Kelelawar Melayang Seperti Serangga

FT Muijres/Lund University

Senin, 3 Maret 2008 | 00:42 WIB

JAKARTA, SENIN – Dari segi ukuran, kelelawar mungkin terbang seperti seekor burung. Namun, caranya melayang di udara dalam waktu lama ternyata lebih mirip serangga.

Hewan malam yang lihai terbang di kegelapan itu memanfaatkan mekanisme arodinamika yang sama seperti serangga. Seperti dilaporkan dalam jurnal Science edisi terbaru, kekelawar mengandalkan pusaran udara horisontal yang disebut LEV (leading edge vortex) untuk menjaga tubuhnya tetap mengambang.

Tim peneliti gabungan dari Swedia dan AS mengungkap rahasia terbang melayang kelelawar setelah mempelajari dalam lorong angin. Para peneliti menaruh umpan di dalam ruangan dan melepaskan kelelawar. Kemudian, mereka merekam cara terbang kelelawar saat mendekati umpan menggunakan asap, laser, dan kamera yang dapat merekam gerakan sangat cepat. Baca entri selengkapnya »

Pemanfaatan Serangga Belum Optimal


Selasa, 18 Maret 2008 | 17:54 WIB

JAKARTA, SELASA – Serangga masih sering dipandang sebagai musuh manusia, seperti vektor penyakit atau hama. Potensi serangga yang dapat dimanfaatkan belum dioptimalkan untuk berbagai keperluan.

“Ledakan hama penggerek padi (Scirpophaga), wereng (Nephotetix dan Nilaparvata), penggorok daun (Liriomyza), dan lain-lainnya masih merupakan hambatan produksi pertanian di Indonesia,” ujar Dr. Rosichon Ubaidillah, pakar serangga Lembaga Ilmu Pengetauan Indonesia (LIPI).

Di sisi lain, potensi serangga di Indonesia yang baru digali adalah serangga penghasil madu (Apis dan sejenisnya) dan ulat sutera (Bombix mori) dengan hasil produksi yang masih sangat kecil. Buktinya, impor madu masih tinggi dan sebagian besar bahan sutera masih didatangkan dari China dan India. Baca entri selengkapnya »

Perban Ginjal Terinspirasi Kaki Tokek

Mark Moffett

Selasa, 19 Februari 2008 | 18:46 WIB

CHICAGO, SENIN – Kemampuan tokek menggantung di langit-langit telah menarik perhatian para ilmuwan dan mengembangkan teknologi untuk meniru cara kerjanya. Baru-baru ini, teknologi tersebut dimanfaatkan untuk membuat perban super lengket dan tahan air.

“Apa yang kami lakukan adalah meniru apa yang dilakukan tokek,” ujar Robert Langer, seorang profesor di Institut Teknologi Massachusetts, seperti dilansir Reuters, Senin (18/2). Teknologi perban yag dikembangkannya dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences terbaru.

Perban tersebut terbuat dari material karet bio khusus yang dikembangkannya bersama Jeff Karp dari Sekolah Kedokteran Harvard. Mereka menggunakan teknologi komputer untuk merangkai lapisan demi lapisan material tersebut sehingga membentuk lekukan yang memperkuat daya rekat adhesi dengan permukaan basah. Baca entri selengkapnya »

“Kumis” Burung Juga Pengindera

Ian Jones
Aethia pygmaea

Senin, 17 Maret 2008 | 17:42 WIB

JAKARTA, SENIN – Bulu yang memanjang di bagian muka satu jenis burung ternyata memiliki fungsi mirip kumis seekor kucing. Jadi, bulu tersebut bukan sekedar hiasan seperti dianggap selama ini.

Dikenal dengan nama auklet berkumis (Aethia pygmaea), burung ini menggunakan bulu tersebut sebagai sensor pengenal lingkungan sekitarnya untuk navigasi di kegelapan. Temuan ini dilaporkan dalam jurnal Behavioral Ecology edisi terbaru.

Hidupnya memang banyak dihabiskan di dalam lorong tanah dan hanya keluar di malam hari. Sampath Seneviratne dan Ian Jones dari Universitas Memorial St John Newfoundland, Kanada penasaran apakah bulu-bulu ini berfungsi sebagai sensor peraba. Untuk mengetes, mereka menangkap 99 ekor dan ditempatkan di dalam kubah yang menyerubai habitatnya lalu mengematinya melalui kamera video inframerah. Ternyata, burung-burung tersebut jarang sekali menabrak penghalang di dalamnya.

Bulu putih yang memanjang merupakan tipe yang disebut rictal bristle. Tipe ini pernah diduga memiliki fungsi sensorik namun tak pernah diuji sebelumnya.(NATURE/WAH)

dari : [source]

Spesies Baru Katak, Kadal, dan Ular Ditemukan di Raja Ampat

<img src=”http://kompas.com/photo/2008/03/11/191821t.jpg” onmouseover=”changetext(‘Salah satu spesies katak hijau yang diperkirakan jenis baru ditemukan para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Raja Ampat pada Ekspedisi Widyanusantara tahun 2007. ‘);changepoto(‘P2B LIPI<img src=”http://kompas.com/photo/2008/03/11/192805t.jpg” onmouseover=”changetext(‘Seekor katak dari jenis Callulops sp. Nov. yang belum selesai diidentifikasi diperkirakan spesies baru dari Pulau Waigeo, Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat.’);changepoto(‘P2B LIPI<img src=”http://kompas.com/photo/2008/03/11/193011t.jpg” onmouseover=”changetext(‘Ular jenis Stegonotus sp. Nov. yang ditemukan di Pulau Waigeo, Papua Barat oleh peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2B LIPI).’);changepoto(‘P2B LIPI<img src=”http://kompas.com/photo/2008/03/11/193200t.jpg” onmouseover=”changetext(‘Emoia sp. Nov.’);changepoto(‘P2B LIPI

P2B LIPI
Salah satu spesies katak hijau yang diperkirakan jenis baru ditemukan para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Raja Ampat pada Ekspedisi Widyanusantara tahun 2007.
:
Selasa, 11 Maret 2008 | 18:41 WIB

JAKARTA, SELASA - Dua ekor katak, satu ekor ular, dan dua ekor kadal yang ditemukan di Raja Ampat diperkirakan sebagai spesies baru yang belum dikenal dalam dunia sains. Hewan-hewan tersebut dikoleksi selama Ekspedisi Widyanusantara (E-Win) yang dilakukan para peneliti Lembaga Ilmu pengetahuan indonesia (LIPI) di Raja Ampat, Kawasan Kepala Burung, Papua Barat, tahun 2007.

“Dilihat dari ciri-cirinya hewan-hewan tersebut belum ditemukan di semua rujukan yang kami miliki,” ujar Dr. Purwanto dari Pusat Penelitian Biologi LIPI dalam lokakarya di Jakarta, Selasa (11/3). Namun, pihaknya belum dapat memastikan sebelum identifikasi selesai dilakukan dan resmi dipublikasikan ke dalam jurnal ilmiah.

Katak yang diperkirakan spesies baru diperkirakan masuk ke dalam kelompok jenis katak hijau (Litoria sp. Nov) dan katak Cellulops sp. Nov. Sementara jenis ular yang diduga baru merupakan jenis Stegonotus sp. Nov. Untuk kelompok kadal, masing-masing dari jenis Emoia sp. Nov. dan Spenomorphus sp. Nov. Kelimanya ditemukan di Pulau Waigeo yang merupakan pulau terbesar di Kepulauan Raja Ampat. Baca entri selengkapnya »


Alfred Russel Wallace

<img src=”http://kompas.com/photo/2008/03/11/202957t.JPG” onmouseover=”changetext(‘Profesor Umar Anggara Jenie, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan indonesia (LIPI).’);changepoto(‘Kompas/Priyambodo<img src=”http://kompas.com/photo/2008/03/11/203036t.jpg” onmouseover=”changetext(‘Charles Darwin’);changepoto(‘<img src=”http://kompas.com/photo/2008/03/11/203415t.jpg” onmouseover=”changetext(‘Alfred Russel Wallace’);changepoto(‘

Kompas/Priyambodo

Profesor Umar Anggara Jenie, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan indonesia (LIPI).
Selasa, 11 Maret 2008 | 18:01 WIB

JAKARTA, SELASA – Teori Evolusi selama ini dikenal sebagai ide orisinal Charles Darwin. Padahal, pemikiran mengenai seleksi alam yang menjadi dasar teori tersebut berasal dari Alfred Russel Wallace, ilmuwan Inggris pencetus garis Wallacea melalui Laut Sulawesi, yang membatasi fauna dari Asia dan Australia.

Hal tersebut disampaikan Kepala LIPI Profesor Umar Anggara Jenie di sela-sela lokakarya paparan hasil ekspedisi ilmiah Widya Nusantara di Kantor LIPI, Selasa (11/3). Ia mengatakan pendapat mengenai seleksi alam tertuang dalam surat-surat yang dikirimkan Wallace kepada Darwin pada tahun 1858 yang dikenal sebagai surat dari Ternate.

“Sebagai lembaga yang concern terhadap sains, LIPI harus ikut ngomong,” ujar Umar. Apalagi Perserikatan Bangsa-bangsa akan menetapkan tahun 2009 sebagai the Darwin’s Year. Ia mengatakan saat ini di Inggris terdapat sekelompok ilmuwan yang meyakini bahwa Wallace pantas disejajarkan dengan Darwin, bahkan beberapa lembaga penelitian sudah mendampingkan foto keduanya untuk memberikan penghargaan terhadap lahirnya Teori Evolusi.

Jika hal tersebut benar, pemikiran mengenai teori evolusi lebih dulu lahir dari Ternate daripada Galapagos. Baca entri selengkapnya »

Nyamuk ‘Raksasa’ Bisa Menangkal Demam Berdarah

Getty Images
Jentik nyamuk mengapung di permukaan air.

Rabu, 19 Maret 2008 | 17:30 WIB

BOGOR, RABU – Predator alami jentik nyamuk penyebar demam berdarah (DBD) mungkin dapat digunakan untuk menekan potensi penyebaran penyakit tersebut. Para peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan jentik nyamuk toksor (Toxorrhynchites amboinensis) merupakan pemangsa jentik nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang menjadi vektor DBD.

Nyamuk toksor memiliki ukuran yang relatif lebih besar dibandingkan nyamuk lainnya. Ukuran jentiknya mencapai sekitar 2 centimeter, bandingkan dengan ukuran jentik nyamuk umumnya yang hanya sekitar 5 milimeter.

“Nyamuk ini tidak berbahaya bagi manusia karena yang dewasanya tidak menghisap darah, melainkan cairan dari tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan,” ujar Dr. Upik Kesumawati Hadi, Kepala Bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Fakultas Kedokteran Hewan IPB, di sela-sela seminar serangga di Cibinong Science Center, Bogor, Rabu (18/3). Ia menjelaskan satu jentik nyamuk toksor dapat memangsa 12 ekor jentik nyamuk lainnya. Baca entri selengkapnya »

Spesies Baru Burung Kacamata Ditemukan di WaKaToBi

Foto Courtesy: Agus Prijono
Burung Kacamata Togian (Zosterops somadikartai)

Jumat, 14 Maret 2008 | 15:35 WIB
CIBINONG, JUMAT – Para peneliti Indonesia menemukan spesies baru burung Kacamata Togian (Zosterops somadikartai) di Kepulauan Togian, Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. Tim peneliti dari Perhimpunan Ornitologi Indonesia (IdOU), Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menemukan spesies baru burung Kacamata itu di pesisir beberapa pulau kecil di Kepulauan Togian.

Satwa itu diketahui hidup dan berada di Pulau Malenge, Pulau Batudaka dan Pulau Togian. Burung Kacamata Togian pertama kali ditemukan dalam sebuah ekspedisi pada tahun 1996 oleh M Indrawan dan Sunarto, peneliti lapangan dari Universitas Indonesia UI.

“Kami melakukan observasi lapangan sejak tahun 1997 hingga 2003,” kata Ketua Tim Peneliti, M Indrawan di Puslibtang Biologi LIPI, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat (14/3). Sementara, pertelaan (deskripsi) jenis baru ini diselesaikan bekerjasama dengan ahli taksonomi dari Michigan State University, Amerika Serikat, Dr Pamela Rasmussen, yang mengamati spesies burung Asia. Penemuan ini kemudian dipublikasikan dalam jurnal ornitologi terkemuka di AS, Wilson Journal of Ornithology edisi Maret 2008. Baca entri selengkapnya »

Banyak ‘Ulo Duwel’ Belum Teridentifikasi

Kompas.com/Tri Wahono
Dr Mumpuni, peneliti herpetofauna dari Pusat Penelitian Biologi menunjukkan salah satu sampel Ichtyophis sp. yang dikoleksi Museum Zoologicum Bogoriense, Cibinong, Bogor.
Rabu, 19 Maret 2008 | 21:39 WIB

JAKARTA, RABU – Indonesia masih menyimpan banyak spesies herpetofauna (reptil dan amfibi) yang mungkin baru dalam dunia sains. Misalnya, bangsa amfibi tak berkaki dari ordo Gymnophiona yang hidup di dalam tanah.

“Orang Jawa sering menyebut ulo duwel,” kata Mumpuni, peneliti herpetofauna (amfibi dan reptif) dari Pusat Penelitian Biologi Museum Zoologicum Bogoriense, Cibinong, Bogor, Rabu (19/3). Beberapa sampel spesies dari genus Ichtyophis ini masih tersimpan di rak-rak museum dan belum teridentifikasi.

Mumpuni mengatakan, ulo duwel memang jarang diteliti. Populasinya di Jawa dan Banten belum pernah diteliti sebelumnya. Sebagian sampel yang belum diketahui jenisnya telah diambil dari daerah Bodogol, di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, Jawa Barat. Lainnya diambil dari Yogyakarta dan Pekalongan, Jawa Tengah. Baca entri selengkapnya »

BLACK PANTHER SI MACAN KUMBANG


Apa bedanya yang tutul-tutul dengan yang polos hitam? Tony Sumampau – direktur Taman Safari Indonesia – menegaskan, sama sekali tak ada perbedaannya. “Dalam dunia zoologi, pernah macan tutul hitam itu dinamakan Panthera pardus melas dan juga Panthera pardus sondaica. Saya sendiri tak mengetahui pasti mana yang paling tepat. Mungkin pakar itu menyebut pardus melas untuk penamaan macan tutul jawa yang hitam, sedangkan yang loreng dengan tambahan sondaica,” ujar Tony yang bersemangat menangani macan teroris dari Gunung Pangrango sejak 1997.

Polos hitam bulu badan harimau yang sepandai kucing dapur kalau memanjat batang pohon, bila diperhatikan, ya tidak hitam total. Sebab masih terlihat tutul-tutul hitam yang lebih pekat dari sekujur bulu hitam di badannya. Tentunya, tak mungkin menyebut macan ini macan hitam tutul hitam. Baca entri selengkapnya »

Macan Tutul ’supercat’ dari Jawa

Sosok gelap itu berkelebat cepat. Tahu-tahu moncongnya yang bertaring panjang tajam, mulai menghunjam ke umpan daging rusa. Macan tutul betina dengan sepasang anaknya yang juga berbulu hitam polos (Panthera pardus) dari Gunung Pangrango di Jawa barat, sudah turun gunung dan meneror lagi hewan peliharaan di sekitarnya, termasuk kawanan rusa koleksi Taman Safari Indonesia (TSI) di Cisarua, di sekitar hari Lebaran lalu.


Trio “hitam” binatang buas itu, sepertinya cuma kesilauan dan agak terusik, apabila gerombolan manusia yang berjarak sekitar 35 m darinya banyak bicara, atau bising suara alat potret yang terus-terusan berbunyi ceklak-ceklik, sambil melontarkan kilatan sinar bertubi-tubi.

Sudah lima hari macan yang belum teridentifikasi itu bergentayangan sambil mendekat dan mendatangi kandang rusa penelitian. Sampai di malam takbiran (18/1) lalu, sudah lima ekor rusa dibunuh telengas sekali. Rata-rata tenggorokan atau lehernya koyak. Seekor rusa kecil malah perutnya terburai, gerowong tanpa isi lagi. Baca entri selengkapnya »

KETAM KENARI BUKAN KEPITING

Menurut kesepakatan zoologis, kepiting ialah jenis-jenis ketam yang hidup di air, baik air laut maupun air tawar. Mereka tidak mati tenggelam kalau kejeblos ke dalam air karena bernapas dengan insang seperti ikan. Kepiting basah semacam ini dimasukkan ke dalam familias Portunidae. Ada jenis-jenisnya yang hidup di laut, dan ada yang hidup di air tawar seperti sungai, sawah, dan rawa pedalaman.

Wakil Portunidae dari laut yang kita kenal antara lain kepiting pantai yang hijau Scylla serrata dan rajungan laut yang biru Portunus pelagicus. Wakil dari air tawar yang sudah kita kenal ialah kepiting sawah Paratelphusa convexa dan kepiting sungai Paratelphusa tridentata. Keduanya disebut yuyu oleh penduduk Jawa Tengah. Pernah ada cerita rakyat yang melegenda tentang Yuyu Kangkang, raja kepiting sungai. Beliau mau mengangkut para gadis desa ke seberang sungai, asal masing-masing mau memberi ciuman kepadanya sebagai upah. Raja ini raja porno. Baca entri selengkapnya »

« Entri lama