Melongok Bak Mandi Gedung Putih, Mengapa Begitu Besar?


Melongok Bak Mandi Gedung Putih, Mengapa Begitu Besar?

”Tak seorang pun pernah tinggal di sini,” begitu kata-kata plesetan Presiden Calvin Coolidge tentang Gedung Putih dan penghuni-penghuninya. ”Mereka cuma datang dan pergi.”

Gedung agung di Pensylvania Anenue nomor 1600 di ibukota Amerika Serikat, Washington C, masih terus menggelitik dan mengilhami banyak orang Amerika, sejak peletakan batu pertamanya lebih dari 200 tahun silam. Di situlah kepala eksekutif pemerintahan Amerika tinggal bersama keluarganya, di situ juga tempat presiden bekerja sehari-hari, pusat upacara-upacara kenegaraan dan titik pusat kekuasaannya, di samping tempat terkumpulnya kenangan bersama rakyat Amerika yang tak ternilai.

Gedung Putihlah dramatisasi cerita tentang Amerika Serikat. Seperti dikatakan mantan Presiden Bush: ”Hati saya penuh kebanggaan dan penghormatan setiap kali saya memandang tempat ini. Makna pentingnya bukan muncul dari penghuninya melainkan dari pemiliknya rakyat Amerika.”

Presiden pertama, George Washington sudah sejak semula memimpikan sebuah kota besar yang akan menjadi pusat kebudayaan dan perdagangan selain menjadi jantung politik bangsa. Dialah pengemban tugas yang dikeluarkan Kongres bulan Juli 1790 untuk memilih tempat. Dan itu justru tanah yang dijuluki ”daerah liar sarang malaria”, alias tempat jin buang anak. Namun Washington tak surut. Ia tunjuk tiga komisaris untuk menelaah proyek besar itu.

Hari itu, Sabtu, 3 Oktober 1792, para komisaris, arsitek Hoban, pengawas Collen Williamson, para pekerja serta warga kota berkumpul di tempat yang kelak akan menjadi Gedung Putih, di tanah ketinggian yang melandai ke arah Sungai Potomac. Ironisnya, Washington sendiri tertahan di Philadelhia, tak dapat menghadiri upacara peletakan batu pertama yang ia, lebih dari lainnya, paling bertanggung jawab atas perwujudannya.

Di sudut baratdaya calon gedung itu, dekat tepi tempat penggalian (yang semula direncanakan untuk membangun ”istana” –bukan ”sekadar” gedung untuk presiden) oleh seorang tukang batu dipasang sebuah lempeng kuningan mengkilat bertulisan: ”Batu pertama Gedung Kepresidenan ini diletakkan tanggal 13 Oktober 1792, dan pada tahun ke-17 kemerdekaan Amerika Serikat.” Prasasti itu juga mencantumkan nama Washington, Hoban, Williamson dan para komisaris, serta kata-kata Vivat Republica (Dirgahayu Republik). Para pekerja kemudian memasang batu pertama di atas plat itu.

Pembangunan berlangsung delapan tahun lebih. Tetapi sang kepala eksekutif sendiri tidak sempat menikmatinya. Di tahun 1797, Washington meninggalkan jabatannya. Dan selama lebih dari 200 tahun berdiri, Gedung Putih merupakan cermin perubahan di dalam lingkungan bangsa Amerika sendiri. Sebanyak 42 ”Keluarga Negara” telah meninggalkan jejaknya, membuka jalan bagi penerusnya. Presiden George Walker Bush adalah penghuni nomor 43.

Baru enam kamar yang selesai sewaktu Presiden John Adams menjadi penghuni pertama Gedung Putih pada November 1800. Keadaan sekitarnya masih berantakan. Air pun harus diambil dari mata air setengah mil jauhnya. Dan api harus banyak-banyak dinyalakan agar tidak tidur dalam kelembaban. Ibu Negara Abigail Adams menggantung cucian di Ruang Timur, yang kelak menjadi ruang resepsi-resepsi kenegaraan.

Begitu pun Presiden Adams menulis dalam sepucuk surat: ”Saya berdoa semoga Tuhan memberkahi Rumah ini dan semua yang mendiaminya. Semoga hanya orang-orang jujurlah yang memerintah di bawah atap ini.” Tulisan itu diabadikan di Ruang Jamuan Kenegaraan atas perintah Presiden Franklin D Roosevbelt satu setengah abad kemudian.

Pada periode kedua pemerintahan Presiden James Madison, di akhir Perang tahun 1812, Gedung Putih mengalami masa-masa paling gelap. Pada Agustus 1814 gedung itu menjadi korban perang tatkala pasukan Inggris di bawah Laksamana Muda Sir George Cockburn memasuki ibukota yang boleh dikata tanpa pertahanan. Ia membakar sebagian besar bangunan. Salah satu barang yang berhasil diselamatkan ialah lukisan Washington karya Stuart.

Beberapa hari usai serangan itu, keluarga Madison kembali, namun Gedung Krpresidenan tak bisa dihuni lagi. Kamar-kamarnya hancur, dindingnya hangus kehitaman dan retak-retak. Maret 1815 komisaris James Hoban diminta membangun kembali Gedung Putih, yang berlangsung hampir tiga tahun. Gedung Putih dibuka kembali oleh Presiden Jemes Monroe yang terkenal dengan ”Doktrin Monroe”-nya.

Pada hari pelantikan Presiden Andrew Jackson, Maret 1829, khalayak memberantakan segalanya. ”Sungguh menakutkan,” kenang seorang tamu, ”melihat orang-orang bersepatu penuh lumpur menginjak-injak kursi berlapis satin, saking ingin melihat presidennya.” Jackson sendiri berhasil meloloskan diri lewat pintu belakang dan malam itu menginap di hotel.

Pada hari ulang tahun kelahiran Washington tahun 1837, ribuan tamu Gedung Putih melahap keju cheddar seberat 700 kilogram, setinggi satu meter lebih. Baunya tak kunjung hilang selama berbulan-bulan.

Dingin menusuk tulang khalayak yang menyimak pidato pelantikan William Henry Harrison di gedung Capitol tahun 1841. Nekad tak mau memakai topi dan mantel, presiden berusia 68 tahun itu berpidato selama dua jam. Terlama dalam sejarah Amerika. Tetapi akibatnya, langsung saja Presiden Harrison terkena radang paru-paru, yang membawanya ke liang kubur, tak sampai 30 hari ia menjabat. Untuk pertama kalinya seorang presiden dibaringkan di East Room, Ruang Timur.

Pada usia 54 tahun Presiden John Tyler merupakan presiden pertama yang menikah selagi menjabat, setelah Ibu Negara Letitia yang cacat, meninggal. Ibu Negara baru, Julia Gardiner, mengawali tradisi dengan memerintahkan Band Korps Marine memainkan lagu ”Hail to the Chief”, yang ia pimpin sendiri dengan penuh keanggunan dan… kegelian. Ibu Negara Abigail Fillmore, terheran-heran melihat sedikitnya buku di kediamannya, kontan meminta biaya kepada Kongres untuk –pertama kali– membuka perpustakaan Gedung Putih.

James Buchananlah satu-satunya presiden yang tidak menikah. Namun ia membawa kemenakannya yang jelita, Harriet Lane, untuk memberikan keceriaan ke dalam Gedung Putih, sebagai nyonya rumah. Pada resepsi perpisahannya, Band Marine disuruhnya memainkan ”Yankee Doodle Dandy” dan ”Dixie”. Ia menyerahkan gedung kepada Abraham Lincoln seraya katanya, ”Jika anda bahagia memasukinya, maka andalah orang yang paling berbahagia di negeri ini.”

Tetapi justru kebahagiaan itu yang menjauhi presiden baru dan bangsanya. Nasib memurukkan Lincoln ke dalam Gedung Putih di saat perang, kesakitan; kematian dan penderitaan serta kesedihan. Baru lima pekan menjabat, ia sudah terpaksa mengirim pasukan Union ke dalam perang saudara. Perang meletus 12 April 1861.

Tak cukup dengan itu, tragedi pribadi pun menimpa presiden yang menghapuskan perbudakan ini. Gedung itu diliputi kemuraman di tahun 1862 tatkala puteranya yang berumur 11 tahun, Willie, meninggal akibat tipus. Dan tak lama setelah pelantikan Lincoln yang kedua, kepada isterinya ia ceritakan mimpi yang mengguncang batinnya. Dalam mimpi itu ia merasa dibangunkan oleh ”isak tangis memilukan” dari arah ruang Timur. Di sana, katanya, ia melihat orang-orang yang berkabung mengelilingi tempat meletakkan peti mati. Di atasnya terbaring sesosok mayat dalam pakaian kematian.

”Siapa yang meninggal di Gedung Putih,” sahut Lincoln, ”dibunuh oleh seorang pembunuh.” Ternyata mimpinya menjadi kenyataan. Beberapa hari kemudian, Lincoln tewas ditembak seseorang selagi nonton teater. Nasib nyaris sial juga menimpa Andrew Johnson. Kongres mendakwanya terlibat sebuah skandal. Sementara Ibu Negara Lucy Hayes mendapat julukan ”Lemonade Lucy” karena, seperti isteri Presiden James Polk, melarang minuman keras di Gedung Putih. Keluh para tetamu: ”Air mengalir seperti sampanye.”

Sedang Presiden Rutherford B Hayes sangat kegirangan kala melihat karya rekacipta baru: ”telepon bicara”. Di tahun 1879 ia memerintahkan pemasangannya. Nomornya: ”1”. Yang bisa dihubungi … hanya Alexander Graham Bell, penemunya. Mesin ketik pertama dikenalkan di gedung itu setahun kemudian.

Kalau nasib malang serupa Lincoln menimpa Presiden James Garfield dan McKinley, Grover Cleveland merupakan presiden yang menjabat dua kali tetapi tidak berturut-turut. Ia diselingi Benjamin Harrison. Lampu gas di Gedung Putih diganti lampu pijar. Tapi saking takutnya kesetrum Presiden dan Ibu Negara Carrie Harrison selalu menyuruh para pelayan menghidupkan dan mematikan lampu-lampu.

Lain lagi dengan kisah Presiden William Howard Taft. Suatu waktu ia pernah tak bisa keluar dari bak mandi, akibat berat badannya yang mencapai 150 kilogram. Maka dibuatlah bak mandi yang cukup menampung 4 orang ukuran rata-rata.

Mewaris jabatan tertinggi menyusul kematian Presiden Franklin Delano Roosevelt akibat pendarahan otak di tahun 1945, Harry S Trumanlah yang menerima penyerahan Jerman dan Jepang tanpa syarat. Pada masa pemerintahannya, Gedung Putih mengalami pemugaran paling radikal sejak pembangunan kembali 1815. Balkon tambahan pada South Portico –yang cukup kontroversial– merupakan perubahan luar terakhir yang mencolok pada gedung itu.

”Trumanlah,” kata pakar sejarah William Seale, ”Yang, di dalam lingkup citra asli rumah tersebut, akhirnya mewujudkan istana itu … Lantainya bertambah dari empat menjadi enam, dan kemewahan serta kenyamanannya berlipat-lipat.” Begitupun korbannya cukup besar. Banyak benda berharga dibuang begitu saja sebagai bahan urukan, dibagi-bagikan atau dijual sepotong-sepotong sebagai cenderamata.

Lalu, mengikuti jejak Grace, isteri Presiden Calvin Coolidge, dalam masa pemerintahan Presiden John F Kennedy, Ibu Negara Jacqueline melakukan perubahan interior yang dramatik. Ia ubah Gedung Putih menjadi museum sejarah Amerika, dan ia sendirilah yang mengawasi penghiasan kembali banyak ruangan dengan benda dan karya seni.

Kini, ruang pribadi presiden dan keluarganya menempati salah satu dari 25 kamar atau lebih di lantai dua dan tiga. Banyak sekali kamar yang memiliki kenangan sejarah –Kamar Tidur Ratu, Kamar Tidur Lincoln, Ruang Oval Kuning, dan Kamar Makan Presiden. Sayap barat merupakan tempat kerja yang paling penting. Di situlah terletak ”pusat saraf”: Kantor oval, Ruang Kabinet, dan Ruang Situasi yang menjadi tempat pengamatan suasana di seluruh dunia.

Seluruhnya ada sekitar 50 ruangan di gedung utama serta delapan lagi di Sayap Timur dan Barat. Dalam kompleks itu dari atap sampai labirin bawah tanah, terdapat dapur yang mampu menyediakan 200 hidangan sekaligus: sebuah klinik dengan seorang dokter dan tiga perawat, bioskop kecil, tempat main bowling, dan ruang olahraga. Semua itu ditangani oleh 96 petugas rumah tangga.

Gedung Putih sebagai ”rumah milik bangsa Amerika” akan selalu dikunjungi lebih dari sejuta wisatawan setahunnya. Jalanan di muka gedung dan taman di seberangnya merupakan tempat orang datang untuk menyatakan maksud mereka. ”Orang-orang yang tak mendapat kepuasan di mana-mana akhirnya akan datang kemari,” kata seorang petugas keamanan Gedung Putih.

Republika, 20 Oktober 2008

Iklan

Satu pemikiran pada “Melongok Bak Mandi Gedung Putih, Mengapa Begitu Besar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s