Mengapa Anto Lumpuh Setelah Disuntik?


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bdg- utkampus.net


Banyak orang jadi takut disuntik akibat melihat pengalaman Anto yang sehabis disuntik malah jadi lumpuh. Pikiran macam itu masih juga dibawa sampai sekarang. Berikut ini penuturan dr. Handrawan Nadesul yang bisa menguakkan rahasia semua itu. Dulu program imunisasi nasional pernah gagal gara-gara banyak ibu menolak anaknya disuntik. Penolakan ini bukan tanpa alasan. Masyarakat melihat dan mendengar kejadian anak sehabis disuntik menjadi lumpuh. Tapi apa benar suntikan bikin orang jadi lumpuh?
Tidak benar!
Suntikan tidak bikin orang menjadi lumpuh.
Tidak juga membuat orang terserang penyakit polio.

Namun karena kejadiannya berlangsung ketika zaman imunisasi polio masih diberikan dengan cara suntikan, maka suntikan vaksin polio jadi kambing hitam lumpuhnya anak sehabis disuntik entah apa.

Tapi, sekarang vaksin polio diberikan secara tetesan langsung ke mulut, citra buruk masyarakat terhadap suntikan belum juga pupus. “Kalau bisa anak saya jangan disuntik, ya, Dok!” begitu kebanyakan yang diminta ibu sekarang saban kali berobat.

Ada 4 tipe
Penyakit polio tidak seperti yang kita lihat, cuma berupa kelumpuhan tungkai saja. Tipe yang bikin anak jadi lumpuh memang tipe paling berat atau paralytic poliomyelitis. Tiga tipe yang lebih ringan tidak sampai berakibat kelumpuhan.

Tipe silent infection misalnya. Polio paling enteng ini cuma berlalu begitu saja tanpa seorang pun yang tahu, kecuali terpikir untuk memeriksa darah menemukan virus polionya. Gejalanya mirip batuk pilek beberapa hari dan sembuh sendiri tanpa berakibat apa-apa. Tahunya anak pernah dihinggapi virus polio ringan hanya dari kekebalan tubuh terhadap polio dalam darahnya yang sudah tinggi.

Dengan cara kekebalan alami begitu hampir 95% anak di negara berkembang terlindung dari serangan polio setelah usia balita. Akibat sanitasi lingkungan yang masih kotor, tempat endemisitas virus polionya tinggi, rata-rata anak bakal tertular polio dari lingkungan buruknya itu. Itulah alasan mengapa polio pada anak di atas usia balita sangat jarang di negara-negara yang masih buruk sanitasi lingkungannya.

Sebaliknya di negara yang sudah sangat bersih, masih ditemukan anak yang sudah lewat usia balita namun masih berisiko terkena polio. Itu sebabnya di negara yang sanitasinya baik, vaksinasi polio perlu tetap diberikan ulang pada anak-anak di atas usia balita. Mereka tidak mendapatkan kekebalan alami seperti anak-anak pascabalita di kebanyakan negara yang sanitasinya masih buruk.

Tipe polio yang lebih berat berupa abortive poliomyelitis. Infeksi ini sedikitnya menyerang 8% anak-anak di daerah yang sering dijangkiti polio. Biasanya berjangkit di daerah yang endemis polio tempat wabah polio kerap muncul. Banyak anak yang terjangkit polio dan menulari anak-anak sehat lainnya dari cemaran tinja di lingkungan yang memasuki tubuh melewati rongga mulut.

Gejalanya mirip flu biasa. Anak lesu, lemah, demam beberapa hari. Mungkin mual-muntah, nyeri kepala, dan mulas. Mungkin batuk dan nyeri tenggorok. Tanpa menemukan virus polio di jaringan, siapa pun tak tahu kalau anak sedang terinfeksi abortive poliomyelitis yang kemudian sembuh sendiri.

Tipe polio ketiga, tipe non-paralytic poliomyelitis yang lebih berat tapi tidak melumpuhkan. Gejalanya sama dengan tipe abortive hanya mungkin lebih berat. Setelah demam reda, timbul nyeri otot. Kalau malam anak minta dipijiti tungkainya, menjadi satu petunjuk kemungkinan anak sedang terjangkit polio tipe ini.

Selain itu yang agak khas, timbul kekakuan pada batang leher (kaku kuduk), tubuh, dan tungkai. Otot-otot di situ cenderung lebih menegang. Tanda lainnya, anak tak bisa bangkit duduk dari posisi berbaringnya. Gejala ini mirip sekali dengan gejala radang selaput otak meningitis.

Tipe polio betulan memperlihatkan gejala yang paling berat dibanding ketiga tipe polio lainnya. Diawali dengan kelemahan otot-otot tungkai maupun bagian kepala yang kemudian disusul dengan terjadinya kelumpuhan dadakan. Jenis kelumpuhannya tergantung dari lokasi kerusakan yang mengenai saraf otak atau sumsum tulang belakang.

Mengapa ada anak yang cuma kena polio tipe ringan, tapi ada juga yang langsung kena tipe polio berat. Hal itu ditentukan oleh daya tahan tubuh. Semakin kuat daya tahan tubuh ketika virus polio menyerang, semakin ringan tipe polio yang menjangkitinya.

Perhatikan daerah-daerah yang endemis penyakit polio, wilayah yang sering dijangkiti polio, atau tempat-tempat virus polio banyak berkeliaran. Di wilayah seperti itu perlu waspada agar tidak melakukan tindakan yang menimbulkan stres fisik pada anak. Stres fisik dapat berupa pencabutan gigi, operasi amandel, atau suntikan. Jika tindakan yang menimbulkan stres fisik pada anak itu dilakukan pada saat anak sedang terjangkit polio tanpa kita sadari karena jenis polionya bukan tipe yang melumpuhkan, maka anak yang berisiko akan mengalami kelumpuhan juga. Dengan cara ini bisa diterangkan mengapa muncul kasus sehabis disuntik anak jadi lumpuh.

Di daerah-daerah dengan populasi virus polio tinggi, tindakan yang menimbulkan stres fisik akan mempercepat penjalaran virus. Virus menjadi lebih berat serangannya. Jadi bukan suntikannya sendiri yang membuat anak menjadi lumpuh, melainkan serangan virus polionya diperberat oleh adanya tindakan yang menambah stres fisik pada anak. Stres fisik juga bisa berupa trauma atau jejas pada bentuk cidera lainnya.

Indikasi suntikan
Tidak semua pasien perlu disuntik. Hanya atas indikasi yang memang memerlukan suntikan, seorang pasien disuntik. Selama masih bisa dengan diberi obat minum, suntikan tidak dipilih.

Suntikan dipilih jika pasien memerlukan obat yang tidak ada pilihan obat minumnya. Obat streptomycin misalnya, mau tak mau hanya ada dalam bentuk suntikan, seperti juga garamiycin, suntikan serum tetanus, serum difteri, dan semua vaksinasi kecuali polio.

Selain memicu penjalaran virus polio, suntikan juga berisiko terjadinya syok. Syok terhadap obat bagi pasien yang tidak tahan menerimanya, atau memang pasien berbakat terkena syok anafilaktik yang timbul tak terduga dan tak terantisipasi. Bahkan sekadar suntikan vitamin saja pun pada orang yang berbakat begitu bisa menimbulkan syok juga. Sebab syok begini umumnya paling sering disebabkan oleh suntikan obat golongan penicilin. Bagi yang berbakat syok bisa oleh jenis obat apa saja.

Kelumpuhan yang disisakan polio tidak bisa dikoreksi. Itu menjadi gejala sisa polio, sehingga lebih penting melakukan pencegahan agar tidak sampai terkena polio.

Caranya memang cuma dengan vaksinasi saja. Untuk kemungkinan manifestasi kelumpuhan akibat suntikan pada anak yang sedang mengidap polio ringan seperti diungkapkan di atas, segala bentuk tindakan stres fisik, terutama di daerah endemis polio, sebaiknya dihindari. (Penulis adalah pengamat masalah kesehatan, tinggal di Jakarta)

source : indomedia.com/intisari/1998/mei

Iklan

Satu pemikiran pada “Mengapa Anto Lumpuh Setelah Disuntik?

  1. saya mohon bagi rekan-rekan yg punya pengalaman tentang sakit nyilu luar biasa sepanjang kaki setelah habis disuntik, tolong apa penyebabnya dan bagaimana solusinya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s