Puluhan Wali Murid Protes Pungli


MAGETAN — Puluhan wali murid mendatangi kantor SMPN 1 Maospati, Magetan, kemarin (11/11). Mereka menanyakan pungutan yang ditetapkan pihak sekolahan kepada anak-anaknya, sebab pungutan tersebut terlalu tinggi dan ditentukan batas minimalnya. Padahal, formulir yang diberikan kepada para orangtua wali murid judulnya sukarela.

”Pandai sekali pihak sekolahan melakukan pungli (pungutan liar–red). Dengan berdalih untuk peningkatan mutu sekolah, SMPN I Maospati mengenakan pungutan seenaknya. Ini jelas memberatkan dan merugikan wali murid,” kata Ir Edi Restiono, salah seorang wali murid SMPN 1 Maospati saat mendatangi sekolahan.

Edi Mengungkapkan, sumbangan yang dikenakan SMPN 1 dan sudah mendapat persetujuan Komite Sekolah itu dirasakan sangat memberatkan orangtua wali murid. Namun tidak semua wali murid berani mengatakan terus terang. Mereka takut anaknya mendapat tekanan dari pihak sekolah.

“Keponakan saya sekarang ini tidak berani masuk sekolah, karena mendapat intimidasi dari wali kelasnya. Ini setelah saya melakukan protes dengan pungutan yang kelewat memberatkan itu,” kata Edi seraya menjelaskan rincian minimum nominal pungutan yang merupakan kebijakan SMPN 1 Maospati ini, yaitu untuk keluas 1 setiap siswa dikenakan pungutan sebesar Rp 600 ribu, kelas 2 dikenakan Rp 550 ribu dan kelas 3 dikenakan Rp 450 ribu.

Kepala SMPN 1 Maospati Drs Nurkiyat Adi Purwanto MM, di hadapan salah seorang wali murid yang “melabraknya” itu tidak mengakui adanya pengutan liar (pungli) di sekolah yang dipimpinnya. Karena pungutan yang dikenakan itu bersifat sukarela tidak menentukan.

“Wali murid boleh menyumbang Rp 10 ribu, boleh lebih, Malah ada sejumlah wali murid yang menyumbang Rp 1 juta bahkan ada yang Rp 5 juta. Tapi kalau kuatnya Rp 5 ribu yang kami terima,” kata Kasek Nurkiyat didampingi sejumlah wakil kepala sekolah bidang-nya.

Ia juga menjamin tidak akan ada aksi intimidasi dari siapa pun kepada siswa yang menyumbang kecil atau yang tidak memberikan sumbangan. “Sekolah tidak mungkin melakukan hal-hal negatif yang tidak perlu. Kita lebih menyukai jalan musyawarah, kalau memang keberatan kami juga tidak memaksa,” katanya.

Informasi dari staf tata usaha SMPN 1 Maospati, dari total jumlah siswa sebanyak 984 anak itu, yang wali muridnya memberikan sumbangan Rp 500 ribu, hanya dua anak. Selebihnya Rp 20 ribu hingga Rp 200 ribu. “Kalau yang jutaan tidak ada. Paling besar Rp 500 ribu. Itu pun hanya dua orang siswa,” kata staf TU, yang namanya tidak mau disebut.

Republika, 11 November 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s