Ketahanan Pangan, Tinggalkan Pendekatan Komoditas

KOMPAS IMAGES/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Sejumlah petani menampi gabah yang baru saja dipanen di tepi Jalan Ciwastra, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (30/3). Di tepi sawah tersebut, hingga Senin kemarin, sejumlah tengkulak telah siap membeli gabah basah hasil panen para petani dengan harga Rp 210.000 per kuintal

Kamis, 24 April 2008 | 11:19 WIB

Persoalan pangan telah membuat dunia mengalami ”kepanikan”. Masing-masing negara berlomba menyelamatkan ketersediaan pangannya. Gejolak pasar pangan dunia pun menjadi semakin keras, dengan masuknya para investor di pasar komoditas, dan menjadikan komoditas pangan sebagai investasi terbaik.

Beras, misalnya, kini menjadi komoditas yang paling diincar para investor di bursa komoditas. Di bursa Chicago AS, misalnya, pada tahun- tahun sebelumnya beras tidak pernah dilirik oleh investor, tetapi kini justru menempati posisi utama. Ini membuat pasar pangan menjadi liar.

Apalagi, sejak 1998, stok biji- bijian dunia terus menurun. Bahkan, tahun 2006, stok bijian-bijian dunia hanya separuh dari stok tahun 2000 karena dampak terpaan El Nino tahun 1997/1998, yang belum sepenuhnya terpulihkan. Situasi menjadi semakin sulit karena permintaan bahan pangan semakin meningkat, terutama dari dari China, India, dan Indonesia, yang merupakan tiga dari empat negara di dunia yang terbanyak penduduknya.

Kenyataan lain yang juga menyumbang pada ”krisis” pangan dunia saat ini adalah dorongan politik yang bergaung keras di dunia untuk menyikapi perubahan iklim dunia. Yang diwujudkan dengan gerakan mengurangi penggunaan energi dari fosil, dan mulai beralih ke biofuel, yang notabene berbahan baku biji-bijian. Dengan demikian, permintaan dunia terhadap biji-bijian meningkat.

“Kondisi-kondisi itu yang membuat Indonesia pada posisi sekarang. Jadi gonjang-ganjing pangan sekarang ini tak tiba-tiba dan sederhana,” tutur Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Pertanian dan Kehutanan dalam diskusi terbatas yang diselenggarakan Kompas, Rabu (23/4) di Jakarta. Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.