Waspadai Batuk Sebagai Gejala PPOK


JAKARTA–Sebagian masyarakat seringkali menganggap remeh batuk yang diderita. Padahal, batuk bukan termasuk jenis penyakit, melainkan gejala penyakit yang patut diwaspadai. Bisa jadi, batuk yang anda derita merupakan gejala penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

PPOK adalah penyakt yang ditandai keterbatasan aliran udara di dalam saluran nafas yang bersifat progresif. Penyebabnya adalah gangguan sistemik akibat inflamasi paru yang tidak normal terhadap partikel atau gas berbahaya.

Sering kali, PPOK ditandai dengan gejala-gejala seperti batu kronik, produksi dahak, sesak nafas dan hambatan aktivitas pada individu. Faktor resiko penyakit dapat diturunkan secara genetik, kondisi udara yang berbahaya seperti asap rokok, debu, bahan kimia, polusi udara dan infeksi.

Ahli Pulmonari dan Respirasi, Prof. Hadiarto Mangunnegoro,dalam seminar kesehatan “Jangan Sepelekan PPOK” yang di gagas Rumah Sakit Asri di Jakarta, pekan lalu mengatakan, penyakit PPOK dapat dicegah dan diobati tapi tidak bisa disembuhkan. Pihak medis dalam menangani PPOK bukanlah menyembuhkan tapi menolong.

“Cara untuk menghindari penyakit ini cukup mudah, kebiasaan pertama yang harus dihilangkan adalah rokok, kedua rokok, ketiga rokok,” ujarnya.

Karena sifatnya yang progresif, PPOK akan semakin parah bila berada pada ruangan tertutup dan diikuti dengan kondisi udara yang buruk. Maka dari itu, kata Prof. Hardiarto, masyarakat modern lebih banyak terkena PPOK ketimbang masyarakat tradisional jaman dulu.

“Itu terjadi karena orang sekarang lebih banyak tinggal di apartemen, berpolusi tinggi seperti Jakarta,” tegasnya.

Resiko terparah yang mungkin diakibatkan penyakit PPOK adalah Jantung. Menurut Ahli Penyakit Dalam dan Kardivaskular, Kasim Rasijidi, kondisi paru bertalian erat dengan jantung. Ibarat angka 8, satu lingkaran pertama adalah aliran paru, satu lingkaran lain adalah aliran jantung yang berkesinambungan.

Kasim menjelaskan, potensi jantung akibat PPOK bisa dicegah bila mengontrol penyebabnya. “Kadang diperlukan obat pengecer darah untuk mempermudah aliran darah ke paru, alat pembantu oksigen, obat hisap atau pemberian kortikostereoid,” tukasnya.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah memperhatikan gaya hidup dan lingkungan sehat. Sekalipun tak lagi muda, pola hidup sehat juga harus dilakukan.” Jangan mentang-mentang sudah tua jadi malas olahraga, dan kerjaannya cuma baca koran, nonton TV, atau tidur-tiduran. Bisa-bisa nanti tidak bangun lagi,” canda dia.

Terakhir, Prof Hardiato mengingatkan kepada para anak-anak muda agar tidak lagi coba-coba merokok. Menurut dia, seharusnya merokok itu dilakukan diusia senja. Karena pada saat itu merupakan fase terakhir dalam kehidupan.

“Kalau mau merokok, mulailah pada usia 60 tahun, karena sudah tidak ada gunanya lagi hidupnya. Ibaratnya itu kenikmatan terakhir sebelum kembali ke tanah,” imbuhnya.

Data WHO menyebutkan, PPOK merupakan salah satu penyakit mematikan di dunia (Peringkat ke-5). Di negara maju seperti AS, dibutuhkan dana 38,8 miliar dollar AS untuk menangani kasus PPOK. Jumlah tersebut meningkat pesat setelah sebelumnya hanya menganggarkan 23,9 miliar dollar AS.

Republika, 24 November 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s