“SOS” untuk Segara Anakan!

KAWAN-kawan Kampus pernah mendengar tentang laguna Segara Anakan? Segara Anakan merupakan kawasan perairan yang unik. Ia terletak di perbatasan antara Kabupaten Ciamis Jawa Barat dengan Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Di sana terdapat luasnya hamparan hutan mangrove, yang masih tersisa di Jawa dan sangat kaya biota hayati. Sayangnya, perairan yang letaknya berbatasan dengan Pulau Nusakambangan itu, kini dalam kondisi memprihatinkan dan nyaris tinggal kenangan.

Turut mencermati masa depan perairan Segara Anakan, para mahasiswa jurusan Geografi UPI mengikuti kuliah kerja lapangan (KKL), Juni lalu, untuk menggali kondisi riil di sana dan turun menyumbangkan solusinya. Sekitar 350-an mahasiswa dipecah ke dalam 24 kelompok dengan tema penelitian masing-masing. Berikut ini, Kampus menghadirkan dua penelitiannya, yang mengupas tentang rehabilitasi hutan mangrove dan perubahan orientasi mata pencaharian penduduk setempat. Simak yah!

Permasalahan utama yang dihadapi laguna Segara Anakan adalah sedimentasi (pendangkalan) yang intensif, yang diakibatkan dari lumpur yang terbawa Sungai Citanduy dan beberapa sungai lainnya yang bermuara di situ. Endapan lumpur memang menjadi ancaman serius bagi kelestarian laguna. Pada 1970-an, luas Segara Anakan masih 4.580 hektare, tetapi 1995 luasnya tinggal 1.695 hektare. Penebangan liar masyarakat setempat, membuat kerusakan hutan mangrove. Pada 1974 luas hutan mangrove masih sekitar 15.000 hektare, namun 2007 menyusut menjadi sekitar 6.000 hektare. Baca entri selengkapnya »

Setelah Operasi Hutan Lestari, Lalu Apa..?

BERAWAL dari bincang-bincang, menjadi sebuah aksi nyata dan (rencananya) berkesinambungan. Itulah Operasi Hutan Lestari Lodaya 2008 yang digelar Polda Jabar sejak 15 Juni lalu.

Dialog itu antara Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji dan sejumlah tokoh dan sesepuh Jawa Barat. Banyak yang dibicarakan dalam silaturahmi tersebut, salah satunya pembalakan liar di Jawa Barat, dengan mengambil contoh Hutan Cigugur, Ciamis.

Saat itu, Kapolda berjanji segera mengirim pasukan ke Cigugur. Beberapa hari kemudian, 600 anggota Polda Jabar dari berbagai satuan antara lain brimob, reserse, dan intelijen, dikirimkan ke lokasi. Baca entri selengkapnya »

Panda Akan Diajari Ilmu Bela Diri

PARA ilmuwan Cina berencana membekali panda-panda, hasil pembiakan buatan dengan ilmu bela diri. Upaya tersebut akan ditempuh, untuk meningkatkan harapan hidup panda hasil pembiakan buatan ketika panda-panda itu dilepas hidup di alam liar.

Para ilmuwan cemas panda-panda itu tidak mengetahui cara mempertahankan diri dari ancaman binatang lain. Panda pertama yang lahir dari pembiakan buatan, yakni panda jantan berusia lima tahun bernama Xiang Xiang, pada awal tahun ditemukan tewas setelah dilepas ke alam bebas.

Para ilmuwan menduga Xiang Xiang tewas akibat diserang binatang lain. Xiang Xiang tidak mengetahui cara mempertahankan diri, karena di sepanjang hidupnya, Xiang Xiang memang selalu tinggal di kawasan terlindung di bawah pengawasan para ilmuwan.

Agar insiden mengenaskan yang menimpa Xiang Xiang tidak terulang, Pusat Pembiakan Panda Raksasa Wolong, Cina, berencana menyewa anjing polisi yang terlatih untuk bertarung. Anjing tersebut akan hidup mendampingi panda-panda hasil pembiakan buatan sebelum dilepas ke alam bebas.

Panda-panda itu akan mempelajari cara pertahanan diri dengan mengamati anjing polisi yang hidup bersama mereka. Pusat Pembiakan Panda Raksasa Wolong berencana menyiapkan empat panda untuk segera diajari ilmu bela diri dengan cara tersebut.

Para ilmuwan menilai kehidupan panda di Cina semakin lama akan semakin keras, karena habitat mereka semakin sempit. Panda-panda tersebut berebut makanan dengan binatang lain. Panda hasil pembiakan buatan harus diberi perlindungan ekstra agar upaya pelestarian panda tidak sia-sia.

Pikiran Rakyat, 06 Maret 2008

Selamat Tinggal Hutan Alam!

Hari Kehutanan
Hamparan padi gunung telah menggantikan kawasan hutan Taman Nasional Kutai, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Sabtu, 24 November 2007.

Minggu, 16 Maret 2008 | 22:38 WIB

Pada Minggu, 16 Maret 2008, Departemen Kehutanan berusia 25 tahun. Tanggung jawab menjaga kelestarian sekaligus memanfaatkan nilai ekonomi hutan membuat departemen ini tak pernah sepi dari sorotan. Seusai rapat kabinet terbatas di Departemen Kehutanan, Jumat (22/2), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, pemerintah tetap menjaga dua fungsi hutan, yaitu fungsi kelestarian dan ekonomi.

Fungsi kelestarian ditujukan untuk mengurangi dampak bencana, tidak hanya bagi rakyat Indonesia, tetapi juga penduduk dunia. ”Kami akan mengelola semuanya itu untuk betul-betul mencapai tujuan pembangunan. Kami menyadari, usaha bidang kehutanan memberikan kontribusi pada ekonomi lokal, ekonomi daerah, termasuk lapangan kerja. Oleh karena itu, kami harus memastikan bahwa upaya (menjaga kelestarian) bisa mencapai (tujuan kesejahteraan rakyat) itu,” kata Presiden.

Dari 120 juta hektar kawasan hutan yang ada, 20,5 juta hektar di antaranya adalah hutan konversi, 33,5 juta hektar hutan lindung, dan hutan produksi seluas 63,35 juta hektar. Pemerintah mengklaim laju kerusakan hutan berkurang dari 2,3 juta hektar per tahun pada tahun 1997-2000 menjadi 1,08 juta hektar per tahun pada 2000-2006.

Dari klaim ini, kita bisa menarik napas sejenak karena tegakan hutan yang hilang telah berkurang, dari sebelumnya setara dengan 6.301 lapangan sepak bola per hari kini menjadi 2.958,9 lapangan sepak bola per hari. Namun, aktivis lingkungan dan organisasi internasional meragukan klaim itu. Mereka memperkirakan kerusakan hutan masih 2 juta hektar per tahun.

Lalu bagaimana kita memperlakukan hutan? Terus melestarikannya dan mengoptimalkan manfaat dari sumber daya ekonomi nonkayunya atau terus mengeksploitasinya dengan dalih demi pembangunan?

Hutan tanaman Baca entri selengkapnya »

Perajin Tikar Rotan Kesulitan Bahan Baku

KOMPAS.COM/IGNATIUS SAWABI
Rotan di hutan

/
Senin, 11 Agustus 2008 | 10:35 WIB

BANJARMASIN, SENIN – Pemprov Kalsel mulai  fokus bagi pengembangan budidaya  bahan baku produk unggulan lokal yang kini mulai punah. Kepala Disperindag Kalsel, Subardjo di Banjarmasin, Senin mengatakan  banyaknya produk unggulan lokal kini mulai kesulitan bahan baku, karena banyak lahan yang telah berubah fungsi dari sebelumnya sebagai lahan perkebunan atau pertanian menjadi tambang atau perumahan.

Kenyataan itu  mengancam kelangsungan industri unggulan lokal yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung pendapatan warga yang rata-rata berada dibawah garis kemiskinan.

“Pada 2008 ini kita memfokuskan pada pembudidayaan dan penyelamatan potensi bahan baku lokal yang nyaris punah, selain pembinaan dan pengembangan kualitas dan mutu desain produk,” katanya.

Beberapa industri unggulan lokal yang kini mulai punah diantaranya, industri tikar rotan dan Lampit dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), yang kini terus menurun karena perajin kesulitan mendapatkan bahan baku. Baca entri selengkapnya »

Selamatkan Bumi Kita ! (Bagian II)

Selasa, 13 Mei 08

Dampak Kerusakan Lingkungan Terhadap Pemanasan Global
Kerusakan demi kerusakan tersebut menyebabkan terjadinya pemanasan global. Konsentrasi gas-gas tertentu yang dikenal sebagai gas rumah kaca, terus bertambah di udara akibat tindakan manusia melalui kegiatan industri, khususnya CO2 dan chloro fluorocarbon. Yang terutama adalah karbon dioksida, yang umumnya dihasilkan dari penggunaan batubara, minyak bumi, gas, penggundulan hutan, serta pembakaran hutan. Asam nitrat dihasilkan oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi metan disebabkan oleh aktivitas industri dan pertanian. Chlorofluorocarbon (CFC) merusak lapisan ozon seperti juga gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global, tetapi sekarang dihapus dalam Protokol Montreal. Karbon dioksida, chlorofluorocarbon, metan, asam nitrat adalah gas-gas polutif yang terakumulasi di udara dan menyaring banyak panas dari matahari.

Proses pemanasan global dipicu oleh adanya efek rumah kaca, dimana energi dari matahari memacu cuaca dan iklim bumi serta memanasi permukaan bumi; sebaliknya bumi mengembalikan energi tersebut ke angkasa. Gas rumah kaca pada atmosfer (uap air, karbon dioksida dan gas lainnya) menyaring sejumlah energi yang dipancarkan, menahan panas seperti rumah kaca. Tanpa efek rumah kaca natural ini maka suhu akan lebih rendah dari yang ada sekarang dan kehidupan seperti yang ada sekarang tidak mungkin ada. Jadi gas rumah kaca menyebabkan suhu udara di permukaan bumi menjadi lebih nyaman sekitar 60°F/15°C. Tetapi permasalahan akan muncul ketika terjadi konsentrai gas rumah kaca pada atmosfer bertambah. Sejak awal revolusi industri, konsentrasi karbon dioksida pada atmosfer bertambah mendekati 30%, konsetrasi metan lebih dari dua kali, konsentrasi asam nitrat bertambah 15%. Penambahan tersebut telah meningkatkan kemampuan menjaring panas pada atmosfer bumi. Mengapa konsentrasi gas rumah kaca bertambah? Para ilmuwan umumnya percaya bahwa pembakaran bahan bakar fosil dan kegiatan manusia lainnya merupakan penyebab utama dari bertambahnya konsentrasi karbon dioksida dan gas rumah kaca. Baca entri selengkapnya »

Selamatkan Bumi Kita ! (Bagian I)

Senin, 28 April 08

”Earth is enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed.”
“Alam ini akan selalu mampu mencukupi kebutuhan makan bagi penghuninya, tetapi tidak mampu untuk mencukupi satu saja manusia yang rakus”

Mahatma Gandhi

Pengantar
Setiap tanggal 22 April 2008 kita memperingati hari Bumi, planet yang telah berusia kurang lebih 5.500.000.000 tahun. Hari Bumi ini di Indonesia sebenarnya tidak lazim diperingati sebelum tahun 1972, apalagi saat itu kekayaan alam kita masih sangat banyak dan kondisi lingkungan hidup kita masih jauh lebih baik, sehingga rasanya pada saat itu orang Indonesia masih “belum perlu” merasa khawatir untuk menyelamatkan bumi dan lingkungannya.

Gagasan hari bumi sendiri muncul dari seorang senator dari Amerika Serikat Gaylorfd Nelson yang menyaksikan betapa menurunnya kualitas lingkungan di bumi yang hanya satu-satunya tempat hidup manusia. Kerusakan yang juga disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri sudah kian menjadi-jadi, sehingga setelah menyampaikan pidatonya di Seattle pada tahun 1969, Gaylorfd bersama dengan teman-teman LSM, 1500 perguruan tinggi, dan 10.000 sekolah, turun ke jalan untuk mengadakan aksi penyelamatan bumi dari kerusakan. Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.