Kelapa Sawit, Berkah atau Masalah?

Khudori
Selasa, 05 Juni 2007 | 12:33 WIB

Sejarah perkebunan adalah sejarah kepedihan. Komoditas perkebunan membuat bangsa ini dijajah. Nilainya yang tinggi membuat semua bangsa tergiur menguasainya. Sejarah mencatat bagaimana keuntungan besar diraih korporasi kartel VOC. Tanam paksa memberi Belanda uang 830 juta gulden. Agrarisch Wet 1870 adalah cikal bakal perusahaan perkebunan besar yang roh dan jiwanya hingga sekarang masih hidup, seperti dapat dilihat dalam struktur ekonomi dualistik. Dalam struktur ini, kehidupan perusahaan besar dengan manajemen dan organisasi modern berdampingan dengan perkebunan rakyat yang dilaksanakan oleh para pekebun kecil yang sederhana dan “tradisional”.

Pada 1970-an, pemerintah mengembangkan perkebunan besar badan usaha milik negara yang memakai utang luar negeri. Pola perusahaan inti rakyat perkebunan dikembangkan. Pada 1980-1990-an awal perusahaan besar swasta mulai masuk, didukung oleh program Perkebunan Besar Swasta Nasional dengan skema bank berbunga rendah. Peran pemerintah mendorong perkebunan besar, BUMN, dan swasta sangat besar. Luas area kelapa sawit milik BUMN dan swasta pada 1968 masing-masing hanya 79 ribu dan 41 ribu hektare. Pada 2006, dari 5,6 juta hektare perkebunan kelapa sawit, 57 persen dikuasai swasta, 30 persen rakyat, dan 13 persen negara. Dominasi perkebunan swasta hanya ada di sawit.

Peran pemerintah dalam mendorong perkebunan rakyat relatif kecil. Berbeda sikapnya terhadap korporasi swasta, perbankan kurang bersahabat dengan petani, bahkan sering dikatakan petani tidak bankable. Kenyataannya, perkebunan rakyat jadi tulang punggung penerimaan negara dan penyerapan tenaga kerja. Sebagai gambaran, area kakao rakyat kini sekitar 700 ribu hektare, kebun karet rakyat 3,5 juta hektare, dan kelapa 3,7 juta hektare. Saat ini sekitar 80 persen area perkebunan dikuasai rakyat, sedangkan sisanya oleh swasta dan BUMN. Selain sawit, perkebunan rakyat mendominasi. Rakyatlah yang jadi real investor-nya. Baca entri selengkapnya »

Pertanian: Si Kaya Versi Si Miskin

 
Khudori
Kamis, 07 Desember 2006 | 12:43 WIB

Pengembangan biofuel tampaknya tidak semulus yang diharapkan. Ini bisa dilihat dari terhambatnya target Pertamina memasarkan biosolar di 181 stasiun pengisian bahan bakar umum di Jakarta dan Surabaya hingga akhir 2006. Pasalnya, ketersediaan fatty acids methyl ester (FAME) atau biodiesel dari minyak sawit amat terbatas. Pertamina perlu 200 ribu ton FAME untuk mensubstitusi 5 persen konsumsi solar setahun, tapi pasokannya kurang dari separuh. Pertamina memperkirakan, biodiesel hanya bisa dijual di 131 SPBU. Selain itu, karena harga tidak diatur, harga FAME melonjak tajam. Per Oktober, harga FAME Rp 5.300 per liter, lebih mahal ketimbang harga minyak mentah di Midd Oil Platt’s Singapore.

Apa yang bisa dibaca dari kondisi aktual ini? Pertama, gencarnya produksi minyak berbahan baku produk pertanian atau nabati merupakan respons yang bijaksana. Selain bersifat ramah lingkungan dan bisa diperbarui, biofuel berbahan baku sumber daya domestik. Ini akan menciptakan lapangan kerja baru dan menstimulasi ekonomi, di samping argumen untuk membangun ketahanan energi sebuah negara. Ketergantungan pada energi fosil membuat bahan bakar ini kian mahal, bahkan menembus lebih dari US$ 70 per barel. Energi fosil juga mencemari lingkungan, cadangannya kian tipis, dan tak bisa diperbarui. Ketika harga energi fosil melambung, banyak negara menoleh biofuel.

Kedua, euforia pengembangan biofuel, seperti yang terjadi di Indonesia saat ini, bukanlah hal baru. Secara global, sudah banyak negara yang memproduksi dan memakai biofuel secara komersial dengan memanfaatkan bahan nabati domestik. Jerman, Prancis, dan Austria menggunakan kanola (rapeseed), Spanyol bertumpu pada minyak zaitun (olive oil), Amerika Serikat pada minyak kedelai (soybean) dan jagung, Italia pada bunga matahari (sunflower oil), Mali, India, serta Afrika pada jarak pagar (jatropha oil), Filipina pada kelapa (cocodiesel), Brasil pada tebu, dan Malaysia pada minyak sawit (palm oil). Baca entri selengkapnya »

Meruwat Kembali Pertanian yang Sekarat

 
Khudori
Rabu, 30 Januari 2008 | 15:06 WIB

Krisis kedelai yang meledak saat ini sebetulnya hanya episode awal dari potensi bom krisis pangan yang kemungkinan besar meletus di negeri ini. Krisis pangan itu benar-benar akan meletus apabila gelombang sejarah yang saat ini berlangsung tidak dibelokkan. Lebih dari dua dekade telah terjadi peminggiran (undervalue) sektor pertanian secara sistematis, bahkan dikampanyekan untuk meninggalkan pertanian guna melompat ke jenjang industrialisasi. Itu semua telah menempatkan petani sebagai pelaku utama di sektor pertanian dalam kondisi sekarat. Di luar stagnasi produksi dan penurunan produktivitas, sektor pertanian telah mengalami proses pembusukan dan kematian akut.

Hampir di semua level kebijakan, yang terjadi justru destruksi sistemis di semua lini, baik di on farm, off farm, maupun industri dan jasa pendukungnya oleh sektor yang langsung ditopangnya. Maka terjadi paradoks yang tak masuk akal. Program revitalisasi, peningkatan daya saing, serta peningkatan produksi petani dan kesejahteraan petani selalu didengungkan, tapi pada saat yang sama, degradasi sumber daya tanah, air, dan iklim akibat pembabatan hutan serta buruknya implementasi tata ruang akibat intervensi pemodal kuat/pejabat dengan argumen sumber devisa terus berlangsung nir-intervensi.

Daya tampung dan distribusi daerah aliran sungai semakin memburuk karena infrastruktur irigasi tidak pernah dibenahi. Padahal tanpa air, pertanian sekarat. Masih berlanjutnya konversi lahan-lahan pertanian produktif membuat investasi irigasi, jalan, dan infrastruktur muspro. Akhirnya, investasi dan teknologi, seperti introduksi varietas unggul baru, belum mampu menggenjot produksi secara signifikan. Baca entri selengkapnya »

Menjaga Kedaulatan Pangan


Jumat, 22 Februari 08

Siswa Sekolah Dasar (SD) pada tahun 70-an sangat hapal jika ditanya tentang makanan pokok masyarakat di Indonesia. Makanan pokok masyarakat Madura jagung, Irian Jaya sagu, dan Wonogiri thiwul. Penulis yakin kalau saat ini ditanyakan hal yang sama, jawaban yang keluar dari mulut mereka pasti sama yaitu “nasi atau beras” !

Menurut Rosegrant (1997), partisipasi konsumsi beras penduduk Indonesia dewasa ini mencapai 96,87 persen. Selama ini ketahanan pangan bangsa ini selalu diukur dari berapa jumlah produksi dan stok beras yang dikuasai pemerintah. Kebijakan “berasisasi” menyebabkan kearifan pangan lokal tercerabut. Konsumsi sagu, umbi-umbian (hipere), jagung, thiwul, telah beralih ke beras. Yang terjadi kemudian adalah kasus-kasus kelaparan seperti di Lembata (NTT), Yahukimo (Papua), dan terakhir di Pulau Karimunjawa. Baca entri selengkapnya »

Industri Gula Gunakan Mesin Tua

Finance-tribunjabar.co.id  
Jum’at , 01 Februari 2008 , 01:51:51 wib

erwin adriansyah

CIREBON, TRIBUN - Jika berdasarkan potensi yang dimiliki Jabar, sebenarnya, besar. Pun dalam hal produksi gula. Sayangnya, kualitas gula produk Jabar sulit berkembang. Salah satu penyebabnya, saat ini, masih cukup banyak industi gula yang menggunakan mesin-mesin tua.”Bahkan, tidak sedikit mesin yang usianya 100 tahun lebih,” tandas Ketua DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTRI) Jabar, Anwar Asmali, belum lama ini.

Dasar itu, kata Anwar, yang membuat pihaknya meminta pemerintah untuk secepatnya melakukan perbaikan pabrik gula. Tujuannya, jelas dia, adalah untuk meningkatkan hasil produksi gula rakyat.

”Saya kira, akan percuma saja jika luas lahan tebu terus yang ditambah, tetapi pabrik gula masih menggunakan mesin tua yang berumur di atas 100 tahun,” ujarnya. Baca entri selengkapnya »

Pertanian Berbasis Keluarga Punya Andil Kurangi Pemanasan Global

karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

Rabu, 16 januari 2008 | 19:00 WIB

JAKARTA, KCM -

Pertanian berkelanjutan yang berbasis keluarga mempunyai andil dalam mengurangi pemanasan global. Salah satu contohnya, dengan tidak memanfaatkan pupuk dan racun kimia berarti petani mempunyai andil dalam mengurangi energi atau emisi yang menjadi sumber pemanasan global.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Serikat Petani Indonesia, Henry Saragih, usai mengikuti talk show menyangkut laporan publik pasca KTT Perubahan Iklim yang telah berlangsung di Bali, oleh Gerak Lawan, salah satu jaringan WALHI, pada Rabu (15/1) di Kafe Darmint, Jakarta Utara.

Henry menambahkan saat ini masyarakat Indonesia harus lebih memprioritaskan diri untuk memproduksi tanaman pangan yang bisa langsung dikonsumsi oleh masyarakat, bukan untuk kepentingan industri.

“Jadi kita memproduksi hasil pertanian itu untuk kebutuhan kita dulu. Demikian juga dengan energi yang diproduksi dipakai untuk kepentingan kita dulu. Kita tidak menjual hasil pertanian untuk negara lain,” kata Henry. Baca entri selengkapnya »

Alih Fungsi Lahan di Jateng Tak Terkendali

karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

Rabu, 16 januari 2008 | 21:50 WIB

SEMARANG, RABU- Dokumen tata ruang wilayah dan kawasan lindung di Jawa Tengah dinilai belum efektif untuk mengendalikan alih fungsi lahan daerah aliran sungai (DAS).

Kepala Badan Pengelolaan dan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bappedal) Jateng, Djoko Sutrisno, di Semarang, Rabu (16/1), memprediksi banjir dan longsor di wilayah Jateng pada masa mendatang masih akan terjadi jika penanganannya masih normatif.

Kondisi wilayah Jateng, terutama di daerah hulu DAS, katanya, banyak yang beralih fungsi sehingga menjadi lahan kritis dan terjadi kerusakan yang luar biasa. “Contohnya, lahan kritis pada DAS Bengawan Solo saat ini telah mencapai 134.000 hektare. Sedangkan lahan kritis di DAS Jratunseluna sebesar 186.450 hektare,” katanya.

Djoko Sutrisno mengatakan, banyaknya lahan kritis, tidak adanya bangunan di daerah hulu, pendangkalan aliran sungai, dan sejumlah faktor lain menjadi faktor utama penyebab banjir di Jateng.

Ia mengakui, faktor lain yang menyebabkan bencana Jateng, yakni curah hujan yang besar pada awal musim hujan menyebabkan tanah dan tanaman tidak bisa menahan air. Tanah di daerah hulu yang banyak diolah manusia, menjadikan humus tak bisa lagi menyerap air sehingga air hujan langsung mengalir dan berimbas pada banjir.

Anggota Komisi D DPRD Jateng, Sri Rahayu Amin Sudibyo mendesak pemerintah untuk melakukan revisi mengenai tata ruang, terkait penyusunan kawasan rawan bencana dan kawasan lindung. “Instansi terkait perlu mengadakan perubahan tata ruang Jateng karena tata ruang Jateng saat ini diperkirakan sudah tidak tepat lagi,” katanya.  (MSH)
msh

@

 

Taken from :kompas.co.id

Aktivitas Lipolitik Candida Lipolytica Dan C. CatenulataDalam Susu Kedele

Anda sibuk tapi masih ingin meraih sarjana untuk menunjang karir, maka inilah |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN – terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

70314141 -7313350: jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

 

PENGARANG :Roy Sparringa

SUMBER :
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia 2000, Vol. 2, No. 2 hal. 55-62. /HUMAS-BPPT/ANY

RINGKASAN :
Fermentation of soymilk into a range of products as an alternative to dairy products produced by fermentation of cow’s milk has received increased attention recently. However, fermented soymilk products have so far failed to provide acceptable alternatives to dairy products. The main problem is the cheese or yogurt-like flavours cannot be developed in the products. In addition, the undesirable soybean off-flavours cannot be removed significantly.
The enzymatic hydrolysis of lipids is a key reaction in the development of flavours in fermented dairy products. In this study, lipolytic species of yeasts isolated from cheese, Candida lipolytica and C. catenulata were tested for lipolytic activity in soybean lipids. C. lipolytica Cas71, C. catenulata 04FH1 and C. catenulata 40WW, grown singly at 25 oC in shaken condition, showed high lipolytic activity with little utilisation of sucrose in soymilk. They decreased the extractable lipid content by amount up to 70-80% and the yeasts used linoleic, oleic, linolenic and palmitic acids as major carbon sources after 10 d incubation.

KATA KUNCI :
lipolytic activity, soymilk, cheese-like flavour, yogurt-like flavour, Candida
lipolytica, Candida catenulata

PENDAHULUAN :
Penelitian fermentasi susu kedele untuk memproduksi makanan atau bahan makanan yang mempunyai cita rasa mirip dengan yogurt dan keju telah banyak dilakukan.(1) Produk fermentasi ini diduga akan semakin populer mengingat kedele mengandung beberapa bahan yang dapat mendukung kesehatan manusia.(2,3) Akan tetapi karakter yogurt atau keju dari susu kedele dilaporkan kurang berkembang, bahkan cita rasa khas kedele yang tidak disukai seperti langu, kelat, dan pahit lebih menonjol.(4) Penambahan susu kedele sebagai bahan substitusi susu dalam proses fermentasi keju masih rendah dan biasanya tidak lebih dari 5-10 % w/w untuk mempertahankan karakter keju yang diharapkan.(5,6) Baca entri selengkapnya »

Pemanfaatan Ovarium Sebagai Limbah Rumah Potong Hewan UntukMeningkatkan Populasi Ternak Melalui Teknik Fertilisasi In Vitro

Anda sibuk tapi masih ingin meraih sarjana untuk menunjang karir, maka inilah |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN – terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141 -7313350: jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

 

PENGARANG :
Herdis

SUMBER :
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia 2000, Vol. 2, No. 2 hal. 1-7. /HUMAS-BPPT/ANY

RINGKASAN :
Waste product of slaughter house are faeces, blood, bones and innards (visceral). As a matter of fact those product are still profitable. Ovarium is a visceral organ of female animal, which is often thrown away or consumpted with another organ. Actually, ovarium is very useful in invitro fertilization program to produce embryo. These embryo are to be used in research such as cloning, sexing, embryo cryopersevation, nuclear transplantation or to be transferred to recipient animal. The benefit of this technology is to improve and to increase animal population. The Embryo Transfer (ET) application in the field indicated that conception rate using invitro fertilization technology by utilizing ovarium from slaughter house has achieved 56%. There are many stages to make useful ovarium, i.e collecting and washing the ovarium, collecting the oocyst from the ovarium, maturation of oocyte, in vitro fertilization and transfering the embryo.

KATA KUNCI :
ovarium, limbah in vitro

PENDAHULUAN :
Kebutuhan susu dan daging di Indonesia tidak dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri sehingga harus diatasi dengan cara mengimpor susu dan daging dari luar negeri. Pada tahun 1997 Indonesia harus mengimpor susu sebanyak 857.000 ton dan daging sebanyak 29.000 ton (1). Baca entri selengkapnya »

Pencabutan Subsidi Pupuk Za Ditunda

advertorial |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

70314141-utkampus : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net


SUMBER, (PR).-
Pemerintah melalui Menteri Pertanian, Anton Apriyantoro akhirnya menunda pencabutan subsidi pupuk Za dan SP-36. Dengan penundaan tadi, pemerintah juga meminta kepada PT Petrogres, selaku produsen, untuk mengembalikan kedua jenis pupuk itu ke harga lama sebelum kenaikan.

Sikap pemerintah yang menunda kenaikan harga Za dan SP-36 dikemukakan Sekertaris DPD-APTRI (Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia) Jabar, H. Anwar Asmali kepada “PR”, Sabtu (8/1). Penundaan itu dikemukakan Mentan Apriyantoro saat menerima delegasi petani tebu dan pengurus para APTRI, termasuk APTRI Jabar.

Menyusul penundaan itu, mentan dalam waktu dekat akan mengirim surat ke menkeu dan meneg BUMN. Khusus kepada meneg BUMN, mentan meminta agar mengirim surat kepada PT Petrogres terkait permintaan agar produsen itu tidak buru-buru memberlakukan harga baru. Baca entri selengkapnya »

Akselerasi Pengembangan Pasar Komoditas Agro


Kegiatan petani dalam memasarkan produk sering mengalami kerugian, baik harga saat transaksi atau gagal bayar. Dari semua penyebab, yang mencolok adalah faktor kualitas, kuantitas, maupun kontinuitas produk tak dapat dipenuhi.

Situasi ini sangat klasik dan cenderung abadi pada pertanian lokal. Apalagi, jika dibandingkan petani negara lain, yang sudah mampu bangkit dan keluar dari permasalahan serupa.

Dalam konteks membangun struktur agrobisnis kaitannya dengan pengembangan sistem agrobisnis, secara nyata terlihat bahwa struktur agrobisnis di Jabar belum lengkap. Di antaranya, belum ada fasilitas transaksi yang berfungsi mendistribusikan produk agro ke berbagai segmen pasar secara proporsional, sehingga terjadi keselarasan dan keserasian antara supply dan demand. Baca entri selengkapnya »

Produksi Perkebunan Teh Anjlok 60 PersenBANDUNG, (PR).-
Produksi perkebunan teh Jabar anjlok hingga 60% pada triwulan III 2004, akibat perubahan suhu, serangan hama helopheltis, dan pembangunan jalan tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang).

Penurunan ini menyebabkan keseluruhan sektor perkebunan turun 29,23%. Selain itu sektor perikanan juga turun 4,76% pada triwulan III 2004.

Demikian kajian Kajian Perkembangan Ekonomi dan Keuangan Daerah Provinsi Jabar Triwulan III yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) Bandung. Dikatakan, anjloknya produksi perkebunan teh terutama akibat musim kemarau dan perubahan suhu pada beberapa daerah, misalnya Kec. Cikalong Wetan, Bandung, Kec. Taraju Kab. Tasikmalaya.

Penurunan subsektor perikanan, akibat serangan virus herpes pada beberapa tambak di Waduk Cirata Kab. Bandung dan angin barat daya yang menurunkan produksi ikan laut.

Pengamat teh, Agus T. Kartadiredja, menilai, hasil kajian itu untuk usaha teh memang benar, terutama menyangkut nilai tukar dan produksi. Apalagi, kalangan usaha teh masih belum dapat keluar dari “lingkaran setan” yang kini dialami, antara faktor kualitas, pemasaran, produksi, modal, dll.

“Peluang tetap ada agar usaha teh mampu bangkit pada tahun 2005, yang penting para produsen mau berkeinginan dan berusaha keras untuk meningkatkan kualitas produk untuk pasar ekspor. Ini merupakan modal untuk menarik kembali kepercayaan pembeli,” katanya.

Secara umum, menurutnya, usaha produksi teh masih akan kurang menarik pada tahun 2005. Apalagi, pemerintah bersiap-siap kembali menaikkan harga bahan bakar minyak, sehingga berbagai perusahaan perkebunan, khususnya teh, harus benar-benar melakukan efisiensi dalam semua bidang. Jika menaikkan harga jual, ia pesimis, dengan dasar daya beli masyarakat yang belum memungkinkan.

Tabama terbesar

Kenaikan terbesar pertumbuhan diperoleh subsektor tabama (tanaman bulanan dan musiman) yang mencapai 5,59 persen, jauh lebih besar dibandingkan triwulan II yang hanya 0,12 persen. Pertumbuhan positif terjadi karena masa panen yang berlangsung selama bulan Juli-Agustus pada beberapa wilayah di Jabar.

Subsektor peternakan tumbuh sebesar 0,74 persen, di mana meredanya isu flu burung dan stabilnya permintaan daging ayam merupakan faktor pendorong pertumbuhan ini. Namun masalah yang dialami triwulan III, adalah tingginya harga pakan ternak yang masih diimpor.

Kondisi demikian, mengakibatkan banyak peternak ayam beralih pada usaha peternakan lain. Pada sisi lain, usaha peternakan lain, misalnya sapi dan bebek, relatif lebih stabil dan mengalami peningkatan cukup signifikan.

Begitu pula subsektor kehutanan, tumbuh sebesar 1,50 persen karena terjadinya masa tebang selama periode laporan. Walau demikian, kontribusi sub-sektor kehutanan tergolong rendah, yaitu 0,11 persen terhadap sektor pertanian.

Sementara itu dari industri pengolahan, sebanyak empat subsektor yang berbahan baku atau berkaitan dengan produk pertanian, semuanya mengalami pertumbuhan. Ini diperoleh dari makanan (makanan, minuman, tembakau) sebesar 2,57 persen, barang kayu (8,23 persen, terjadi peningkatan suplai kayu dari Perum Perhutani sekira 1,5 persen, seiring tumbuhnya sektor properti di Jabar), pupuk dan kimia (1,32 persen, karena naiknya produksi PT Pupuk Kujang seiring musim tanam gadu), serta kertas (1,75 persen). (A-81) **PR-Senin, 03 Januari 2005

« Older entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.