Letusan Gunung Toba Terdahsyat di Dunia

74.000 Tahun Lalu, Dunia Gelap Gulita Selama Enam Tahun

SITUS arkeologi baru yang cukup spektakuler, ditemukan para ahli geologi  di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap  bagaimana orang bertahan  hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba, 74.000 tahun yang lalu. Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi Pers di Oxford, Amerika Serikat tentang adanya bukti kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.Selama tujuh tahun, para ahli dari Oxford University tersebut meneliti  projek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan, dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan  luas  ribuan hektare ini hanya ditumbuhi  sabana (padang rumput). Sementara, tulang belulang hewan  berserakan. Tim menyimpulkan,  daerah yang cukup luas ini  ternyata ditutupi  debu dari  letusan gunung berapi purba.

Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari  sebuah eruption supervolcano purba, yaitu  Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk  molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi  danau Toba di Indonesia, hingga 3.000 mil,dari sumber letusan.Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga ke  Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu. Bukti bukti yang ditemukan, memperkuat dugaan,  bahwa kekuatan letusan dan gelombang lautnya sempat memusnahkan kehidupan di Atlantis. Baca entri selengkapnya »

Raja Nusantara Minta Batas Majapahit Ditentukan Segera

Raja-raja Nusantara yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Keraton Se-Nusantara atau FSKN meminta agar batas-batas wilayah Kerajaan Majapahit ditentukan segera. Hal itu dikemukakan Sekretaris Jenderal FSKN Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Gunarso G Kusumodiningrat di sela-sela Dialog Nasional tentang Situs Ibukota Kerajaan Majapahit dan Pengembangannya sebagai kawasan Cagar Budaya Nasional di Mojokerto digelar di Hotel Sativa Sanggraloka, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Rabu (11/11).

Ia mengatakan, upaya penelitian yang selama ini dilakukan kalangan akademisi belum mencapai keberhasilan karena relatif melupakan keberadaan contoh keraton Majapahit yang tersebar di delapan kerajaan di Pulau Bali. Masing-masing di Puri Aung Klungkung, Puri Agung Jembrana, Puri Agung Singaraja, Puri Agung Karangasem, Puri Agung Denpasar, Puri Agung Gianyar, Puri Agung Tabanan, dan Puri Bangli.

Kompas, 11 November 2009

Air Mata Ki Hajar Dewantara

DULU Hari Pendidikan Nasional, yang kita peringati setiap 2 Mei, disingkat Harpenas. Kini kita mengenalnya sebagai Hardiknas, dengan kepanjangan yang sama. Kalau tidak salah, perubahan itu terjadi seiring dengan perubahan Departemen P & K, sebagai kepanjangan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menjadi Depdikbud—sekarang menjadi Depdiknas, dan pasti tak ada hubungannya dengan pelesetan “departemen dikebut”.
Tanggal 2 Mei diambil dari tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara (2 Mei 1889), seorang pahlawan nasional yang juga merupakan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Lelaki bernama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat ini pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Ia tokoh pendiri Taman Siswa, sebuah sekolah kerakyatan di Yogyakarta, dan gambarnya bisa dilihat pada uang kertas lama Rp 20.000.
Pekan lalu, saya bertemu dan berbincang hangat dengan seorang sepupu yang sudah lama menjadi guru PNS. Kami sudah lama tidak bertemu. Mungkin karena kami bertemu ketika anak-anak SMP menghadapi UN, pembicaraan pun bergulir juga ke soal UN dan sistem pendidikan yang lebih luas.
“Pendidikan di Indonesia adalah pendidikan tipu-menipu,” katanya.
Astaga, saya tentu saja kaget.
Tapi ia mengabaikan kekagetan saya. “Satu contohnya, ya, UN ini. Coba lihat nanti kalau sudah diumumkan. Hampir semua sekolah akan mengumumkan kelulusan yang angkanya 99-100 persen. Semua akan menyambut gembira. Menteri Pendidikan akan bilang bahwa kualitas pendidikan kita meningkat.
Betulkah demikian? Omong kosong besar!
Siapa pun yang bisa berpikir dengan logika sederhana pun tak akan percaya bahwa sebuah sekolah bisa meluluskan seratus persen peserta UN.”
“Tapi memang banyak sekolah yang siswanya lulus seratus persen, seperti tahun-tahun lalu,” kata saya.
“Karena apa? Karena selalu terjadi pembocoran jawaban soal-soal!”
“Apa benar begitu? Bukankah pengawas UN SMA berasal dari perguruan tinggi?”
“Bullshit! Mereka akan menjadi bagian dari kecurangan secara menyeluruh. Kecurangan sistemik yang rapi dan apik.”
“Bagaimana terjadinya kecurangan?”
“Banyak cara. Salah satunya, contekan biasa seperti anak-anak dulu, cuma bedanya sekarang lebih vulgar. Dulu hanya antar-anak, sekarang antarkelas, dengan pengawasan yang tidak ketat, dan terkesan mempersilakan.”
“Adakah kemungkinan guru dan sekolah sengaja memberikan jawaban?”
“Kemungkinan itu ada. Dulu empat tahun lalu aku sempat ribut dengan kepala sekolah karena jawaban didikte di depan kami tanpa izin dulu. Dia anggap aku juga gampangan. Ya, mungkin ada anggapan bahwa pengawas bisa diatur. Dan entah gimana, mereka hampir dikatakan lulus semua. Sayang sekali pembuktian terhadap kecurangan itu sulit sekali. Kamu lihat juga para siswa yang menyalin jawaban sebelum UN dimulai. Lalu juga beredarnya SMS jawaban. Siapa yang menyebarkan?”
“Siapa sebenarnya yang diuntungkan dengan semua kecurangan itu?” tanya saya.
Wajah saudara saya itu seperti gemas melihat ketololan saya. “Kan Depdiknas ingin dana 20% APBN. Sebaliknya, pemerintah otomatis menuntut prestasi anak. Pemerintah tahunya secarik kertas dengan angka-angka. Biar cepat terealisasi. Kan tidak mudah anak jadi pintar begitu saja. Maka dibuatlah sistem yang saling menguntungkan. Siswa untung, dinas pendidikan ke depan untung, guru juga untung karena prestasi anak. Dapat uangnya bukan hari ini tapi ke depan. Bisa dibayangkan berapa tambahan guru jika 20% APBN untuk pendidikan terealisasi.”
Saya diam, mencoba memahami jalan pikirannya.
“Sudahlah,” katanya. “Pendidikan di Indonesia itu penuh kebohongan. Memang susah dibuktikan, tapi semuanya seperti gajah di pelupuk mata.”
Saya masih diam, membayangkan air mata di wajah Ki Hajar Dewantara.

Tribun Jabar, 05 Mei 2009

Inggit Garnasih dan Batu Pipisan

BILA mendengar kata Inggit Garnasih, ingatan kita dibawa pada peran dan sepak terjang Soekarno, presiden pertama RI. Perjuangan Soekarno memang tidak lepas dari peran Inggit Garnasih, yang ikut membentuk karakter kejuangan, nasionalisme, dan patriotisme Soekarno dalam memerdekakan Indonesia.

Dalam hal itu pula, Badan Pahlawan Daerah Jawa Barat dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jawa Barat menggelar seminar nasional “Pengusulan Ibu Inggit Garnasih sebagai Pahlawan Nasional” pada 22 Desember 2008 di Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga, Bandung.

Garnasih lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Kab. Bandung, 17 Februari 1888, dari pasangan Ardjipan dan Amsi. Nama itu diberikan dengan penuh makna dan harapan, kelak menjadi anak yang hegar, segar, menghidupkan, dan penuh kasih sayang.

Harapan itu jadi kenyataan. Menginjak dewasa Garnasih menjadi gadis cantik sehingga ke mana pun ia pergi selalu menjadi perhatian pemuda. Di antara mereka sering melontarkan kata-kata, “Mendapat senyuman dari Garnasih sama dengan mendapat uang seringgit.” (Pada saat itu 1 ringgit sama dengan 2,5 gulden dan nilainya tinggi.) Akhirnya, julukan inilah yang merangkai namanya menjadi Inggit Garnasih.

Pada usia 12 tahun (1900) Inggit Garnasih memasuki gerbang perkawinan pertamanya dengan Nata Atmadja, seorang patih pada Kantor Residen Belanda. Namun sayang perkawinannya tidak lama, berakhir dengan perpisahan. Baca entri selengkapnya »

Sejarah Band “Indie” Bandung Dalam Sekeping Album

TERLETAK di Jalan Kyai Gede Utama No. 8, dan di bagian lorong antara halaman dengan aula pertemuan, empat poster besar terpajang. Poster itu berisi judul-judul album band lokal dari Bandung beserta tulisan pendukungnya. Sayang tulisan pendukungnya tidak terbaca jelas.

Terlepas dari hal itu, pameran poster ini sebenarnya ingin menyampaikan cerita tentang perjalanan produk album band-band lokal Bandung . Rentang waktu yang ditampilkan adalah perjalanan band Bandung dari tahun 1997 sampai 2008. Dari pajangan poster itu sekilas terdapat keterangan bahwa band-band lokal Bandung selalu membuat album dalam bentuk kompilasi.

“Perkembangan komunitas bawahtanah dalam rentang dekade dari tahun 1997-2008 menyisakan karya-karya kreatif sebagai penanda eksistensi. Satu hal yang bisa kita telusuri, selain dalam bentuk dokumen tertulis, yaitu lewat album kompilasi,” tulis Ketua Proyek “Kompilasi dan Dinamika Scene Musik Indie Bandung 1997 – 2008″, Idhar Resmadi.

Album kompilasi bisa berarti dalam satu kaset atau kepingan compact disc terdiri dari dua atau lebih band. Pertama kali album kompilasi muncul di Bandung adalah berjudul “Masaindahbangetsekalipisan” yang diproduksi oleh studio 40124 milik seorang pemusik Richard Mutter. Saat tahun produksi album itu, Richard masih berpredikat penabuh drum Pas Band. Baca entri selengkapnya »

Revitalisasi dan Kontekstualisasi Sumpah Pemuda 1928

JIKA dulu ikrar Sumpah Pemuda ditorehkan dengan melahirkan 3 inti gagasan perekat bangsa, apa yang bisa dimaknai dari peringatannya tahun ini yang menginjak usia ke-80? Tak lain dan tak bukan, upaya refleksi atas amanat Sumpah Pemuda harus terus dilakukan seiring dengan derasnya permasalahan bangsa saat ini. Alih-alih mengandalkan sebuah hari peringatan saja, yang terpenting adalah efek dari peringatan itu dimaknai dengan melanjutkan semangatnya.

Cecep Darmawan, dosen Ilmu Politik UPI, menyebutkan bahwa pemuda hari ini harus terus melanjutkan sumpahnya sebagai refleksi Sumpah Pemuda. Disebutkannya, sumpah itu terdiri atas 6 poin.

Pertama, pemuda perlu bersumpah untuk memerangi korupsi dalam setiap penyelenggaraan negara. Kedua, pemuda harus bersumpah untuk tetap menjadi pelopor, bukan pelapor, apalagi pengekor. Ketiga, pemuda harus bersumpah untuk tetap sadar dan melek hukum dan HAM. Keempat, pemuda harus bersumpah untuk lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan negara. Kelima, pemuda harus bersumpah untuk turut mencerdaskan bangsa, mengentaskan kemiskinan, kemelaratan, dan kebodohan. Keenam, pemuda harus bersumpah untuk mendorong pemerintah segera mengeluarkan UU Kepemudaan sebagai pedoman bagi pemuda dan organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) dalam mempertegas eksistensi dan peranannya.

Hal itu diungkapkan Cecep dalam Diskusi Publik “Gerakan Kaum Muda dan Perubahan Sosial” yang digelar oleh Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan (UKSK) UPI, di Auditorium PKM UPI, Selasa (21/10). Dikatakannya, upaya menyegarkan hakikat dan makna Sumpah Pemuda itu merupakan keniscayaan bagi kaum muda untuk mempersiapkan estafet kepemimpinan masa depan Indonesia. Ia prihatin dengan negeri ini yang berpredikat grontokrasi, yakni negeri yang dipimpin oleh orang yang sudah tua alias sepuh. “Kaum muda penting diusung sebab selain bersemangat dari segi idealisme, dari segi fisiknya pun masih fresh,” kata Cecep.

Rhadar Tri Baskoro, Ketua Forum Aktivis Bandung, menyebutkan bahwa kaum muda adalah kunci kepemimpinan bangsa saat ini. Menurut dia, sulit tetap memercayakan kepemimpinan pada kaum-kaum tua, di mana salah satu contoh kenyataan yang ada berupa monster bernama KKN tetap ada dan bahkan bertambah mengerikan. “Bukan aturannya yang diganti, tetapi orangnya yang diganti. Karena aturan itu bisa dimodifikasi, dibengkokkan, yang lurus bisa dimiringkan, yang salah bisa jadi benar,” ucap Rhadar.

Menurut Rhadar, pemuda yang dibutuhkan saat ini adalah pemuda yang penuh gereget dan berani ambil risiko untuk terus berjuang dan berpikir keras demi pembangunan masyarakat ke arah yang lebih baik. Pemuda bisa berkontribusi dalam bentuk apa saja yang dipunyai, dan membuktikan bahwa idealisme dan kerelawanan masih ada di negeri ini. Rhadar mengingatkan bahwa semua perubahan itu harus tetap melalui jalan damai yang jauh dari kekerasan. Baca entri selengkapnya »

Peta dan Hizbullah di Mata Tokoh Pergerakan

Ir. Soekarno

Tentara pembela tanah air itu adalah langkah pertama kepada latihan kemiliteran umum, yang menjadi idam-idaman kita. Semenjak dari dulu kita ingin menjadi satu rakyat yang dalam seluruhnya cakap mempertahankan tanah airnya. Idam-idaman kita ialah, bahwa kita semua, dan bukan hanya satu-dua golongan saja, cakap menjadi prajurit pembela bangsa. Kita semua, seluruh rakyat Indonesia, kelak kemudian hari harus menjadi satu rakyat yang cakap mempertahankan kedudukan tanah airnya dan bangsanya.

Sambutlah tentara pembela tanah air dengan rasa kelaki-lakian, sebagai satu kesempatan penghapus noda, dan sambutlah dia pula sebagai langkah pertama penggemblengan jiwanya seluruh rakyat Indonesia. Marilah kita semua, aku dan kamu seluruh rakyat Indonesia. Marilah kita semua melatih kita punya jiwa, supaya jiwa kita segera menjadi keprajuritan yang gemblengan. Hancur leburlah tiap-tiap musuh yang hendak menyerang kedudukan negara dan bangsa kita di kelak kemudian hari, kalau seluruh rakyat Indonesia berjiwa kemiliteran, berjiwa keprajuritan!

(Kutipan pidato Soekarno berjudul, “Jadilah Banteng!”, disampaikan di Lapangan Ikada 3/11/43 dalam rangka pekan tentara Peta) Baca entri selengkapnya »

Dr. Rushdy Hoesein, M. Hum., “Yang Untung Besar Adalah Indonesia”

Membahas sejarah era kemerdekaan bersama Rushdy Hoesein, sangat menyenangkan. Sikapnya terbuka dan tidak pelit dengan data yang dimilikinya. Selain terus melakukan riset, melalui blog http://www.sejarahkita.blogspot.com, Rushdy banyak menampilkan sisi-sisi lain dari sejarah Indonesia. Berikut wawancara tentang Peta dengan sejarawan yang kerap jadi narasumber televisi nasional itu.

Bagaimanakah kedudukan Peta dalam sejarah pembentukan TNI?

Pada tahun 2005, ketika Jenderal Endriartono (Sutaro -red.) jadi Panglima TNI, Peta sudah diterima oleh TNI sebagai cikal bakal. Tetapi, seyogianya memang ada peresmiannya, minimal dengan sebuah keputusan menteri.

Pembentukan Peta disebut-sebut diawali oleh surat Gatot Mangkoepradja. Benarkah surat ini ditulis dengan darah seperti dikutip pada sejumlah buku? Bagaimana yang sebenarnya? Baca entri selengkapnya »

Memetakan Sejarah Peta

Sejarah patriotisme bangsa Indonesia dipicu oleh semangat membela tanah air dari cengkeraman penjajah. “Berjuang sampai titik darah penghabisan” adalah kalimat sakti yang mampu membakar semangat rakyat Indonesia. Jika hari-hari ini kita begitu risau dengan tindakan negara tetangga yang “macam-macam” mengganggu kedaulatan Indonesia, itulah pertanda masih adanya patriotisme kita. Sejarah mencatat bahwa salah satu cikal bakal tentara nasional kita adalah tentara Pembela Tanah Air (Peta). Dalam rangka memperingati HUT ke-64 Tentara Nasional Indonesia (TNI), Pikiran Rakyat menyajikan laporan Iip D. Yahya, Periset Sejarah dan Penulis, mengenai Peta. Dirgahayu TNI. Selamat membaca.

* *

Menelaah masa-masa prakemerdekaan selalu membangkitkan heroisme kita. Kalimat “berjuang sampai titik darah penghabisan” itu masih terasa sangat menggugah. Bangsa Indonesia yang selama era kolonial Belanda “kurang” melakukan perlawanan, pada masa pendudukan tentara Dai Nippon (Jepang), telah menemukan momentum. Hanya satu kata: merdeka! Dan untuk merdeka itulah semua strategi perjuangan diterapkan.

Para founding fathers kita rela “papaehan” pura-pura hanyut dalam irama Dai Nippon, padahal di balik itu secara cerdik mereka mampu menentukan irama perjuangannya sendiri. Realitas saat itu Jepang memang sangat berkuasa, maka kolaborasi adalah suatu keniscayaan. Salah satu hasil kolaborasi itu adalah lahirnya tentara Peta (Pembela Tanah Air). Baca entri selengkapnya »

Selama Seribu Tahun Terus Diburu dan Dibantai Ikan Paus Terancam Punah

“Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka inni kuntu minadh dhaalimin” (Tidak ada Tuhan yang benar disembah, hanya Engkaulah ya Allah, Maha Suci Engkau, aku adalah orang yang selalu berbuat zalim pada diriku).

Begitulah Nabi Yunus a.s. bermunajat selama tiga hari tiga malam dalam perut ikan nun dalam kegelapan malam di kedalaman lautan. Ia dilemparkan ke laut oleh para penumpang kapal karena dianggap orang pembawa sial akibat terjadinya badai di lautan yang memprorakporandakan seluruh isi kapal. Atas kehendak Allah SWT, seekor ikan nun datang menyelamatkannya dengan cara menyambar dan menelan Yunus ke dalam perutnya. Dan akhirnya atas kehendak Allah, pada hari ketiga ia dimuntahkan ke daratan. Subhanallah!

Nun adalah Ikan besar yang menyelamatkan Nabi Yunus a.s. Menurut tafsir para ulama, nun diduga sejenis ikan paus biru. Ikan raksasa jenis ini sudah hidup beribu-ribu tahun jadi penghuni samudra bebas di seluruh dunia. Sebagai perbandingan untuk melihat betapa besarnya ikan paus dewasa, panjang tubuhnya rata-rata antara 36-60 meter, lebar tubuh depan antara 20-25 meter. Sementara berat massa badannya diperkirakan 180 ton. Para nelayan maupun ilmuwan mengalami kesulitan pada penimbangan berat badan karena tidak ada timbangan yang mampu menimbang langsung tubuhnya yang cukup besar.

Berat badan paus jauh lebih berat dibandingkan dengan seekor dinosaurus yang hidup di era Mesozoik yang beratnya hanya sekitar 60 ton. Ikan ini sekali makan per hari membutuhkan ikan krill ( ikan kecil ) sebanyak 90 ton.Pertumbuhan populasinya sangat lambat karena untuk melahirkan membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun, sedangkan masa kebuntingannya berbeda beberapa bulan dengan manusia. Bila manusia dan binatang darat mengandung anak rata-rata sembilan bulan, ikan paus lebih dari satu tahun.

Berat anak yang dilahirkan antara 2,5-3 ton, dengan panjang tubuh sekitar tujuh meter. Berat lidah paus dewasa 2.700 kilogram sedangkan lidah anaknya sekitar 550 kilogram. Kemampuan tumbuh anaknya sangat cepat, dengan daily gain antara 90-100 kilogram per hari. Dia akan disapih pada umur tujuh bulan. Selama dalam pengasuhan, anak paus itu minum susu induknya sebanyak 500 liter sehari. Hingga dewasa tidak ada predator yang spesifik, namun ada ikan sejenisnya yang selalu menyerang dan melukai kelompok paus biru, yaitu paus yang disebut “paus pembunuh”. Ikan paus ini tidak bernapas dengan insang seperti lazimnya ikan, namun menggunakan paru-paru yang memiliki 70 lempengan. Baca entri selengkapnya »

Digunakan Sejak Abad ke-2 SM untuk Dagang dan Akulturasi Budaya “Silk Road”, Jalan Tertua Dunia

TIDAK semua orang tahu apa dan di mana yang namanya silk road atau jalan sutra. Menurut para ahli sejarah, jalan yang merentang dari Barat hingga ke Timur sepanjang 7.000 km tersebut menghubungkan daratan Benua Eropa hingga daratan Asia Timur atau Cina. Jalan ini pernah sibuk dan ramai digunakan para kafilah sejak abad ke-2 SM ( sebelum Masehi ) untuk perdagangan maupun militer. Tidak tercatat dalam sejarah siapa yang pertama kali merintis jalur jalan ini. Akan tetapi, ketika jalur itu sedang ramai-ramainya, Jazirah Eropa sedang di bawah pemerintahan kaisar dari Romawi Timur Julius Caesar dan di wilayah Asia Timur, Cina sedang diperintah oleh kekaisaran Dinasti Tang. Sementara di bagian tengah, wilayahnya dikuasai imperium kekaisaran Tsar Rusia.

Lewat jalur silk road, akulturasi kebudayaan wilayah Barat dan Timur berjalan dengan cepat. Jalan darat antarbenua ini terletak di Asia Tengah, meretas pegunungan berbatu dan bersalju, melintasi padang pasir yang gersang dan panas, serta jurang dan ngarai yang dalam. Namun, karena tuntutan kebutuhan hidup, jalan sesulit apapun para kafilah rela menjelajahinya untuk berdagang. Kala itu, jalur laut belum ditemukan sehingga peranan silk road sangat vital untuk kehidupan masyarakat di Asia Tengah.

Menurut catatan para ahli geografis, panjang jalan silk road lebih dari tujuh kali panjang Pulau Jawa. Dengan menggunakan unta dan kuda tunggang, mereka menjelajahi dataran gersang dan berdebu tersebut untuk berdagang. Dua ternak itu memang tahan udara panas, kering, dan mampu berjalan jauh hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Mereka menelusuri jalan berbatu dan padang pasir yang gersang membawa barang-barang dari daratan Cina yang dipenuhi oleh keramik dan kain sutra. Baca entri selengkapnya »

Danau Baikal Mendidih

DANAU Baikal, yang merupakan danau terbesar dan terdalam di dunia, dilaporkan telah mendidih akibat kenaikan suhu yang hebat dalam 60 tahun terakhir. Hal ini diperkirakan akan mengancam keberlangsungan berbagai spesies yang hidup di perairan tersebut dan sekitarnya. Danau Baikal yang terletak di Siberia ini disinyalir memiliki 20 persen ikan air tawar yang ada di dunia, sekitar 2.500 spesies yang tak dapat ditemukan di tempat lain. Bahkan, di antaranya terdapat satu-satunya anjing laut air tawar. Suhu air danau Baikal dikabarkan telah mengalami kenaikan suhu hingga 1,21 derajat Celcius sejak 1946 silam akibat perubahan iklim, “mungkin hampir tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan suhu udara global,” kata Marianne More, seorang profesor dari Wellesley College Amerika Serikat yang juga menulis karya tulis ilmiah dalam jurnal Global Change Biology edisi Mei 2008. Selanjutnya, Moore mengatakan, anjing laut air tawar yang membesarkan anak-anak mereka di atas lapisan es sangat menderita karena hal tersebut. Anak-anak anjing laut air tawar juga lebih rentan terhadap serangan predator jika tak ada lagi gua-gua es sebagai tempat terlindungi. “Berkurangnya lapisan es akan memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan dengan pemanasan global,” ujar Moore.

Pikiran Rakyat, 19 Juni 2008

« Older entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.