Pancasila dan Visi Kerakyatan

Bangsa Indonesia sedang memperingati hari yang sangat bersejarah dalamĀ  kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu hari kelahiran Pancasila yang ke-64 kalinya. Sebagai warga negara Indonesia kita patut berbangga bahwa sampai detik ini Pancasila sebagai dasar negara masih tetap eksis meskipun telah mengalami berbagai macam ujian. Usia 64 tahun untuk sebuah ideologi memang belum bisa dikatakan lama, namun setidaknya hal ini memberikan keyakinan kepada kita bahwa ideologi yang telah kita sepakati bersama ini berhasil memberikan harapan akan cita-cita kebangsaan kita.

Tetapi tentu saja yang paling penting dari peringatan hari kelahiran Pancasila adalah bukan hanya sekadar ritual-ritual formal, melainkan bagaimana kita mampu memahami dan menghayati (internalisasi) nilai-nilai luhur yang diembannya untuk kemudian diejawantahkan di dalam kehidupan kita sebagai warga-bangsa Indonesia.

Pancasila yang telah melewati beberapa periode kepemimpinan mulai dari Soekarno sebagai pencetusnya sekaligus proklamator kemerdekaan RI sampai pemerintahan sekarang di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) senantiasa memerlukan pemahaman dan penafsiran kontekstual sehingga mampu beradaptasi dengan zamannya. Baca entri selengkapnya »

UPI Mendeklarasikannya Sebagai Pendidikan Kebangsaan Bila Pancasila Makin Tenggelam

ARI Oktavian (12) dan Putu (17) berlatih memainkan lagu-lagu kebangsaan sebagai persiapan pentas musik “Agustusan” di depan Patung Garuda Monumen Perjuangan Rakyat, di Jln. Dipati Ukur Kota Bandung, Kamis (12/3). Kita merasakan semakin jarang orang membicarakan Pancasila. Bahkan, seolah-olah kita alergi dengan Pancasila.* KRISHNA AHADIYAT/”PR”

SEBELAS Maret sedianya diperingati sebagai tonggak dimulainya kekuasaan Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto yang ditandai munculnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Media massa, dunia pendidikan, dan instansi pemerintahan kerap memperingatinya dengan aneka seremoni dan acara. Di beberapa media, sejarah munculnya Supersemar selalu menjadi topik utama setiap tanggal 11 Maret tiba.

Namun, berbeda dengan 11 Maret di Universitas Pendidikan Indonesia, tahun ini. Mengaku memiliki keresahan yang sama akan posisi ideologi negara, sekitar 500 guru berkumpul di Balai Pertemuan UPI, Jln. Dr. Setiabudhi, Bandung. Pembicara dari Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas), Dewan Ketahanan Nasional, akademisi, dan perwakilan media massa didaulat menjadi narasumber.

Semua yang hadir dalam simposium itu merasa resah karena penghargaan masyarakat terhadap Pancasila sudah kian memudar. Pengajaran Pancasila di sekolah dan institusi pendidikan tinggi kian tidak diminati. Keberadaan Pancasila bahkan terlupakan dan tergilas oleh segala aktivitas manusia yang berkiblat pada dunia yang serba-materialisme.

Arus globalisasi dipercaya telah menenggelamkan posisi ideologi negara yang penuh dengan nilai kebangsaan. Praktik liberalisasi yang turut serta dalam globalisasi dan diwujudkan melalui aneka kebijakan pemerintah makin menenggelamkan Pancasila dari kehidupan berbangsa. Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.