Tarawangsa adalah alat musik gesek yang biasa dipakai untuk ritus ngaruwat atau ngaraksa yang berarti ungkapan rasa syukur kepada Tuhan pada saat panen tiba. Tarawangsa yang berasal dari Banten, Rancakalong (Sumedang), dan Cibalong, Tasikmalaya.* ACCU.ORG.JP
Ketika suatu tradisi mendapat perubahan, maka akan muncul reaksi pro dan kontra. Begitu pun jika perubahan terjadi pada alat musik tradisional Sunda, tarawangsa. Tarawangsa adalah alat musik gesek yang biasa dipakai untuk ritus ngaruwat atau ngaraksa yang berarti ungkapan rasa syukur kepada Tuhan pada saat panen tiba.
Tarawangsa yang berasal dari Banten, Rancakalong (Sumedang), dan Cibalong, Tasikmalaya, bentuk badan depannya berupa kotak memanjang serta bagian belakang cembung dengan terdapat lubang kecil. Lalu perubahan apa yang terjadi? Dadang Sudianda atau panggilan akrabnya Iyang, pemain sekaligus pembuat alat musik gesek membuat inovasi dengan mengubah tempat lubang kecil di bagian belakang menjadi di badan bagian depan, menipiskan cembung badan belakang, dan membuat tambal peyangga senar di badan depan.
Iyang tentu mempunyai alasan atas perubahan letak dan bentuk tarawangsa itu. Ia menjelaskan bahwa ada kesalahan konstruksi pada tarawangsa di antaranya sebagai alat gesek, konstruksi tarawangsa ternyata untuk alat petik, sehingga suara menjadi kecil. Kemudian suara yang muncul bukan suara asli yaitu akustik, sebab tidak ada ruang untuk pantulan suara. Sehingga tarawangsa memakai alat bantu mikrofon atau spull untuk mengeraskan suara. Baca entri selengkapnya »








