Pergulaan, Mempertaruhkan Nasib Petani Tebu

KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Buruh tebang tebu mengangkut tebu hasil panen ke atas truk di Desa Purworejo, Kecamatan Sragi, Pekalongan, Jawa Tengah, untuk dikirim ke Pabrik Gula Sragi, Pekalongan, Senin (18/8). Petani tebu mengeluhkan jatuhnya harga gula lokal akibat membanjirnya gula rafinasi.

Rabu, 20 Agustus 2008 | 10:46 WIB

Musim giling tebu telah dimulai sejak Mei 2008. Namun, belum ada tanda-tanda kesejahteraan petani tebu bakal meningkat. Gula milik petani hanya dapat dilelang dengan harga Rp 4.950 per kilogram, Rp 50 lebih rendah dari harga patokan yang ditetapkan pemangku kepentingan pergulaan Indonesia.

Muramnya nasib petani tebu di Indonesia terasa ironis karena di pasar dunia hampir semua komoditas pangan harganya melambung tinggi. Harga jagung di pasar dunia maupun domestik yang melambung, misalnya, mampu mendongkrak pendapatan petani jagung sekitar 30 persen.

Harga beras juga naik, di pasar dunia maupun harga pembelian pemerintah. Hal itu mendorong petani padi untuk semakin giat menanam padi. Luas area tanaman dan pendapatan petani padi pun meningkat sekitar 25 persen. Hal yang sama terjadi pada petani kedelai. Harga kedelai lokal kini Rp 7.000 per kilogram. Kondisi serupa juga dialami petani kelapa sawit.

Di tengah sukacita petani padi, jagung, kedelai, dan kelapa sawit, para petani tebu justru mengalami sebaliknya. Naiknya harga kebutuhan hidup dan melonjaknya harga sewa lahan tebu tidak diimbangi dengan kenaikan harga gula. Tidak hanya itu, mencari lahan untuk disewa pun kian sulit karena pemilik lahan memilih menanami sendiri lahannya dengan padi dan jagung.

Menurut Kepala Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Departemen Pertanian Tahlim Sudaryanto, usaha tani padi dan jagung saat ini amat menjanjikan. Dengan menghitung kenaikan harga komoditas gabah atau beras saat ini, untuk tiap hektar lahan yang ditanami padi akan mendapat penghasilan bersih Rp 5,98 juta satu musim tanam. “Keuntungan itu sudah memasukkan biaya sewa lahan,” kata Tahlim, beberapa waktu lalu.

Apabila dalam dua tahun rata-rata bisa menanam padi lima kali, keuntungan bersih yang didapat petani selama dua tahun mencapai Rp 29,9 juta. Bila dihitung dalam empat tahun, keuntungan bersih usaha tani padi bisa Rp 59,8 juta. Pendapatan yang lebih tinggi diperoleh petani jagung.

Membandingkan usaha tani tebu dan tanaman pangan lain harus dalam waktu empat tahun. Sebab, investasi tanaman tebu terbesar pada tahun pertama, tetapi tebu bisa dipanen dalam waktu empat tahun berturut-turut. Usaha tani tebu, menurut Direktur Budidaya Tanaman Semusim Direktorat Perkebunan Departemen Pertanian Agus Hasanuddin Rachman, memang lebih tinggi dibandingkan budidaya padi atau jagung. Apalagi kalau produktivitas tanaman tebu bisa mencapai 100 ton per hektar.

Dengan menghitung rendemen tanaman tebu 7 persen, tiap tahun usaha tani tebu bisa memberikan penghasilan kotor pada petani sekitar Rp 35 juta. Tahun pertama usaha tani tebu adalah tahun pertanaman yang membutuhkan modal relatif besar. Namun, pada tahun kedua hingga keempat, keuntungan petani tebu bisa lebih besar. Untuk modal bercocok tanam tebu pada tahun pertama Rp 10 juta-Rp 12 juta per hektar.

Tahun-tahun berikutnya, biaya produksi yang dikeluarkan hanya 60 persen dari modal tahun pertama. Dengan menghitung rata-rata penghasilan kotor petani tebu per hektar Rp 35 juta, dengan asumsi harga gula petani saat lelang Rp 5.000, untuk empat tahun, maka penghasilan kotor petani akan mencapai Rp 140 juta.

Pendapatan kotor itu masih dipotong biaya produksi selama empat tahun sekitar Rp 33,6 juta, biaya sewa lahan dan tenaga kerja serta risiko akibat kebakaran ladang tebu sekitar Rp 30 juta, setidaknya petani tebu masih bisa mendapat penghasilan bersih Rp 76,4 juta. Melihat perhitungan di atas, usaha tani tebu memang masih menguntungkan. Akan tetapi, harus diingat, lahan usaha tani tebu dan jagung relatif sama.

Tebu bisa ditanam di lahan kering, begitu pula jagung. Harga jagung yang sempat menyentuh Rp 2.800-Rp 3.200 per kilogram di tingkat petani jelas memberikan penghasilan lebih menjanjikan. Dari hitung-hitungan sederhana pemilik lahan, maka ia akan lebih memilih menanam jagung daripada menyewakan lahan untuk ditanami tebu.

Situasi ini harus menjadi peringatan bagi para pemangku kepentingan pergulaan nasional karena sebagian besar lahan yang ditanami tebu adalah lahan sewa.

Lahan sesuai

Menurut Irsal Las, profesor peneliti yang juga Direktur Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian, dilihat dari tingkat kesesuaian lahan, perpindahan usaha tani tebu ke nontebu tidak menjadi masalah. Apalagi mayoritas tanaman tebu untuk memenuhi kebutuhan industri gula nasional ditanam di dataran rendah dengan ketinggian di bawah 500 meter di atas permukaan laut (dpl). Hanya sebagian kecil yang di atas 700 meter dpl.

Begitu pula produksi padi nasional, sekitar 92 persen ditanam di lahan dengan ketinggian di bawah 500 dpl. Hanya sekitar 8 persen di atas 700 dpl. Kondisi serupa terjadi pada usaha tani jagung dan kedelai. Melihat tingkat kesesuaian lahan pertanian, pengalihan usaha tani tebu ke padi, jagung, atau kedelai sangat dimungkinkan.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil menjelaskan, sikap pemerintah yang seolah tidak peduli dengan nasib petani tebu akan berdampak buruk pada situasi pergulaan nasional dalam jangka panjang. Berkaca dari krisis kedelai nasional saat ini, sebenarnya hal itu dimulai sejak awal reformasi. Ketika itu produksi kedelai AS melimpah sehingga sulit menampung panen kedelai petaninya. Untuk menjaga insentif harga bagi petaninya, Pemerintah AS melalui USDA (United State Department of Agriculture) meluncurkan kredit ekspor, GSM 102.

Dengan fasilitas kredit itu, importir Indonesia banyak yang mendatangkan kedelai dari AS. Apalagi harganya lebih murah Rp 550 per kilogram dibandingkan harga kedelai lokal. Harga kedelai lokal Rp 2.500 per kg, sedangkan kedelai impor Rp 1.950. Akibatnya, produksi kedelai nasional terus menurun. Kondisi yang sama juga akan mengancam petani tebu.

Data Departemen Pertanian menyebutkan, luas areal tanam tebu rakyat saat ini sekitar 350.000 hektar. Dengan menghitung kepemilikan rata-rata lahan petani tebu 0,5 hektar per rumah tangga petani dan penyerapan buruh lima orang per hektar, maka pertanian tebu telah menghidupi sekitar 2,1 juta jiwa. Itu belum menghitung jumlah rumah tangga petani. “Kalau usaha budidaya tebu lesu, perekonomian desa terganggu dan konsumen dalam jangka panjang akan dihadapkan pada harga gula mahal, seperti kasus kedelai,” kata Arum. (Hermas E Prabowo)

dari : kompas.com

About these ads

3 Komentar

  1. natan said,

    Desember 13, 2008 at 10:58 am

    saya ikut prihatin dengan nasib para petani saat ini, sebagai mahasiswapun pernah bulan kemarin penelitian pola lahan dilawangpun, nasib petani cukup memelas…
    bagaimana tidak harga dan distribusi pupuk sangat mahal dan sulit, mereka harus tetap berjuang menanam padi untuk pangan bangsa ini, dengan berkeringat darah..
    seharusnya pemerintah mempelancar petani-petani ataupun didunia pertanian mengalami perubahan yang lebiih baik..

  2. Angga said,

    April 23, 2009 at 5:38 am

    ayo majukan pertanian Indonesia.

  3. rozi679 said,

    Juni 2, 2010 at 3:04 pm

    salam..
    saat ini saya menjual CD cara berkebun tebu yang benar, hanya dengan harga 60 ribu (sudah ongkos kirim).
    CD bukan berisi ebook PDF atau paparan data melainkan video interaktif/audio visual bagaimana prakteknyalangsung di lapangan.
    dan tersedia juga buku panduannya (berwarna dan bergambar) harga 60 ribu.
    jika berminat silahkan hub.saya di 081-911857815 atau email rozi679@gmail.com.
    terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: