nusa, rekanan usaha DKP.
Alex menjelaskan, sekaranglah saatnya pemerintah mengembangkan energi alternatif LTS dan biogas, yang justru mempunyai nilai sangat ekonomis untuk daerah-daerah terpencil. ”Data dan pengalaman DKP ini merupakan fakta yang harus mendorong pemerintah menyiapkan policy khusus yang menjadi kebutuhan mendesak sekarang,” kata Alex.
Dengan jumlah pulau 17.504 dan 92 di antaranya pulau-pulau terluar/terpencil, selama ini pemerintah kita belum menganggap masalah pulau terpencil (single island) sebagai masalah serius. Padahal, pulau jenis ini biasanya tak memiliki hutan, tidak berlahan pertanian, dan sering tidak memiliki sumber air tawar. ”Masyarakat yang tidak punya income tetap seperti ini rentan terhadap kenaikan bahan kebutuhan pokok, termasuk energi,” kata penulis buku Profil Pulau-pulau Kecil Terluar di Indonesia itu.
”Solar home system”
Ia melukiskan, dua hari lalu, Senin, di Kecamatan Nanusa, Kepulauan Talaud, harga BBM sudah meroket. Harga solar menjadi Rp 8.700 per liter, bensin Rp 15.000 per liter, dan minyak tanah Rp 9.000 per liter. Namun, karena teknologi LTS solar home system (SHS) sudah diterapkan untuk 700 rumah/KK di Kepulauan Talaud dan Sangihe, masyarakat jadi sangat tertolong. LTS SHS maksudnya, instalasi satu alat untuk satu rumah.
Hal serupa ”menyelamatkan” masyarakat terpencil Pulau Tagalaya dan Pulau Meti, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, yang memperoleh bantuan LTS SHS dan merupakan proyek percontohan awal DKP tahun 2003. Alat seharga Rp 5 juta per unit ini mudah dirawat, bisa digunakan 15 tahun, serta berdaya listrik untuk 3 bola lampu dan sebuah kulkas.
Sejak 2007, 800 reaktor biogas kotoran sapi telah dikembangkan di daerah peternakan sapi Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, untuk listrik dan kebutuhan memasak. ”Sayang, program ini tidak diambil alih pemerintah. Pemerintah kurang responsif. Pernah kami tawarkan, tapi departemen itu bahkan menolak karena harus ada regulasi. Kalau harus menunggu PLN, tidak terwujud,” katanya. (NAW/HRD)
dari : kompas.com









simbah berkata,
Mei 21, 2008 pada 6:41 pm
Yang kaya gini wajib di kembangkan. Gak usah nunggu subsidi tahun depan dikurangi lagi. Tul mas! Kalo ada info gimana bikin pembangkit tenaga surya plus angin plus ombak tampilin sekalian biar dikembangin sendiri2x. Abis itu, paling nggak listrik gak usah tergantung PLN lagi
vincensurya berkata,
Juni 1, 2008 pada 4:03 am
mmm.. LTS tadi dayanya sanggup untuk hidupkan 3 bola lampu dan sebuah kulkas, yang berarti misalkan 1 buah bohlam 10 watt, berarti kalo 3 buah kan 30 watt, dan sebuah kulkas misalkan berdaya 75 watt, berarti total daya kira-kira 100 watt, kalo aku kepikiran daya segitu cukup untuk gerakkan motor listrik untuk menggerakkan generator ac misalnya genset yang berdaya keluaran lebih besar. kira-kira bisa ga ya? jadi menurutku memanfatkan lebih dari 1 sumber energi untuk menghasilkan energi dalam satu sistem.
Ringgo Amu berkata,
Juli 6, 2008 pada 9:55 am
Wah…kyknya bagus banget diberdayakan ke daerah-daerah terpencil… Udalah Bung,hal-hal seperti gitu jangan nunggu waktu kapan bantuan pemerintah akan diluncurkan… Bagaimana kalau bekerjasama dengan Partai Politik atau calon-calon Bupati/Walikota… Sebagai wujud kepedulian langsung terhadap masyarakat..
Andi Saputra berkata,
Juli 17, 2008 pada 3:18 am
bung boleh tau gak alat seperti itu dijual baru dmana aja???
pa udah bisa mesan…???
ketergantungan kita dengan listrik sangat mengebalkan…
lihat sakarang krisis energi di seluruh indonesia udah menampakkan mukanya….
duh klo boleh pesan satu ya…
ditunggu infonya di e-mail ku….
Dian Pratiwi berkata,
Juli 25, 2008 pada 8:24 am
apa tenaga surya itu gunanya hanya sebagai pembangkit listrik? kalau tidak selain untuk pembangkit listrik ada lagi ga manfaat dari tenaga surya. lalu bisa tidak tenaga surya digunakan untuk mengambil air didalam goa.
thanks.
fatah rizky berkata,
Agustus 9, 2008 pada 12:55 am
bung tolong aku diberi rangkaian converter dari dc ke ac yang gelombang keluaran dari inverter sinus murni. biar pompa listrikku bisa dipakai dengan sumber solar cell. tankkk….. ku tunggu lhooooo
lilis hikmawati berkata,
Agustus 11, 2008 pada 6:59 am
berguna banget tuh LTS. Kalau untuk di daerah riau kan masih banyak banget yang belum ada listrik. Gimana cara mandapatkanya? Berapa biayanya dan gimana pemasangan sekaligus penggunaanya? Mohon info ke email ku. terima kasih.
gayo berkata,
Nopember 4, 2008 pada 4:22 pm
cari dimana genset yang bahan bakarnya dari biogas,tolong carikan kalo sudah ketemu tolong infonya ke e-mailku
hamdi berkata,
Nopember 29, 2008 pada 6:42 am
Saya mau experiment dengan solar sell,gimana rangkaian dasar untuk conversi solar sell ke tenaga listri.mohon dibantu
thank’s
salam
Arul berkata,
Nopember 29, 2008 pada 10:55 am
Bgus jg tu d kmbngkan tuk ngrangi ktrgntungan pasokan listrik pln,.skalian ni mas mo tanya,kira2 brpa biaya alat yg d btuhkan tuk plts dlm mencukupi kbtuhan 1tv,kulkas,2msin pmpa air,kmpter dll,.jwban y sya tggu d email sya,.mksh mas ats prhtian dan kpdlian y trhdap enrgi altrntif tuk pskan listrik,.
THOL AHHHHHHHH.... berkata,
Februari 8, 2009 pada 6:33 am
macam-macam energi tu apa yaaa,,, kok dr td sya cri kok gag ktemu tmu sampe kpla sya pusing……………
defviana berkata,
April 4, 2009 pada 9:07 am
hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
leonard berkata,
Mei 16, 2009 pada 8:32 am
kalo boleh, saya pengen tau rangkaian solar sellnya dong! saya tertarik untuk ngembangin walaupun saya bukan ahlinya di bidang ini! saya sudah jenuh dengan keadaan krisis listrik sekarang ini! kalau bisa indonesia lepas ketergantungan dari PLN!