Biofertilizer Hasil Radiasi Nuklir Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Pupuk hayati (Biofertilizer) hasil radiasi nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bernama Azora terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian.

“Pupuk hayati Batan ini memacu pertumbuhan tanaman seperti membuat akar dan daun lebih banyak, meningkatkan hasil, memperbaiki kualitas menjadi lebih menarik dan bersih, serta mengurangi pemakaian pupuk,” kata Kepala Batan Dr Hudi Hastowo di sela Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA) yang dihadiri perwakilan dari sembilan negara di Jakarta, Senin. Baca entri selengkapnya »

Penelitian FTIP Unpad Mencegah Kerusakan Brokoli dan Kol

Jika brokoli dan kol yang kawan beli berwarna kuning atau malah daun-daunnya rontok, bisa jadi sayuran tersebut telah rusak.

DUA tahun terakhir, Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran bersama Korea Food Research Institut (KFRI) berkutat dengan penelitian tentang sayur brokoli, kol putih, dan petsay. Penelitian dua lembaga ini mengarah pada cara-cara penanganan pascapanen ketiga sayur tersebut.

Alasan penelitian ini karena produk pertanian untuk jenis-jenis sayur-sayuran tadi belum maksimal. Penyebabnya beberapa hal, di antaranya kualitas fisik produk tersebut menurun saat dipasarkan. Misalnya, warna brokoli berubah menjadi kuning karena zat etilen pada brokoli, pembusukan akibat bakteri dan lain-lain. Kol putih dan petsay yang masuk genus Brassica juga peka terhadap etilen. Akumulasi zat itu pascapanen akan menyebabkan rontoknya daun dan perubahan warna menjadi kuning.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari FTIP Unpad (Nurpilihan Bafdal, Carmencita Tjahjadi, Debby Sumanti Moody, dan Totok Pujianto) dan dari KFRI (Seo-In Hong dan Dongman Kim), menemukan bahwa tingkat kerusakan pada tiga jenis sayuran tadi termasuk masih tinggi pada produk pertanian di Indonesia. Penyebabnya, kebanyakan petani belum memerhatikan secara serius penanganan pascapanen. Baca entri selengkapnya »

Saraf Buatan Pendeteksi Banjir

UPAYA manusia dalam membudidayakan lahan tidur seringkali dilakukan secara acak, tanpa didasari pertimbangan keilmuan. Alhasil, lahan yang harusnya memberi untung berbalik membawa buntung. Seperti yang terjadi pada para pengguna lahan di DAS (daerah aliran sungai) beberapa daerah, antara lain Kali Progo, Yogyakarta.

Dari mulanya hutan, secara intensif kemudian berubah menjadi lahan untuk sawah dan pemukiman. Perubahan yang berakibat degaradasi lahan, berpengaruh pada limpasan yang terjadi dan celakanya dapat berujung berbagai bencana. Bila diurut dari bahaya dan kerusakan yang ditimbulkan, banjir secara umum menduduki peringkat pertama, terutama di musim hujan seperti saat ini.

Dari kekhawatiran itu, muncullah tiga orang jawara dari Kampus Bulaksumur Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Dengan berbagai jurus ampuh pendeteksi banjir, trio Feriyonika, Hasia Ahmadi, Fajar Siddik berhasil menggondol juara kategori Elektroteknik untuk Peringatan Dini dan Penganggulangan Bencana pada Electrical Engineering Awards 2007 di Kampus ITB Bandung, Kamis (15/11). Pada gelaran yang diselenggarakan Hima Elektroteknik (HME) ITB ini, ketiganya berhasil menyakinkan juri dengan seperangkat alat yang berfungsi mengukur dan memperkirakan kecepatan rambat dan waktu tempuh banjir, dari hulu sungai hingga lokasi yang ditentukan. Baca entri selengkapnya »

Manajemen Pengelolaan Air Sudah Usang

WADUK Jatigede, itulah solusi terakhir yang diharapkan untuk mengatasi seluruh permasalahan pengairan di dua daerah yang menjadi sentra pertanian terbesar di Jabar, yakni Kab. Cirebon dan Indramayu.

Tentu saja, jawaban tersebut terasa klasik, bahkan seolah-olah mimpi karena sampai sekarang pun belum ada kepastian 100% waduk tersebut akan benar-benar diwujudkan atau terwujud. Akan tetapi, bila melihat kenyataan di lapangan, memang begitulah adanya dan seharusnya.

Sistem manajemen pengelolaan air yang selama ini berlangsung di daerah itu telah begitu usang. Seluruh infrastruktur yang disediakan, yang sebagian besar merupakan warisan infrastruktur pengairan peninggalan ekspemerintahan kolonial Belanda, tidak lagi mampu menjawab kebutuhan di lapangan. Baca entri selengkapnya »

Masih Ada Pengganti Kedelai

Dedi (36), terlihat tak bergairah. Tangannya perlahan membersihkan nampan-nampan persegi empat yang biasa digunakan untuk alas tahu buatannya. Hanya sedikit jumlah tahu yang ia produksi hari itu. Lebih sedikit dibandingkan dengan produksi hari-hari sebelumnya. Harga kedelai yang belum kunjung membaik membuat ia dan rekan-rekannya, sesama perajin tahu mengalami pukulan berat. Dedi adalah salah satu perajin tahu di kawasan Cibuntu Kec. Bandung Kulon Kota Bandung.

Dia mengatakan, masih tingginya harga kedelai di pasaran membuat para produsen tahu Cibuntu belum beranjak dari kesulitan. Produksi kian menurun dan pendapatan makin merosot. “Omzet turun sampai 50 persen. Produksi juga. Biasanya sehari bisa buat 8.000 tahu, sekarang paling 3.000-an, itu juga susah jualnya,” ujar Dedi.

Tidak jauh dari tempat pembuatan tahu milik Dedi, terdengar keluhan yang sama. Sebagai perajin tempe yang sudah bertahun-tahun berkutat dengan makanan rakyat ini, Ruswandi (35) merasa kewalahan dengan tingginya harga kedelai saat ini. Ia mengatakan walaupun harga kedelai saat ini sudah turun dari masa krisisnya, menurut dia masih mahal dan memengaruhi tingkat produksi dan penjualan. “Sekarang saya terpaksa mencampur kedelai dengan singkong untuk tempe saya,” kata dia. Baca entri selengkapnya »

Dilema Petani dan Pupuk

SETIAP musim tanam selalu terjadinya “kelangkaan” dan kenaikan harga pupuk di lapangan, terutama di berbagai sentra produksi padi, termasuk di Jawa Barat. Kondisi klasik dengan alasan klise itu terkesan sulit teratasi dan belum ada upaya serius mengatasinya. Dampaknya, tentus saja sangat dirasakan petani, yakni ancaman gagal tanam dan gagal panen.

Batasan “kelangkaan” pupuk, adalah kondisi pasokan pupuk minim bahkan tak ada pada suatu wilayah yang sedang memerlukan saat musim tanam. Kondisi itu umumnya disebabkan kebutuhan pupuk petani hanya pada saat tertentu (musim tanam), sehingga para pedagang menyediakan dalam jumlah besar mengikuti pola musim tanam.

Lain halnya saat bukan musim tanam, pasokan pupuk di kios-kios biasanya sedikit. Kondisi demikian tak dapat disebut sebagai “kelangkaan” pupuk, karena kebutuhan lebih sedikit sehinga pasokan pun disesuaikan.

Daerah Jabar boleh dikatakan sudah beruntung, karena produsen pupuk setempat, PT Pupuk Kujang Cikampek, Karawang, kini sudah memiliki dan mengoperasikan dua pabrik produksi urea. Ini membuat pasokan rata-rata pupuk urea dari BUMN tersebut menjadi rata-rata 2.600 ton/hari, atau dua kali lipat dibandingkan semula.

Secara teori, berlipatnya jumlah produksi pupuk urea, bukan masalah lagi bagi Jabar. Apalagi, jika melihat kondisi banyak lahan pertanian setiap tahunnya yang terus tergusur. Dengan demikian, seharusnya pasokan pupuk urea menjadi surplus.

Namun, kenyataannya, “kelangkaan pupuk” masih saja terjadi, termasuk pada musim tanam awal 2008.

Situsi ini langsung diikuti dengan kenaikan harga di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp 1.200,00/kg. Kondisi itu diperparah dengan munculnya kepentingan-kepentingan atau kekurangtahuan kondisi dari pihak-pihak tertentu.

Menyadari kondisi ini, PT Pupuk Kujang berupaya memenuhi kebutuhan dengan pendistribusian rata-rata per hari 3.600 ton. Ini terdiri dari dua pabrik sekitar 2.600 ton dan sebesar 1.000 ton dari stok gudang pabrik.

Saat pabrik sedang dipacu untuk memperoleh produksi yang maksimal, terjadi hal di luar dugaan yaitu adanya gangguan operasi. Pabrik Kujang 1B harus dimatikan. Namun, saat ini, pabrik Kujang 1A dapat dipacu untuk beroperasi lebih maksimal dengan memanfaatkan bahan baku dari Kujang 1B, sehingga dapat berproduksi sekitar 1.500 ton per hari. Baca entri selengkapnya »

Mikoriza, Pupuk Hayati Super

Pupuk hayati (biofertilizer) adalah bahan penyubur tanah yang mengandung mikroorganisme atau sel hidup dalam keadaan dorman yang berfungsi untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara guna mendukung pertumbuhan tanaman. Beberapa jenis mikroba yang umum digunakan antara lain mikroba penambat unsur nirogen, mikroorganisme pelarut fosfat, dan mikrooganisme penghasil hormon tumbuh.

Di samping itu ada jenis mikroba dari golongan jamur yang disebut mikoriza ditemukan sebagai sumber biofertilizer potensial yang dapat meningkatkan produktivitas budidaya tanaman. Biofertilizer atau pupuk hayati semacam ini bersifat ramah lingkungan dan dapat mempertahankan kualitas tanah secara berkelanjutan.

Mikoriza mempunyai peran dalam mempercepat suksesi pada habitat yang terganggu secara ekstrem. Mikoriza yang menginfeksi akar tanaman berperan dalam perbaikan nutrisi tanaman dan meningkatkan pertumbuhan, karena hifa yang menginfeksi akar mempunyai kemampuan yang tinggi dalam meningkatkan kapasitas penyerapan unsur hara fosfat, nitrogen, sulfur, seng, dan unsur esensial lainnya. Dengan adanya mikoriza, laju penyerapan unsur hara oleh akar bertambah hampir empat kali lipat dibandingkan dengan perakaran normal, demikian juga luas penyerapan akar makin bertambah hingga 80 kali.

Mikoriza berperan juga sebagai bio-protektor terhadap patogen tanaman, bio-remediator bagi tanah-tanah yang tercemar dan membantu pertumbuhan tanaman pada tanah yang tercemar. Baca entri selengkapnya »

Resapan Buatan, Tindakan Bijaksana terhadap Air Tanah

SAAT kemarau seperti saat ini, tak akan terlihat genangan air di jalan-jalan atau beberapa lokasi yang cekung. Malah di beberapa daerah mengalami kesulitan air bersih akibat keringnya sumur dan sungai-sungai. Namun, jika musim hujan tiba, sudah dapat dipastikan akan banyak cileuncang yang menggenangi sejumlah kawasan, termasuk di Kota Bandung.

Air yang ada di bumi mengalami siklus hidrologi (daur air) dan membentuk suatu kesetimbangan dinamis. Terjadi hal serupa dengan air hujan, dimana air yang jatuh sebagian akan menjadi aliran permukaan dan sebagian lagi meresap membentuk air tanah. Gangguan terhadap komponen siklus hidrologi secara alami akan membentuk kesetimbangan baru. Banjir serta penurunan muka air tanah merupakan hasil dari kesetimbangan tersebut.

Gangguan tersebut biasanya terjadi di daerah resapan yang fungsi lahannya telah berubah sehingga bersifat mempercepat aliran permukaan. Atau di daerah keluaran air tanah yang terjadi pemompaan melebihi pasokan akuifer. Baca entri selengkapnya »

Kemarau Lebih Kering & Lama

Kemarau tahun ini diperkirakan akan lebih kering dan lebih lama dari biasanya karena pengaruh El Nino. Pihak Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) bahkan telah memperingatkan agar masyarakat mulai menghemat air dan mengubah pola tanam (Kompas, 23 Juni 2009). Benarkah El Nino tengah berlangsung saat ini? Seberapa besar intensitas El Nino tersebut? Wilayah mana saja di Indonesia yang bakal mengalami kekeringan parah karena pengaruh El Nino?

Suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik ekuator tengah (wilayah ini disebut Nino 3,4), sejak pertengahan Juni 2009 telah menunjukkan terjadinya peningkatan melebihi 0,5 derajat Celsius. Pada awal Juli 2009, suhu bahkan telah merangkak melebihi angka 0,8 derajat Celsius. Keadaan semacam ini digolongkan sebagai El Nino lemah (Consensus of Strong El Nino NOAA, Amerika Serikat, 2007).

Peningkatan suhu di Samudra Pasifik yang melebihi kondisi normal ini berakibat pada pelemahan sirkulasi Walker. Sirkulasi Walker adalah sirkulasi angin zonal (sejajar lintang) timur-barat yang terjadi dari Samudra Pasifik Timur menuju Pasifik Barat (dekat wilayah Indonesia). Pada keadaan normal, berembus angin dari timur (Pasifik) ke barat (Indonesia). Angin yang berembus dari Pasifik ini membawa banyak uap air sehingga bila telah sampai di wilayah Indonesia maka angin tersebut akan bergerak naik (terjadi konveksi) sehingga terbentuklah awan dan hujan.

Namun, apabila terjadi El Nino, angin timur yang dihasilkan oleh sirkulasi Walker dari Samudra Pasifik menuju Indonesia akan melemah. Pelemahan angin timur ini akan menghentikan terjadinya konveksi di atas Indonesia, sebaliknya konveksi yang berlebihan terjadi di wilayah Pasifik. Tidak adanya konveksi di wilayah Indonesia akan berefek pada kekeringan yang berlebihan pada musim kemarau tahun ini.

Baca entri selengkapnya »

Potensi Besar, Pemanfaatan Kecil

Jawa Barat menyimpan potensi besar untuk menyediakan bahan baku menghasilkan biogas sebagai alternatif energi. Demikian dipaparkan oleh Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Provinsi Jabar Tb. Hisni, Selasa (2/9).

Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik, termasuk di antaranya kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi tanpa udara (anaerobik).

Baca entri selengkapnya »

“Suke”, Sisi Lain Kedelai

SUSU merupakan produk pangan yang menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan kalsium (Ca) tubuh. Seperti halnya di negara-negara barat yang konsumsi susunya sudah cukup tinggi, sebagian besar masyarakat Indonesia mengonsumsi susu dalam bentuk susu hewani, terutama susu sapi.

Belakangan, masyarakat memang sudah mulai gandrung mengonsumsi susu kedelai (soymilk)—lebih populer disebut dengan istilah “suke”. Namun, tetap saja, proporsinya masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan konsumsi susu sapi. Ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa susu kedelai kurang populer di masyarakat, mulai dari kebiasaan, minimnya kampanye konsumsi, keterbatasan bahan baku kedelai, hingga kurangnya informasi mengenai kandungan gizi suke.

Harus diakui, kandungan kalsium dalam susu kedelai memang lebih rendah daripada yang terdapat dalam susu sapi. Dalam satu liter susu kedelai murni mengandung sekitar 200 mg kalsium atau enam kali lebih rendah daripada yang terdapat pada susu sapi. Meski demikian, susu kedelai komersial umumnya sudah diperkaya dengan tambahan kalsium hingga kandungannya mencapai 1.200 mg per liter atau sama dengan kalsium yang terdapat dalam susu sapi.

Sebagian besar produsen susu kedelai menggunakan tri-calcium phosphate sebagai sumber kalsium yang ditambahkan pada produk susu kedelai mereka. Sumber kalsium lainnya, yaitu kalsium karbonat dan kalsium nabati dari ganggang laut (Lithothamnium calcareum). Sebagai catatan, kalsium di dalam air–digunakan dalam proses pembuatan susu kedelai, sangatlah penting. Takaran kalsium yang dianggap baik berkisar antara 0–600 mg per liter.

Yang jadi pertanyaan, apakah kita memang benar-benar membutuhkan kalsium yang begitu tinggi dalam susu kedelai?

Sebuah studi memperlihatkan bahwa asupan susu dan kalsium dari susu yang terlalu tinggi ternyata berhubungan dengan peningkatan risiko terkena osteoporosis. Penelitian yang dilakukan The Harvard’s Nurses Health Study dengan melibatkan sekitar 57.000 wanita, memperlihatkan bahwa wanita yang mengonsumsi sebagian besar kalsium dari produk susu, dua kali lipat mengalami patah tulang pinggul daripada wanita yang menerima asupan kalsium lebih sedikit dari produk susu.

Nilai nutrisi

Nilai nutrisi susu kedelai (per 100 gram) terdiri dari 93,3 gram air, energi 33 kcal (138 kJ), protein 2,8 gram, lemak 2 gram, asam lemak jenuh 0,21 gram, asam lemak tak jenuh 1,13 gram, karbohidrat 1,8 gram, serat 1,3 gram, abu 0,27 gram, isoflavon 8,8 mg, kalsium (Ca) 4 mg, besi (Fe) 0,58 mg, magnesium (Mg) 19 mg, fosfor (P) 49 mg, kalium (K) 141 mg, natrium (Na) 12 mg, seng (Zn) 0,23 mg, tembaga (Cu) 0,12 mg, mangan (Mn) 0,17 mg, selenium (Se) 1,3 mikrogram, vitamin B1 (thiamin) 0,161 mg, vitamin B2 (riboflavin) 0,07 mg, vitamin B3 (niacin) 0,147 mg, vitamin B5 (asam panthotenic) 0,048 mg, vitamin B6 0,041 mg, asam folat 1,5 microgram, vitamin A 3 mikrogram, vitamin E 0,01 mg. (Sumber: USDA Nutrient Database for Standard Reference).

Memang, jika standarnya hanya mengacu pada kandungan kalsium, susu kedelai kalah oleh susu sapi. Namun, jika dilihat dari berbagai faktor, susu kedelai menawarkan lebih banyak manfaat dan keuntungan, khususnya demi alasan kesehatan. Dengan alasan itu pula, kini kian banyak orang menyukai susu kedelai. Bahkan konsumsi susu kedelai kini jadi tren di masyarakat barat, terutama sejalan dengan makin banyaknya orang yang menganut pola makan vegetarian. Setidaknya ada tujuh kelebihan susu kedelai jika dibandingkan dengan susu sapi.

Pertama, susu kedelai berisi hanya protein nabati. Keberadaan protein nabati memberi keuntungan tersendiri karena menyebabkan sedikit kehilangan kalsium melalui ginjal.

Kedua, susu kedelai tak mengandung laktose. Sekitar 75 persen penduduk dunia tidak toleran terhadap laktosa. Beberapa kelompok etnik lebih banyak terpengaruh daripada yang lainnya. Sebagai contoh, sekitar 75 persen orang Afrika dan 90 pesen orang Asia tidak toleran terhadap laktosa. Manfaat tambahannya, susu kedelai mengandung gula prebiotik stachyose dan raffinose. Gula-gula prebiotik ini mampu meningkatkan imunitas dan membantu mereduksi racun dalam tubuh.

Ketiga, lebih sedikit orang yang alergi susu kedelai. Sekitar 0,5 persen anak-anak alergi terhadap susu kedelai, sedangkan 2,5 persen alergi terhadap susu sapi. Fakta ini penting karena faktor alergi terhadap susu bisa jadi hambatan tersendiri bagi seseorang untuk bisa mendapatkan nilai gizi dari susu. Susu kedelai bisa jadi substitusi bagi mereka yang alergi terhadap susu sapi.

Keempat, susu kedelai mampu menurunkan kolesterol. Lemak jenuh yang terdapat dalam susu sapi sangatlah tidak sehat dan meningkatkan kadar kolesterol tubuh. Protein susu sapi tidak bermanfaat bagi kolesterol. Sebaliknya, protein kedelai bisa menurunkan kadar kolesterol. FDA (Food and Drug Administration of US) atau Badan Pangan dan Obat-obatan AS mengkonfirmasi, sebagai bagian dari diet rendah lemak jenuh dan kolesterol, susu kedelai secara signifikan bisa mereduksi risiko jantung koroner. FDA juga merekomendasikan agar menyertakan 25 gram protein kedelai dalam menu harian.

Kelima, susu kedelai tak mengandung hormon. Susu sapi tak hanya mengandung hormon alami (dari sapi), tetapi juga hormon sintetis, yang bisa memengaruhi kinerja tubuh kita. Hormon sintetis, seperti RBGH (recombinant bovine growth hormone) diketahui meningkatkan produksi susu hingga 20 persen.

Keenam, susu kedelai tidak menyebabkan ketergantungan insulin pada penderita diabetes. Meski belum ada kesepakatan di antara para ilmuwan, beberapa penelitian memperlihatkan adanya hubungan antara minum susu sapi pada tahap awal kehidupan manusia dan perkembangan ketergantungan insulin pada penderita diabetes. Pada susu kedelai, hubungan ini tidak ada.

Ketujuh, susu kedelai kaya akan isoflavon. Kehadiran isoflavon sangatlah penting dan menjadi manfaat yang unik dari susu kedelai. Tiap cangkir susu kedelai mengandung sekitar 20 mg isoflavon (terdiri atas genistein dan daidzein). Susu sapi tidak mengandung isoflavon.

Isoflavon memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, termasuk mereduksi kolesterol, mempermudah gejala menopause, mencegah osteoporosis dan mengurangi risiko kanker (prostat dan paru). Kasus kanker sangat rendah pada negara-negara yang konsumsi produk kedelainya tinggi, termasuk susu kedelai. Isoflavon juga berfungsi sebagai antioksidan yang memproteksi sel tubuh dan DNA melawan oksidasi. ***PR. Kamis, 14 Februari 2008

Belajar dari Pembangunan Pertanian Soeharto

Hasiah (kanan), pedagang beras, menunggu pembeli di depan kiosnya, di Pasar Palmerah, Jakarta Pusat, Jumat (25/1). Akibat kenaikan harga beras yang mencapai rata-rata Rp 1.000 untuk semua kualitas sejak bulan Desember tahun lalu, pedagang mengaku sepi pembeli dan mengalami kerugian 30-40 persen. Kristianto Purnomo (KP) 25-1-2008

Kamis, 31 Januari 2008 | 18:32 WIB

<!–

Satuan Keamanan PBB Diterjunkan

–>

Belakangan ini harga pangan merayap naik. Dimulai dari beras dan minyak goreng kemudian disusul kedelai, susu, telur, dan ayam, sumber gizi untuk membangun manusia berkualitas. Dalam artikel di Kompas (3 November 1980), Prof Dr Andi Hakim Nasoetion menulis, Indonesia akan mengalami ledakan populasi.

Tahun 2000, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 200 juta sampai 210 juta jiwa. Perkiraan ahli statistik itu tidak terlalu meleset. Juga perkiraannya ledakan populasi akan menimbulkan masalah lingkungan, energi, pangan, dan gizi. Semua masalah itu dihadapi Indonesia saat ini.

Jumlah penduduk saat ini 230 juta jiwa, gizi buruk pada anak balita kerap terjadi, produksi pertanian (pangan) berkejaran dengan kebutuhan yang dicerminkan oleh tingginya harga bahan pangan dan kebutuhan pokok lainnya. Kompleksitas masalah jumlah penduduk dan penyediaan pangan adalah tantangan yang dihadapi Soeharto sejak memulai Pembangunan Lima Tahun (Pelita) I tahun 1969, minus globalisasi. Ketika itu jumlah penduduk Indonesia 120 juta jiwa dengan pertumbuhan 2,3 persen per tahun dan sebagian besar di Jawa. Produksi pertanian sangat rendah.

AT Birowo mencatat, tahun 1968, produksi beras nasional rata-rata 1,27 ton per hektar (ha) dengan luas tanam 8,02 juta ha (Pemikiran Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir, Paruh Pertama Ekonomi Orde Baru, ISEI dan Kanisius, 2005). Ekonomi Indonesia juga belum terdiversifikasi, terlihat dari sumbangan sektor pertanian sebesar 50 persen pada produk domestik bruto (PDB), 50 persen ekspor dari sektor pertanian dalam arti luas, penyumbang besar untuk pembentukan modal, dan memberi lapangan kerja untuk 70 persen penduduk.

Salah satu keberhasilan Soeharto dalam 30 tahun memimpin Indonesia adalah mengurangi kemiskinan melalui antara lain pembangunan sektor pertanian pada masa awal Orde Baru. Pilihan pada pembangunan pertanian karena sebagian besar penduduk Indonesia hidup dari sektor ini, bekerja sebagai petani pemilik atau sebagai buruh tani. Baca entri selengkapnya »

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.