Da’i Bachtiar Dapat Gelar Profesor Keamanan dan Antiteroris


KUALA LUMPUR–Universitas Edith Cowan (ECU) memperpanjang gelar guru besar atau profesor di bidang keamanan dan antiteroris kepada Da’i Bachtiar yang berhasil menangkap para teroris yang melakukam bom Bali I dan teror lainnya di Indonesia. Perpanjangan gelar profesor kepada mantan Kapolri itu diberikan Vice Chancellor ECU Kerry Cox dan President ECU Prof Nara Srinivasan di KBRI Kuala Lumpur, Senin.

Da’i yang kini Dubes RI untuk Malaysia, juga dinilai berjasa karena sering menyampaikan ceramah tentang teroris di berbagai universitas dan seminar internasional. “Prof Da’i berperan besar dalam membongkar jaringan teroris pada kasus Bom Bali. Kemudian pengalamannya itu, dibagi dalam berbagai seminar dan di perguruan tinggi, termasuk di ECU Australia,” kata Kerry.

Bukan saja berbagi pengalaman yang sangat penting dalam menghadapi terorisme, Prof Da’i juga mendirikan sebuah lembaga pendidikan di Semarang, bagi polisi dan aparat keamanan lainnya dari mancanegara untuk mengantipasi dan melawan gerakan teroris.  Da’i ketika menjadi Kapolri dan seusai membongkar jaringan teroris Bom Bali I, mendirikan sebuah sekolah di Semarang yang dinamakan “Center for Law Enforcement Cooperation” (JCLEC).

Kini, sudah banyak polisi dan aparat keamanan mancanegara yang belajar di JCLEC. “Saya memang pernah diberi gelar profesor oleh ECU di Perth, Australia. Setelah tidak lagi menjadi Kapolri, saya sering menjadi dosen di ECU, mengajar tentang keamanan dan antiteror. Dan kini diperpanjang lagi. Saya ingin pengalaman dalam membongkar jaringan terorisme dibagi ke berbagai penjuru dunia,” kata Da’i.

Ia membandingkan perbedaan dampak perang dengan teror. Menurut dia, dampak dari perang bisa diperhitungkan dan bisa diantisipasi. Tapi dampak dari teror sangat sulit diprediksi karena korban umumnya adalah rakyat yang tidak berdosa.

Menurut dia, ada tiga variabel yang menimbulkan terorisme, yakni ideologi, pengikut dan ketidakadilan. “Ideologi dan pengikut bisa diawasi, tapi yang namanya ketidakadilan ini sulit diprediksikan,” katanya.

Da’i berkata, “Jadi jangan sampai ada ketidakadilan yang mencolok mata sehingga mendorong masyarakat untuk menjadi pengikut dalam suatu ideologi yang menggunakan teror dan kekerasan untuk mencapai keinginannya”.

Republika, 27 Oktober 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s