Memahami Proses Pembaruan Pesantren

TIDAK dapat dimungkiri bahwa pengujung tahun ajaran merupakan saat-saat yang paling melelahkan bagi orang tua yang anaknya berada di tingkat akhir. Selain mereka khawatir anak mereka tidak lulus ujian, mereka juga dituntut untuk mempunyai kesiapan finansial guna menjamin kelangsungan belajar anak mereka. Orang tua juga dipusingkan dalam memilih sekolah lanjutan terbaik untuk anak tercinta mereka.

Tidak mudah memang memilih sekolah yang terbaik untuk anak-anak kita. Banyak hal yang biasanya dijadikan pertimbangan, di antaranya adalah pertimbangan kualitas pendidikan sekolah. Sekolah-sekolah yang ada sekarang relatif mempunyai pola pendidikan yang hampir sama. Kalaupun ada yang istimewa, biasanya disertai dengan biaya pendidikan yang “istimewa” pula. Pada situasi sepereti ini, tampaknya pesantren sabagai salah satu lembaga pendidikan perlu diapresiasi. Selain karena pesantren merupakan institusi pendidikan yang bersifat asli (indigenous) Indonesia yang punya keterkaitan sejarah dengan perjuangan bangsa, pesantren pun relatif bisa bertahan hidup di tengah gempuran dan gerusan modernitas.

Secara ontologis, ada beberapa analisis historis tentang asal mula munculnya pesantren di Indonesia. Pertama, pesantren merupakan wujud dari sistem pendidikan Hindu-Budha yang diadopsi oleh para penyebar agama Islam di Indonesia, khususnya Wali Sanga, dengan mengganti materi ajar yang disampaikan. Dengan kata lain, pesantren adalah sistem pendidikan Hindu-Budha yang telah “ter-Islamkan”. Kedua, pesantren merupakan kelanjutan dari sistem gilda para pengamal tasawuf di Indonesia dan Timur Tengah pada masa lalu (Nurcholish Madjid: 1993).

Terlepas dari persoalan analisis sejarah di atas, faktanya pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan dan keagamaan merupakan realitas yang tidak bisa dimungkiri. Sepanjang sejarah yang dialaminya, pesantren terus menekuni pendidikan dan menjadikannya sebagai fokus kegiatan. Dalam mengembangkan pendidikan, pesantren menunjukkan daya tahan yang cukup kokoh sehingga mampu melewati berbagai masalah yang dihadapinya. Dalam sejarahnya itu pula, pesantren telah menyumbangkan sesuatu yang tidak kecil bagi bangsa ini.

Di tengah pergulatan masyarakat informasional, berbangga hati dan puas dengan sekadar mampu bertahan tanpa menghasilkan sesuatu yang baru khususnya untuk peningkatan kualitas pendidikan bukan pilihan yang cerdas. Sebaliknya, pesantren dituntut menjawab tantangan modernitas dengan memasuki ruang kontestasi dengan institusi pendidikan lainnya, terlebih dengan sangat maraknya pendidikan berlabel internasional, menambah semakin ketatnya persaingan mutu output (keluaran) pendidikan.

Kompetisi yang ketat itu memosisikan institusi pesantren untuk mempertaruhkan kualitas output pendidikan agar tetap unggul dan menjadi pilihan masyarakat, terutama umat Islam. Hal ini mengindikasikan bahwa pesantren perlu banyak melakukan  pembenahan internal dan inovasi agar tetap mampu meningkatkan kualitas pendidikannya.

Persoalan di atas rupanya sudah dibaca oleh banyak pesantren yang secara progresif banyak melakukan pembaruan dalam pelbagai aspek pendidikan di dunia pesantren. Sebut saja misalnya mengenai kurikulum. Dulu, pesantren hanya berkutat pada pengajaran yang melulu bermuatan Alquran dan Hadis serta kitab-kitab klasiknya dengan metode pengajaran klasikal yang berjalan searah dan monolog. Kalaupun ada ilmu-ilmu aqliyah yang dimasukkan ke dalam kurikulum, hal itu terkesan dilakukan dengan setengah hati. Ilmu-ilmu tersebut dihadirkan sekadar sebagai pelengkap yang seakan-akan tidak memilki signifikansi dalam pencapaian tujuan pendidikan yang substansial. Lebih jauh lagi, ilmu-ilmu yang dianggap sekular itu tidak diletakkan di dalam kerangka nilai-nilai ke-Islaman.

Sekarang, kondisi seperti tersebut di atas sudah mulai berubah. Berbagai disiplin ilmu dengan menerapkan metodologi yang lebih baru dan modern sudah merupakan hal yang tak asing di dunia pesantren. Semua itu dijalankan bukan karena sekadar latah yang bersifat formalistik, tapi benar-benar berangkat dari tradisi pesantren, yang pada prinsipnya merupakan ajaran dan nilai Islam autentik. Selain kurikulum, ada banyak aspek yang disentuh oleh pembaruan. Sarana prasarana, guru, manajemen (pengelolaan) pesantren, dan sebagainya.

Tapi, keberhasilan pesantren berdialog dengan modernitas sebaiknya tidak lantas membuat pesantren kehilangan kesaktiannya dalam menunaikan tugas moralnya. Sebab, sebagai sumber nilai, agama yang ditekuni oleh pesantren terutama berfungsi dalam pengembangan moral.

Dengan demikian, pesantren yang ideal adalah pesantren yang mampu berdialog dengan modernitas, tanpa mengeliminasi tugas utamanya sebagai pengemban amanat moral.

Tribun Jabar, 15 Mei 2009

About these ads

1 Komentar

  1. Desember 15, 2009 pada 6:15 pm

    Dg keunikannya, sering pesantren merasa dan dirasakan pihak diluarnya, sebagai entitas yg harus terus dijaga keberadaannya. Sayang, persepsi semacam ini mempersempit kemungkinan perubahan pesantren untuk selalu melakukan kontekstualisasi terhadap perkembangan zaman. Jika pesantren berhenti pada bangunan formalitas text, maka, sejatinya ia telah mempersiapkan kuburan yg dalam bagi dirinya. Adalah sunnatullah jika segala sesuatu berubah. Esensi ajaran Islam harus terus dikontekstualisasikan, dan ini membutuhkan peran pesantren, agar pesan inti Islam tidak tertindih dibawah simbol dan formalitas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: