Ketika Klorin Mengancam Beras Kita

DI mata sebagian besar orang Indonesia, beras punya nilai tersendiri. Meski dapat disubstitusi oleh bahan makanan lainnya, beras kadung terbiasa menjadi makanan pokok keseharian. Saking populernya, sampai-sampai ada ungkapan yang menyebut, belum disebut “makan”, kalau belum makan nasi.

Kebiasaan masif itu melahirkan tingginya permintaan pasokan beras memadai setiap waktu, juga beberapa permasalahan kompleks lainnya, dari mulai impor beras hingga keruwetan pembagian raskin (beras miskin). Permasalahan beras yang juga tengah banyak disorot beberapa waktu belakangan ini adalah temuan-temuan tentang zat pemutih yang terdapat dalam beras. Ibarat kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah mahal membeli beras, ketika dapat ternyata beras itu mengandung zat pemutih, yang bersifat racun bagi kesehatan manusia.

Dengan latar belakang permasalahan fenomena pemutihan beras, Sri Hartanto Wibowo, lulusan jurusan Teknologi Pangan Unpas angkatan 2001, pun melakukan penelitian berjudul “Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Pemutih (Bleacher) terhadap Residu Pemutih pada Beras yang Dipucatkan dengan Metode Semprot (Spraying)”. Untuk penelitian tersebut, ia mengamati beberapa tempat penggilingan padi di Karawang, yang melakukan proses pemutihan beras dengan menggunakan zat pemutih jenis klorin. Proses pemutihan beras di sana dilakukan dengan cara mencampurkan 3-5 gram klorin dengan 5 liter air, lalu disemprotkan pada 100 kg beras, kemudian ditiriskan selama 1-3 jam, sampai akhirnya beras siap dikemas untuk didistribusikan. “Mereka beli klorin murah, sekitar Rp 10.000,00 untuk 1 kuintal beras,” kata Sri kepada Kampus.

Dituturkan Sri, praktik penggunaan zat pemutih dan pengoplosan beras semacam itu sudah menyebar ke seluruh daerah di Jawa Barat. Produsen beras melakukan hal itu katanya untuk memenuhi tuntutan konsumen atas beras berwarna putih. “Produsen kurang peduli dengan dampak negatifnya, semua demi keuntungan semata,” kata Sri.

Klorin banyak diperjualbelikan di pasaran dalam bentuk kalsium hipoklorit atau dikenal sebagai kaporit. Klorin sendiri adalah zat kimia yang berfungsi handal sebagai desinfektan atau pembunuh kuman. Zat klor sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh sebagai salah satu zat penguat, namun jika kadarnya tidak terawasi atau melebihi ambang batas dalam tubuh, maka dapat mengakibatkan sejumlah gangguan kesehatan. “Bisa berpengaruh pada pencernaan ginjal, hati, dsb.,” ucap Sri.

Dalam penelitiannya, Sri melakukan percobaan “alternatif” zat pemutih lain, yakni, natrium bisulfit. Ia membandingkan penggunaan pemutih kalsium hipoklorit dan natrium bisulfit dengan cara disemprot menggunakan botol semprot pada beras. Hasilnya, setelah pencucian dan pemasakan beras yang menggunakan sulfit, ternyata jumlah residunya lebih rendah daripada kalsium hipoklorit. Hal ini disebabkan sulfit bersifat atsiri dan mudah hilang ke atmosfer dan bersifat reduktor.

Penggunaan sulfit dalam bahan pangan biasanya bertujuan untuk mencegah proses pencokelatan pada buah sebelum diolah, menghilangkan bau, dan rasa getir, serta mempertahankan warna agar tetap menarik. Berbeda dengan klorin dan senyawanya yang termasuk 1 dari 13 bahan kimia berbahaya dan dilarang digunakan dalam proses penggilingan padi, huller, dan penyosohan beras, menurut Peraturan Menteri Pertanian No. 32/Permentan/OT.140/2007, sulfit sendiri tergolong lebih aman dalam tubuh manusia. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 772 Tahun 1988, jumlah sulfit yang diperbolehkan dengan batas maksimal 500 ppm.

“Memakai sulfit, warna putih berasnya lebih bagus, aroma kimianya juga tidak setajam klorin. Sebagai pemucat, sulfit lebih baik, namun bukan berarti bisa digunakan untuk beras. Dalam hal ini, lebih baik tidak menggunakan zat kimia apa pun pada beras,” ungkap Sri.

Di pasaran, konsumen kebanyakan memilih beras yang putih, dengan alasan nasinya bisa lebih putih dan pulen seperti halnya beras bermutu tinggi. Padahal, dikatakan Sri, beras yang baik justru berwarna buram. Dalam konteks gizi, warna buram menandakan kandungan vitamin B yang kuat.

Dalam melakukan penelitiannya, Sri mengaku agak kesulitan mencari referensi, sebab penelitian atau kajian tentang pemutihan beras belum begitu banyak. Oleh karena itu, ia mengharapkan adanya penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut.

Pikiran Rakyat, 19 Juni 2008

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: