Penggunaan Dini Antivirus Kunci Hadapi Flu Babi


Penggunaan dini obat anti-virus efektif dalam mengobati pasien flu babi H1N1 dan dinas kesehatan harus berjaga-jaga guna mengawasi tanda kebal obat, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Jumat. Virus flu yang kebal obat sejauh ini telah jarang terjadi dan tak ada bukti bahwa virus itu menyebar, tapi kasus lebih lanjut mungkin terjadi, kata WHO di laman Internetnya.

Pengalaman internasional yang berkembang memperlihatkan pentingnya penggunaan dini “oseltamivir”, yang dibuat dengan nama “Tamiflu” oleh Roche Holding dan Gilead Sciences, atau “zanamivir”, obat hirup yang dibuat dengan nama “Relenza” oleh GlaxoSmithKline dalam kasus flu babi A/H1N1, kata WHO.

“Pengalaman para staf klinik, termasuk mereka yang telah menangani kasus parah wabah influenza, dan pemerintah nasional, menyatakan bahwa pemberian tepat waktu semua obat ini menyusul munculnya gejala mengurangi resiko komplikasi dan juga dapat meningkatkan hasil klinis pada pasien dengan penyakit parah,” kata badan PBB yang berpusat di Jenewa, Swiss, tersebut.”Pengalaman ini lebih menegaskan perlunya melindungi keefektifan semua obat ini dengan memperkecil kemunculan dampak kebal obat,” katanya.

Sebagian besar orang yang terinfeksi wabah influenza hanya menderita gejala ringan sebelum pulih tanpa perawatan, tapi anak-anak, perempuan hamil dan mereka yang sudah menghadapi gangguan kesehatan rentan terhadap serangan yang lebih parah bahkan kematian.

WHO, yang mengumumkan wabah global H1N1 pada Juni, menyatakan sepertiga penduduk dunia –hampir tujuh miliar orang– dapat terinfeksi viru flu tersebut. Risiko kebal obat lebih tinggi pada pasien yang menderita sistem kekebalan tubuh yang lemah dan sudah dirawat dengan menggunakan “oseltamivir”, katanya.

Risiko itu juga tinggi pada orang yang dirawat dengan obat anti-virus seperti “prophylactic” –sebagai pencegahan setelah pajanan (exposure) terhadap seseorang yang terserang influenza, tapi tetap mengembangkan penyakit tersebut.
Dalam kasus semacam itu, WHO memperingatkan staf medis mesti menyelidiki apakah perlawanan terhadap obat telah berkembang dan melakukan tindakan pencegahan guna mencegah penyebaran virus yang kebal obat.

Dinas kesehatan juga mesti menyelidiki apakah virus yang kebal obat menyebar di kalangan masyarakat dari orang ke orang. WHO mengulangi panduan bahwa badan dunia itu tak menyarankan penggunaan obat anti-virus seperti “prophylactic”. Orang yang terpajan pada korban wabah flu mesti dipantau secara seksama dan dirawat secara layak dengan obat anti-virus jika gejala berkembang, katanya.

Pemantauan global sejauh ini telah mendeteksi 28 virus yang menunjukkan perlawanan terhadap obat. Pada masing-masing kasus, virus itu kebal terhadap pengobatan dengan “oseltamivir” tapi tidak terhadap “zanamivir”, yang mesti digunakan untuk membantu pasien yang menderita sakit parah akibat virus yang kebal terhadap “oseltamivir”, katanya.

Republika, 25 September 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s