Ada yang Salah dengan Alat Musik Tarawangsa

Tarawangsa adalah alat musik gesek yang biasa dipakai untuk ritus ngaruwat atau ngaraksa yang berarti ungkapan rasa syukur kepada Tuhan pada saat panen tiba. Tarawangsa yang berasal dari Banten, Rancakalong (Sumedang), dan Cibalong, Tasikmalaya.* ACCU.ORG.JP

Ketika suatu tradisi mendapat perubahan, maka akan muncul reaksi pro dan kontra. Begitu pun jika perubahan terjadi pada alat musik tradisional Sunda, tarawangsa. Tarawangsa adalah alat musik gesek yang biasa dipakai untuk ritus ngaruwat atau ngaraksa yang berarti ungkapan rasa syukur kepada Tuhan pada saat panen tiba.

Tarawangsa yang berasal dari Banten, Rancakalong (Sumedang), dan Cibalong, Tasikmalaya, bentuk badan depannya berupa kotak memanjang serta bagian belakang cembung dengan terdapat lubang kecil. Lalu perubahan apa yang terjadi? Dadang Sudianda atau panggilan akrabnya Iyang, pemain sekaligus pembuat alat musik gesek membuat inovasi dengan mengubah tempat lubang kecil di bagian belakang menjadi di badan bagian depan, menipiskan cembung badan belakang, dan membuat tambal peyangga senar di badan depan.

Iyang tentu mempunyai alasan atas perubahan letak dan bentuk tarawangsa itu. Ia menjelaskan bahwa ada kesalahan konstruksi pada tarawangsa di antaranya sebagai alat gesek, konstruksi tarawangsa ternyata untuk alat petik, sehingga suara menjadi kecil. Kemudian suara yang muncul bukan suara asli yaitu akustik, sebab tidak ada ruang untuk pantulan suara. Sehingga tarawangsa memakai alat bantu mikrofon atau spull untuk mengeraskan suara. Baca entri selengkapnya »

Kerajinan Ramah Lingkungan Disukai Pasar

Produk kerajinan berbahan baku ramah lingkungan diprediksikan masih menjadi “trend”, dan disukai di pasar ekspor pada 2010.

“Ini merupakan peluang bagi perajin Indonesia,” kata Direktur Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Republik Indonesia (APIKRI) Amir Panzuri di Yogyakarta, Rabu (13/1).

Ia mengatakan produk kerajinan ramah lingkungan adalah yang bahan bakunya dari alam yang bisa dikembangkan dan selalu terbarukan, bukan bahan baku dari bahan tambang yang untuk memperolehnya dengan cara merusak lingkungan. “Juga bukan bahan baku dari barang yang langka dan tidak bisa terbarukan,” katanya.

Amir mencontohkan produk kerajinan ramah lingkungan yang memiliki prospek baik di pasar ekspor di antaranya anyaman serat daun pandan.

Jenis kerajinan itu, menurut dia bahan bakunya bisa diperoleh dengan mudah dan diperbarui dengan penanaman kembali jenis tanaman pandan tersebut.

Selain itu, produk kerajinan dengan bahan baku dari kayu pohon cepat tumbuh dan tidak harus merusak lingkungan alam, misalnya bambu, sengon, mahoni dan sonokeling.
Baca entri selengkapnya »

Sejarawan: Budaya Etnis Padang Perlu Dilestarikan

Sejarawan dari Universitas Negeri Padang (UNP), Sumbar, Erniwati menyarankan pemerintah kota supaya melestarikan budaya setiap etnis yang ada di Padang, karena merupakan suatu kekuatan dalam menopang sektor pariwisata.

“Kota Padang memiliki banyak etnis, mulai dari Minang, Tionghoa, India, Jawa dan lainnya yang masing-masing memiliki nilai budaya masing-masing sehingga merupakan potensi yang harus dikembangkan di masa mendatang,” kata Dosen Fakultas Sastra UNP, Erniwati di Padang, Rabu.

Menurutnya, mengembangkan nilai budaya setiap etnis itu, selain sebagai potensi untuk menjadi daya tarik di sektor pariwisata, tapi tak kalah pentingnya melestarikan budaya yang ada di Masyarakat.Justru itu, adanya rencana masyarakat Padang Lamo yang terdiri dari delapan suku ingin membentuk forum komunikasi merupakan yang diprakarsai Forum Komunikasi Masyarakat Tionghoa Indonesia (FKMTI) sesuatu hal yang penting.

Jadi, melalui forum yang akan dibentuk bisa dijadikan wadah untuk memfasilitasi dan mengembalikan makna sejarah Padang pada tempoe doelu yang dibangun dari berbagai etnis.

Terkait, selama ini terabaikan karena perubahan dan perkembangan zaman sehingga nilai-nilai budaya yang ada tidak dipandang suatu kekuatan untuk pembangunan Padang.

Padahal, katanya, pada masa zaman pra kemerdekaan masyarakat Minang dengan keturunan Tionghoa dan India yang ada di Padang, saling mengisi karena ada nilai kesamaan.

Di mana antara masyarakat Minang dengan keturunan Tionghoa sama memiliki jiwa dagang, tapi dalam praktiknya yang berbeda. Sedangkan antara masyarakat Minang dengan India bisa bersinergi karena ada kesamaan nilai keyakinan Agama.

Justru itu, kata Erniwati, kehadiran forum yang dibentuk dari berbagai etnis itu, perlu dukungan dari Pemkot Padang, terutama penyediaan waktu dan dukungan moril.

Ketua FKMTI Kota Padang, Valentinus Gunawan mengatakan, tujuan pembentukan forum komunikasi antara suku atau etnis masyarakat Padang Lamo, guna menyatukan kembali kelompok-kelompok yang ada di Kota Padang.

Terkait, bila adanya satu pandangan atau wadah antar suku atau etnis sehingga Padang, pasca bencana akan lebih cepat bangkit dengan semangat kebersamaan sehingga bisa bermitra dengan pemerintah daerah.

Selain itu, tambahnya, bertujuan untuk melestarikan nilai sejarah dan budaya yang ada sejak dulunya sehingga generasi muda bisa mengetahuinya.

Sebab, bila tak ada wadah untuk menyatukan pandangan dan melihat kembali sejarah Padang Lamo, generasi antara suku atau etnis di Padang, bisa terpecah bela dengan pengaruh perubahan zaman.

“Makanya telah dibentuk formatur yang melibatkan dari unsur suku Minang, Tionghoa dan India. Dalam pembentukan kepengurusan akan mengakomodir semua suku yang ada,” jelasnya.

Kompas, 14 Januari 2010

Wanita 106 Tahun Itu Diusir dari Rumah Perawatan

Malang nian nasib wanita yang satu ini. Usahanya untuk mencegah penutupan rumah perawatan (panti jompo, red), tempatnya menghabiskan sisa hidup, gagal sudah. Ia diusir dengan paksa di tengah pekatnya malam.

Dengan hanya payung dan selimut di tangan untuk melindunginya dari hujan salju, Louisa Watts (106), salah satu perempuan tertua di Inggris ini didorong keluar dari perawatan rumah. Sia-sia sudah apa yang diperjuangkannya selama ini.

Underhill adalah tempat bagi Watts mengisi sisa hidupnya setelah pindah dari rumahnya empat tahun lalu. Watts memang tak pernah menduga, bila Dewan Kota Wolverhampton menyetujui rencana untuk menutup rumah tersebut pada April lalu sebagai bagian dari rencana pemotongan anggaran yang harus dilakukan pada tahun 2011 untuk menjaga stabilitas pajak.

Ny Watts sebenarnya sudah berusaha. Diwakili oleh pengacaranya, Yvonne kampanye Hossacks, ia pergi ke Pengadilan Banding untuk menggugat keputusan itu. Tapi apa lacur, banding Ny Watts ditolak.

Pengusaha Trevor Beattie sempat menawarkan untuk mendanai rumah itu selama satu tahun setelah mendengar kemarahan penduduk atas penderitaan yang dialami orang-orang yang tinggal didalamnya. Tapi dewan menolak tawaran itu.

Ny Hossacks, salah satu sosok yang sejauh ikut mencegah penutupan lebih dari 80 rumah perawatan mengatakan, banyak mantan kliennya yang telah dipaksa untuk pindah dari rumah perawatan, kemudian meninggal dalam beberapa minggu.

Menurut penelitian ia sendiri, 37 persen dari mereka yang menjadi korban kebijakan pemerintah kota itu banyak sekali yang meninggal dalam waktu satu tahun.

Direktur dewan untuk orang dewasa dan masyarakat setempat, Sarah Norman mengatakan, Underhill yang dibangun 40 tahun lalu kini tak lagi memenuhi standar ruang modern untuk sebuah rumah perawatan.

Kompas, 14 Januari 2010

Siswa Athena Kagumi Budaya Indonesia

London, Koran Internet: Siswa Sekolah Rafina di Athena mengagumi kekayaan budaya dan pariwisata Indonesia saat mereka berkunjung ke gedung Kedutaan Besar RI di Athena, Yunani. Sebanyak 50 orang siswa dan tiga guru pembimbing berkunjung ke KBRI Athena dan mendapat VCD serta brosur mengenai obyek wisata dan budaya Indonesia, kata Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Athena, Jani M. Sasanti kepada koresponden ANTARA London, Rabu. Menurut Jani, kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka kunjungan edukatif sekolah menengah pertama Rafina ke KBRI Athena.

Dikatakannya, cuaca mendung dan hujan lebat tidak menyurutkan antuasiasme siswa kelas III SMP Rafina yang mengunjungi gedung KBRI Athena dan membuat suasana berubah menjadi sekolah bagi siswa yang ingin mengenal kemajemukan seni budaya Indonesia. Dia mengatakan kunjungan edukatif tersebut merupakan salah satu program kurikuler sekolah untuk mempelajari dan mengenal Indonesia lebih mendalam dari sisi sejarah dan hubungan bilateral serta melihat secara langsung KBRI di Athena. Baca entri selengkapnya »

Keraton Surakarta “Ngalap Berkah”

Keluarga besar Keraton Surakarta menggelar ritual tahunan “ngalap berkah” (mencari berkah) di Lokawisata Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa.

Kendati tidak dihadiri Raja Keraton Surakarta Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIII Tedjowulan, ritual yang digelar untuk kedua kalinya tampak dipadati ratusan masyarakat sekitar Lokawisata Baturaden.

Ritual tersebut diawali arak-arakan sesaji dan gunungan yang dibawa para “abdi dalem” menuju salah satu sudut Lokawisata Baturaden yang diyakini sebagai tempat “patilasan” Gusti Kenconowungu (kerabat Keraton Surakarta).

Sesampainya di patilasan tersebut, sesaji berupa buah-buahan, dua tumpeng kecil, minuman, dan sejumlah makanan tradisional, diserahkan kepada Gusti Kanjeng Ratu Alit (kakak SISKS Paku Buwono XIII Tedjowulan yang merupakan putri tertua Paku Buwono XII, red.) untuk diletakkan pada sebuah gubuk kecil yang tutupnya terbuat dari daun kelapa.

Setelah itu diakhiri dengan pembacaan surat Al Fatihah dan doa untuk memohon berkah kepada Tuhan Yang Mahaesa.

Sementara gunungan yang terdiri “pala kependem” (umbi-umbian), “pala kasempar” (buah/sayuran di atas tanah), dan “pala gantung” (buah-buahan yang menggantung), dibawa kembali untuk diperebutkan kepada masyarakat.

Acara diakhiri kenduri atau makan bersama dengan makanan yang dibawa sendiri-sendiri oleh masyarakat.

Akan tetapi sebelum kenduri tersebut dimulai, satu per satu nasi tumpeng yang dibawa perwakilan kelompok masyarakat terlebih dulu dibelah oleh Gusti Kanjeng Ratu Alit.

Terkait kegiatan tersebut, salah satu sesepuh Keraton Surakarta Gusti Kanjeng Pangeran Haryo Adipati Sosronegoro mengatakan, ritual ini digelar di Baturaden karena adanya keterkaitan sejarah antara masyarakat Banyumas dengan Kerajaan Mataram khususnya Keraton Surakarta.

“Kami dari Keraton Surakarta sangat mendukung kegiatan yang bernuansa budaya ini. Bahkan, kami berharap tradisi ini terus dilestarikan,” katanya.

Menurut dia, kegiatan ini banyak mengajarkan kebaikan, antara lain dengan adanya kenduri atau makan bersama.Dia juga mengaku kagum terhadap antusiasme masyarakat untuk mengikuti kegiatan ritual tersebut.

“Masyarakat yang menghadiri kegiatan kali ini terlihat mengalami peningkatan dibanding tahun lalu,” katanya.

Sementara itu, Wakil Koordinator Paguyuban Keluarga Keraton Surakarta (Pakasa) Wilayah Banyumas Kanjeng Raden Haryo Tumenggung Gunawan Santoso Hadiningrat mengatakan, di Lokawisata Baturaden terdapat dua petilasan (tempat keramat), yakni Petilasan Kenconowungu dan Petilasan Kamandaka.

“Kenconowungu diyakini sebagai salah satu kerabat dekat Keraton Surakarta di Banyumas,” katanya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas Abdullah Muhammad mengatakan, pihaknya menyambut baik dilaksanakan kegiatan tersebut.

Menurut dia, ritual “ngalap berkah” diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Lokawisata Baturaden.

Kompas, 13 Januari 2010

Air Jamasan Kereta Keraton Yogyakarta Jadi Rebutan

Puluhan warga Yogyakarta berebut air sisa jamasan Kereta Keraton Yogyakarta, Selasa (12/1/2010) atau tanggal 26 Suro tahun Jawa 1943. Jamasan kereta digelar di Museum Kereta Keraton Yogyakarta.

Oleh warga, air ini akan dicampur untuk mandi atau minum. “Sebagai orang Jawa ada kepercayaan air ini membawa ketenteraman. Tetapi bukan untuk kekayaan,” ungkap Pujopawiro (56), warga yang berasal dari Sewon, Bantul. Ia berangkat dari rumah sekitar pukul 07.30 dengan membawa lima botol bekas air mineral untuk menyimpan air sisa jamasan atau cuci kereta. Sudah lima tahun ini ia rutin mencari air sisa jamasan kereta keraton.

Tukinem (66), bahkan datang dari Muntilan, Magelang, Jawa Tengah untuk mendapatkan sisa air jamasan kereta. Air tersebut, rencananya akan dipakai untuk mencampur masakan dan rebusan air untuk membuat teh. “Tetap saya masak sampai matang. Ini untuk menolak bala,” katanya.

Ada dua kereta yang dijamas, yaitu kendaraan utama Kanjeng Nyai Jimat yang merupakan kereta tertua dibuat tahun 1750. Kereta ini pertama kali digunakan oleh Sultan Hamengku Buwono I sampai Sultan HB V untuk jumenengan atau upacara penobatan atau peringatan penobatan. Kereta kedua yakni Kyai Jongwiyat yang merupakan kereta pengiring. Kyai Jongwiyat pertama dipakai oleh Sultan Hamengku Buwono VII. Setiap tahun kereta pengiring yang dijamas berganti secara bergilir. Total ada 23 kereta keraton Yogyakarta yang tersimpan di museum kereta Keraton Yogyakarta

Abdi Dalem Poncoroto yang memimpin prosesi jamasan kereta keraton, Mas Lurah Rotodiwiryo mengatakan prosesi jamasan kereta merupakan tradisi setiap tahun yang dimulai sejak Sultan HB I. Tradisi jamasan ini untuk merawat benda-benda pusaka keraton.

Tribun Jabar, 12 Januari 2010

Sastra Pesantren Masih Terpinggirkan

Dalam praktik pengajaran, pondok pesantren kaya dengan produk-produk sastra. Namun, sastra pesantren ini cenderung masih terpinggirkan dan bahkan belum dikenal oleh khalayak luas. Ke depannya, sastra pesantren harus memiliki fungsi sosial, komunikatif, dan memegang komitmen kemanusiaan.

Menurut Ketua Yayasan Pondok Pesantren Lembaga Kajian Islam dan Sosial Kali Opak Jadul Maula, para santri sebenarnya telah berkecimpung dengan sastra seperti syair maupun rangkaian untaian doa dalam kehidupan sehari-hari. “Secara tidak sadar, jiwa sastra telah terbentuk, tetapi aliran sastra pesantren ini cenderung belum menemukan bentuknya,” kata Jadul, Senin (11/1/2010).

Tokoh-tokoh sastawan seperti Zawawi Imron maupun Ahmad Tohari juga berasal dari lingkungan pesantren, tetapi belum dikategorikan sebagai sastra pesantren. Untuk mendongkrak minat generasi muda pesantren untuk berkarya di bidang sastra, pondok pesantren pun telah giat menggelar beragam pendidikan sastra, pembuatan film pendek, hingga mengapresiasi film.

Untuk mengisi libur sekolah, sekitar 100 anak dengan rentang usia 15-25 tahun mengikuti pelatihan kepenulisan sastra fiksi di Pondok Pesantren Kali Opak yang diselenggarakan oleh Komunitas Matapena. Kegiatan yang telah selesai pada Minggu (10/1/2010) malam ini diikuti oleh siswa dari lebih 30 pondok pesantren.

Pjs Ketua Komunitas Matapena Yogyakarta Akhiriyati Sundari mengungkapkan pelatihan tersebut mampu mendongkrak kreativitas menulis generasi muda. “Selain memperoleh bekal teknik penulisan, siswa juga diajak menggali ide dengan mengunjungi Candi Boko hingga bantaran Sungai Opak. Kami berharap bisa lahir penulis muda dari pondok pesantren,” tambah Sundari.

Sastra pesantren, menurut Jadul, harus ke luar dari ekspresi keagamaan yang menyempit. “Produk-produk sastra pesantren jangan sampai terjebak pada pemisahan antara kehidupan rohani dan sekuler. Gerakan sastra pesantren jangan sampai membuat sekat yang memecah belah,” tambah Jadul.

Sejak dari zaman para wali, produk sastra yang bermuatan Islami cenderung bisa berakulturasi dan diterima oleh masyarakat luas. Kala itu, para wali pun turut melebur dalam karya wayang yang sebenarnya berakar tradisi Hindu. Untuk semakin memupuk jiwa seni para santri, Pondok Pesantren Kali Opak berencana akan menggelar pameran seni rupa pada Februari mendatang.

Kompas, 11 Januari 2010

Keindahan Sumatra di Rakovnik, Ceko

Alumni penerima Beasiswa Darmasiswa dari Pemerintah Indonesia yang berasal dari Ceko mempromosikan keindahan Sumatra melalui pameran photo yang diselenggarakan di Galeri Samson di kota Rakovnik, Ceko.

Pameran photo itu berlangsung hingga 6 Februari mendatang, ujar Councellor Penerangan Sosial Budaya dan Pariwisata KBRI Praha Azis Nurwahyudi, yang membuka pameran tersebut kepada koresponden Antara London, Minggu.

Photo hasil karya Jana Cermakova, Jana Klapova, Jan Kautecky, menceritakan kehidupan di Sumatra diambil selama mereka belajar di Universitas Andalas, Padang tahun 2008-2009.

Azis Nurwahyudi, dalam kesempatan tersebut menyampaikan ucapan terima kasih kepada para alumni Darmasiswa yang turut aktif mempromosikan Indonesia di berbagai kota di Ceko.

Dikatakannya KBRI Praha selalu mendorong setiap kegiatan yang dilakukan alumni Darmasiswa karena kegiatan seperti ini akan semakin mendekatkan hubungan antara Indonesia dan Ceko.

Azis Nurwahyudi juga mempromosikan Beasiswa Darmasiswa yang saat ini masih dibuka pendaftarannya sekaligus membagikan formulir untuk melamar beasiswa tersebut.

Sementara itu Jana Cermakova yang memotori pameran mengatakan kegiatan ini ditujukan untuk mempromosikan Indonesia, khususnya Sumatra, dimana mereka dulu belajar Bahasa Indonesia tepatnya di Padang.

Jana mengakui bahwa ia turut prihatin dengan musibah yang baru-baru ini menimpa teman-teman mereka di kota itu. Oleh karenanya hasil penjualan photo sepenuhnya akan disumbangkan ke Padang melalui Yayasan Andalas yang mereka dirikan di Rakovnik.

Photo yang dipamerkan dibagi dalam beberapa bagian, seperti kehidupan masyarakat di Padang, keindahan alam di Sumatra Barat, dan photo kegiatan budaya di daerah itu. Untuk melengkapi pameran, selain foto juga dipamerkan batik karya Jack Simanjuntak.

Para pengunjung yang memadati Galeri Samson sangat tertarik dengan photo yang mereka nilai eksotik tersebut dan membaca setiap keterangan yang menyertai gambar dengan seksama.

Kompas, 11 Januari 2010

Dinpar Kalsel Telusuri Tengkorak Demang Lehman ke Belanda

Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan (Kalsel) melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata segera menelusuri keberadaan tengkorak Demang Lehman yang kabarnya tersimpan di Museum Leiden di Belanda.

“Februari 2010 ini tim Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata akan berangkat ke Belanda memastikan apa benar tengkorak Demang Lehman ada di negara tersebut,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kalsel Bihman Mulyansah di Banjarmasin, Minggu.

Menurut dia, informasi tentang keberadaan tengkorak Demang Lehman masih simpang siur, sehingga untuk memastikannya perlu upaya untuk menelusurinya langsung ke museum tempat tengkorak pahlawan Kalsel tersebut disimpan.

Kenapa harus pemerintah pusat, kata dia, karena urusannya sudah antar negara, sehingga secara regulasi, daerah tidak bisa melakukan sendiri.

Kalau ternyata tengkorak panglima perang dalam perang Banjar itu benar tersimpan di musium Belanda, maka pihaknya akan berupaya untuk menjemputnya.

“Selanjutnya akan kita kubur sebagaimana layaknya seorang pahlawan,” katanya.

Pernyataan Bihman tersebut menjawab pertanyaan beberapa warga seandainya benar terngkorak tersebut ada, apakah harus ditaruh di musium atau dikuburkan. Baca entri selengkapnya »

Upaya Menjaga Warisan Budaya

MENYAMBUT datangnya Bulan Syura dalam penanggalan Jawa,ritual laku bisu mubeng benteng (berjalan mengitari benteng Keraton tanpa bicara) dan jamasan pusaka di lakukan masyarakat. Jamasan berasal dari kata jamas, artinya dicuci, dibersihkan, atau dimandikan.

Pusaka bukan hanya sebatas senjata, tetapi dalam konteks ini adalah simbol kultur. Pusaka yang dimaksud berupa ragam senjata seperti keris,pedang, tombak, maupun benda-benda wasian seperti gong keramat,kereta keramat,dan masih banyak lagi. Penjamasan dilakukan dengan memilih hari “istimewa”,biasanya Jumat atau Selasa Kliwon dan di-lakukan sesuai adat dan tata cara yang sudah turun-temurun. Mereka yang terlibat dalam ritual harus mengenakan pakaian adat Jawa peranakan. Semuanya laki-laki, mengenakan kain panjang,surjan, dan penutup kepala blangkon. Seperti prosesi jamasan pusaka yang di gelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DIY di Pendopo Kepatihan, beberapa waktu lalu.
Baca entri selengkapnya »

Upaya Menjaga Warisan Budaya

MENYAMBUT datangnya Bulan Syura dalam penanggalan Jawa,ritual laku bisu mubeng benteng (berjalan mengitari benteng Keraton tanpa bicara) dan jamasan pusaka di lakukan masyarakat. Jamasan berasal dari kata jamas, artinya dicuci, dibersihkan, atau dimandikan.

Pusaka bukan hanya sebatas senjata, tetapi dalam konteks ini adalah simbol kultur. Pusaka yang dimaksud berupa ragam senjata seperti keris,pedang, tombak, maupun benda-benda wasian seperti gong keramat,kereta keramat,dan masih banyak lagi. Penjamasan dilakukan dengan memilih hari “istimewa”,biasanya Jumat atau Selasa Kliwon dan di-lakukan sesuai adat dan tata cara yang sudah turun-temurun. Mereka yang terlibat dalam ritual harus mengenakan pakaian adat Jawa peranakan. Semuanya laki-laki, mengenakan kain panjang,surjan, dan penutup kepala blangkon. Seperti prosesi jamasan pusaka yang di gelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DIY di Pendopo Kepatihan, beberapa waktu lalu. Baca entri selengkapnya »

« Older entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.