Wisata Alam di Banjar Bayad


UBUD— Pembangunan dan pengembangan fasilitas pariwisata di Banjar Bayad, Desa Kedisan, Kecamatan Tegalalang, Gianyar Bali, patut dijadikan contoh. Pasalnya, dusun yang sebelumnya kurang dikenal dalam kegiatan pariwisata di Bali itu, berhasil menyulap seluas 20 hektar kawasan tanah tegalan yang tidak terawat, menjadi kawasan wisata alam atau eco resort.

Pembangunan kawasan itu kata Kelian Dinas Banjar Bayad, I Ketut Sunarta SS, melibatkan sebanyak 34 KK di dusunnya, dengan luas lahan mencapai 20 hektar. Investor kata Sunarta, hanya bersifat memberikan stimulus, selebihnya masyarakat yang menjaga dan mengelola lokasi itu. “Kini masyarakat yang merasakan manfaatnya, selain lahannya menjadi terawat, mereka juga dapat profit,” katanya kepada wartawan di Ubud, Rabu (12/8).

Sunarta mengatakan, kawasan wisata lingkungan yang dikembangkan Banjar Bayad dilakukan dengan menata hutan di sekitar dusun menjadi lokasi tracking. Selain dengan tujuan rekreasi, kawasan itu juga bisa dijadikan sarana edukasi untuk memperkenalkan dan menjelaskan tentang berbagai tanaman asli Bali, seperti durian, manggis, srikaya.

Saat ini jelas Sunarta, anak-anak di kota kurang mengenal pohon dari buah-buahan yang mereka konsumsi, karena lahan untuk menanam pohon semakin berkurang. Kebetulan jelas Sunarta, di wilayahnya pohon-pohon asli Bali jumlahnya cukup banyak, yang akhirnya melahirkan ide untuk mengelola kawasan hutan di Bayad menjadi objek wisata.

Diakuinya ada sejumlah pemodal yang ikut mendanai pembangunan kawasan itu, namun modal yang mereka sertakan tidak ditujukan untuk memiliki, melainkan dengan sistim bagi hasil. “Tujuan masyarakat awalnya hanya satu, yakni ingin menjadikan Banjar Bayad lebih dikenal di dunia pariwisata dan kini kenyataannya kawasan itu mulai banyak dikunjungi wisatawa,” katanya.

Eco Resort Banjar Bayad yang letaknya di pinggir tebing sungai Tampaksiring, selain memiliki lintasan tracking juga dilengkapi dengan tujuh buah vila dari sembilan vila yang direncanakan. Vila-vila itu jelas Sunarta, dibangun oleh beberapa orang pemodal, dengan sistem bagi hasil selama 25 tahun. Melalui kerjasama itu, masyarakat mendapatkan bagian sekitar 30 persen keuntungan.

Sementara itu, mengenai pembangunan villa-villa itu, Konsultan Bayad Eco Resort , Peter Studer, menyebutkan tetap mengacu pada upaya pelestarian dan menjaga kesan kawasan itu sebagai kawasan hutan. Jadi sambungnya, villa-villa yang dibangun ditata agar tidak menimbulkan kerusakan pada lingkungan. “Maka dari itu kami membatasinya hanya membangun sembilan villa saja,” katanya.

Republika, 12 Agustus 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s