<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>KLIPING cyberMEDIA</title>
	<atom:link href="http://klipingut.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://klipingut.wordpress.com</link>
	<description>Just another utkampus web</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jan 2009 00:22:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='klipingut.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/938fcd8924fbdd4717f620f8eeb9a588?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>KLIPING cyberMEDIA</title>
		<link>http://klipingut.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Biogas dari Bungkil Biji Jarak Pagar, Inovasi Terbaru dari Teknik Kimia ITB</title>
		<link>http://klipingut.wordpress.com/2009/01/27/biogas-dari-bungkil-biji-jarak-pagar-inovasi-terbaru-dari-teknik-kimia-itb/</link>
		<comments>http://klipingut.wordpress.com/2009/01/27/biogas-dari-bungkil-biji-jarak-pagar-inovasi-terbaru-dari-teknik-kimia-itb/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 00:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>klipingut</dc:creator>
				<category><![CDATA[energi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://klipingut.wordpress.com/2009/01/27/biogas-dari-bungkil-biji-jarak-pagar-inovasi-terbaru-dari-teknik-kimia-itb/</guid>
		<description><![CDATA[


Selasa, 15 &#8211; Mei &#8211; 2007, 11:03:31
Kelompok Riset Biodiesel ITB baru–baru ini berhasil membuat BIOGAS DARI BUNGKIL (= AMPAS PERAHAN) BIJI JARAK PAGAR. Inovasi ini berangkat dari ide bahwa limbah perahan biji jarak untuk biodiesel dapat dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar bagi petani jarak. “Membuat minyak dari jarak bagi petani itu tidak murah, sedangkan mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1429&subd=klipingut&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="entry hentry">
<div class="meta"></div>
<div class="content">
<p>Selasa, 15 &#8211; Mei &#8211; 2007, 11:03:31<br />
<a title="enlarge image..." href="http://www.itb.ac.id/news/image/1635"><img class="floatleft tmbleft" src="http://www.itb.ac.id/news/img/tn_253-1179227011_contri.jpg" alt="klik untuk memperbesar" width="190" height="251" /></a>Kelompok Riset Biodiesel ITB baru–baru ini berhasil membuat BIOGAS DARI BUNGKIL (= AMPAS PERAHAN) BIJI JARAK PAGAR. Inovasi ini berangkat dari ide bahwa limbah perahan biji jarak untuk biodiesel dapat dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar bagi petani jarak. “Membuat minyak dari jarak bagi petani itu tidak murah, sedangkan mereka sendiri juga membutuhkan bahan bakar bagi keperluan sehari–hari. Dengan biogas ini, mereka bisa jual seluruh minyak yang mereka dapat dan memanfaatkan limbahnya untuk memasak,” jelas Tatang H. Soerawidjaja, sang kepala kelompok riset Biodiesel ITB. Penggunaan biogas sebagai bahan bakar rumah tangga juga jauh lebih nyaman dibandingkan menggunakan minyak jarak pagar.</p>
<p>Kelompok ini sekarang telah membangun satu unit pilot pembangkit biogas di lantai dasar gedung Teknik Kimia. Unit pembangkit biogas tersebut terdiri atas reaktor/generator, kotak pemasukan suspensi, penampung gas plastik dan kompor biogas (terlihat dalam foto). “Kompornya didesain lebih sederhana daripada kompor gas elpiji,” kata Ibrahim lagi. Kompor tersebut memiliki tuas seperti kompor gas biasa untuk menyalakan dan mematikan api. Reaktor biogas tersebut saat ini menghasilkan sekitar 1 m3 biogas/hari dengan kapasitas 360 liter (terdiri dari 2 drum yang disambung), yang diberi pasokan harian berupa campuran/adonan 1,2 kg bungkil jarak pagar ditambahkan 12 liter air. Awalnya, reaktor ini diinisiasi dengan kotoran sapi yang dipakai untuk menghasilkan biogas. “Ini dilakukan karena biji jarak tidak memiliki konsorsium bakteri yang mengubah senyawa dalam bungkil menjadi gas. Jadi, setelah bakterinya teraklimatisasi baru kami masukkan bungkil sedikit demi sedikit,” jelas Pak Tatang lagi. Dalam tiga hari, gas mulai dihasilkan dari reaktor dan diuji. “Pengujian gas dan pH dilakukan tiap tiga hari sekali, dan sampai sejauh ini pH yang terukur 8 (basa–red) dan 52% gas yang dihasilkan CH4,” terang Ibrahim, penanggungjawab unit pembangkit biogas.<span id="more-1429"></span></p>
<p>Seperangkat unit pembangkit biogas ini bernilai satu setengah juta rupiah. Memang cukup mahal bagi kantong petani, tapi Pak Tatang mengharapkan adanya subsidi dari koperasi desa atau pihak lain. Harga tersebut bisa ditekan dengan penjualan kompornya saja. “Reaktor dan penampung gasnya kan bisa dibuat sendiri, harapannya kompornya pun bisa diproduksi secara massal di Bandung. Nanti, kami bisa mengajarkan teknik–teknik pengoperasiannya,” tutur Pak Tatang lagi.</p>
<p>Unit pembangkit biogas yang dikembangkan juga mampu memaksimalkan manfaat (ekonomi) biji jarak pagar bagi para petani/pekebunnya. Jika petani jarak memiliki 2500 pohon jarak pagar yang ekivalen dengan satu hektar lahan, maka biji jarak yang diperoleh kira–kira 4–5 ton dan akan diperoleh minimum 3,5–3,75 ton bungkil. “Satu rumah membutuhkan 2,5 kg bungkil dan 25 liter air dalam sehari untuk menjalankan unit pembangkit biogas dengan kapasitas reaktor 1,5 m3,” terang dosen Teknik Kimia ini lagi. Estimasi kebutuhan selama setahun menunjukkan bahwa petani jarak hanya membutuhkan kurang dari 1 ton atau 912,5 kg bungkil biji jarak untuk bahan baku biogas. Sehingga, banyak sisa bungkil yang bisa dijual lagi untuk bahan baku unit yang sama.</p>
<p>dari : itb.ac.id/news/1635</p></div>
</div>
Posted in energi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/klipingut.wordpress.com/1429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/klipingut.wordpress.com/1429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/klipingut.wordpress.com/1429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/klipingut.wordpress.com/1429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/klipingut.wordpress.com/1429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/klipingut.wordpress.com/1429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/klipingut.wordpress.com/1429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/klipingut.wordpress.com/1429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/klipingut.wordpress.com/1429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/klipingut.wordpress.com/1429/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1429&subd=klipingut&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://klipingut.wordpress.com/2009/01/27/biogas-dari-bungkil-biji-jarak-pagar-inovasi-terbaru-dari-teknik-kimia-itb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d839b767cae2b4e6b7e1aca1a710ce84?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">klipingut</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.itb.ac.id/news/img/tn_253-1179227011_contri.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">klik untuk memperbesar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bila Laptop Kena Tumpahan Cairan</title>
		<link>http://klipingut.wordpress.com/2009/01/08/bila-laptop-kena-tumpahan-cairan/</link>
		<comments>http://klipingut.wordpress.com/2009/01/08/bila-laptop-kena-tumpahan-cairan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 22:01:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>klipingut</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[gadget-elektronik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://klipingut.wordpress.com/?p=1422</guid>
		<description><![CDATA[

Air, kopi, susu,  dan minuman bersoda adalah “musuh” yang  sangat berbahaya bagi laptop. Cairan-cairan itu  mengandung asam yang dapat membuat komponen laptop mengalami  korosi. Sedikit saja cairan-cairan itu tumpah di  keyboard laptop  Anda, bencana dapat terjadi. Laptop-laptop low end  keluaran terbaru semakin rentan terhadap cairan karena  menggunakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1422&subd=klipingut&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://www.beritanet.com/files.php?file=laptop-cairan_911500720.jpeg" border="0" alt="foto berita artikel" align="left" /></p>
<p><!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }  		P { margin-bottom: 0.08in } 	--></p>
<p>Air, kopi, susu,  dan minuman bersoda adalah “musuh” yang  sangat berbahaya bagi laptop. Cairan-cairan itu  mengandung asam yang dapat membuat komponen laptop mengalami  korosi. Sedikit saja cairan-cairan itu tumpah di  keyboard laptop  Anda, bencana dapat terjadi. Laptop-laptop low end  keluaran terbaru semakin rentan terhadap cairan karena  menggunakan lapisan karet tipis di bawah tombol  keyboard sebagai pegas. Di bawah masing-masing huruf  terdapat semacam kubah mini berisi lapisan kontak.  Model ini jauh lebih mudah rusak jika tertumpahi cairan  karena air akan menggenangi kubah-kubah mini tersebut  dan membuat lapisan kontak tak berfungsi.</p>
<p>Nah, apa yang mesti Anda perbuat jika cairan  terlanjur tumpah ke laptop Anda?  Langkah-langkah emergency berikut ini mudah-mudahan  bisa menyelamatkan laptop kesayangan  Anda.</p>
<ol>
<li>Jika laptop Anda  terhubung ke listrik PLN, segera cabut colokan listrik  yang tertancap di stop kontak. Anda bisa juga memutus  aliran listrik melalui sekering atau meteran listrik di  rumah Anda. Jika laptop Anda sedang  bekerja dengan baterai, dan tidak menunjukkan gejala  aneh (misalnya kilatan cahaya, suara aneh, atau bau  komponen yang terbakar), segera matikan laptop Anda melalui  prosedur biasa). Tetapi jika muncul salah satu gejala  tersebut, segera matikan laptop Anda dengan  menekan tombol OFF atau mencabut baterai. Beberapa laptop bisa  dimatikan dengan menekan tombol ON/OFF selama beberapa  saat.</li>
<li>Netralkan muatan listrik di tubuh  Anda dengan gelang anti static atau menginjakkan kaki  di tanah tanpa alas kaki.<span id="more-1422"></span></li>
<li>Lepaskan  baterai laptop  atau adapternya, dan keringkan dengan lap jika basah.  Jika cairan sudah terlalu merembes ke dalam baterai,  kemungkinan besar Anda terpaksa membeli baterai  baru.</li>
<li>Lepaskan semua peranti eksternal seperti  mouse, flashdisk, atau harddisk eksternal. Demikian  juga dengan card-card yang terpasang pada laptop Anda. Jika  peranti-peranti tersebut basah, keringkan dengan lap.  Anda bisa menggunakan cotton buds untuk mengeringkan  bagian-bagian yang sulit, namun berhati-hatilah agar  tidak ada sisa kapas yang tertinggal.</li>
<li>Bersihkan  semua cairan yang mengenai layar dengan lap yang bersih  dan halus. Lap bisa Anda basahi dengan air untuk  menghilangkan cairan yang lengket.</li>
<li>Lepaskan  hard disk dan CD/DVD dan keringkan jika basah.  Kebanyakan laptop menempatkan  hard disk serta CD/DVD drive pada bay khusus agar mudah  dilepas dan dipasang.</li>
<li>Bukalah tempat  keping memori, kemudian lepaskan dan keringkan keping  memori. Perhatikan dan ingat-ingat posisi keping memori  di laptop  Anda.</li>
<li>Keringkan permukaan keyboard dengan  lap yang bersih. Jika cairan yang tumpah adalah kopi,  susu, atau minuman bersoda, mau tidak mau Anda harus  belajar membongkar tombol-tombol keyboard laptop Anda. Buku  manual laptop  umumnya memberi penjelasan tentang hal ini. Setelah  Anda berhasil membongkar tombol-tombol itu, bersihkan  bagian dalam keyboard dengan lap. Biarkan tombol-tombol  itu hingga benar-benar kering.</li>
<li>Biarkan laptop dalam  keadaan terbuka dan angin-anginkan bagian bawah laptop dengan cara  meletakannya di atas dua buah penyangga (misalnya buku  tebal). Posisi ini akan membuat udara bersirkulasi di  sekitar laptop  Anda. Biarkan seluruh komponen laptop dalam posisi  seperti itu setidaknya selama 24 jam. Tunggu agar laptop Anda  benar-benar kering. Peringatan: Jangan menggunakan  kipas angin apalagi hair dryer untuk mempercepat  pengeringan!</li>
<li>Setelah semua komponen  kering, periksa kembali kalau-kalau ada sisa tumpahan  yang belum bersih. Jika Anda yakin semuanya sudah  bersih dan kering, pasang kembali komponen laptop dan  peranti-peranti eksternal pada tempatnya. Kemudian  hidupkan laptop  Anda dengan baterai terlebih dahulu, baru kemudian  dengan adapter (Jika Anda merasa ragu dengan baterai,  jangan ragu untuk menggantinya. Mengganti baterai jauh  lebih murah ketimbang mengganti motherboard).</li>
</ol>
<p>Sepuluh langkah di atas mudah-mudahan bisa  menghindarkan Anda dari keharusan membeli laptop baru. Cara  terbaik untuk menyelamatkan laptop dari  tumpahan cairan adalah menjauhkannya sejauh mungkin  dari gelas kopi atau botol minuman Anda. Satu hal lagi,  jangan biarkan kucing mendekati laptop Anda!<br />
Eko Sujatmiko ,  penulis iptek</p>
<p>dari : beritanet.com</p>
Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/klipingut.wordpress.com/1422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/klipingut.wordpress.com/1422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/klipingut.wordpress.com/1422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/klipingut.wordpress.com/1422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/klipingut.wordpress.com/1422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/klipingut.wordpress.com/1422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/klipingut.wordpress.com/1422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/klipingut.wordpress.com/1422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/klipingut.wordpress.com/1422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/klipingut.wordpress.com/1422/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1422&subd=klipingut&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://klipingut.wordpress.com/2009/01/08/bila-laptop-kena-tumpahan-cairan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d839b767cae2b4e6b7e1aca1a710ce84?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">klipingut</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.beritanet.com/files.php?file=laptop-cairan_911500720.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">foto berita artikel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kelebihan dan Kekurangan Teknologi Fuel Cell</title>
		<link>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/kelebihan-dan-kekurangan-teknologi-fuel-cell/</link>
		<comments>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/kelebihan-dan-kekurangan-teknologi-fuel-cell/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 13:20:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>klipingut</dc:creator>
				<category><![CDATA[energi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://klipingut.wordpress.com/?p=1408</guid>
		<description><![CDATA[A. Kelebihan
A.1. Tidak Mengeluarkan Emisi Berbahaya (Zero Emission)
Sebuah sistem fuel cell hanya akan mengeluarkan uap air apabila memakai hidrogen murni. Tetapi ketika memakai hidrogen hasil dari reforming hidrokarbon/fosil (misal: batu bara, gas alam, dll) maka harus dilakukan uji emisi untuk menentukan apakah sistem tersebut masih dapat dikategorikan zero emission. Menurut standar yang dikeluarkan United Technologies [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1408&subd=klipingut&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>A. Kelebihan</strong></p>
<p><strong>A.1. Tidak Mengeluarkan Emisi Berbahaya (<em>Zero Emission</em>)</strong></p>
<p align="justify">Sebuah sistem <em>fuel cell</em> hanya akan mengeluarkan uap air apabila memakai hidrogen murni. Tetapi ketika memakai hidrogen hasil dari <em>reforming</em> hidrokarbon/fosil (misal: batu bara, gas alam, dll) maka harus dilakukan uji emisi untuk menentukan apakah sistem tersebut masih dapat dikategorikan <em>zero emission</em>. Menurut standar yang dikeluarkan <em>United Technologies Corporation</em> (UTC) pada tahun 2002, maka sebuah sistem <em>fuel cell</em> dapat dikategorikan<em> zero emission</em> ketika mengeluarkan emisi pencemar udara yang sangat rendah, dengan kriteria sbb: NOx =&lt; 1 ppm, SO2 =&lt; 1 ppm, CO2 =&lt; 2 ppm.</p>
<table border="0" cellspacing="5" cellpadding="0" align="right">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:center;"><strong>Tabel 1. Emisi Pencemar Udara dari Jenis-Jenis <em>Fuel Cell</em> (Bluestein, 2002)</strong></p>
<p style="text-align:center;"><img title="t006.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/01/t006.jpg" alt="t006.jpg" /></p>
<p align="justify">Catatan: PEM (<em>Polimer Electrolyte Membrane</em>), PAFC (<em>Posporic Acid Fuel Cell</em>), SOFC (<em>Solid Oxide Fuel Cell</em>), MCFC (<em>Molten Carbonate Fuel Cell</em>), 1 lb (pon) = 0,45 kg). Selain itu, sistem ini juga tidak mengeluarkan suara (tidak berisik), kecuali suara dari beberapa peralatan pendukung seperti pompa, kipas, kompresor, dll.</p>
<p><strong>A.2. Efisiensi Tinggi (<em>High efficiency</em>)</strong></p>
<p align="justify">Oleh sebab <em>fuel cell</em> tidak menggunakan proses pembakaran dalam konversi energi, maka efisiensinya tidak dibatasi oleh batas maksimum temperatur operasional (tidak dibatasi oleh efisiensi siklus Carnot). Hasilnya, efisiensi konversi energi pada <em>fuel cell</em> melalui reaksi elektrokimia lebih tinggi dibandingkan efisiensi konversi energi pada mesin kalor (konvensional) yang melalui reaksi pembakaran.<span id="more-1408"></span></p>
<p align="center"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/01/fc008.jpg" alt="fc008.jpg" /></p>
<p align="center"><strong>Gambar 1. Perbandingan Efisiensi <em>Fuel Cell</em> dengan Mesin Konvensional (micro-vett.it, 09/10/2006)</strong></p>
<p align="left"><strong>A.3. Cepat Mengikuti Perubahan Pembebanan (<em>Rapid load following</em>)</strong></p>
<p align="justify"><em>Fuel cell</em> memperlihatkan karakteristik yang baik dalam mengikuti perubahan beban. Sistem <em>Fuel c</em>ell yang menggunakan hidrogen murni dan digunakan pada sebagian besar peralatan mekanik (misal: motor listrik) memiliki kemampuan untuk merespon perubahan pembebanan dengan cepat.</p>
<p align="left"><strong>A.4. Temperatur Operasional Rendah</strong></p>
<p align="justify">Sistem<em> fuel cell</em> sangat baik diaplikasikan pada industri otomotif yang beroperasi pada temperatur rendah. Keuntungannya adalah <em>fuel cell</em> hanya memerlukan sedikit waktu pemanasan (<em>warmup time</em>), resiko operasional pada temperatur tinggi dikurangi, dan efisiensi termodinamik dari reaksi elektrokimia lebih baik.</p>
<p align="left"><strong>A.5. Reduksi Transformasi Energi</strong></p>
<p align="justify">Ketika <em>fuel cell</em> digunakan untuk menghasilkan energi listrik maka fuel cell hanya membutuhkan sedikit transformasi energi, yaitu dari energi kimia menjadi energi listrik. Bandingkan dengan mesin kalor yang harus mengubah energi kimia menjadi energi panas kemudian menjadi energi mekanik yang akan memutar generator untuk menghasilkan energi listrik. <em>Fuel cell</em> yang diaplikasikan untuk menggerakkan motor listrik memiliki jumlah transformasi energi yang sama dengan mesin kalor, tetapi transformasi energi pada <em>fuel cell</em> memiliki efisiensi yang lebih tinggi.</p>
<p align="center"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/01/fc009.jpg" alt="fc009.jpg" /></p>
<p align="center"><strong>Gambar 2. Transformasi Energi Untuk Keluaran Energi Mekanik (micro-vett.it, 09/10/2006)</strong></p>
<p align="left"><strong>A.6. Waktu Pengisian Hidrogen Singkat</strong></p>
<p align="justify">Sistem <em>fuel cell</em> tidak perlu penyetruman (<em>recharge</em>) layaknya baterai. Tetapi sistem <em>fuel cell</em> harus diisi ulang dengan hidrogen, dimana prosesnya lebih cepat dibandingkan penyetruman baterai. Selain itu, baterai tidak dapat dipasang dalam jumlah besar pada mesin otomotif untuk meningkatkan performance karena akan semakin menambah beban pada kendaraan tersebut.</p>
<div><img title="fc010.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/01/fc010.jpg" alt="fc010.jpg" align="middle" /></div>
<p align="center">
<p align="center"><strong>Gambar-010 Stasiun Pengisian Hidrogen (Stefan Geiger, 2004)</strong></p>
<p align="left"><strong>B. Kekurangan</strong></p>
<p align="left"><strong>B.1. Hidrogen</strong></p>
<p align="justify">Hidrogen sulit untuk diproduksi dan disimpan. Saat ini proses produksi hidrogen masih sangat mahal dan membutuhkan input energi yang besar (artinya: efisiensi produksi hidrogen masih rendah). Untuk mengatasi kesulitan ini, banyak negara menggunakan teknologi <em>reforming</em> hidrokarbon/fosil untuk memperoleh hidrogen. Tetapi cara ini hanya digunakan dalam masa transisi untuk menuju produksi hidrogen dari air yang efisien.</p>
<p align="left"><strong>B.2. Sensitif pada Kontaminasi Zat-asing</strong></p>
<p align="justify"><em>Fuel cell</em> membutuhkan hidrogen murni, bebas dari kontaminasi zat-asing. Zat-asing yang meliputi sulfur, campuran senyawa karbon, dll dapat menonaktifkan katalisator dalam fuel cell dan secara efektif akan menghancurkannya. Pada mesin kalor pembakaran dalam (<em>internal combustion engine</em>), masuknya zat-asing tersebut tidak menghalangi konversi energi melalui proses pembakaran.</p>
<p align="left"><strong>B.3. Harga Katalisator Platinum Mahal</strong></p>
<p align="justify"><em>Fuel cell</em> yang diaplikasikan pada industri otomotif memerlukan katalisator yang berupa Platinum untuk membantu reaksi pembangkitan listrik. Platinum adalah logam yang jarang ditemui dan sangat mahal. Berdasarkan survei geologis ahli USA, total cadangan logam platinum di dunia hanya sekitar 100 juta kg (Bruce Tonn and Das Sujit, 2001). Dan pada saat ini, diperkirakan teknologi <em>fuel cell</em> berkapasitas 50 kW memerlukan 100 gram platinum sebagai katalisator (DEO, 2000). Misalkan penerapan teknologi <em>fuel cell</em> berjalan baik (meliputi: penghematan pemakaian platinum pada fuel cell, pertumbuhan pasar fuel cell rendah, dan permintaan platinum rendah) maka sebelum tahun 2030 diperkirakan sudah tidak ada lagi logam platinum (Anna Monis Shipley and R. Neal Elliott, 2004). Untuk itulah diperlukan penelitian untuk menemukan jenis katalisator alternatif yang memiliki kemampuan mirip katalisator dari platinum.</p>
<p align="left"><strong>B.4. Pembekuan</strong></p>
<p align="justify">Selama beroperasi, sistem <em>fuel ce</em>ll menghasilkan panas yang dapat berguna untuk mencegah pembekuan pada temperatur normal lingkungan. Tetapi jika temperatur lingkungan terlampau sangat dingin (-10 s/d -20 C) maka air murni yang dihasilkan akan membeku di dalam <em>fuel cell</em> dan kondisi ini akan dapat merusak membran <em>fuel cell</em> (David Keenan, 10/01/2004). Untuk itu harus didesain sebuah sistem yang dapat menjaga <em>fuel cell</em> tetap berada dalam kondisi temperatur normal operasi.</p>
<p align="center"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/01/fc011.jpg" alt="fc011.jpg" /></p>
<p align="center"><strong>Gambar-011 Tes Mobil Bermesin <em>Fuel Cell</em> pada Kondisi Bersalju</strong></p>
<p><strong>B.5. Teknologi Tinggi &amp; Baru</strong></p>
<p align="justify">Perlu dikembangkan beberapa material alternatif dan metode konstruksi yang baru sehingga dapat mereduksi biaya pembuatan sistem <em>fuel cell</em> (harga komersial saat ini untuk pembangkit listrik dengan fuel cell ~$4000/kW) (Javit Drake, 29/03/2005).</p>
<div style="text-align:center;"><img title="t007.jpg" src="http://localhost/kamase/wp-content/uploads/2007/01/t007.jpg" alt="t007.jpg" align="middle" /></div>
<p align="center"><strong>Tabel-007 Biaya Investasi, Operasional, Pemeliharaan Jenis Jenis <em>Fuel Cell</em> (Anna Monis Shipley and R. Neal Elliott, 2004)</strong></p>
<p align="center"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/01/t006.jpg" alt="t006.jpg" /></p>
<p align="justify">Diharapkan dimasa depan dapat dihasilkan sebuah sistem <em>fuel cell</em> yang lebih kompetitif dibandingkan mesin bakar/otomotif konvensional (harga saat ini: $20/kW) dan sistem pembangkit listrik konvensional (harga saat ini: $1000/kW) (Matthew M. Mench, 24/05/2001). Teknologi baru tersebut akan mampu menghasilkan reduksi biaya, reduksi berat dan ukuran, sejalan dengan meningkatnya kehandalan dan umur operasi (<em>lifetime</em>) sistem <em>fuel cell</em>. Penggunaan sistem <em>fuel cell</em> dalam industri otomotif minimal harus memiliki umur operasi 4.000 jam (ekivalen 100.000 mil pada kecepatan 25 mil per jam) dan dalam industri pembangkit listrik minimal harus memiliki umur operasi 40.000 jam (Matthew M. Mench, 24/05/2001).</p>
<p align="left"><strong>B.6. Ketiadaan Infrastruktur</strong></p>
<p align="justify">Infrastruktur produksi hidrogen yang efektif belum tersedia. Tersedianya teknologi manufaktur dan produksi massal yang handal merupakan kunci penting usaha komersialisasi sistem <em>fuel cell</em>.</p>
<p align="left"><strong>Referensi:</strong><br />
Matthew M. Mench, Chao-Yang Wang and Stefan T. Thynell., <em>An Introduction to Fuel Cells and Related Transport Phenomena</em>, Dept of Mechanical and Nuclear Engineering, Pennsylvania State University, USA, pp: 3 � 4, 24/05/2001
</p>
<p align="left">David Keenan, <em>Fuel Cell Companies</em>, Minnesota Futurists Financial Futures SIG, USA, 10/01/2004.</p>
<p align="left">Javit Drake, <em>Fuel Cells: Concept Today, Practical Tomorrow?</em>, Gillette Technical Center Needham, 29/03/2005.</p>
<p align="left">Anna Monis Shipley and R. Neal Elliott, <em>Stationary Fuel Cells: Future Promise, Current Hype, American Council for an Energy-Efficient Economy</em>, Washington D.C, March 2004.</p>
<p align="left">Bruce Tonn and Das Sujit, <em>An Assessment of Platinum Availability for Advanced Fuel Cell Vehicles</em>, Oak Ridge, Tenn.: Oak Ridge National Laboratory, 2001.</p>
<p align="left">United Technologies Corporation, <em>Benefits of the PC 25 Fuel Cell Power Plant</em>, <a href="http://www.utcfuelcells.com/commercial/pc25summary.shtml">http://www.utcfuelcells.com/commercial/ pc25summary.shtml</a>, South Windsor Conn.: United Technologies Corporation, 2002.</p>
<p align="left">Bluestein, Joel (Energy and Environmental Analysis, Inc.), Personal Communication, October 2002.</p>
<p align="left">Stefan Geiger, <em>Fuel Cells in Austria, Italy and Switzerland � A Survey of current Developments</em>, <a href="http://www.fuelcelltoday.com/">http://www.fuelcelltoday.com/</a>, 2004.</p>
<p align="left">Anonim, <em>Fuel Cell: Technology Comparison</em>, <a href="http://www.micro-vett.it/H2/ing/fcing.html">http://www.micro-vett.it/H2/ing/fcing.html</a>, 09/10/2006.</p>
<p align="left">Anonim, <em>Advantages of Fuel Cell Vehicles</em>, <a href="http://www.micro-vett.it/H2/ing/vehicle.html">http://www.micro-vett.it/H2/ing/vehicle.html</a>, 09/10/2006.</p>
<p align="left">Penulis: Thomas</p>
<p>dari : kamase.org</p>
Posted in energi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/klipingut.wordpress.com/1408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/klipingut.wordpress.com/1408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/klipingut.wordpress.com/1408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/klipingut.wordpress.com/1408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/klipingut.wordpress.com/1408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/klipingut.wordpress.com/1408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/klipingut.wordpress.com/1408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/klipingut.wordpress.com/1408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/klipingut.wordpress.com/1408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/klipingut.wordpress.com/1408/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1408&subd=klipingut&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/kelebihan-dan-kekurangan-teknologi-fuel-cell/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d839b767cae2b4e6b7e1aca1a710ce84?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">klipingut</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/01/t006.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">t006.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/01/fc008.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">fc008.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/01/fc009.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">fc009.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/01/fc010.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">fc010.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/01/fc011.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">fc011.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://localhost/kamase/wp-content/uploads/2007/01/t007.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">t007.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/01/t006.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">t006.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahayanya Pencemaran Udara</title>
		<link>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/bahayanya-pencemaran-udara/</link>
		<comments>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/bahayanya-pencemaran-udara/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 13:15:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>klipingut</dc:creator>
				<category><![CDATA[energi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://klipingut.wordpress.com/?p=1403</guid>
		<description><![CDATA[Selama kita hidup tentu membutuhkan udara untuk bernapas. Di dalam udara terkandung gas yang terdiri dari 78% nitrogen, 20% oksigen, 0,93% argon, 0,03% karbon dioksida, dan sisanya terdiri dari neon, helium, metan dan hidrogen. Gas oksigen merupakan komponen esensial bagi kehidupan makhluk hidup, termasuk manusia. Komposisi seperti itu merupakan udara normal dan dapat mendukung kehidupan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1403&subd=klipingut&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a title="polusi.jpg" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/polusi.jpg"><img title="polusi.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/polusi.thumbnail.jpg" alt="polusi.jpg" width="216" height="185" align="left" /></a>Selama kita hidup tentu membutuhkan udara untuk bernapas. Di dalam udara terkandung gas yang terdiri dari 78% nitrogen, 20% oksigen, 0,93% argon, 0,03% karbon dioksida, dan sisanya terdiri dari neon, helium, metan dan hidrogen. Gas oksigen merupakan komponen esensial bagi kehidupan makhluk hidup, termasuk manusia. Komposisi seperti itu merupakan udara normal dan dapat mendukung kehidupan manusia. Namun, akibat aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan, udara sering kali menurun kualitasnya. Perubahan ini dapat berupa sifat-sifat fisis maupun kimiawi. Perubahan kimiawi dapat berupa pengurangan maupun penambahan salah satu komponen kimia yang terkandung dalam udara. Kondisi seperti itu lazim disebut dengan pencemaran (polusi) udara.</p>
<table border="0" cellspacing="5" cellpadding="0" align="right">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Menurut Isna Marifat M.Sc., Ketua Penyelenggara Segar Jakartaku, 70% pencemaran udara Jakarta disebabkan oleh kendaraan bermotor. Permasalahan polusi udara akibat emisi kendaraan bermotor sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan terutama dikota-kota besar. Dan hal ini terjadi, salah satunya disebabkan tingginya pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di kota-kota besar di Indonesia. Menurut Kepolisian Negara Republik Indonesia, Direktorat Lalu Lintas &#8211; Januari 2000, pertumbuhan tersebut berkisar 8-12% per tahun.</p>
<p><img title="tutup_hidung.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/tutup_hidung.jpg" alt="tutup_hidung.jpg" align="right" />Secara umum definisi <strong>udara tercemar adalah perbedaan komposisi udara aktual dengan kondisi udara normal dimana komposisi udara aktual tidak mendukung kehidupan manusia</strong>. Bahan atau zat pencemaran udara sendiri dapat berbentuk gas dan partikel. Dalam bentuk gas dapat dibedakan menjadi:</p>
<ul>
<li>Golongan belerang (sulfur dioksida, hidrogen sulfida, sulfat aerosol)</li>
<li>Golongan nitrogen (nitrogen oksida, nitrogen monoksida, amoniak, dan nitrogen dioksida)</li>
<li>Golongan karbon (karbon dioksida, karbon monoksida, hidrokarbon)</li>
<li>Golongan gas yang berbahaya (benzene, vinyl klorida, air raksa uap)</li>
</ul>
<p>Sedagkan jenis pencemaran udara berbentuk partikel dibedakan menjadi tiga, yaitu:</p>
<ul>
<li>Mineral (anorganik) dapat berupa racun seperti air raksa dan timah</li>
<li>Bahan organik yang terdiri dari ikatan hidrokarbon, klorinasi alkan, benzene</li>
<li>Makhluk hidup terdiri dari bakteri, virus, telur cacing.</li>
</ul>
<p>Sementara itu, jenis pencemaran udara menurut tempat dan sumbernya dibedakan menjadi dua, yaitu:<span id="more-1403"></span></p>
<ul>
<li> Pencemaran udara bebas meliputi secara alamiah (letusan gunung berapi, pembusukan, dan lain-lain) dan bersumber kegiatan manusia, misalnya berasal dari kegiatan industri, rumah tangga, asap kendaraan bermotor.</li>
<li>Pencemaran udara ruangan meliputi dari asap rokok, bau tidak sedap di ruangan.</li>
</ul>
<p><a title="jenis_cemar.jpg" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/jenis_cemar.jpg"><img title="jenis_cemar.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/jenis_cemar.thumbnail.jpg" alt="jenis_cemar.jpg" align="left" /></a>Jenis parameter pencemar udara didasarkan pada baku mutu udara ambien menurut Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999, meliputi:</p>
<ul>
<li> Sulfur dioksida (SO2)</li>
<li>Karbon monoksida (CO)</li>
<li>Nitrogen dioksida (NO2)</li>
<li>Ozon (O3)</li>
<li>Hidro karbon (HC)</li>
<li>PM 10, Partikel debu ( PM 2,5 )</li>
<li>TSP (debu)</li>
<li>Pb (Timah Hitam)</li>
</ul>
<p align="center"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/dampak_emisi.jpg" alt="dampak_emisi.jpg" /></p>
<p>Pengaruh masing-masing zat pencemar udara tersebut terhadap makhluk hidup dijelaskan sbb:</p>
<p><strong>Sulfur Oksida (SOx)</strong></p>
<p>Pencemaran oleh sulfur oksida terutama disebabkan oleh dua komponen sulfur bentuk gas yang tidak berwarna, yaitu sulfur dioksida (SO2) dan Sulfur trioksida (SO3), yang keduanya disebut sulfur oksida (SOx). Pengaruh utama polutan SOx terhadap manusia adalah iritasi sistem pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan terjadi pada kadar SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan pada beberapa individu yang sensitif iritasi terjadi pada kadar 1-2 ppm. SO2 dianggap pencemar yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua dan penderita yang mengalami penyakit khronis pada sistem pernafasan kadiovaskular.</p>
<p><strong>Karbon Monoksida (CO)</strong></p>
<p>Karbon monoksida merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa dan pada suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna. Tidak seperti senyawa lain, CO mempunyai potensi bersifat racun yang berbahaya karena mampu membentuk ikatan yang kuat dengan pigmen darah yaitu haemoglobin.</p>
<p><strong>Nitrogen Dioksida (NO2)</strong></p>
<p>NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru (edema pulmonari). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau kurang. Percobaan dengan pemakaian NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas.</p>
<p><strong>Ozon (O3)</strong></p>
<p>Ozon merupakan salah satu zat pengoksidasi yang sangat kuat setelah fluor, oksigen dan oksigen fluorida (OF2). Meskipun di alam terdapat dalam jumlah kecil tetapi lapisan ozon sangat berguna untuk melindungi bumi dari radiasi ultraviolet (UV-B). Ozon terbentuk di udara pada ketinggian 30km dimana radiasi UV matahari dengan panjang gelombang 242 nm secara perlahan memecah molekul oksigen (O2) menjadi atom oksigen, tergantung dari jumlah molekul O2 atom-atom oksigen secara cepat membentuk ozon. Ozon menyerap radiasi sinar matahari dengan kuat di daerah panjang gelombang 240-320 nm.</p>
<p><strong>Hidrokarbon (HC)</strong></p>
<p>Hidrokarbon di udara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan baru yang disebut plycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di daerah industri dan padat lalu lintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker.</p>
<p><strong>Khlorin (Cl2)</strong></p>
<p>Gas Khlorin ( Cl2) adalah gas berwarna hijau dengan bau sangat menyengat. Berat jenis gas khlorin 2,47 kali berat udara dan 20 kali berat gas hidrogen khlorida yang toksik. Gas khlorin sangat terkenal sebagai gas beracun yang digunakan pada perang dunia ke-1.Selain bau yang menyengat gas khlorin dapat menyebabkan iritasi pada mata saluran pernafasan. Apabila gas khlorin masuk dalam jaringan paru-paru dan bereaksi dengan ion hidrogen akan dapat membentuk asam khlorida yang bersifat sangat korosif dan menyebabkan iritasi dan peradangan. Gas khlorin juga dapat mengalami proses oksidasi dan membebaskan oksigen seperti pada proses yang terjadi di bawah ini.</p>
<p><strong>Partikulat Debu (TSP)<br />
</strong></p>
<p>Pada umumnya ukuran partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan partikulat udara yang dapat langsung masuk ke dalam paru-paru dan mengendap di alveoli. Keadaan ini bukan berarti bahwa ukuran partikulat yang lebih besar dari 5 mikron tidak berbahaya, karena partikulat yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan menyebabkan iritasi.</p>
<p><a title="pengaruh_cemar.jpg" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/pengaruh_cemar.jpg"><img title="pengaruh_cemar.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/pengaruh_cemar.thumbnail.jpg" alt="pengaruh_cemar.jpg" align="left" /></a><strong>Timah Hitam (Pb)</strong></p>
<p>Gangguan kesehatan adalah akibat bereaksinya Pb dengan gugusan sulfhidril dari protein yang menyebabkan pengendapan protein dan menghambat pembuatan haemoglobin, Gejala keracunan akut didapati bila tertelan dalam jumlah besar yang dapat menimbulkan sakit perut muntah atau diare akut. Gejala keracunan kronis bisa menyebabkan hilang nafsu makan, konstipasi lelah sakit kepala, anemia, kelumpuhan anggota badan, kejang dan gangguan penglihatan.</p>
<p><strong>Solusi</strong></p>
<ul>
<li><img title="periksa_emisi.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/periksa_emisi.jpg" alt="periksa_emisi.jpg" align="right" />Pengujian emisi gas buang secara berkala dari setiap kendaraan yang ada di ibukota. Kendaraan yang tidak lolos uji emisi harus masuk bengkel untuk diperbaiki sehingga memenuhi standar emisi yang berlaku.Hal ini sudah berjalan di Jakarta dengan keluarnya Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 95 Tahun 2000 Tentang Pemeriksaan Emisi Dan Perawatan Mobil Penumpang Pribadi di Propinsi DKI Jakarta.</li>
<li>Pemberi insentif bagi kendaraan bermotor yang memakai bahan bakar gas:</li>
</ul>
<blockquote>
<ol>
<li>Keringanan pajak kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar gas berupa PBBKB (Pajak Bahan Bakar Kendaran Bermotor). Ref. PERPU. No.21 tahun 1997</li>
<li>Pemberian keringanan pajak untuk bea-impor conversion kit, sehingga harga jualnya dapat ditekan dan terjangkau oleh masyarakat</li>
<li>Peraturan pemerintah yang mewajibkan kepada Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) untuk memasang Catalytic Converter pada setiap kendaraan baru yang sudah diproduksi</li>
</ol>
</blockquote>
<ul>
<li>Pembuatan Bahan Bakar Nabati (BBN). Kebijakan pemerintah untuk percepatan pembuatan BBN antara lain:</li>
</ul>
<blockquote>
<ol>
<li>Peraturan Pemerintah (PP) No.5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional.</li>
<li>Instruksi Presiden (Inpres) No.1 tahun 2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan BBN.</li>
<li>Keputusan Presiden (Keppres) No.10 tahun 2006 tentang Tim Nasional pengembangan BBN untuk percepatan pengurangan kemiskinan dan pengangguran.</li>
</ol>
</blockquote>
<p><a title="skenario_bbn.jpg" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/skenario_bbn.jpg"><img title="skenario_bbn.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/skenario_bbn.thumbnail.jpg" alt="skenario_bbn.jpg" align="left" /></a>Solusi BBN untuk transportasi adalah sebagai pengganti/subtitusi solar atau bensin. Untuk solar digunakan bio-diesel, sedangkan untuk bensin digunakan bio-ethanol. Bio-diesel merupakan bentuk ester dari minyak nabati (sawit, minyak kelapa, jarak pagar,dll). Sedangkan bio-ethanol merupakan anhydrous alkohol berasal dari fermentasi tetes/nira tebu, singkong, jagung atau sagu.</p>
<p><a title="jarak_diesel.jpg" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/jarak_diesel.jpg"><img title="jarak_diesel.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/jarak_diesel.thumbnail.jpg" alt="jarak_diesel.jpg" align="left" /></a>Blending 10% (B10) adalah bahan bakar dengan komposisi 10% minyak nabati dan 90% minyak solar. B10 jauh lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai cetane lebih tinggi. Angka cetane B10 sekitar 64 sehingga membuat tarikan/kinerja mesin kendaraan jauh lebih tinggi dibandingkan solar biasa. Sementara nilai opasitas (kadar asap) turun antara 10-20 persen. Penurunan juga terjadi pada kandungan sulfur pada biodiesel hasil pencampuran tersebut. (Sumber: SUARA PEMBARUAN DAILY, 28/9/04)</p>
<p align="left"><strong>Referensi</strong></p>
<ul>
<li>Pengembangan BBN sebagai Upaya Percepatan Pengurangan Pengangguran dan Kemiskinan presentasi TIM BUMN-ESDM-RISTEK BPPT-DEPTANDEPHUT.</li>
<li>Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. <em>Pengertian Pencemaran Udara</em>, Jakarta, 21 &#8211; 09 &#8211; 2006.</li>
<li>Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. <em>Zat &#8211; zat Pencemar Udara</em>, Jakarta, 21 &#8211; 09 &#8211; 2006.</li>
<li>Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. <em>Pengendalian Pencemaran Udara</em>, Jakarta, 21 &#8211; 09 &#8211; 2006.</li>
<li>Sudrajad, Agung., <em>Pencemaran Udara, Suatu Pendahuluan</em>, Jakarta, 12 &#8211; 09 &#8211; 2006.</li>
<li>Komisi Pemberantas Bensin Bertimbal, http://www.kpbb.org/download.html, Jakarta,12-09-2006.</li>
</ul>
<p>dari : kamase.org</p>
Posted in energi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/klipingut.wordpress.com/1403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/klipingut.wordpress.com/1403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/klipingut.wordpress.com/1403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/klipingut.wordpress.com/1403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/klipingut.wordpress.com/1403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/klipingut.wordpress.com/1403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/klipingut.wordpress.com/1403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/klipingut.wordpress.com/1403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/klipingut.wordpress.com/1403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/klipingut.wordpress.com/1403/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1403&subd=klipingut&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/bahayanya-pencemaran-udara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d839b767cae2b4e6b7e1aca1a710ce84?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">klipingut</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/polusi.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">polusi.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/tutup_hidung.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tutup_hidung.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/jenis_cemar.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jenis_cemar.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/dampak_emisi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dampak_emisi.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/pengaruh_cemar.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pengaruh_cemar.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/periksa_emisi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">periksa_emisi.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/skenario_bbn.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">skenario_bbn.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/01/jarak_diesel.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jarak_diesel.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perubahan iklim dunia: apa dan bagaimana?</title>
		<link>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/perubahan-iklim-dunia-apa-dan-bagaimana/</link>
		<comments>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/perubahan-iklim-dunia-apa-dan-bagaimana/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 13:07:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>klipingut</dc:creator>
				<category><![CDATA[energi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://klipingut.wordpress.com/?p=1405</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: infoenergi.wordpress.com
Pada awal Februari 2007 yang lalu Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) merilis laporan mengenai penjelasan ilmiah, hasil pengamatan dan proyeksi dampak perubahan iklim dunia. Laporan tersebut juga memaparkan sejauh mana kontribusi manusia dalam perubahan iklim tersebut. Tulisan berikut dimaksudkan untuk memberikan gambaran singkat tentang pesan dari laporan tersebut. Untuk mempermudah penyampaian, tulisan ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1405&subd=klipingut&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="left">Oleh: infoenergi.wordpress.com</p>
<p align="justify">Pada awal Februari 2007 yang lalu <em>Intergovernmental Panel on Climate Change</em> (IPCC) merilis laporan mengenai penjelasan ilmiah, hasil pengamatan dan proyeksi dampak perubahan iklim dunia. <span>Laporan tersebut juga memaparkan sejauh mana kontribusi manusia dalam perubahan iklim tersebut. Tulisan berikut dimaksudkan untuk memberikan gambaran singkat tentang pesan dari laporan tersebut. Untuk mempermudah penyampaian, tulisan ini disajikan dalam bentuk tanya jawab.</span></p>
<table border="0" cellspacing="5" cellpadding="0" align="right">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Apakah pengertian iklim?</span></strong><span style="color:#cc0000;"> </span></p>
<p align="justify"><span>Iklim adalah rata-rata dan variasi temperatur, penguapan, presipitasi dan angin selama periode tertentu yang berkisar dalam hitungan bulan hingga jutaan tahun.</span></p>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Apakah perbedaan antara iklim dengan cuaca?</span></strong></p>
<p align="justify">Secara singkat iklim bisa dikatakan sebagai rata-rata dari cuaca. Bedanya, memperkirakan cuaca untuk jangka waktu lebih dari beberapa hari relatif sangat sulit karena sifat ketidakpastiannya yang tinggi. Sebaliknya, memperkirakan perubahan iklim yang disebabkan oleh perubahan komposisi atmosfer atau faktor-faktor lainnya, secara umum, relatif bisa dilakukan.</p>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Apa yang mempengaruhi iklim bumi?</span></strong></p>
<p align="justify">Iklim di bumi sangat dipengaruhi oleh kesetimbangan panas di bumi. Aliran panas dalam sistem iklim di bumi bekerja karena adanya radiasi. Sumber utama radiasi di bumi adalah matahari.</p>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Bisa dijelaskan bagaimana mekanisme kesetimbangan panas tersebut?<span id="more-1405"></span></span></strong></p>
<p align="justify">Dari seluruh radiasi matahari yang menuju ke permukaan bumi, sepertiganya dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh atmosfer dan oleh permukaan bumi (lihat Gambar 1). Pemantulan oleh atmosfer terjadi karena adanya awan dan partikel yang disebut <em>aerosol</em>. Keberadaan salju, es dan gurun memainkan peranan penting dalam memantulkan kembali radiasi matahari yang sampai di permukaan bumi.</p>
<p align="justify">Dua pertiga radiasi yang tidak dipantulkan, besarnya sekitar 240 Watt/m<sup>2</sup>, diserap oleh permukaan bumi dan atmosfer. Untuk menjaga kesetimbangan panas, bumi memancarkan kembali panas yang diserap tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek. Sebagian radiasi gelombang pendek yang dipancarkan oleh bumi diserap oleh gas-gas tertentu di dalam atmosfer yang disebut gas rumah kaca. Selanjutnya gas rumah kaca meradiasikan kembali panas tersebut ke bumi. Mekanisme ini disebut efek rumah kaca. Efek rumah kaca inilah yang menyebabkan suhu bumi relatif hangat dengan rata-rata 14<sup>o</sup>C, tanpa efek rumah kaca suhu bumi hanya sekitar -19<sup>o</sup>C.</p>
<p align="justify">Sebagian kecil panas yang ada di bumi, yang disebut panas laten, digunakan untuk menguapkan air. Panas laten ini dilepaskan kembali ketika uap air terkondensasi di awan (lihat Gambar 1).</p>
<p style="text-align:center;" align="left"><img title="494460815_15bfc45b8b.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/494460815_15bfc45b8b.jpg" alt="494460815_15bfc45b8b.jpg" width="415" height="261" align="absmiddle" /><br />
<strong>Gambar 1: </strong>Sistem kesetimbangan panas di bumi
</p>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Apa saja yang termasuk dalam kelompok gas rumah kaca?</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:#cc0000;"> </span></strong></p>
<p align="justify">Gas rumah kaca yang paling dominan adalah uap air (H<sub>2</sub>O), kemudian disusul oleh karbondioksida (CO<sub>2</sub>). Gas rumah kaca yang lain adalah methana (CH<sub>4</sub>), dinitro-oksida (N<sub>2</sub>O), ozone (O<sub>3</sub>) dan gas-gas lain dalam jumlah yang lebih kecil.</p>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Apakah yang disebut dengan pemanasan global?</span></strong></p>
<p align="justify">Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata atmosfer di dekat permukaan bumi dan laut selama beberapa dekade terakhir dan proyeksi untuk beberapa waktu yang akan datang.</p>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Apakah pemanasan global memang sedang terjadi?</span></strong></p>
<p align="justify">Pengamatan selama 157 tahun terakhir menunjukkan bahwa suhu permukaan bumi mengalami peningkatan sebesar 0,05 <sup>o</sup>C/dekade. Selama 25 tahun terakhir peningkatan suhu semakin tajam, yaitu sebesar 0,18 <sup>o</sup>C/dekade (lihat Gambar 2). Gejala pemanasan juga terlihat dari meningkatnya suhu lautan, naiknya permukaan laut, pencairan es dan berkurangnya salju di belahan bumi utara.</p>
<p style="text-align:center;" align="left"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/494589586_ff3b513499.jpg" alt="494589586_ff3b513499.jpg" width="438" height="314" /><br />
<strong>Gambar 2:</strong> Kenaikan suhu rata-rata bumi selama 157 tahun terakhir
</p>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Bagaimana pemanasan global bisa terjadi?</span></strong><span style="color:#cc0000;"> </span></p>
<p align="justify">Pemanasan global terjadi akibat dari peningkatan efek rumah kaca yang disebebakan oleh naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Semakin tinggi konsentrasi gas rumah kaca maka semakin banyak radiasi panas dari bumi yang terperangkap di atmosfer dan dipancarkan kembali ke bumi. Hal ini menyebabkan peningkatan suhu di permukaan bumi. Peningkatan suhu iklim juga bisa dikarenakan peningkatan radiasi matahari, namun efeknya relatif sangat kecil.</p>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Apa yang menyebabkan peningkatan gas rumah kaca?</span></strong></p>
<p align="justify">Aktifitas manusia diyakini sebagai sebab meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca.</p>
<p align="left"><span style="color:#cc0000;"><strong>Bagaimana peran manusia dalam mempengaruhi peningkatan konsentrasi gas rumah kaca?</strong></span></p>
<p align="justify">Kegiatan manusia, terutama berupa pembakaran bahan bakar fosil dan aktifitas pertanian, menghasilkan emisi berupa gas rumah kaca yaitu CO<sub>2</sub>, CH<sub>4</sub>, N<sub>2</sub>O dan halokarbon (kelompok gas yang mengandung florine, klorin dan bromin). Gas-gas tersebut terakumulasi di atmosfer sehingga menyebabkan peningkatan konsentrasi seiring dengan perjalanan waktu. Peningkatan ini sangat kentara pada era industri seperti ditunjukkan pada gambar berikut.</p>
<p style="text-align:center;"><img title="495203659_387f51b735.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/495203659_387f51b735.jpg" alt="495203659_387f51b735.jpg" /></p>
<p align="center"><strong>Gambar 3:</strong> Konsentrasi beberapa gas rumah kaca selama 2000 tahun terakhir.</p>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Seberapa besar kontribusi manusia dalam pemanasan global jika dibandingkan dengan faktor-faktor alam yang lain? </span></strong></p>
<p align="justify">Pemanasan atau pendinginan global dipengaruhi oleh faktor alam dan faktor manusia. Yang termasuk faktor alam adalah tingkat radiasi matahari dan letusan gunung. Naik turunnya radiasi matahari berpengaruh terhadap naik turunnya suhu bumi. <em>Sementara, letusan gunung berapi memberikan efek penuruanan suhu bumi untuk beberapa saat</em>. Aktifitas manusia juga memberikan efek pada naik turunnya suhu bumi. Namun jika diakumulasi, maka secara keseluruhan aktifitas manusia pada peningkatan suhu bumi jauh lebih besar daripada kontribusi faktor-faktor yang lain. Besarnya kontribusi terhadap pemanasan global disebut dengan istilah <em>radiative forcing</em>. Semakin besar <em>radiative forcing</em> semakin besar kontribusinya terhadap pemasan global (lihat gambar di bawah).</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/495193269_1bb496d577.jpg" alt="495193269_1bb496d577.jpg" width="446" height="506" /></p>
<p align="center"><strong>Gambar 4:</strong> Komponen <em>radiative forcing </em>dari manusia dan alam (radiasi matahari).<em> </em></p>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Apakah peningkatan uap air di atmosfer akibat pemanasan global akan memperbesar efek rumah kaca?</span></strong></p>
<p align="left">Betul. Inilah yang disebut sebagai efek umpan balik positif (<em>positive</em> <em>feedback effect</em>).</p>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Apakah ada </span></strong><em><strong><span style="color:#cc0000;">positive feedback</span></strong></em><strong><span style="color:#cc0000;"> </span></strong><em><strong><span style="color:#cc0000;">effect</span></strong></em><strong><span style="color:#cc0000;"> yang lain?</span></strong></p>
<p align="justify">Ada, yaitu mencairnya es dan salju akibat pemanasan global. Dengan mencairnya es dan salju, permukaan tanah yang sebelumnya tertutup menjadi terbuka. Karena tanah lebih gelap dari salju dan es maka akan semakin banyak panas yang diserap oleh permukaan bumi yang pada akhirnya meningkatkan suhu bumi.</p>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Apakah fenomena iklim yang ekstrim akhir-akhir ini berhubungan dengan pemanasan global?</span></strong></p>
<p align="justify">Banyak data statistik memang menunujukkan demikian. Angka kejadian fenomena iklim yang ekstrim selama satu abad terakhir ini menujukkan peningkatan. Diantara kejadian ektrim tersebut antara lain adalah</p>
<ul>
<li>Lamanya musim kering di Australia (2003)</li>
<li>Tingginya suhu saat musim panas di Eropa (2003)</li>
<li>Lamanya musim badai di Amerika Utara (2004 dan 2005)</li>
<li>Tingginya curah hujan di India (2005), dan sebagainya.</li>
</ul>
<p>Sebaliknya, jumlah kejadian ekstrim yang lain seperti malam yang sangat dingin mengalami penurunan.</p>
<p align="left"><span style="color:#cc0000;"> <strong>Mungkinkah pemanasan global hanya diakibatkan oleh variasi alamiah?</strong></span></p>
<p align="justify">Sangat kecil kemungkinan bahwa pemanasan global hanya disebabkan oleh variasi alamiah. Model iklim yang hanya memperhitungkan variasi alam (terutama aktifitas matahari dan letusan gunung) tanpa mempertimbangkan efek gas rumah kaca gagal menghasilkan keluaran yang sesuai dengan kenyataan/pengamatan. Hasil simulasi menjadi akurat setelah memasukkan efek gas rumah kaca ke dalam model. Hal ini seperti ditunjukkan pada gambar berikut.</p>
<p align="center"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/495175251_e0dda9561a.jpg" alt="495175251_e0dda9561a.jpg" align="middle" /></p>
<p align="center"><strong>Gambar 5</strong>: Model iklim dengan dan tanpa memasukkan faktor manusia</p>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Apakah kejadian-kejadian iklim yang ekstrim akan mengalami perubahan seiring dengan perubahan iklim dunia?</span></strong></p>
<p align="justify">Jawabnya, ya. Gelombang panas diperkirakan akan semakin intensif, lebih sering dan berlangsung lebih lama. Di daerah dengan empat musim, jumlah hari dengan suhu lebih rendah dari suhu beku akan semakin berkurang. Musim panas akan lebih kering dan musim dingin akan menjadi lebih lembab. Disamping itu, intensitas badai tropis akan semakin tinggi.</p>
<p align="left"><strong><span style="color:#cc0000;">Jika emisi gas rumah kaca dikurangi, seberapa cepat konsentarsi gas-gas tersebut di atmosfer akan berkurang?</span></strong></p>
<p align="justify">Jawabannya tergantung dari jenis gasnya. Konsentrasi sebagian gas akan langsung berkurang seketika dengan adanya pengurangan emisi, namun sebagian lagi bahkan ada yang tetap meningkat selama beberapa abad setelah pengurangan tersebut (lihat gambar berikut).</p>
<p style="text-align:center;" align="left"><img title="495148072_1dddc6411d.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/495148072_1dddc6411d.jpg" alt="495148072_1dddc6411d.jpg" align="middle" /></p>
<p style="text-align:left;"><strong>Gambar 6:</strong> Penuruanan konsentrasi gas rumah kaca setelah adanya pengurangan emisi (a) gas CO2, (b) gas rumah kaca dengan daur hidup 120 tahun, dan (c) gas rumah kaca dengan daur hidup 12 tahun</p>
<p>dari : kamase.org</p>
Posted in energi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/klipingut.wordpress.com/1405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/klipingut.wordpress.com/1405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/klipingut.wordpress.com/1405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/klipingut.wordpress.com/1405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/klipingut.wordpress.com/1405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/klipingut.wordpress.com/1405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/klipingut.wordpress.com/1405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/klipingut.wordpress.com/1405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/klipingut.wordpress.com/1405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/klipingut.wordpress.com/1405/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1405&subd=klipingut&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/perubahan-iklim-dunia-apa-dan-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d839b767cae2b4e6b7e1aca1a710ce84?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">klipingut</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/494460815_15bfc45b8b.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">494460815_15bfc45b8b.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/494589586_ff3b513499.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">494589586_ff3b513499.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/495203659_387f51b735.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">495203659_387f51b735.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/495193269_1bb496d577.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">495193269_1bb496d577.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/495175251_e0dda9561a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">495175251_e0dda9561a.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/495148072_1dddc6411d.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">495148072_1dddc6411d.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cara Lain Menangani Polusi Akibat Kendaraan Bermotor</title>
		<link>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/cara-lain-menangani-polusi-akibat-kendaraan-bermotor/</link>
		<comments>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/cara-lain-menangani-polusi-akibat-kendaraan-bermotor/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 13:05:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>klipingut</dc:creator>
				<category><![CDATA[energi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/cara-lain-menangani-polusi-akibat-kendaraan-bermotor/</guid>
		<description><![CDATA[Berbagai program, mulai dari pemberlakuan hari tanpa berkendaraan, sampai pelarangan parkir di kota , yang kesemuanya dikenal dengan istilah “upaya mengendalikan transportasi” (”transportation control measures/TCM” ). Banyak TCM dipusatkan pada pengurangan kepadatan lalu lintas, dengan menggunakan sistem yang berkisar dari metode fisik, seperti lampu lalu lintas yang terkoordinasi, jalan satu arah, dan bermobil patungan atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1404&subd=klipingut&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify">Berbagai program, mulai dari pemberlakuan hari tanpa berkendaraan, sampai pelarangan parkir di kota , yang kesemuanya dikenal dengan istilah “upaya mengendalikan transportasi” (”<em>transportation control measures</em>/TCM” ). Banyak TCM dipusatkan pada pengurangan kepadatan lalu lintas, dengan menggunakan sistem yang berkisar dari metode fisik, seperti lampu lalu lintas yang terkoordinasi, jalan satu arah, dan bermobil patungan atau jalur bus yang terpisah, sampai metode penggunaan insentif ekonomi, misalnya “tarif jalur padat” yang mengharuskan pengemudi membayar jika melalui jalan raya di saat lalu lintas padat. Termasuk penggunakan Scooter Matic kiranya dapat dijadikan sebagai alternatif pengendalian emisi kendaraan karena mengandung zero polution.</p>
<table border="0" cellspacing="5" cellpadding="0" align="right">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="justify">Berikut hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan dalam upaya mengurangi beban polusi yang ada diantaranya :</p>
<p align="justify"><strong> Pemeriksaan dan Pemeliharaan</strong>. Program pemeriksaan dan pemeliharaan kendaraan yang dilaksanakan secara keras untuk memastikan kepatuhan masyarakat merupakan suatu pelengkap yang penting dalam penetapan standar emisi. Pengotak-atikan dan pemeliharaan yang buruk dapat dengan cepat membuat pengendalian emisi menjadi tidak efektif. Usia juga cenderung menurunkan kinerja perangkat polusi. Karena itu program untuk menghapus kendaraan tua dari jalan dengan menawarkan suatu imbalan mungkin dapat sangat mengurangi emisi kendaraan. Satu yang paling sederhana dalam hal ini lakukan servis berkala pada kendaraan dan minta lah kepada teknisi bengkel untuk mengstandarkan emisi buangan kendaraan.<span id="more-1404"></span></p>
<p align="justify"><strong>Larangan Masuk</strong>. Pada tahun 1977 Buenos Aires melarang kendaraan pribadi memasuki jalan-jalan pusat keramaian kota dari pukul 10 pagi sampai 7 malam pada hari-hari kerja. Bus dan taksi diperbolehkan hanya pada beberapa jalan tertentu. Larangan ini mengatasi kepadatan lalu lintas dan pencemaran udara yang disebabkan oleh satu juta orang yang memadati pusat kota Buenos Aires setiap hari kerja. Kita sendiri telah melakukan untuk beberapa jalan melalui Kawasan 3in1.</p>
<p align="justify"><strong>Larangan Parkir.</strong> Larangan parkir membatasi jumlah mobil yang boleh parkir di suatu daerah, tapi tidak berpengaruh apapun pada jumlah mobil yang boleh lewat. Salah satu cara untuk mengatasi masalah yang diakibatkan oleh berlimpahnya kendaraan adalah sama sekali melarang semua kendaraan memasuki pusat-pusat kota . “Zona bebas mobil”, sebagai suatu cara untuk mengurangi pencemaran udara, menggalakkan pariwisata, dan meningkatkan kualitas kehidupan, akhir-akhir ini semakin populer di Eropa. Pengalaman yang terjadi di AS lebih terbatas; zona pembatasan mobil biasanya hanya berlaku pada daerah pariwisata atau pertokoan kecil, dan hanya berdampak kecil pada pola transportasi kota secara keseluruhan.</p>
<p align="justify"><strong>“Sel” Lalu Lintas</strong>. Gothenburg, Swedia, membagi pusat kotanya menjadi lima sektor berbentuk “pastel” sebagai suatu cara untuk membatasi lalu lintas yang lewat dan menggalakkan transportasi umum. Kendaraan darurat, angkutan lokal masal, sepeda dan moped dapat melintas dari satu zona ke zona lain, tapi mobil tidak dapat. Berkurangnya kepadatan di pusat kota Gothenburg telah menimbulkan layanan transit yang lebih baik dan tingkat kecelakaan yang lebih rendah. Pendekatan yang disebut “sel lalu lintas” ini, yang berasal dari Bremen, Jerman, juga digunakan di Groningen, Belanda, dan Besancon, Prancis.</p>
<p align="justify"><strong>Hari Tanpa Mengemudi</strong>. Pada akhir 1991, Roma, Milano, Napoli, Turino, dan tujuh kota lain di Italia mencanangkan “perang” terhadap pencemaran dengan cara membatasi jumlah mobil di jalan. Dalam peraturan ini, mobil berplat nomor ganjil dilarang berjalan di satu hari, sedang mobil berplat nomor genap dilarang berjalan hari berikutnya. Banyak pengemudi yang merasa jengkel dengan adanya kekangan dan larangan atas hak mereka untuk mengemudi, lalu mengabaikan aturan genap-ganjil ini. Dalam satu hari saja di bulan Desember, para polisi lalu lintas mencatat 12. 983 pelanggaran, menilang para pelanggar aturan yang mengemudi di hari yang salah, atau yang mengubah plat nomor kendaraan mereka. Namun demikian, dengan penggalakan peraturan secara keras, menteri lingkungan hidup Italia yakin larangan mengemudi berseling hari itu dapat mengurangi polusi sebesar 20 sampai 30 persen.</p>
<p align="justify"><strong>Bersepeda</strong>. Sebagai bentuk transportasi yang paling lazim di dunia, bersepeda kini mulai “naik daun”, sejalan dengan usaha pemerintah beberapa negara untuk menggalakkan bersepeda melalui program khusus. Jumlah sepeda di planet ini lebih dari 800 juta, hampir dua kali jumlah kendaraan umum, tetapi untuk lebih menggalakkan kegiatan bersepeda, negara-negara seperti Belanda, Denmark, Belgia, dan Jerman mengembangkan jaringan jalan untuk sepeda, masing-masing dengan hak guna jalan yang terpisah dari jalan mobil. Tempat parkir yang terpisah, persewaan sepeda dengan uang jaminan yang akan dikembalikan, bahkan garasi khusus sepeda, semuanya diusahakan untuk lebih menggalakkan kegiatan bersepeda. Program semacam itu mempunyai dampak amat besar terhadap cara orang melihat pilihan yang mereka miliki untuk sarana transportasi. Misalnya, kegiatan bersepeda di Erlangen , Jerman, meningkat dua kali lipat setelah jalan sepeda sepanjang 160 km selesai dibangun. Banyak kota di Cina memiliki jalan sepeda selebar lima atau enam jalur. Sesungguhnyalah, sepeda amat penting di Cina, dan pemantauan lalu lintas di kota Tianjin telah mendata lebih dari 50.000 sepeda melintas di satu persimpangan jalan dalam waktu satu jam.</p>
<p align="justify"><strong>Jam Kerja Lentur</strong>. Selama Olimpiade Musim Panas tahun 1984, Los Angeles menggilir jam kerja, dan dengan demikian menurunkan pencemaran udara ke titik terendah selama beberapa waktu terakhir ini. Sekarang banyak kota mencari jalan untuk menghambat pencemaran udara dengan cara memulai jam kerja atau sekolah satu atau dua jam lebih awal, atau dengan mengakhirinya lebih awal, dan dengan demikian mengurangi kepadatan lalu lintas. Kota-kota lain mengusulkan empat hari kerja seminggu sebagai cara lain mengurangi kemacetan lalu lintas. Misalnya di kantor PU Los Angeles para karyawan bekerja 10 jam sehari dari Senin sampai Kamis. Pada hari Jumat seluruh gedung ditutup, dan hal ini tidak saja mengurangi asap kabut dan kemacetan, tapi juga menghemat biaya operasi 1,7 juta dollar AS setahun.</p>
<p align="justify"><strong>Kerja Jarak Jauh (<em>Telecommuting</em>)</strong>. Suatu strategi lain, yaitu cara “kerja jarak jauh”, atau mengizinkan karyawan bekerja di rumah dengan menggunakan telepon dan komputer, akan mengurangi biaya tambahan kantor dan sekaligus menghemat waktu dan uang para karyawan. Para pegawai di Los Angeles berharap akan mengurangi 3 juta perjalanan ke tempat kerja dengan adanya program kerja di rumah dan kerja jarak jauh. Pusat Penelitian Masa Depan meramalkan bahwa lima juta orang Amerika memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan komputer dan dapat dikerjakan di rumah menjelang tahun 1993. Dan dari suatu studi yang dilakukan oleh Asosiasi Pemerintahan California Selatan ditemukan bahwa jika satu dari delapan karyawan memilih untuk bekerja di rumah, atau di stasiun kerja “satelit” yang dihubungkan secara elektronis dengan kantor pusat, maka kemacetan lalu lintas di jalan-jalan raya daerah tersebut dapat dikurangi hampir sepertiganya.</p>
<p align="justify"><strong>Teknologi Baru. </strong>Sejumlah teknologi yang lebih baru menjanjikan pengurangan emisi cukup besar bila dibandingkan dengan sistem-sistem yang ada saat ini. Dengan beroperasi menggunakan zat hidrogen, beberapa temuan mutakhir ini bahkan dapat mencapai tingkat emisi nol, atau sangat mendekati nol, sampai selisihnya tak dapat diukur dengan piranti yang ada sekarang.<br />
Bahkan bila dioperasikan dengan bahan bakar fosilpun, seperti gas alam, temuan-temuan itu masih mampu mencapai tingkat emisi nol untuk polutan-polutan tertentu, dan mendekati nol untuk beberapa jenis polutan lain.<br />
Teknologi sumber daya stasioner ini meliputi: turbin putar gabungan (”combined-cycle turbines”). Turbin putaran gabungan yang dihidupkan dengan pembakaran gas (”gas-fired combined-cycle turbines”) dapat membangkitkan tenaga listrik yang mengurangi pencemaran udara sebesar 50 sampai 99 persen bila dibandingkan dengan sumber-sumber pembangkit tenaga yang membakar batubara. (Dalam sistem putaran gabungan, bahan bakar digunakan untuk menjalankan dua turbin, satu mendapat daya dari gas pembakaran panas, lainnya dari uap suatu konsep yang serupa dengan penggunaan bensin untuk menghidupkan mesin mobil Anda, lalu menggunakan asap knalpotnya untuk menghidupkan mesin lain). Karena berbahan bakar gas alam, maka sistem ini tidak menghasilkan emisi sulfur dioksida atau benda partikulat. Jika sistem ini dilengkapi dengan sistem pengendali pencemaran SCR yang canggih itu, maka emisi oksida nitrogen hanya sepersepuluhnya (atau kurang) dari emisi pembangkit tenaga yang lain.
</p>
<p align="left">Oleh: Endang Kurniawan</p>
<p>dari : kamase.org</p>
Posted in energi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/klipingut.wordpress.com/1404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/klipingut.wordpress.com/1404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/klipingut.wordpress.com/1404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/klipingut.wordpress.com/1404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/klipingut.wordpress.com/1404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/klipingut.wordpress.com/1404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/klipingut.wordpress.com/1404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/klipingut.wordpress.com/1404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/klipingut.wordpress.com/1404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/klipingut.wordpress.com/1404/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1404&subd=klipingut&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/cara-lain-menangani-polusi-akibat-kendaraan-bermotor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d839b767cae2b4e6b7e1aca1a710ce84?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">klipingut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berbagai Aplikasi Energi Matahari</title>
		<link>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/berbagai-aplikasi-energi-matahari/</link>
		<comments>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/berbagai-aplikasi-energi-matahari/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 12:59:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>klipingut</dc:creator>
				<category><![CDATA[energi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://klipingut.wordpress.com/?p=1400</guid>
		<description><![CDATA[Energi matahari merupakan energi yang utama bagi kehidupan di bumi ini. Berbagai jenis energi, baik yang terbarukan maupun tak-terbarukan merupakan bentuk turunan dari energi ini baik secara langsung maupun tidak langsung.







Energi yang merupakan turunan dari energi matahari misalnya:

Energi angin yang timbul akibat adanya perbedan suhu dan tekanan satu tempat dengan tempat lain sebagai efek energi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1400&subd=klipingut&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a title="solar0.jpg" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/solar0.jpg"><img title="solar0.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/solar0.thumbnail.jpg" alt="solar0.jpg" hspace="5" align="left" /></a>Energi matahari merupakan energi yang utama bagi kehidupan di bumi ini. Berbagai jenis energi, baik yang terbarukan maupun tak-terbarukan merupakan bentuk turunan dari energi ini baik secara langsung maupun tidak langsung.</p>
<table border="0" cellspacing="5" cellpadding="0" align="right">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Energi yang merupakan turunan dari energi matahari misalnya:</p>
<ul>
<li>Energi angin yang timbul akibat adanya perbedan suhu dan tekanan satu tempat dengan tempat lain sebagai efek energi panas matahari.</li>
<li>Energi air karena adanya siklus hidrologi akibat dari energi panas matahari yang mengenai bumi.</li>
<li>Energi biomassa karena adanya fotosintesis dari tumbuhan yang notabene menggunakan energi matahari.</li>
<li>Energi gelombang laut yang muncul akibat energi angin.</li>
<li>Energi fosil yang merupakan bentuk lain dari energi biomassa yang telah mengalami proses selama berjuta-juta tahun.</li>
</ul>
<p>Selain itu energi panas matahari juga berperan penting dalam menjaga kehidupan di bumi ini. Tanpa adanya energi panas dari matahari maka seluruh kehidupan di muka bumi ini pasti akan musnah karena permukaan bumi akan sangat dingin dan tidak ada makluk yang sanggup hidup di bumi.</p>
<p><strong>Energi Panas Matahari sebagai Energi Alternatif</strong></p>
<p>Energi panas matahari merupakan salah satu energi yang potensial untuk dikelola dan dikembangkan lebih lanjut sebagai sumber cadangan energi terutama bagi negara-negara yang terletak di khatulistiwa termasuk Indonesia, dimana matahari bersinar sepanjang tahun. Dapat dilihat dari gambar di atas bahwa energi matahari yang tersedia adalah sebesar 81.000 TerraWatt sedangkan yang dimanfaatkan masih sangat sedikit.</p>
<p>Ada beberapa cara pemanfaatan energi panas matahari yaitu:</p>
<ol>
<li> Pemanasan ruangan</li>
<li>Penerangan ruangan</li>
<li>Kompor matahari</li>
<li>Pengeringan hasi pertanian</li>
<li>Distilasi air kotor</li>
<li>Pemanasan air</li>
<li>Pembangkitan listrik</li>
</ol>
<p><strong>Pemanasan Ruangan</strong></p>
<p>Ada beberapa teknik penggunan energi panas matahari untuk pemanasan ruangan, yaitu:</p>
<ul>
<li>Jendela</li>
</ul>
<p>Ini merupakan teknik pemanasan dengan menggunakan energi panas matahari yang paling sederhana. Hanya diperlukan sebuah lubang pada dinding untuk meneruskan panas matahari dari luar masuk ke dalam bangunan. Ada jendela yang langsung tanpa ada kacanya dan ada yang menggunakan kaca. Untuk mendapatkan panas yang optimal maka pada jendela dipasang kaca ganda. Biasanya di daerah-daerah empat musim dinding/tembok bangunan diganti dengan kaca agar matahari bebas menyinari dan menghangatkan ruangan pada saat musim dingin.</p>
<ul>
<li>Dinding Trombe(<em>Trombe Wall</em>)</li>
</ul>
<p><img title="tromble.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/tromble.jpg" alt="tromble.jpg" hspace="5" align="left" />Dinding trombe adalah dinding yang diluarnya terdapat ruangan sempit berisi udara. Dinding bagian luar dari ruangan sempit tersebut biasanya berupa kaca. Dinding ini dinamai berdasarkan nama penemunya yaitu Felix Trombe, orang berkebangsaan Perancis.</p>
<p>Prinsip kerjanya adalah permukaan luar ruangan ini akan dipanasi oleh sinar matahari, kemudian panas tersebut perlahan-lahan dipindahkan kedalam ruangan sempit. Selanjutnya panas di dalam ruangan sempit tersebut akan dikonveksikan ke dalam bangunan melalui saluran udara pada dinding trombe.</p>
<ul>
<li><em>Greenhouse</em></li>
</ul>
<p><img title="greenhouse.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/greenhouse.jpg" alt="greenhouse.jpg" hspace="5" align="left" />Teknik ini hampir sama dengan dinding trombe hanya saja jarak antara dinding masif dengan kaca lebih lebar, sehingga tanaman bisa hidup di dalamnya.</p>
<p>Prinsip kerja <em>greenhouse</em> juga serupa dengan dinding trombe. Panas masuk melalui kaca ke dalam <em>greenhouse</em> lalu dikonveksikan ke dalam bangunan untuk menghangatkan ruangan atau menjaga suhu rungan tetap stabil meskipun pada waktu siang atau malam hari.</p>
<p><strong>Penerangan Ruangan</strong></p>
<p>Adalah teknik pemanfaatan energi matahari yang banyak dipakai saat ini. Dengan teknik ini pada siang hari lampu pada bangunan tidak perlu dinyalakan sehingga menghemat penggunaan listrik untuk penerangan. Teknik ini dilaksanakan dengan mendesain bangunan yang memungkinkan cahaya matahari bisa masuk dan menerangi ruangan dalam bangunan.</p>
<p><strong>Kompor Matahari</strong></p>
<p>Prinsip kerja dari kompor matahari adalah dengan memfokuskan panas yang diterima dari matahari pada suatu titik menggunakan sebuah cermin cekung besar sehingga didapatkan panas yang besar yang dapat digunakan untuk menggantikan panas dari kompor minyak atau kayu bakar.</p>
<p style="text-align:center;"><img title="kompor_surya.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/kompor_surya.jpg" alt="kompor_surya.jpg" hspace="5" align="absmiddle" /></p>
<p>Untuk diameter cermin sebesar1,3 meter kompor ini memberikan daya thermal sebesar 800 watt pada panci. Dengan menggunakan kompor ini maka kebutuhan akan energi fosil dan energi listrik untuk memasak dapat dikurangi.</p>
<p><strong>Pengeringan Hasil Pertanian</strong></p>
<p>Hal ini biasanya dilakukan petani di desa-desa daerah tropis dengan menjemur hasil panennya dibawah terik sinar matahari. Cara ini sangat menguntungkan bagi para petani karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mengeringkan hasil panennya. Berbeda dengan petani di negara-negara empat musim yang harus mengeluarkan biaya untuk mengeringkan hasil panennya dengan menggunakan oven yang menggunakan bahan bakar fosil maupun menggunakan listrik.</p>
<p><strong>Distilasi Air</strong></p>
<p><a title="destilasi.jpg" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/destilasi.jpg"><img title="destilasi.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/destilasi.thumbnail.jpg" alt="destilasi.jpg" hspace="5" align="left" /></a>Cara kerjanya adalah sebuah kolam yang dangkal, dengan kedalaman 25mm hingga 50 mm, ditututup oleh kaca. Air yang dipanaskan oleh radiasi matahari, sebagian menguap, sebagian uap itu mengembun pada bagian bawah dari permukaan kaca yang lebih dingin. Kaca tersebut dimiringkan sedikit 10 derajat untuk memungkinkan embunan mengalir karena gaya berat menuju ke saluran penampungan yang selanjutnya dialirkan ke tangki penyimpanan.</p>
<p><strong>Pemanasan Air</strong></p>
<p>Penyediaan air panas sangat diperlukan oleh masyarakat, baik untuk mandi maupun untuk alat antiseptik pada rumah sakit dan klinik kesehatan. Penyediaan air panas ini memerlukan biaya yang besar karena harus tersedia sewaktu-waktu dan biasanya untuk memanaskan digunakan energi fosil ataupun energi listrik. Namun Dengan menggunakan pemanas air tenaga surya maka hal ini bukan merupakan masalah karena pemanasan air dilakukan dengan menyerap panas matahari dengan menggunakan kolektor sehingga tidak memerlukan biaya bahan bakar.</p>
<p style="text-align:center;"><img title="pemanas_air.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/pemanas_air.jpg" alt="pemanas_air.jpg" align="absmiddle" /></p>
<p>Prinsip kerjanya adalah panas dari matahari diterima oleh kolektor yang terdapat di dalam terdapat pipa-pipa berisi air. Panas yang diterima kolektor akan diserap oleh air yang berada di dalam pipa sehingga suhu air meningkat. Air dingin dialirkan dari bawah sedangkan air panasnya dialirkan lewat atas karena massa jenis air panas lebih kecil daripada massa jenis air dingin (prinsip thermosipon). Air ini lalu masuk ke dalam penyimpan panas. Pada penyimpan panas, panas dari air ini dipindahkan ke pipa berisi air yang lain yang merupakan persediaan air untuk mandi/antiseptik. Sedangkan air yang berasal dari kolektor akan diputar kembali ke kolektor dengan menggunakan pompa atau hanya menggunakan prinsip thermosipon. Persediaan air panas akan disimpan di dalam tangki penyimpanan yang terbuat dari bahan isolator thermal. Pada sistem ini terdapat pengontrol suhu jika suhu air panas yang dihasilkan kurang dari yang diinginkan maka air akan dimasukkan kembali ke tangki penyimpan panas untuk dipanaskan kembali.</p>
<p>Kolektor yang digunakan pada pemanas air tenaga panas matahari ini adalah kolektor surya plat datar yang bagian atasnya terbuat dari kaca yang berwarna hitam redup sedangkan bagian bawahnya terbuat dari bahan isolator yang baik sehingga panas yang terserap kolektor tidak terlepas ke lingkungan. Air panas di dalam kolektor bisa mencapai 82 C sedangkan air panas yang dihasilkan tergantung keinginan karena sistem dilengkapi pengontrol suhu.</p>
<p><strong>Pembangkitan Listrik</strong></p>
<p><a title="solar_generation.jpg" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/solar_generation.jpg"><img title="solar_generation.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/solar_generation.thumbnail.jpg" alt="solar_generation.jpg" hspace="5" align="left" /></a>Prinsipnya hampir sama dengan pemanasan air hanya pada pembangkitan listrik, sinar matahari diperkuat oleh kolektor pada suatu titik fokus untuk menghasilkan panas yang sangat tinggi bahkan bisa mencapai suhu 3800 C. Pipa yang berisi air dilewatkan tepat pada titik fokus sehingga panas tersebut diserap oleh air di dalam pipa. Panas yang sangat besar ini dibutuhkan untuk mengubah fase cair air di dalam pipa menjadi uap yang bertekanan tinggi. Uap bertekanan tinggi yang di hasilkan ini kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin uap yang kemudian akan memutar turbo generator untuk menghasilkan listrik.</p>
<p style="text-align:center;"><img title="parabolik.gif" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/parabolik.gif" alt="parabolik.gif" align="absmiddle" /></p>
<p>Ada dua jenis kolektor yang biasa digunakan untuk pembangkitan listrik yaitu kolektor parabolik memanjang dan kolektor parabolik cakram.<span id="more-1400"></span></p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/parabolik.jpg" alt="parabolik.jpg" /></p>
<p style="text-align:center;"><strong> Kolektor Parabolik Memanjang</strong></p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/parabolik1.jpg" alt="parabolik1.jpg" /></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Kolektor Parabolik Cakram</strong></p>
<p>Di California, Amerika Serikat, alat ini telah mampu menghasilkan 354 MW listrik. Dengan memproduksi kolektor ini secara massal, maka harga satuan energi matahari ini di AS, sekitar Rp 100/KWh lebih murah dibandingkan energi nuklir dan sama dengan energi dari tenaga pembangkit dengan bahan baku energi fosil.(Ivan A Hadar, 2005).</p>
<p>Di India dengan area seluas 219.000 meter persegi maka kolektor mampu menghasilkan listrik sebesar 35-40 MW dengan rata-rata intensitas penyinaranya adalah sebesar 5.8 KWH per meter persegi per hari.(Gordon Feller).</p>
<p>Kita dapat juga membangkitkan listrik langsung dari energi surya, yaitu dengan menggunakan photovoltaic. Alat ini terbuat dari bahan semikonduktor yang sangat peka dalam melepaskan elektron ketika terkena panjang gelombang sinar matahari tertentu. Akan tetapi alat ini masih sangat mahal dan efisiensinya masih sangat rendah, yaitu sekitar 10%.</p>
<p>Pembangkitan listrik berdasarkan perbedaan tekanan pada gas juga bisa dilakukan, yaitu dengan menggunakan chimney. Ini sebuah sistem tower yang terdiri turbin gas dan jalinan kaca tertutup yang luas untuk memerangkap panas matahari.</p>
<p>Prinsipnya: sinar matahari akan menembus kaca dari alat ini kemudian memanaskan gas yang terperangkap di bawah kaca. Gas suhu tinggi ini akan memasuki tower tertutup yang tingginya bisa mencapai 1000 meter vertikal. Oleh karena perbedaan suhu gas pada permukaan bumi dan 1000 meter diatas permukaan bumi, maka gas akan mengalir ke atas melalui tower ini. Aliran gas/udara tersebut akan memutar turbin gas. Skema sederhana dapat dilihat pada gambar dibawah.</p>
<p style="text-align:center;"><img title="chimney.gif" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/chimney.gif" alt="chimney.gif" hspace="5" align="absmiddle" /></p>
<p><strong>Keuntungan dan Kerugian Energi Panas Matahari</strong></p>
<p>Keuntungan dari penggunaan energi panas matahari antara lain:</p>
<ul>
<li>Energi panas matahari merupakan energi yang tersedia hampir diseluruh bagian permukaan bumi dan tidak habis (<em>renewable energy</em>).</li>
<li>Penggunaan energi panas matahari tidak menghasilkan polutan dan emisi yang berbahaya baik bagi manusia maupun lingkungan.</li>
<li>Penggunaan energi panas matahari untuk pemanas air, pengeringan hasil panen akan dapat mengurangi kebutuhan akan energi fosil.</li>
<li>Pembanguan pemanas air tenaga matahari cukup sederhana dan memiliki nilai ekonomis.</li>
</ul>
<p>Kerugian dari penggunaan energi panas matahari antara lain:</p>
<ul>
<li>Sistem pemanas air dan pembangkit listrik tenaga panas matahari tidak efektif digunakan pada daerah memiliki cuaca berawan untuk waktu yang lama.</li>
<li>Pada musim dingin, pipa-pipa pada sistem pemanas ini akan pecah karena air di dalamnya membeku.</li>
<li>Membutuhkan lahan yang sangat luas yang seharusnya digunakan untuk pertanian, perumahan, dan kegiatan ekonomi lainya. Hal ini karena rapat energi matahari sangat rendah.</li>
<li>Lapisan kolektor yang menyilaukan bisa mengganggu dan membahayakan penglihatan, misalnya penerbangan.</li>
<li>Sistem hanya bisa digunakan pada saat matahari bersinar dan tidak bisa digunakan ketika malam hari atau pada saat cuaca berawan.</li>
<li>Penyimpanan air panas untuk perumahan bukan merupakan masalah, tetapi penyimpanan uap air pada pembangkit listrik memerlukan teknologi yang sulit.</li>
</ul>
<p><strong>Pustaka</strong></p>
<ul>
<li>Arismunandar, W. 1995. <em>Teknologi Rekayasa Surya</em>. Bandung. Pradnya Paramita.</li>
<li>Boyle, G. 1996. <em>Renewable Energy</em>. Milton Keynes. The Open University.</li>
<li>Gordon Feller. <em>India Building Large-Scale Solar Thermal Capacity</em>. Available from http://www.ecoworld.org/Home/Articles2.cfm?TID=325</li>
<li>Ivan A Hadar. Kompas, 11 Oktober 2005. <em>Keluar dari Ketergantungan (Pasar) BBM.</em></li>
<li><em>Passive Solar Architecture &#8211; Heating</em>. Available from www.azsolarcenter.com/design/pas-2</li>
<li><em>Solar Cooking</em>. Available from www.energiinfo.org/solar_cooking</li>
</ul>
<p>dari : kamase.org</p>
Posted in energi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/klipingut.wordpress.com/1400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/klipingut.wordpress.com/1400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/klipingut.wordpress.com/1400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/klipingut.wordpress.com/1400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/klipingut.wordpress.com/1400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/klipingut.wordpress.com/1400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/klipingut.wordpress.com/1400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/klipingut.wordpress.com/1400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/klipingut.wordpress.com/1400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/klipingut.wordpress.com/1400/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1400&subd=klipingut&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/berbagai-aplikasi-energi-matahari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d839b767cae2b4e6b7e1aca1a710ce84?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">klipingut</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/solar0.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">solar0.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/tromble.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tromble.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/greenhouse.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">greenhouse.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/kompor_surya.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kompor_surya.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/destilasi.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">destilasi.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/pemanas_air.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pemanas_air.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/solar_generation.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">solar_generation.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/parabolik.gif" medium="image">
			<media:title type="html">parabolik.gif</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/parabolik.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">parabolik.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/parabolik1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">parabolik1.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/09/chimney.gif" medium="image">
			<media:title type="html">chimney.gif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biogas Hadir Di Sewon</title>
		<link>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/biogas-hadir-di-sewon/</link>
		<comments>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/biogas-hadir-di-sewon/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 12:55:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>klipingut</dc:creator>
				<category><![CDATA[energi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://klipingut.wordpress.com/?p=1398</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 23 Januari 2007 kemarin, teman-teman KAMASE melaksanakan KKN-PPM selama 2 bulan. Salah satu tema yang diangkat pada KKN kali ini adalah mengenai pembuatan instalasi biogas. Instalasi biogas ini dibangun di Dusun Kweni, Kecamatan Sewon, Kelurahan Panggungharjo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.







Di dusun Kweni sendiri terdapat kandang kelompok sapi sehingga akan lebih memudahkan ketika akan dibangun sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1398&subd=klipingut&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify">Tanggal 23 Januari 2007 kemarin, teman-teman KAMASE melaksanakan KKN-PPM selama 2 bulan. Salah satu tema yang diangkat pada KKN kali ini adalah mengenai pembuatan instalasi biogas. Instalasi biogas ini dibangun di Dusun Kweni, Kecamatan Sewon, Kelurahan Panggungharjo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.</p>
<table style="height:30px;" border="0" cellspacing="5" cellpadding="0" width="2" align="right">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="justify">Di dusun Kweni sendiri terdapat kandang kelompok sapi sehingga akan lebih memudahkan ketika akan dibangun sebuah instalasi biogas, karena bahan baku berupa kotoran sapi yang melimpah dibandingkan dengan kandang terpencar. Menurut Yunus (1987) bahwa dalam sehari rata-rata seekor sapi menghasilkan 29 kg. berikut tabel produksi kotoran ternak.</p>
<p align="left"><img title="tabel11.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/tabel11.jpg" alt="tabel11.jpg" align="absmiddle" /></p>
<p align="center"><em>Sumber : Yunus (1987)</em></p>
<p align="justify">Awalnya masyarakat sekitar lebih banyak meletakkan kotoran sapinya di dekat kandang sehingga hal ini dapat menimbulkan pencemaran udara, dan baru sedikit yang dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk organik.<span id="more-1398"></span></p>
<p align="justify">Digester yang dibangun menggunakan tandon air dengan kapasitas 2000 liter sedangkan penampung gasnya berkapasitas 250 liter. Instalasi biogas ini merupakan penggabungan antara fixed dome untuk digester dan floating drum untuk penampung gas, sperti terlihat pada gambar dibawah.</p>
<p align="center"><img title="gambar.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/gambar.jpg" alt="gambar.jpg" align="absmiddle" /></p>
<p align="justify">Digester yang digunakan ditempatkan sebagian dalam tanah, hal ini dimaksudkan untuk menjaga temperatur tetap stabil sehingga tidak terjadi perubahan temperatur. Perubahan temperatur akan mengakibatkan bakteri yang terdapat dalam digester menjadi tidak optimal atau bahkan mati. Sedangkan penggunaan penampung gas secara floating drum yakni dimaksudkan agar dapat diamati produksi biogas yang dihasilkan, dengan dihitung kenaikan penampung gas yang diakibatkan oleh tekanan gas yang berada dalam penampung gas tersebut.</p>
<p align="justify">Instalasi yang dibangun meliputi saluran inlet, digester, saluran outlet dan penampung gas. Untuk mencegah timbulnya kerak pada dasar digester dan lapisan atas slurry, maka dibuat sebuah pengaduk manual. Hal ini dikarenakan lapisan kerak dapat mencegah gas yang akan keluar dari digester (anonim, 1981). Lapisan kerak tersebut dapat mempengaruhi perkembangan mikroorganisme yang erat hubungannya dengan produksi biogas. Pengadukan juga memberikan kondisi temperatur yang homogen dalam digester (Taconi dalam Ginting, 2006). Menurut anonim (1981) pengadukan pada digester dapat meningkatkan produksi gas sebesar 10 – 15% dibandingkan dengan yang tidak diaduk.</p>
<p align="justify">Untuk menghilangkan H2O yang ikut dalam aliran gas maka perlu adanya water trap. Perangkap H2O biogas akan dilewatkan melalui pipa T yang terhubung dengan tabung air. Uap air yang ikut bersama biogas diharapkan turun melalui pipa ke tabung penampung air (<em>Yunus, 1987</em>).</p>
<p align="justify">Biogas sendiri bukanlah teknologi baru dan tergolong teknologi yang mudah, baik dalam hal pembuatan maupun perawatannya. Tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa perawatan menjadi kendala utama dalam keberlanjutan biogas itu sendiri. Untuk menghindari hal tersebut, sebelum membangun instalasi biogas terlebih dahulu kami melakukan sosialisasi mengenai biogas. Dalam pembangunannya pun kami melibatkan peran masyarakat dan menjelaskan teknis penggunaan instalasi biogas ini agar dapat dimanfaatkan dengan baik. Untuk pemanfaatan gas tersebut belum dapat ditentukan, apakah untuk penerangan ataukah memasak di sekitar kandang. Semoga dengan adanya instalasi biogas di Sewon, khususnya di dukuh Kweni dapat membantu masyarakat sekitar dan tidak menambah “museum” biogas lagi di Indonesia. Untuk itu peran masyarakat sangat penting dalam keberlanjutan biogas ini.</p>
<p align="left"><strong>Referensi:</strong></p>
<ul>
<li> Anonim, 1981, <em>Biogas Fertilizer System. Technical Report on a Training Seminar in China</em>, United Nations Environment Programme, Nairobi.</li>
<li>Ginting, E., H., 2006, <em>Perancangan Fasilitas Biogas Kandang Terpencar Kelompok Ternak Tani Pandan Mulyo Dukuh Ngentak</em>, Skripsi, Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.</li>
<li>Yunus, M., 1987, <em>Teknik Membuat dan Memanfaatkan Unit Gas Bio</em>, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.</li>
</ul>
<p>Oleh: Ahmad Fajar</p>
<p>dari : kamase.org</p>
Posted in energi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/klipingut.wordpress.com/1398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/klipingut.wordpress.com/1398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/klipingut.wordpress.com/1398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/klipingut.wordpress.com/1398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/klipingut.wordpress.com/1398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/klipingut.wordpress.com/1398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/klipingut.wordpress.com/1398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/klipingut.wordpress.com/1398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/klipingut.wordpress.com/1398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/klipingut.wordpress.com/1398/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1398&subd=klipingut&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/biogas-hadir-di-sewon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d839b767cae2b4e6b7e1aca1a710ce84?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">klipingut</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/tabel11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tabel11.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/05/gambar.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memproduksi Biogas dari Sanitasi Komunitas</title>
		<link>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/memproduksi-biogas-dari-sanitasi-komunitas/</link>
		<comments>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/memproduksi-biogas-dari-sanitasi-komunitas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 12:52:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>klipingut</dc:creator>
				<category><![CDATA[energi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/memproduksi-biogas-dari-sanitasi-komunitas/</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada perbedaan dan kesulitan yang mencolok menggunakan kotoran manusia untuk memproduksi biogas, dan tidak perlu dicampur dengan kotoran sapi atau hewan ternak lain untuk menghasilkan biogas secara efektif.  Desain penampung kotoran/digester pada sistem sanitasi pada umumnya dapat menghasilkan biogas secara langsung, namun pada pandangan masyarakat umum biogas dari kotoran manusia lebih menjijikkan dari pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1397&subd=klipingut&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tidak ada perbedaan dan kesulitan yang mencolok menggunakan kotoran manusia untuk memproduksi biogas, dan tidak perlu dicampur dengan kotoran sapi atau hewan ternak lain untuk menghasilkan biogas secara efektif.  Desain penampung kotoran/digester pada sistem sanitasi pada umumnya dapat menghasilkan biogas secara langsung, namun pada pandangan masyarakat umum biogas dari kotoran manusia lebih menjijikkan dari pada biogas dari kotoran sapi, kekhawatiran akan munculnya bau yang tidak sedap yang berasosiasi dengan gas yang dihasilkan adalah salah satu faktor kenapa biogas masih jarang dipakai. Padahal telah terbukti biogas yang dihasilkan dari kotoran sapi tidak menghasilkan bau dan bahkan untuk penggunaan masak sehari-hari sangat menguntungkan pemakainya.</p>
<table border="0" cellspacing="5" cellpadding="0" align="right">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Beberapa daerah di Indonesia masyarakat sudah memulai memanfaatkan biogas dari kotoran manusia diantaranya di daerah Salatiga, Semarang, Jakarta dan juga Malang. Pada umunya sanitasi yang bisa menghasilkan kotoran manusia yang cukup untuk digunakan memproduksi biogas adalah sanitasi umum, maupun sanitasi keluarga namun kolektor kotoran/digesternya disatukan terpusat dari beberapa sanitasi keluarga yang ada.<span id="more-1397"></span></p>
<p>Secara umum tidak ada perbedaan yang mencolok antara biogas dari kotoran manusia dan kotoran hewan ternak, retention time (RT) dari kotoran manusia untuk menghasilkan biogas bervariasi dari mulai 10 hari hingga 60 hari, dan optimum proses biogas terjadi pada suhu 35 derajat celcius dan suhu ini sangat cukup tercapai dengan sistem digester kotoran yang lazim di Indonesia, yakni sistem ditanam di tanah. Mengingat kotoran manusia mengandung banyak pathogen, maka salah satu indikator penting dalam produksi biogas ini, Tabel 1. menunjukkan lama pathogen bisa hidup dalam kondisi iklim tropis pada keadaan anaerob, pathogen merupakan salah satu aspek retention time (RT)</p>
<div class="post">&#8211;  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:&#8221;Cambria Math&#8221;; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:&#8221;"; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:&#8221;Calibri&#8221;,&#8221;sans-serif&#8221;; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt;<!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p>/* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&#8221;Table Normal&#8221;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:&#8221;"; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:&#8221;Calibri&#8221;,&#8221;sans-serif&#8221;; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} table.MsoTableGrid 	{mso-style-name:&#8221;Table Grid&#8221;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-priority:59; 	mso-style-unhide:no; 	border:solid black 1.0pt; 	mso-border-themecolor:text1; 	mso-border-alt:solid black .5pt; 	mso-border-themecolor:text1; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-border-insideh:.5pt solid black; 	mso-border-insideh-themecolor:text1; 	mso-border-insidev:.5pt solid black; 	mso-border-insidev-themecolor:text1; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:&#8221;Calibri&#8221;,&#8221;sans-serif&#8221;; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;}</p>
<table class="MsoTableGrid" style="border:medium none;border-collapse:collapse;height:286px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="490">
<tbody>
<tr>
<td style="width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" rowspan="2" width="133">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">Pathogen</span></p>
</td>
<td style="width:4.5in;padding:0 5.4pt;" colspan="7" width="432" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">Retention   Time (Bulan)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">1 Bulan</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">2 Bulan</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">3 Bulan</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">4 Bulan</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">5 Bulan</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">8 Bulan</span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">10 Bulan</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:medium none;width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" width="133" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">Enteric Viruses</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" width="133" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">Salmonellae</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" width="133" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">Shigellae</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" width="133" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">Vibrio cholera</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" width="133" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">Path. E. coli</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" width="133" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">Leptospira</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" width="133" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">Entamoeba</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" width="133" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">Giardla</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" width="133" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">Balantidium</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" width="133" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">Ascaris</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">++</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">++</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">++</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">++</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" width="133" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">Trichurls</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">++</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">++</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" width="133" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">Hookworms</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" width="133" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">Schistosoma</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">0</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:99.9pt;padding:0 5.4pt;" width="133" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">Taenia</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">++</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">++</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">++</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">++</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">+</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:medium none;width:234.9pt;padding:0 5.4pt;" colspan="4" width="313" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">0 Kemungkinan tereliminasi secara   komplit</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:2in;padding:0 5.4pt;" colspan="3" width="192" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;">Source :   Meynel, P.<span> </span>J., 1980</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:234.9pt;padding:0 5.4pt;" colspan="4" width="313" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">+ Kemungkinan konsentrasinya rendah</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:234.9pt;padding:0 5.4pt;" colspan="4" width="313" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:9pt;">++ Kemungkinan konsentrasinya tinggi</span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:45pt;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:.75in;padding:0 5.4pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Pada umumnya penampung kotoran/digester dari sanitasi  di masyarakat Indonesia bisa langsung digunakan untuk memproduksi biogas, karena selama ini gas yang dihasilkan dari digester biasanya hanya dibuang ke udara begitu saja lewat pipa pembuangan udara. Untuk memakainya kita bisa menyalurkan gas yang dibuang dari pipa tersebut ke gas storage, yakni dengan menambahkan penampung gas yang bisa berupa kantong plastik, sehingga bisa lebih memudahkan pemantauan kapasitas gas yang telah diproduksi.</p>
<p>Perhitungan produksi biogas dapat dilihat dari studi kasus yang ada di Srilanka, dengan perhitungan estimasi sebagai berikut berat kotoran yang dihasilkan 250 g per orang dan 80% berupa moisture, jadi berat keringnya adalah 50g, kemudian berat urine yang dihasilkan adalah 1.2 kg/orang. Namun asumsi lain juga diberlakukan diantaranya dalah bahwa orang dewasa laki-laki dianggap lebih sedikit mengeluarkan urine pada kakus sehingga berat urinnya menjadi hanya 0.75 kg, begitu juga untuk anak-anak umur 5-12 tahun berat kotorannya hanya 150 g dan 0.75 kg urine.</p>
<p>!&#8211;  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:&#8221;Cambria Math&#8221;; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:&#8221;"; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:&#8221;Calibri&#8221;,&#8221;sans-serif&#8221;; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt;<!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p>/* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&#8221;Table Normal&#8221;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:&#8221;"; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:&#8221;Calibri&#8221;,&#8221;sans-serif&#8221;; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} table.MsoTableGrid 	{mso-style-name:&#8221;Table Grid&#8221;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-priority:59; 	mso-style-unhide:no; 	border:solid black 1.0pt; 	mso-border-themecolor:text1; 	mso-border-alt:solid black .5pt; 	mso-border-themecolor:text1; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-border-insideh:.5pt solid black; 	mso-border-insideh-themecolor:text1; 	mso-border-insidev:.5pt solid black; 	mso-border-insidev-themecolor:text1; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:&#8221;Calibri&#8221;,&#8221;sans-serif&#8221;; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;}</p>
<table class="MsoTableGrid" style="border:medium none;border-collapse:collapse;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">Populasi</span></p>
</td>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">Berat Kotoran (g)</span></p>
</td>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">Berat Kering (g)</span></p>
</td>
<td style="width:95.8pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">Berat Urine (kg)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">Dewasa Laki-laki</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">486</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">121,5</span></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">24,3</span></p>
</td>
<td style="width:95.8pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">364.5</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">Dewasa Wanita</span></p>
</td>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">500</span></p>
</td>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">125</span></p>
</td>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">25</span></p>
</td>
<td style="width:95.8pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">600</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">Anak-anak</span></p>
</td>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">453</span></p>
</td>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">68</span></p>
</td>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">13,6</span></p>
</td>
<td style="width:95.8pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">339,8</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;">Total</span></strong></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;">1.439</span></strong></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;">314,5</span></strong></p>
</td>
<td style="border:medium none;width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;">62,9</span></strong></p>
</td>
<td style="width:95.8pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;">1304,3</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191.5pt;padding:0 5.4pt;" colspan="2" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">Rata-rata/kapita/hari</span></p>
</td>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">250 g</span></p>
</td>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">44 g</span></p>
</td>
<td style="width:95.8pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">0.91 kg</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:287.25pt;padding:0 5.4pt;" colspan="3" width="383" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">Berat   total/kapita/hari<span> </span>1.13 kg</span></p>
</td>
<td style="width:95.75pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:95.8pt;padding:0 5.4pt;" width="128" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:287.25pt;padding:0 5.4pt;" colspan="3" width="383" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">Air yang digunakan   untuk membersihkan kotoran pada tubuh</span></p>
</td>
<td style="width:191.55pt;padding:0 5.4pt;" colspan="2" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">1,5   liter/kapita/hari</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:287.25pt;padding:0 5.4pt;" colspan="3" width="383" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">Air yang digunakan   untuk membersihkan toilet</span></p>
</td>
<td style="width:191.55pt;padding:0 5.4pt;" colspan="2" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;">2,5   liter/kapita/hari</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:287.25pt;padding:0 5.4pt;" colspan="3" width="383" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;">Total<span> </span>5,13   kg/kapita/hari</span></strong></p>
</td>
<td style="width:191.55pt;padding:0 5.4pt;" colspan="2" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Jika jumlah populasi menjadi 3000 orang dalam suatu komunitas yang menggunakan fasilitas sanitasi bersama maka berat kering kotoran yang dihasilkan akan menjadi 132 kg, sedangkan gas yang dihasilkan berkisar dari 45 hingga 66 meter kubik/hari. Kebutuhan memasak bagi setiap keluarga setidaknya memerlukan 2 meter kubik/hari, dengan perhitungan bahwa 1 meter kubik equivalent dengan 0,62 liter minyak tanah. Solusi yang cukup cerdas dalam menghadapi kenaikan harga harga minyak tanah, terlebih lagi dalam waktu dekat pemerintah akan melepaskan subsidi minyak tanah.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Ery Wijaya</p>
<p>Referensi:</p>
<p>Meynell P. J., 1980, <em>Feasibility Study for a Sanitation Scheme to Produce Biogas from Human Waste in Kirillapone Shanty, Colombo, Sri Lanka</em>, Intermediate Technology Consultants Ltd., London UK.</div>
<p>dari : kamase.org</p>
Posted in energi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/klipingut.wordpress.com/1397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/klipingut.wordpress.com/1397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/klipingut.wordpress.com/1397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/klipingut.wordpress.com/1397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/klipingut.wordpress.com/1397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/klipingut.wordpress.com/1397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/klipingut.wordpress.com/1397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/klipingut.wordpress.com/1397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/klipingut.wordpress.com/1397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/klipingut.wordpress.com/1397/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1397&subd=klipingut&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/memproduksi-biogas-dari-sanitasi-komunitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d839b767cae2b4e6b7e1aca1a710ce84?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">klipingut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cara Mudah Membuat Digester Biogas</title>
		<link>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/cara-mudah-membuat-digester-biogas/</link>
		<comments>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/cara-mudah-membuat-digester-biogas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 12:49:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>klipingut</dc:creator>
				<category><![CDATA[energi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://klipingut.wordpress.com/?p=1395</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN
Sebagian besar penduduk Indonesia masih mengandalkan pada sektor pertanian dan peternakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Tanpa disadari, produk-produk pertanian dan peternakan tersebut menghasilkan hasil sampingan yang belum banyak mendapatkan perhatian, bahkan dianggap sebagai sampah yang tidak dimanfaatkan. Pada umumnya, limbah tersebut dimanfaatkan sebagai pupuk kandang. Padahal, dari limbah pertanian dan peternakan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1395&subd=klipingut&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Sebagian besar penduduk Indonesia masih mengandalkan pada sektor pertanian dan peternakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Tanpa disadari, produk-produk pertanian dan peternakan tersebut menghasilkan hasil sampingan yang belum banyak mendapatkan perhatian, bahkan dianggap sebagai sampah yang tidak dimanfaatkan. Pada umumnya, limbah tersebut dimanfaatkan sebagai pupuk kandang. Padahal, dari limbah pertanian dan peternakan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif, yaitu dari biomassa. Sumber-sumber energi biomassa berasal dari bahan organik. Apabila biomassa tersebut dimanfaatkan untuk menghasilkan energi, maka energi tersebut disebut dengan bioenergi. Salah satu bentuk bioenergi adalah biogas.</p>
<table border="0" cellspacing="5" cellpadding="0" align="right">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Salah satu upaya pemanfaatan limbah peternakan adalah dengan memanfaatkannya untuk menghasilkan bahan bakar dengan menggunakan teknologi biogas. Teknologi biogas memberikan peluang bagi masyarakat pedesaan yang memiliki usaha peternakan, baik individual maupun kelompok, untuk memenuhi kebutuhan energi sehari-hari secara mandiri.</p>
<p>Teknologi biogas bukanlah teknologi baru. Teknologi ini telah banyak dimanfaatkan oleh petani peternak di berbagai negara, diantaranya India, Cina, bahkan Denmark. Teknologi biogas sederhana yang dikembangkan di Indonesia berfokus pada aplikasi skala kecil/menengah yang dapat dimanfaatkan masyarakat pertanian yang memiliki ternak sapi 2 – 20 ekor.<span id="more-1395"></span></p>
<p>Penerapan teknologi biogas pada daerah yang memiliki peternakan dapat memberikan keuntungan ekonomis apabila dilakukan perancangan yang tepat dari segi <em>teknis dan operasionalnya</em>. Perancangan teknis meliputi: desain biodigester, desain penyaluran gas dan desain tangki penampung.</p>
<p>Perancangan operasional meliputi kemampuan operator untuk memastikan perawatan fasilitas biogas berjalan rutin dan terpenuhinya suplai bahan baku biogas setiap harinya.</p>
<p>Potensi biogas di Indonesia cukup melimpah, mengingat peternakan merupakan salah satu kegiatan ekonomi dalam kehidupan masyarakat pertanian. Hampir semua petani memiliki ternak antara lain sapi, kambing, dan ayam. Bahkan ada yang secara khusus mengembangkan sektor peternakan. Di antara jenis ternak tersebut, sapi merupakan penghasil kotoran yang paling besar.</p>
<p>Dalam rangka menjawab tuntutan tersebut, maka kami mencoba untuk menyusun tulisan sederhana ini. Tulisan ini merupakan buku sederhana yang semoga dapat menjadi pedoman dan petunjuk dalam merancang dan membangun biodigester, terutama untuk skala rumah tangga dan komunitas (peternak dan petani serta masyarakat). Semoga tulisan kecil yang kami ketengahkan ke hadapan anda semua dapat bermanfaat dalam pemanfaatan sumber energi terbarukan untuk kemandirian energi.</p>
<p><strong>TENTANG BIOGAS DAN BIODIGESTER</strong></p>
<p>Apakah biogas itu? Biogas merupakan gas campuran metana (CH4), karbondioksida (CO2) dan gas lainnya yang didapat dari hasil penguraian material organik seperti kotoran hewan, kotoran manusia, tumbuhan oleh bakteri pengurai metanogen pada sebuah biodigester. Jadi, Untuk menghasilkan biogas, dibutuhkan pembangkit biogas yang disebut biodigester. Proses penguraian material organik terjadi secara anaerob (tanpa oksigen). Biogas terbentuk pada hari ke 4 – 5 sesudah biodigester terisi penuh, dan mencapai puncak pada hari ke 20 – 25. Biogas yang dihasilkan oleh biodigester sebagian besar terdiri dari 50 – 70% metana (CH4), 30 – 40% karbondioksida (CO2), dan gas lainnya dalam jumlah kecil.</p>
<p>Ada tiga kelompok bakteri yang berperan dalam proses pembentukan biogas, yaitu:</p>
<ol>
<li>Kelompok bakteri fermentatif: <em>Steptococci</em>, <em>Bacteriodes</em>, dan beberapa jenis <em>Enterobactericeae</em></li>
<li>Kelompok bakteri asetogenik: <em>Desulfovibrio</em></li>
<li>Kelompok bakteri metana: <em>Mathanobacterium</em>, <em>Mathanobacillus</em>, <em>Methanosacaria</em>, dan <em>Methanococcus</em></li>
</ol>
<p>Bakteri methanogen secara alami dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti: air bersih, endapan air laut, sapi, kambing, lumpur (<em>sludge</em>) kotoran anaerob ataupun TPA (Tempat Pembuangan Akhir).</p>
<p>Selama beberapa tahun, masyarakat pedesaan di seluruh dunia telah menggunakan biodigester untuk mengubah limbah pertanian dan peternakan yang mereka miliki menjadi bahan bakar gas. Pada umumnya, biodigester dimanfaatkan pada skala rumah tangga. Namun tidak menutup kemungkinan untuk dimanfaatkan pada skala yang lebih besar (komunitas). Biodigester mudah untuk dibuat dan diperasikan. Beberapa keuntungan yang dimiliki oleh biodigester bagi rumah tangga dan komunitas antara lain:</p>
<ul>
<li>Mengurangi penggunaan bahan bakar lain (minyak tanah, kayu, dsb) oleh rumah tangga atau komunitas</li>
<li>Menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi sebagai hasil sampingan</li>
<li>Menjadi metode pengolahan sampah (<em>raw waste</em>) yang baik dan mengurangi pembuangan sampah ke lingkungan (aliran air/sungai)</li>
<li>Meningkatkan kualitas udara karena mengurangi asap dan jumlah karbodioksida akibat pembakaran bahan bakar minyak/kayu bakar</li>
<li>Secara ekonomi, murah dalam instalasi serta menjadi investasi yang menguntungkan dalam jangka panjang</li>
</ul>
<p><strong>BAGAIMANA MEMBUAT BIODIGESTER YANG OPTIMAL</strong></p>
<p>Membuat biodigester gampang-gampang susah. Gampang, karena konstruksi biodigester yang sangat sederhana. Susah, karena tidak semua konstruksi biodigester menghasilkan biogas yang diinginkan. Kunci dalam pembuatan biodigester adalah pada perencanaan yang matang.</p>
<p>Dalam pembangunan biodigester, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, yaitu:</p>
<p><em>Lingkungan abiotis</em> &#8211; Biodigester harus tetap dijaga dalam keadaan abiotis (tanpa kontak langsung dengan Oksigen (O2). Udara (O2) yang memasuki biodigester menyebabkan penurunan produksi metana, karena bakteri berkembang pada kondisi yang tidak sepenuhnya anaerob.</p>
<p><em>Temperatur</em> -	Secara umum, ada 3  rentang temperatur yang disenangi oleh bakteri, yaitu:</p>
<ol>
<li><em>Psicrophilic</em> (suhu 4 – 20 C)  -biasanya untuk negara-negara subtropics atau beriklim dingin</li>
<li><em>Mesophilic </em>(suhu 20 – 40 C)</li>
<li><em>Thermophilic </em>(suhu 40 – 60 C) &#8211; hanya untuk men-digesti material, bukan untuk menghasilkan biogas</li>
</ol>
<p>Untuk negara tropis seperti Indonesia, digunakan <em>unheated digester</em> (digester tanpa pemanasan) untuk kondisi temperatur tanah 20 – 30 C.</p>
<p><em>Derajat keasaman (pH)</em> &#8211; Bakteri berkembang dengan baik pada keadaan yang agak asam (pH antara 6,6 – 7,0) dan pH tidak boleh di bawah 6,2. Karena itu, kunci utama dalam kesuksesan operasional biodigester adalah dengan menjaga agar temperatur konstan (tetap) dan input material sesuai.</p>
<p><em>Rasio C/N bahan isian</em> &#8211; Syarat ideal untuk proses digesti adalah C/N = 25 – 30. Karena itu, untuk mendapatkan produksi biogas yang tinggi, maka penambangan bahan yang mengandung karbon (C) seperti jerami, atau N (misalnya: urea) perlu dilakukan untuk mencapai rasio C/N = 25 – 30. Berikut tabel yang menunjukkan kadar N dan rasio C/N dari beberapa jenis bahan organik.</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel1.JPG" alt="tabel1.JPG" /></p>
<p><em>Kebutuhan Nutrisi </em>- Bakteri fermentasi membutuhkan beberapa bahan gizi tertentu dan sedikit logam. Kekurangan salah satu nutrisi atau bahan logam yang dibutuhkan dapat memperkecil proses produksi metana. Nutrisi yang diperlukan antara lain ammonia (NH3) sebagai sumber Nitrogen, nikel (Ni), tembaga (Cu), dan besi (Fe) dalam jumlah yang sedikit. Selain itu, fosfor dalam bentuk fosfat (PO4), magnesium (Mg) dan seng (Zn) dalam jumlah yang sedikit juga diperlukan. Tabel berikut adalah kebutuhan nutrisi bakteri fermentasi.</p>
<p align="center"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel2.JPG" alt="tabel2.JPG" /></p>
<p><em>Kadar Bahan Kering</em> &#8211; Tiap jenis bakteri memiliki nilai “kapasitas kebutuhan air” tersendiri. Bila kapasitasnya tepat, maka aktifitas bakteri juga akan optimal. Proses pembentukan biogas mencapai titik optimum apabila konsentrasi bahan kering terhadap air adalah 0,26 kg/L.</p>
<p><em>Pengadukan</em> &#8211; Pengadukan dilakukan untuk mendapatkan campuran substrat yang homogen dengan ukuran partikel yang kecil. Pengadukan selama proses dekomposisi untuk mencegah terjadinya benda-benda mengapung pada permukaan cairan dan berfungsi mencampur methanogen dengan substrat. Pengadukan juga memberikan kondisi temperatur yang seragam dalam biodigester.</p>
<p><em>Zat Racun (Toxic)</em> &#8211; Beberapa zat racun yang dapat mengganggu kinerja biodigester antara lain air sabun, detergen, creolin. Barikut adalah tabel beberapa zat beracun yang mampu diterima oleh bakteri dalam biodigester (Sddimension FAO dalam Ginting, 2006)</p>
<p align="center"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel3.JPG" alt="tabel3.JPG" /></p>
<p><em>Pengaruh starter</em> &#8211; Starter yang mengandung bakteri metana diperlukan untuk mempercepat proses fermentasi anaerob. Beberapa jenis starter antara lain:</p>
<ol>
<li>Starter alami, yaitu lumpur aktif seperti lumpur kolam ikan, air comberan atau cairan septic tank, sludge, timbunan kotoran, dan timbunan sampah organik</li>
<li>Starter semi buatan, yaitu dari fasilitas biodigester dalam stadium aktif</li>
<li>Starter buatan, yaitu bakteri yang dibiakkan secara laboratorium dengan media buatan</li>
</ol>
<p><strong>JENIS BIODIGESTER</strong></p>
<p>Pemilihan jenis biodigester disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan pembiayaan/ finansial. Dari segi konstruksi, biodigester dibedakan menjadi:</p>
<p><em>Fixed dome</em> &#8211; Biodigester ini memiliki volume tetap sehingga produksi gas akan meningkatkan tekanan dalam reactor (biodigester). Karena itu, dalam konstruksi ini gas yang terbentuk akan segera dialirkan ke pengumpul gas di luar reaktor.</p>
<p><em>Floating dome</em> &#8211; Pada tipe ini terdapat bagian pada konstruksi reaktor yang bisa bergerak untuk menyesuaikan dengan kenaikan tekanan reaktor. Pergerakan bagian reaktor ini juga menjadi tanda telah dimulainya produksi gas dalam reaktor biogas. Pada reaktor jenis ini, pengumpul gas berada dalam satu kesatuan dengan reaktor tersebut.</p>
<p>Dari segi aliran bahan baku reaktor biogas, biodigester dibedakan menjadi:</p>
<p><em>Bak (batch)</em> &#8211; Pada tipe ini, bahan baku reaktor ditempatkan di dalam wadah (ruang tertentu) dari awal hingga selesainya proses digesti. Umumnya digunakan pada tahap eksperimen untuk mengetahui potensi gas dari limbah organik.</p>
<p><em>Mengalir (continuous)</em> &#8211; Untuk tipe ini, aliran bahan baku masuk dan residu keluar pada selang waktu tertentu. Lama bahan baku selama dalam reaktor disebut waktu retensi hidrolik (<em>hydraulic retention time</em>/HRT).</p>
<p>Sementara dari segi tata letak penempatan biodigester, dibedakan menjadi:</p>
<p><em>Seluruh biodigester di permukaan tanah</em> &#8211; Biasanya berasal dari tong-tong bekas minyak tanah atau aspal. Kelemahan tipe ini adalah volume yang kecil, sehingga tidak mencukupi untuk kebutuhan sebuah rumah tangga (keluarga). Kelemahan lain adalah kemampuan material yang rendah untuk menahan korosi dari biogas yang dihasilkan.</p>
<p><em>Sebagian tangki biodigester di bawah permukaan tanah</em> &#8211; Biasanya biodigester ini terbuat dari campuran semen, pasir, kerikil, dan kapur yang dibentuk seperti sumuran dan ditutup dari plat baja. Volume tangki dapat diperbesar atau diperkecil sesuai dengan kebutuhan. Kelemahan pada sistem ini adalah jika ditempatkan pada daerah yang memiliki suhu rendah (dingin), dingin yang diterima oleh plat baja merambat ke dalam bahan isian, sehingga menghambat proses produksi.</p>
<p><em>Seluruh tangki biodigester di bawah permukaan tanah</em> &#8211; Model ini merupakan model yang paling popular di Indonesia, dimana seluruh instalasi biodigester ditanam di dalam tanah dengan konstruksi yang permanen, yang membuat suhu biodigester stabil dan mendukung perkembangan bakteri methanogen.</p>
<p><strong>KOMPONEN BIODIGESTER</strong></p>
<p><a title="gambar1.JPG" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/gambar1.JPG"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/gambar1.thumbnail.JPG" alt="gambar1.JPG" align="left" /></a>Komponen pada biodigester sangat bervariasi, tergantung pada jenis biodigester yang digunakan. Tetapi, secara umum biodigester terdiri dari komponen-komponen utama sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><em>Saluran masuk Slurry (kotoran segar) </em>- Saluran ini digunakan untuk memasukkan <em>slurry</em> (campuran kotoran ternak dan air) ke dalam reaktor utama. Pencampuran ini berfungsi untuk memaksimalkan potensi biogas, memudahkan pengaliran, serta menghindari terbentuknya endapan pada saluran masuk.</li>
<li><em>Saluran keluar residu</em> &#8211; Saluran ini digunakan untuk mengeluarkan kotoran yang telah difermentasi oleh bakteri. Saluran ini bekerja berdasarkan prinsip kesetimbangan tekanan hidrostatik. Residu yang keluar pertama kali merupakan slurry masukan yang pertama setelah waktu retensi. <em>Slurry</em> yang keluar sangat baik untuk pupuk karena mengandung kadar nutrisi yang tinggi.</li>
<li><em>Katup pengaman tekanan (control valve)</em> &#8211; Katup pengaman ini digunakan sebagai pengatur tekanan gas dalam biodigester. Katup pengaman ini menggunakan prinsip pipa T. Bila tekanan gas dalam saluran gas lebih tinggi dari kolom air, maka gas akan keluar melalui pipa T, sehingga tekanan dalam biodigester akan turun.</li>
<li><em>Sistem pengaduk</em> &#8211; Pengadukan dilakukan dengan berbagai cara, yaitu pengadukan mekanis, sirkulasi substrat biodigester, atau sirkulasi ulang produksi biogas ke atas biodigester menggunakan pompa. Pengadukan ini bertujuan untuk mengurangi pengendapan dan meningkatkan produktifitas biodigester karena kondisi substrat yang seragam.</li>
<li><em>Saluran gas</em> &#8211; Saluran gas ini disarankan terbuat dari bahan polimer untuk menghindari korosi. Untuk pembakaran gas pada tungku, pada ujung saluran pipa bisa disambung dengan pipa baja antikarat.</li>
<li><em>Tangki penyimpan gas</em> &#8211; Terdapat dua jenis tangki penyimpan gas, yaitu tangki bersatu dengan unit reaktor (<em>floating dome</em>) dan terpisah dengan reaktor (<em>fixed dome</em>). Untuk tangki terpisah, konstruksi dibuat khusus sehingga tidak bocor dan tekanan yang terdapat dalam tangki seragam, serta dilengkapi H2S Removal untuk mencegah korosi.</li>
</ol>
<p><strong>PROSEDUR PERANCANGAN BIODIGESTER</strong></p>
<p><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/gambar2.JPG" alt="gambar2.JPG" align="left" />Urutan perancangan fasilitas biodigester dimulai dengan perhitungan volume biodigester, penentuan model biodigester, perancangan tangki penyimpan dan diakhiri dengan penentuan lokasi.</p>
<p><em><strong>Perhitungan volume biodigester</strong></em></p>
<p>Perhitungan ini menggunakan data-data:</p>
<p>- Jumlah kotoran sapi per hari yang tersedia. Untuk mendapatkan jumlah kotoran sapi perhari, digunakan persamaan:</p>
<p><strong>Jumlah kotoran sapi = n x 28 kg/hari</strong></p>
<p>dimana n adalah jumlah sapi (ekor), 28 kg/hari adalah jumlah kotoran yang dihasilkan oleh 1 (satu) ekor sapi dalam sehari.</p>
<p>- Komposisi kotoran padat dari kotoran sapi. Komposisi kotoran sapi terdiri dari 80% kandungan cair dan 20% kandungan padat. Dengan demikian, untuk menentukan berat kering kotoran sapi adalah:</p>
<p><strong>Bahan kering = 0,2 x Jumlah kotoran sapi</strong></p>
<p>- Perbandingan komposisi kotoran padat dan air. Bahan kering yang telah diperoleh tadi harus ditambahkan air sebelum masuk biodigester agar bakteri dapat tumbuh dan berkembang dengan optimum. Perbandingan komposisi antara bahan kering dengan air adalah 1:4. Dengan demikian, jumlah air yang ditambahkan adalah:</p>
<p><strong>Air yang harus ditambahkan = 4 x Bahan kering</strong></p>
<p>Hasil perhitungan di atas menunjukkan massa total larutan kotoran padat (mt)</p>
<p>- Waktu penyimpanan (HRT) kotoran sapi dalam biodigester. Waktu penyimpanan tergantung pada temperatur lingkungan dan temperatur biodigester. Dengan kondisi tropis seperti Indonesia, asumsi waktu penyimpanan adalah 30 hari</p>
<p>Dari data-data perhitungan di atas, maka diperoleh volume larutan kotoran yang dihasilkan adalah sebesar:</p>
<p align="center"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/gambar3.JPG" alt="gambar3.JPG" /></p>
<p>dengan ρm = massa jenis air (1000 kg/m3).</p>
<p>Setelah volume larutan kotoran diketahui, maka volume biodigester dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan:</p>
<p align="center"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/gambar4.JPG" alt="gambar4.JPG" /></p>
<p>dengan tr = waktu penyimpanan (30 hari).</p>
<p><em><strong>Penentuan Model Biodigester</strong></em></p>
<p>Penentuan model biodigester didasari oleh beberapa pertimbangan, yaitu:</p>
<ol>
<li>Jenis tanah yang akan dipakai</li>
<li>Kebutuhan</li>
<li>Biaya</li>
</ol>
<p><em><strong>Perancangan fasilitas biodigester</strong></em></p>
<p><em><strong>Penentuan lokasi fasilitas biodigester </strong></em></p>
<p><strong>CONTOH RENCANA ANGGARAN BIAYA BIODIGESTER</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong><a title="tabel4.JPG" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel4.JPG"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel4.thumbnail.JPG" alt="tabel4.JPG" /></a></p>
<p><strong>CONTOH MANAJEMEN OPERASIONAL BIODIGESTER</strong></p>
<p><em>Analisis Energi</em></p>
<p><a title="tabel5.JPG" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel5.JPG"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel5.thumbnail.JPG" alt="tabel5.JPG" align="left" /></a>Volume digester yang akan dibangun adalah 2 m3, sehingga volume biogas yang dihasilkan per harinya adalah 7,92 m3 (Note &#8211; ganti nilainya sesuai keadaan di lapangan. Nilai ini untuk menghitung minyak tanah yang tergantikan (dalam liter)). Dari jumlah biogas yang dihasilkan dapat diketahui jumlah minyak tanah yang dapat terganti oleh biogas setiap harinya berdasarkan pada kesetaraan nilai kalori biogas dengan minyak tanah. Tabel disamping adalah tabel Nilai Kalori Beberapa Bahan Bakar (Suyati, 2006)</p>
<p>Dari tabel tersebut maka jumlah minyak tanah yang terganti tiap hari adalah sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/gambar5.JPG" alt="gambar5.JPG" /></p>
<p><em>Analisis Ekonomi</em></p>
<p><em>A</em>nalisis ekonomi dilakukan untuk mengetahui <em>break event point</em> atau lama waktu pengembalian biaya investasi awal yang telah dikeluarkan untuk membangun instalasi biogas.</p>
<p>- Pemasukan per tahun</p>
<p>Total produksi biogas per tahun = 365 hari x 4,3 liter x 70%</p>
<p>= 1.098,65 liter minyak tanah</p>
<p>Diasumsikan harga biogas sama dengan harga minyak tanah per liternya yaitu Rp 2.500. Total pemasukan per tahun = 1.098,65 liter x Rp 2.500/liter = Rp 2.746.625</p>
<p>- Pengeluaran per tahun</p>
<p><a title="tabel6.JPG" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel6.JPG"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel6.thumbnail.JPG" alt="tabel6.JPG" align="left" /></a>Tabel disamping adalah pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan untuk pengoperasian satu unit biogas per tahun.</p>
<p>- Waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan investasi awal</p>
<p>Investasi awal 	 = Rp 4.569.000</p>
<p>Keuntungan per tahun = Rp 2.746.625 – Rp 1.656.900</p>
<p>= Rp 1.089.725</p>
<p>Maka waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan biaya investasi awal adalah = 5,4 tahun</p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p>Ditengah semakin melangitnya harga minyak mentah serta bahan bakar minyak, biogas dapat menjadi alternatif pengganti bahan bakar minyak untuk keperluan sehari-hari. Biogas merupakan salah satu energi yang dapat diperbaharui (<em>renewable energy</em>), dengan ketersediaan yang melimpah dan sangat dekat dengan manusia serta mudah pemanfaatannya. Semoga, tulisan singkat ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya dalam rangka kemandirian energi rakyat serta menjamin ketersediaan energi dengan murah.</p>
<p>Tulisan singkat ini tidak lepas dari segala macam keterbatasan dan kekurangan. Karena itu, kami mohon kritik, saran, dan masukan kepada kami agar buku ini lebih sempurna dan bermanfaat. Kritik, saran, maupun masukan dapat dialamatkan kepada kami melalui email: kamase.care@gmail.com</p>
<p><strong>REFERENSI</strong> :</p>
<ul>
<li>Junus, M., 1987, <em>Teknik Membuat dan Memanfaatkan Unit Gas Bio</em>, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.</li>
<li>Ludwig Sasse-Borda, 1988, <em>Biogas Plant Manual Book</em>, A Publication of the Deutsches Zentrum für Entwicklungstechnologien &#8211; GATE in: Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ)</li>
<li>Suriawiria, U., 2005, <em>Menuai Biogas dari Limbah</em></li>
<li>Suyati, F., 2006, <em>Perancangan Awal Instalasi Biogas Pada Kandang Terpencar Kelompok Ternak Tani Mukti Andhini Dukuh Butuh Prambanan Untuk Skala Rumah Tangga</em>, Skripsi, Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.</li>
</ul>
<p>dari : kamase.org</p>
Posted in energi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/klipingut.wordpress.com/1395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/klipingut.wordpress.com/1395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/klipingut.wordpress.com/1395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/klipingut.wordpress.com/1395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/klipingut.wordpress.com/1395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/klipingut.wordpress.com/1395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/klipingut.wordpress.com/1395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/klipingut.wordpress.com/1395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/klipingut.wordpress.com/1395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/klipingut.wordpress.com/1395/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=klipingut.wordpress.com&blog=1218216&post=1395&subd=klipingut&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://klipingut.wordpress.com/2008/11/30/cara-mudah-membuat-digester-biogas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d839b767cae2b4e6b7e1aca1a710ce84?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">klipingut</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel1.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">tabel1.JPG</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel2.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">tabel2.JPG</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel3.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">tabel3.JPG</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/gambar1.thumbnail.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">gambar1.JPG</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/gambar2.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">gambar2.JPG</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/gambar3.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">gambar3.JPG</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/gambar4.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">gambar4.JPG</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel4.thumbnail.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">tabel4.JPG</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel5.thumbnail.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">tabel5.JPG</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/gambar5.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">gambar5.JPG</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/11/tabel6.thumbnail.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">tabel6.JPG</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>