Oktober 7, 2008 pada 9:52 am (ekonomi)
Tags: Beras
Sejumlah petani menampi gabah yang baru saja dipanen di tepi Jalan Ciwastra, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (30/3). Di tepi sawah tersebut, hingga Senin kemarin, sejumlah tengkulak telah siap membeli gabah basah hasil panen para petani dengan harga Rp 210.000 per kuintal.
Kamis, 24 April 2008 | 12:54 WIB
BANGKOK, KAMIS - Harga beras Thailand naik lima persen menyentuh rekor di atas 1000 dollar AS per ton pada Kamis (24/4). Diingatkan, kalau Indonesia dan Iran jadi membeli beras dari Thailand tahun ini, harga beras bakal makin melambung.
Seperti dikutip dari Reuters, harga beras sejak Januari 2008 melonjak tiga kali lipat dari harga awal 383 dollar AS per ton. Lonjakan ini memang memunculkan konflik makanan di negara-negara Afrika dan Haiti. Ketakutan akan banyaknya rakyat miskin yang bakal kelaparan juga muncul.
Di kawasan Asian Tenggara seperti Filipina terjadi kegagalan memenuhi kebutuhan 500.000 ton beras. Soalnya, para pedagang cuma bisa memasok 325.750 ton. Sementara, Iran dan Indonesia yang biasa membeli beras dari Thailand masing-masing 1 juta ton, tahun ini mengurungkan niatnya. Soalnya, kalau pembelian itu terlaksana, harga beras Thailand bakal melambung ke angka 1.300 dollar AS per ton.
XVD
dari Kompas.com
Tinggalkan sebuah Komentar
Oktober 7, 2008 pada 9:49 am (ekonomi)
Tags: Beras
Getty Images/Brent Stirton
Beras di Afrika menjadi barang mewah karena harganya terus membubung tak terkendali.
Jumat, 25 April 2008 | 08:54 WIB
DAKAR, JUMAT – Beras, bahan makanan sehari-hari yang dimakan keluarga di Afrika Barat, tampaknya akan menjadi barang mewah. Melambungnya harga beras belakangan ini mengeruk kantong sekaligus menipiskan perut orang-orang di Afrika dan di berbagai negara lain.
Tingginya harga pangan yang disebut ”tsunami” telah melanda jutaan orang dan menimbulkan bencana kelaparan di negara-negara miskin, khususnya di Afrika.
Sudah banyak kerusuhan terjadi karena kenaikan harga pangan dan minyak. Kejadian ini membuat beberapa negara membatasi ekspor (negara eksportir), menghapus pajak impor (negara importir), serta meningkatkan subsidi untuk kebutuhan pokok.
Rakyat jelata di Afrika Barat sangat menderita akibat kenaikan harga pangan, yang juga berdampak langsung terhadap anggaran belanja keluarga.
”Benar-benar berat. Satu kilogram beras yang biasa dibeli seharga 300 franc CFA (setara dengan 0,73 dollar AS atau Rp 6.716) naik menjadi 350 franc CFA. Karena semua barang naik, semuanya jadi tidak terbeli,” kata Odile Zongo, pekerja di Oua gadougou, ibu kota Burkina Faso. Di Afrika Barat, sebagian besar warga membelanjakan 50-80 persen dari pendapatannya untuk pangan.
Hapuskan pajak
Sementara itu, Majelis Rendah parlemen Afganistan menyerukan penghapusan semua pajak yang berhubungan dengan impor pangan. Pada sidang istimewa, parlemen berpendapat, pemerintah tak berupaya menekan harga pangan atau bereaksi keras terhadap para penimbun. Sekitar 25 juta rakyat Afganistan berada di bawah garis kemiskinan. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar