Selasa, 15 – Mei – 2007, 11:03:31
Kelompok Riset Biodiesel ITB baru–baru ini berhasil membuat BIOGAS DARI BUNGKIL (= AMPAS PERAHAN) BIJI JARAK PAGAR. Inovasi ini berangkat dari ide bahwa limbah perahan biji jarak untuk biodiesel dapat dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar bagi petani jarak. “Membuat minyak dari jarak bagi petani itu tidak murah, sedangkan mereka sendiri juga membutuhkan bahan bakar bagi keperluan sehari–hari. Dengan biogas ini, mereka bisa jual seluruh minyak yang mereka dapat dan memanfaatkan limbahnya untuk memasak,” jelas Tatang H. Soerawidjaja, sang kepala kelompok riset Biodiesel ITB. Penggunaan biogas sebagai bahan bakar rumah tangga juga jauh lebih nyaman dibandingkan menggunakan minyak jarak pagar.
Kelompok ini sekarang telah membangun satu unit pilot pembangkit biogas di lantai dasar gedung Teknik Kimia. Unit pembangkit biogas tersebut terdiri atas reaktor/generator, kotak pemasukan suspensi, penampung gas plastik dan kompor biogas (terlihat dalam foto). “Kompornya didesain lebih sederhana daripada kompor gas elpiji,” kata Ibrahim lagi. Kompor tersebut memiliki tuas seperti kompor gas biasa untuk menyalakan dan mematikan api. Reaktor biogas tersebut saat ini menghasilkan sekitar 1 m3 biogas/hari dengan kapasitas 360 liter (terdiri dari 2 drum yang disambung), yang diberi pasokan harian berupa campuran/adonan 1,2 kg bungkil jarak pagar ditambahkan 12 liter air. Awalnya, reaktor ini diinisiasi dengan kotoran sapi yang dipakai untuk menghasilkan biogas. “Ini dilakukan karena biji jarak tidak memiliki konsorsium bakteri yang mengubah senyawa dalam bungkil menjadi gas. Jadi, setelah bakterinya teraklimatisasi baru kami masukkan bungkil sedikit demi sedikit,” jelas Pak Tatang lagi. Dalam tiga hari, gas mulai dihasilkan dari reaktor dan diuji. “Pengujian gas dan pH dilakukan tiap tiga hari sekali, dan sampai sejauh ini pH yang terukur 8 (basa–red) dan 52% gas yang dihasilkan CH4,” terang Ibrahim, penanggungjawab unit pembangkit biogas. Baca entri selengkapnya »


Pemanas air model panel sinar matahari selama ini diklaim sebagai perangkat hemat energi alias hemat biaya. Belum tentu benar. Sebab, jika diperhatikan, alat semacam itu banyak terdapat di rumah ukuran besar yang memiliki listrik berdaya besar pula. Hampir tak ada rumah sederhana yang dipasangi alat ini, karena untuk menghidupkan electric booster (elemen pemanas), diperlukan listrik yang cukup besar.
Cara kerja alat ini terbilang sederhana. Ada termos besar penampung air berkapasitas antara 180 – 600 l air. Ada panel lebar untuk menerima sinar matahari, juga pipa-pipa yang menyerap panas di sekitar panel. Air masuk disirkulasikan terus-menerus. Air panas dipasokkan ke dalam termos, sementara air dingin kembali ke panel. Air panas itu yang kemudian dihubungkan dengan pipa tahan panas ke kamar mandi, wastafel, atau kolam renang untuk dipergunakan pemilik rumah.









