Orangtua Turut Andil Bentuk Obesitas Anak


Selain lingkungan, faktor pendidikan orang tua turut andil menjadi penyebab obesitas pada anak. Tanpa disadari, para Ahli mengesampingkan posisi orang tua yang memiliki potensi besar secara langsung mengarahkan anak pada obesitas. Meski begitu, bukan berarti orang tua yang patut disalahkan.

“Orang tua mungkin berkontribusi terhadap masalah obesitas pada anak. Namun, tidak membuat orang tua patut dipersalahkan. Selama ini, tren penanganan obesitas salah arah,” tukas Dr. Elsie Taveras,  asisten professor of pediatrics at Harvard Pilgrim Health Care and Harvard Medical School, seperti yang dikutip dari Health Day, Senin (12/10).

Perkembangan obesitas di AS memang begitu mengkhawatirkan. Sekitar 59 % bayi yang lahir 6 bulan terakhir diperkirakan akan mengalami kelebihan berat badan pada 20 tahun mendatang. Dalam penelitian, Taveras mencatat bahwa bayi yang mengalami kelebihan berat badan sedari awal akan mengalami masalah berat badan dikemudian hari.

“Apa yang kami temukan adalah anak-anak yang mengalami kelebihan berat saat kelahiran dan beratnya lalu naik selama 6 bulan pertama. Bayi-bayi ini memiliki potensi obesitas ketika mereka berusia 3 tahun, ” tegasnya. Disini, kata Tavares, faktor asupan makanan yang diberikan orang tua berdampak pada berat si anak.

John Worobery, salah seorang profesor di  nutritional sciences department of Rutgers University, New Jersey, pernah mengevaluasi prilaku ibu saat memberikan asupan makanan pada bayi. Bersama timnya, dia mengevaluasi 96 ibu dan menanyakan mereka terkait asupan makanan dan cara memberikannya.

Hasilnya, ibu yang diberikan asupan makanan 8 kali selama sehari, dalam rata-rata, atau lebih dari batas normal 7 kali sehari, sang bayi akan mengalami kelebihan berat pada rentang usia 6 dan 12 bulan. Penelitian ini lalu tercatat dalam Journal of Nutrition Education and Behavior.

Ada satu solusi, kata dia, untuk mengatasi persoalan obesitas dini pada anak. Pertama yang harus dilakukan para orang tua adalah berkonsultasi kepada pakar gizi. Selain itu, perhatikan prilaku anak. Bila anak menggelengkan kepada dari botol susu yang diberikan maka pertanda si anak sudah merasa kenyang.

Langkah penting lainnya, masih dia menjelaskan, jangan pernah memberikan makanan pada anak selagi nonton televisi. ‘”Tentu anda lebih asik melihat TV. Lebih baik dibedakan waktu diantara keduanya,” tukasnya.

Worobey juga menilai, faktor mitos kerap kali menjadi landasan orang tua memberikan yang terbaik bagi si anak. Namun, yang  terjadi justru salah kaprah. “Sebagian budaya masih percaya bayi gemuk adalah bayi yang sehat,” tukasnya.

Pendapat yang sama juga disampaikan Taveras. Dia mengharapkan kepada orang tua untuk mengecek dan konsultasi berat bayi secara rutin lewat pakar gizi. “Orang tua harusnya mengingat perkembangan berat bayi mereka dan mendiskusikan dengan pakar gizi bagaimana anak tumbuh kembang,” tegas dia.

Tapi, ada baiknya bila peran orang tua tidak hanya ketika bayi lahir melainkan saat dalam kandungan. Berdasarkan Maternal and Child Health Journal, peneliti menemukan fakta bahwa perempuan saat hamil mengalami kenaikan berat 30-40 pound (11-16 kg) memicu resiko kelebihan berat badan pada anak diusia 3 tahun.

Republika, 13 Oktober 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s