ROKET LAPAN MENUSUK ANGKASA



Intisari, No. 531 TH. XLIV
OKTOBER 2007

Akibat embargo senjata oleh negara adikuasa, seluruh sistem persenjataan kita nyaris lumpuh. Untungnya, para intelektual dirgantara kita mampu menciptakan roket dengan bahan bakar buatan sendiri.

Penulis: Dharnoto
Langit di atas pantai Pamengpeuk, Garut, pagi itu cukup cerah. Namun para nelayan pantai selatan Jawa Barat itu tak ada yang berani melaut. Pukul 09.00 terdengar suara gemuruh dari arah pantai. Lalu, suatu benda putih berasap melesat ke udara, setelah mencapai jarak 20 km berbelok ke tengah laut. Para nelayan pun bersorak. Ada apa?

Ternyata Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) baru saja melepas beberapa karyanya. Sejak meluncurkan roket pertama pada 14 Agustus 1964 – oleh Bung Karno dinamai Kartika – LAPAN tak henti mengembangkan beberapa jenis roket untuk keperluan sipil maupun militer. Tanpa banyak publikasi, sejumlah tipe roket berhasil diangkasakan oleh lembaga yang diresmikan pada 31 Mei 1962 ini.

Diboikot negara adikuasa
Menyedihkan, upaya menggebu itu patah oleh embargo senjata yang dilakukan negara adikuasa. “Kita tak boleh mendapatkan teknologi propelan (bahan bakar roket) lagi,” keluh Ir. Mawardi Nur, M.Sc, 49, Kepala Biro Humas dan Kerjasama Kedirgantaraan LAPAN.

Embargo yang dipicu tragedi Santa Cruz, Timor Timur (kini menjadi Republik Demokratik Timor Leste), pada 1992 itu, makin diperketat akibat kekerasan pascareferendum Timtim. Ditambah lagi Inggris ikut mengembargo lantaran pesawat buatannya digunakan menumpas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh.

Walau resminya yang diembargo TNI-AD, dampaknya merembet pada institusi pertahanan kita. TNI-AL dan TNI-AU, yang bergantung pada negara pembuat persenjataan mereka, kelimpungan ketika propelan pada peluru kendali dan roket mereka memasuki masa expired. Bahan bakar itu sudah harus dibuang, meskipun semua sistem pengendali masih berfungsi baik.

Laboratorium LAPAN pun ikut sibuk. Akhirnya, kerja keras itu pun berbuah. Setelah selongsong peluru kendali diganti propelannya dengan karya rekayasa berstandar internasional, kapal-kapal perang itu kini sudah siap laga kembali.

Bukan hanya di laut, di udara pun pesawat-pesawat kita menumpul cakarnya akibat embargo. Kini sedang dirintis kerjasama dengan TNI-AU, terutama untuk “menggalakkan” kembali roket pelontar pesawat F-16 dan pesawat pemburu lainnya.

Keberhasilan memberdayakan kembali rudal yang semi lumpuh, menambah kepercayaan diri para pakar LAPAN. “Sedang dijajagi ke depan, selain masalah propelan kita juga fokus pada penciptaan alat pengendali pada roket,” tambah Mawardi.

Satu demi satu beterbangan
Mengapa roket? Sudah cukup lama LAPAN kurang intens dalam pengembangan teknologi keroketan, karena prioritas pemerintah lebih kepada pengembangan teknologi penerbangan (pada era Habibie menjadi menneg riset dan teknologi hingga presiden). Apalagi soal roket kalah mendesak jika dibandingkan masalah kemiskinan dan pengangguran, misalnya.

Tapi, dalam keterbatasan dana dan atensi pemerintah, para intektual dirgantara terus berkutat di laboratorium. Alhasil, beberapa jenis dan ukuran roket pun berhasil diuji coba di pantai Cilauteureun, Pameungpeuk. Stasiun peluncuran roket (Straspro) buatan tahun 1963 menjadi saksi kerja keras itu.

Sejumlah roket kecil hingga menengah berhasil diterbangkan.

Di antaranya RX-100 (panjang 1.543 mm, diameter 110 mm, jarak jangkau 4,1 km). Ada juga roket RX 100/100, roket bertingkat dua yang dirancang berpisah bila bahan bakar habis setelah mencapai ketinggian optimum. Panjangnya 2.731 mm, diameter 110 mm dan jarak jangkau 14,6 km. Atau RX-150 (12) yang panjangnya 2.471 mm, diameter 150 mm, mampu menjangkau 14,5 km dengan gerak roket berputar pada sumbunya. Sedangkan RX-150 (15) roket balistik (tanpa kendali) hasil kerjasama dengan Pindad, panjangnya 3.300 mm, diameter 150 mm dan jarak jangkau 13 km.

Tengok juga RX-70 MN atau RS70FFAR yang panjangnya 1.330 mm, diameter 70 mm, dan jarak jangkau 6,5 km. Ini merupakan Folding Fin Aerial Rocket (FFAR) rakitan PT Dirgantara Indonesia yang juga dipakai Angkatan Udara Amerika Serikat untuk mengembangkan roket balistiknya.

Yang spektakuler adalah roket terbesar RX-250 dengan panjang 4.240 mm, diameter 250 mm, dan jarak jangkau 51.3 km. Setelah diaktivasi, ia hanya perlu 10 detik untuk pembakaran sebelum meluncur ke langit lepas. Dilepas dengan sudut elevasi 70o, ia mampu mencapai ketinggian 27,9 km dan menjangkau jarak 51 km. Roket ini akan dikembangkan menjadi roket jelajah.

Menurut Mawardi, uji coba yang dilakukan sejak beberapa tahun terakhir ini hanya berkenaan dengan propelan (bahan bakar), yakni bahan kimia mana yang mampu memberikan kinerja pada motor roket. Karena itu, roket tak membawa muatan apa pun. Penelitian dimulai dari laboratorium, yakni menciptakan 80% kandungan lokal untuk menggantikan bahan propelan impor. Tinggal beberapa bahan kimia strategis yang terpaksa didatangkan dari luar negeri.

Propelan hasil rekayasa ini diuji coba pada motor bakar, baru kemudian uji lapangan untuk dilihat kemampuan roket mencapai ketinggian dan jarak tertentu, dengan memakai ukuran bahan bakar tertentu pula, yang sudah sesuai dengan standar internasional.

“Jadi parameternya di antaranya panjang roket, diameternya, beratnya, volume bahan bakar, berat total, lalu diprediksi ia mampu membawa beban seberat apa. Lalu diglobalkan,” terang Mawardi. Dari sini hasil uji coba akan terus dikembangkan, dengan menelaah kembali strukturnya, sejauh mana daya dorongnya, serta keandalan dalam membawa muatan.

Sisanya siap menyusul
Setelah roket RX-1110 berdiameter 115 mm melesat, beberapa detik kemudian langsung menghilang dari pandangan. Lenguh kepuasan dan kekaguman pecah menyertai kepergiannya. Para pakar LAPAN memproyeksikannya sebagai roket kendali.

Sedangkan varian dari roket RX-250, yakni RX-2728, menyusul berikutnya. Dengan diameter 267 mm, ia melambung hingga ketinggian 21,3 km, terus melaju hingga jarak 46,3 km. Menggunakan motor terbang generasi pertama, unjuk kerjanya dianggap sesuai harapan.

Roket yang menggunakan motor generasi ketiga, RX-2428, diluncurkan untuk pertama kalinya. Bersama dengan RX-2728, roket ini diproyeksikan sebagai cikal bakal pengembangan roket jelajah, yang diharapkan mampu menjangkau jarak 300 km. Tahun 2010, LAPAN akan melepas roket balistik RX-420 dengan daya jangkau 400 km. Selain itu, roket kendali berdaya jelajah 1.000 km juga bakal digarap.

Romet (Roket Meteorologi) merupakan proyek bersama PUSTEGAN (Pusat Teknologi Dirgantara) dan LAPAN. Roket RX berbahan bakar padat itu memiliki diameter 150 mm dan 300 mm. Memang, tak semua berhasil diangkasakan.

Pada penelitian terhadap kebelumberhasilan itu, ditemukan beberapa penyebab, antara lain pada komponen payload rangkaian tidak berfungsi baik karena terjadi hubungan pendek. Sedang pada komponen propelan, kecepatan pembakaran lebih besar, sehingga tekanan pembakaran cepat naik, mengakibatkan pembakaran propelan tidak normal.

Selain itu, ukuran tabung terlalu panjang, maka saat volume propelan yang terbakar lebih besar, kerangka roket RX menjadi lemah. Pada komponen nosel, diameter saluran keluar (troat) sempit menyebabkan terhambatnya gas pembakaran yang akan mengalir keluar. Juga terdeteksi, temperatur awal penyalaan lebih besar 20oC, akibatnya pembakaran awal lebih cepat dan tekanan ruang bakar lebih tinggi.

Menurut Mawardi, romet yang diluncurkan baru berupa roket eksperimen. Kelak, di ujung roket dipasang parameter, yang setelah roket mencapai ketinggian tertentu, katakanlah 15 km, alat itu akan lepas dan jatuh menggunakan parasut. Selama turun ke bumi itulah akan didapat profil atmosfir, antara lain kerapatannya, kandungan gasnya, dan sebagainya.

“Detail data telemetri ini tergantung kecanggihan alat ukurnya. Untuk keperluan meteorologi ini, kami akan bekerjasama dengan Jepang dan Amerika Serikat,” tambah Mawardi.

Peluru kendali dilirik
Ke depan, setelah rangkaian uji coba itu mampu mengukur ketinggian dan jarak jangkauannya, nantinya roket akan diberi alat pengendali. Diharapkan, kelak roket memiliki motor jet, yang dikendalikan arahnya dengan diberi koordinat, sehingga sifatnya menjelajah dan mencari sasaran. Selanjutnya, “Bila di kepala roket dipasang bahan peledak, maka jadilah peluru kendali. Itulah tahapan LAPAN berikutnya,” ujar Mawardi optimis.

Bukan tak mungkin TNI tertarik memanfaatkannya, mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia membutuhkan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alusista) yang bisa ditempatkan di pulau-pulau terpencil dan di kapal perang untuk menjaga kedaulatan wilayah kita.

Bahkan, konon, TNI-AL telah memrogramkan rudal permukaan ke permukaan, yang mampu menempuh jarak 20 mil laut. Hulu ledaknya dipesan yang mampu menembus dinding besi. Rudal nasional ini akan dipasang pada empat kapal korvet (kapal cepat) yang dibuat TNI-AL dan PT PAL di Surabaya. Juga, rudal darat ke darat dengan jarak jangkau 20 km.

Hanya, keluh Mawardi, kiprah LAPAN terbatasi oleh kecurigaan negara tetangga dan negara adikuasa. Jika proyek Alusista memperoleh prioritas misalnya, tentu kita akan disangka meningkatkan sistem persenjataan ofensif untuk melakukan agresi. Padahal, semata untuk sistem pertahanan diri. Tapi apa mereka percaya?

Negara lain mau percaya atau tidak, yang penting kita masih bisa berbangga: ternyata semangat berinovasi dan kecerdasan halus bangsa kita tak pernah mati.

Bahan Bakar Bikin Sendiri
Propelan atau bahan bakar padat komposit diperoleh dari gabungan antara polimer hydroxy terminated poly butadiene (HTPB) sebagai fuel, dengan ammonium perchlorat (AP) yang dibuat dari bahan baku garam industri sebagai oksidator, dan isophorone diisocyonate (IPDI) sebagai curing agent dengan bahan adiktif serbuk alumunium.Kini para ahli LAPAN sudah menguasai pembuatan sendiri HTPB dan AP, yang selama ini diembargo oleh negara-negara maju. “Nah, sekarang komposisi kandungan lokal sudah memungkinkan. Delapan puluh persen sudah bisa kita rekayasa, tinggal beberapa bahan kimia strategis yang kita impor, terutama beberapa zat adiktif,” bangga Mawardi.

Komposisi antara polybutadiene dan amonium perklorat adalah satu berbanding empat. Sedangkan proses pembuatannya melalui prosedur pencampuran, pencetakan, dan permasakan.

Tak dinyana, hasil buatan sendiri itu justru lebih bagus dari produk impor. Lebih halus grade-nya, terlihat dari performa roket yang melejit mulus dan pembakaran yang agresif.

Karenanya, LAPAN akan terus menindaklanjuti pembuatan propelan ini hingga mencapai 1 ton pada tahun 2008, meningkat 2 ton pada tahun berikutnya. Diharapkan, pada tahun 2010 terpenuhi 4 ton per tahun.

Bahkan, propelan padat yang biasanya berbentuk bintang, lingkaran, dan lain-lain, kini tengah dikaji untuk meningkat ke propelan cair, sehingga lebih bisa diatur. “Uji laboratorium membuktikan, propelan cair membakar lebih lambat dari yang padat, sehingga terbakar merata,” terang Mawardi. Jadi pada titik tertentu tak terjadi akumulasi energi yang bisa menyebabkan ledakan, yang bisa merusak selongsongannya.

Jadi, enggak perlu bantuan negara lain ‘kan?

Iklan

11 pemikiran pada “ROKET LAPAN MENUSUK ANGKASA

  1. ada hikmah yang bisa kita ambil dari embargo senjata, dan itu sudah cukup dibuktikan oleh putra putra bangsa kita. namun dari semua hasil penelitian tsb jangan hanya sampai disitu saja mengingat akhir2 ini bangsa kita sudah dilecehkan oleh negara2 lain. artinya kalau negara kita kuat mungkin negara lain pun akan berpikir ulang. pokonya apa yang telah kita capai harus tetap dikembangkan, dan anggaranpun harus ditingkatkan.anggaran untuk kedirgantaraan kita sangat kecil, kira2 hanya 1/1000 dari cina. seandainya kita mampu mambuat sendiri, bisa dibayangkan berapa rupiah yang akan bisa kita hemat,selisihnya untuk penelitian,pengembangan dan industri. selamat deh atas karya putra putri bangsa, semoga jangan sampai berhenti disitu, dan jangan terlalu percaya dengan negara lain. karena kita terlalu jujur sehingga bisa di perdaya negara lain. sekali lagi selamat deeeh atas karya2 baktimu, dan teruus tingkatkan lagi.

    Suka

  2. saya bangga punya instansi seperti lapan yang semakin berkembang dengan penamuan yang spektakuler dan moga2 di kemudian hari kita tak akan tergantung pada negara barat dan kita akan berkembang sendiri dengan hadirnya putra-putri bangsa yang siap berjuang untuk kemajuan negaranya tanpa bantuan luar pun ternyata kita bisa dan itu telah terbukti doa saya buat lapan semoga di tahun yang akan datang lapan bisa mengembangkan roketnya ke luar angkasa dan negara kita jadi perhitungan negara lain karena saya percaya dari dulu banyak orang indonesia menemukan berbagai hal cuma tidak pernah di hargai malah yang menemukan minggat ke negara lain saking gak ada penghargaanya tersbut bravo lapan jaya di udara bagi nusa dan bangsa NUSANTARA INDONESIA RAYA

    Suka

  3. karya anak bangsa harus didukung agar bangsa ini tidak tertinggal jauh dari negara tetangga. walaupun ada kecurigaan dari mereka, toh yang mengetahui keadaan bangsa ini kita sendiri.

    Suka

  4. yah..
    sampai saat ini perjuangan LAPAN terus berlanjut meski dihadang oleh masalah biaya. Apalagi tahun 2008 anggaran untuk LAPAN dikurangi sehingga beberapa agenda penting LAPAN harus ditunda sampai tahun depan..
    terus berjuang LAPAN….

    Suka

  5. Kita harus bangga sebagai orang Indonesia,kenapa mesti takut untuk membuat rudal yang fungsinya untuk melindungi keutuhan NKRI dan rakyat Indonesia kususnya.Dengan kita mampu membuat rudal balistik secara nasional ( minimal dgn jarak 300 km ) Negara kita tidak akan diremehkan oleh negara lain. Banyak cara untuk mengelabui negara lain kalau kita punya rudal jelajah dengan jarak 1000 km.

    Suka

  6. kemajuan ekonomi sebuah negara tergantung dari kekuatan pertahanan negaranya.Cnth india walau berpenduduk bnyk tapi senjatanya membuat gentar amerika sekalipun. perekonomianya maju pesat tanpa ada yg mampu mendikte kebijakan luar negrinya. kalau kita takut kecurigan negara llain kapan kita majunya.jangan perdulikan orang lain untuk hal2 yang tdk penting

    Suka

  7. Untuk memcapai kemandirian teknologi pemerintah seharusnya jangan pelit, kalu bisa LAPAN diberi dana yang cukup sesuai dengan Rencana kerja mereka. Kalau cuma mikirin rakyat miskin terus sih kapan teknologi kita bisa maju. Seperti Cina dan India di sana banyak orang miskin tetapi penguasaan teknologi tetap menjadi prioritas. Kita orang Indonesia harus pintar seperti orang-orang asia lainnya seperti Jepang, Korea, China dan India jangan jadi bodoh seperti orang Arab yang dimanja oleh minyak. Anggaran buat pendidikan kalau bisa juga ditingkatkan menjadi 30% dari RAPBN. Hapis tuh subsidi biar rakyat mandiri pemerintah punya banyak anggaran buat pembangunan, investasi dan-lain-lain yang ujung-ujungnya buat kesejahteraan rakyat juga. Maju terus LAPAN!

    Suka

  8. Apapun hasilnya itu, saya berpikir kita masih sangat lamban….
    Selalu berpikir dan bertindak slow…
    Kenapa seh LAPAN dan TNI serta dukungan pemerintah gak agresif dalam mengembangkan industri strategisnya….
    Kan bisa bersamaan saat uji coba roket juga uji coba rudal kendali dan hulu ledaknya secara bersamaan….
    Sekali lagi saya masih kurang puas dan mengharapkan Pemerintah, TNI dan Indistri stategis kita termasuk LAPAN lebih agresif lagi….
    Karena harus sadar bahwa kita sudah tertingga sangat-sangat-sangat-sangat jauuuuuuuh sekali….
    Bila perlu 2009 / 2010 kita produksi rudal untuk pertahanan kita….
    Persetan dengan pendapat barat dan negara tetangga…..

    Suka

  9. Tahun 2020 mudah-mudahan LAPAN sudah bisa mengorbitkan orang indonesia ke Angkasa Luar secara mandiri jangan nebeng ama NASA atau SOYUZ, malu ahh!

    kalau….
    Amerika ASTRONOT
    Rusia KOSMONOT
    China TAIKONOT
    Indonesia bagusnya apa ya? INDONOT kali ya

    thanks LAPAN berprestasilah terus.

    Suka

  10. Teman2, mari kita promosikan kehebatan LAPAN pada teman, tetangga, saudara, kakak, adik, ponakan, sepupu, dll. biar sebanyak mungkin orang Indonesia tahu kalo LAPAN sudah memasuki babak baru, dengan berhasil membuat bahan bakar sendiri sehingga tak lagi tergantung negara lain. Terus buat anak2 muda kita supaya tertarik untuk bekerja di lembaga2 penelitian seperti LAPAN, dengan begitu anak2 Indonesia yang cerdas2 akan berguna bagi nusa dan bangsa. Maju terus LAPAN, rakyat bersamamu!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s