Kekeringan Ekstrem di Jawa

PIKIRAN Rakyat menurunkan berita mengenai munculnya El Nino yang ditengarai memperparah kekeringan di Jawa Barat (“El Nino Perparah Kekeringan di Jabar”, 29/7). Sayangnya, dasar pemikiran yang menyebutkan sekarang telah terjadi El-Nino sama sekali tidak disinggung dalam tulisan yang menjadi headline itu. Parahnya lagi, El-Nino dikatakan sebagai biang keladi kekeringan yang bakal berkepanjangan dan kini melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat. Betulkah telah terjadi El-Nino pada musim kemarau tahun ini? Apa sebetulnya penyebab terjadinya kekeringan di Jawa?

Kekeringan

Kering memiliki banyak arti. Secara umum, kering berarti tidak ada air, tidak basah, tidak lembap (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008). Kering juga bisa ditinjau dari berbagai sisi, meteorologi, hidrologi, dan keadaan lahan. Kering secara meteorologi merujuk pada curah hujan yang sangat kecil atau bahkan sama sekali tidak ada. Kering meteorologi tampak dari suhu yang sangat panas di siang hari, sangat dingin di pagi hari, dan tidak adanya awan di atmosfer.

Kering secara hidrologi bermakna tidak tersedianya air yang cukup, baik di permukaan maupun di dalam tanah. Kering lahan secara kasat mata tampak dari tanah yang retak-retak akibat sedikitnya air yang dikandung lahan tersebut.

Penyebab utama kekeringan adalah musim kemarau. Musim kemarau terjadi karena pengaruh angin Monsun, angin musiman yang bertiup setiap enam bulan sekali di Indonesia. Angin musiman ini terbentuk karena posisi matahari terhadap bumi berubah-ubah. Akibatnya, pemanasan di bumi tidak merata.

Monsun terbentuk karena ada perbedaan pemanasan antara lautan dan daratan. Di bulan Juni-Juli-Agustus, matahari berada di belahan bumi utara. Itu sebabnya, bagian bumi di sebelah utara Indonesia lebih panas daripada selatan. Perbedaan panas tentu saja menimbulkan perbedaan tekanan. Semakin panas udara, tekanannya pun semakin rendah. Perbedaan tekanan ini membangkitkan angin yang bergerak dari selatan ke utara. Karena di bagian selatan Indonesia terdapat daratan Australia, angin ini pun bersifat kering. Angin kering inilah yang membangkitkan musim kemarau di Indonesia.

El Nino

Benarkah telah terjadi El Nino pada musim kemarau tahun ini? Untuk mengetahuinya, para pakar meteorologi bersepakat menggunakan data keadaan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik selatan khatulistiwa sebagai acuannya. Salah satu data global yang terpercaya dan dijadikan referensi para ilmuwan adalah data keluaran Climate Prediction Center, NOAA, Amerika.

Jika data suhu laut menunjukkan kenaikan, yang diperlihatkan dengan indeks anomali di atas +1 maka disebut El Nino. Sebaliknya, menurunnya suhu dinamakan La Nina, yang ditunjukkan dengan nilai indeks di bawah -1. Sementara nilai indeks -1 sampai +1 disebut kondisi normal, artinya tidak terjadi El Nino atau La Nina. Sejak tahun 1950, Kejadian El Nino atau La Nina berulang tiap 2-7 tahun. El Nino disebut juga fase panas (warm phase) dan La Nina sering dinamakan fase dingin (cool phase).

Pengamatan terhadap indeks El Nino/La Nina di wilayah Nino 3.4 (Nino 3.4 adalah daerah di tengah Pasifik yang paling dominan memengaruhi wilayah Indonesia) menunjukkan, nilai El Nino berada di kisaran -0.1 hingga 30 Juli 2008. Artinya, kondisi yang normal saat ini sedang berlangsung. Berdasarkan prediksi model International Research Institute Columbia, hingga Oktober (awal musim hujan) peluang terjadinya kondisi normal ini adalah 75 persen, El Nino 15 persen, La Nina 10 persen. Dengan demikian, peluang musim kemarau normal sangat dominan yaitu 75 persen. Munculnya El Nino sangat kecil, bahkan dapat diabaikan.

Kekeringan di Jawa

Jika tidak terjadi El Nino pada musim kemarau tahun ini, lantas apa yang menyebabkan Jawa didera kekeringan cukup parah dibandingkan dengan tahun sebelumnya? Seperti diberitakan, tahun ini terdapat 48 kabupaten di Indonesia yang mengalami kekeringan, dan 35 kabupaten di antaranya terletak di Pulau Jawa. Di Jawa Barat, terdapat 109 desa yang mengalami ke keringan (Pikiran Rakyat, 29/7).

Meskipun tidak terjadi El Nino, namun tahun ini Jawa adalah pulau yang memiliki curah hujan di bawah normal (0-33 persen). Sementara curah hujan normal (33-67 persen) terjadi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua. Pengamatan dari satelit juga menunjukkan hal serupa. Jawa tampak bersih dari awan. Hasil pengamatan data satelit TRMM, Pulau Jawa memiliki nilai nol untuk curah hujan rata-rata, selama sebulan terakhir. Padahal, curah hujan di pulau-pulau besar lainnya masih berada di rentang 5-10 milimeter per hari, kecuali 0 untuk Sumatra Selatan.

Secara meteorologi, kekeringan di Jawa kemungkinan terjadi karena angin Monsun tenggara yang melalui Jawa tersedot ke arah barat (Samudra Hindia). Hal ini karena pengaruh dipole mode positif, terjadi pemanasan di dekat Afrika dan pendinginan di dekat Sumatra. Pemanasan laut di dekat Afrika inilah yang telah menyeret kumpulan awan yang terbentuk di atas Jawa sehingga Jawa mengalami kekeringan yang lebih parah dibandingkan dengan pulau lain di Indonesia. Keadaan ini perlu diwaspadai karena kelembapan udara yang sangat rendah di atmosfer akan memicu terbentuknya titik api yang menyulut kebakaran.Peringkat kekeringan ekstrem (nilai indeks lebih besar 350) menunjukkan Jawa mengalami kondisi bahaya kekeringan. Pembakaran lahan dalam bentuk apa pun, sepenuhnya dilarang.

Pikiran Rakyat, 07 Agustus 2008

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: