Pantai dan Pasir Putih Bangka


Pantai dan Pasir Putih Bangka

Semilir angin membelai sekujur tubuh. Buih air laut berkejaran menyapu pasir. Sejauh mata memandang, alunan ombak terhempas karang sangat sedap terlihat. Hawa panas yang terik tak terasa karena angin pantai cukup sejuk meniup tubuh. Sungguh sambutan yang menyenangkan saat saya menjejakkan kaki di Pantai Parai Tengiri, Pulau Bangka.

Sejak menginjakkan kaki di Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang di Pulau Bangka, yang terekam dalam benak saya adalah pemandangan film Laskar Pelangi yang saya tonton. Pohon kelapa terhampar di kiri kanan jalan, menandakan bahwa daerah ini dekat sekali dengan pantai.

Sebagai kawasan yang tengah berkembang, kebersihan di Pangkal Pinang, ibu kota Provinsi Bangka Belitung, layak diacungi jempol. Jalan-jalan beraspal hotmix, membuat nyaman kendaraan yang saya tumpangi. Namun sayangnya, pemandangan yang cukup enak ini sesekali rusak, manakala di beberapa kawasan terdapat bekas penambangan timah.

Bagi saya, Bangka menyimpan eksotisme tersendiri. Bayangan film Laskar Pelangi, gadis cantik seperti model Sandra Dewi, dan olahan seafood yang bertebaran, membuat saya tertarik mendatangi pulau ini.

Bangka menawarkan wisata alam yang lumayan komplit. Sebagai provinsi kepulauan, Pulau Bangka memiliki potensi besar dalam bidang wisata bahari. Hampir semua pantai di kepulauan ini merupakan pantai santai yang berpasir putih dengan ombak yang sangat tenang. Pantai-pantai yang landai tersebut masih sangat bersih dan alami.

Untuk menyambangi Bangka, Anda bisa menggunakan angkutan udara, laut dan darat via Palembang. Ongkosnya pun tak terlalu mahal. Tak heran, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka dan Pemerintah Kabupaten Bangka berencana menjadikan kawasan ini sebagai lokasi weekend alternatif selain Puncak Pass Bogor dan Bali. Hal ini karena jarak yang tak terlalu jauh jika menggunakan pesawat udara dari Jakarta. Hanya 50 menit. Waktu tempuh itu, sama dengan perjalanan Jakarta-Puncak yang jika di akhir pekan bisa ditempuh dengan waktu 2-3 jam.

Lekat dengan timah
Pulau Bangka memang sangat lekat dengan timah. Bahkan, nama Bangka sendiri menurut sejumlah peneliti berasal dari Bahasa Sansakerta yaitu ‘Vanka’ yang artinya adalah timah. Sepanjang jalan dari bandara ke kota Pangkal Pinang, juga ke sejumlah tempat wisata, banyak sekali lubang-lubang bekas penambangan timah. Warga setempat menyebut lubang-lubang itu kolong.

Di atas pesawat sebelum mendarat, saya sempat memerhatikan ‘bopeng-bopeng’ itu. ”Warga di sini memang sengaja membiarkan kolong-kolong itu, tapi kami mencoba mendayagunakan kolong-kolong ini supaya bisa berguna untuk masyarakat,” ujar Bupati Kabupaten Bangka, Yusroni Yazid.

Dan sepertinya, ‘bopeng-bopeng’ itu bakal terus bertambah. Sebab, kegiatan penambangan ada di mana-mana: ladang, lembah-lembah sungai, sampai halaman rumah. Bahkan, di lepas pantai pun, beberapa warga terlihat asyik menambang timah. Duh, merusak pemandangan saja.

”Kami berpikir lebih baik mati besok daripada mati sekarang. Kami tak mau merusak ekonomi rakyat,” kata Wakil Bupati Kabupaten Bangka, Nurhidayat Rani, ketika ditanya mengapa tak ada solusi untuk melestarikan lingkungan.

Pesona Sungailiat
Pada 2009 Bangka Belitung berencana menggelar program tahun kunjungan wisata. Sayangnya, infrastruktur di sejumlah kawasan wisata masih sangat kurang. Meski jalanan cukup bagus, namun sarana transportasi masih jarang.

Informasi keberadaan tempat wisata juga nyaris tak ada. ”Ini yang sedang kami benahi, memang masih banyak kekurangan, mudah-mudahan ke depan kami bisa lebih baik lagi,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Ahmad Rizal.

Keindahan pantai di pulau ini seolah tak ada habisnya. Misalnya saja di kawasan Sungailiat. Di ibu kota Kabupaten Bangka yang berjarak tidak sampai satu jam perjalanan dengan mobil dari Pangkalpinang ini bertebaran pantai-pantai yang cukup indah.

Sungailiat merupakan salah satu kota terbersih di Indonesia. Kota ini telah dua kali meraih penghargaan Adipura, tepatnya pada 1997 dan 2005. Di Sungailiat, terdapat Pantai Tanjung Pesona. Pantai ini berada di  antara Pantai Teluk Uber dan Pantai Tikus. Pantai ini mempunyai panorama laut lepas, berhiaskan bebatuan besar. Uniknya, batu-batu ini layaknya benteng yang menjaga pantai ini dari serbuan gelombang laut.

Pantai itu juga masuk dalam lokasi hotel dengan fasilitas bintang tiga. Di dalamnya tersedia cottages, restoran, karaoke, diskotek, arena permainan biliar, permainan anak-anak, dan parkir yang cukup luas karena sering diadakan show untuk menghibur para wisatawan. Sayangnya, pelayanan di hotel ini tak sebagus pemandangan yang ditawarkan. Di beberapa tempat, sampah-sampah bertebaran tak dibersihkan. Pelayanan hotel juga masih seperti pelayanan hotel kelas melati.

Untungnya, pemandangan di kawasan ini mampu menghibur kekecewaan. Beberapa kali, saya terkagum-kagum melihat panorama pantai, baik di saat matahari terbit maupun terbenam.

Budaya Etnis Tionghoa
Selain jajaran pantai yang indah, Bangka juga menawarkan berbagai pilihan wisata yang lain, salah satunya kebudayaan komunitas Tionghoa. Sebagai etnis terbanyak kedua, kebudayaan Tionghoa menjadi salah satu identitas di kawasan ini.

Orang Tionghoa yang tinggal di Kepulauan Bangka Belitung umumnya berasal dari etnis Khek dan Hokian. Mereka mulai tinggal di tanah Bangka dan Belitung sejak abad 18. Banyak penduduknya yang masih punya keterkaitan sejarah dengan negara Cina. Tak heran, pemerintah daerah berupaya melestarikan tradisi turun temurun etnis Tionghoa di Bangka.

Unsur tradisi yang dikembangkan dengan tujuan memajukan pariwisata daerah adalah Festival Imlek, Perayaan Pe Chun, Ritua Sembahyang Kubur, Barongsai dan Liong. Salah satu tujuan wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan keturunan Tionghoa adalah Goa Maria Belinyu.

Bagi orang Katolik, berziarah ke goa tersebut adalah salah satu kegiatan rohani. Goa ini dibangun dari goa alamiah dan cukup besar. Dari obyek wisata ini, saya mengunjungi Desa Gedong. Desa ini terletak di wilayah Lumut Kecamatan Belinyu.

Desa Gedong adalah kampung Cina tertua di Pulau Bangka yang kini ditetapkan sebagai desa wisata. Warganya adalah generasi penambang terakhir di Bangka. Di sini masih banyak ditemukan rumah-rumah tua ala Tiongkok. Di kampung ini, tinggal sekitar 50 kepala keluarga dari generasi pertama etnis Tionghoa.

Kehidupan penduduk perkampungan Cina tersebut rata-rata berdagang dan pembuat makanan khas Bangka seperti kerupuk, kemplang, getas. Di beberapa rumah, saya mencoba masuk dan melihat proses produksi pembuatan makanan khas tersebut.

Desa Gedong termasuk salah satu yang nantinya akan diandalkan sebagai tempat tujuan wisata. Menurut Kepala Dinas Kabupaten Bangka, Ahmad Rizal, persoalan utama kenapa pemerintah belum mengelola kawasan ini karena persoalan kultur dan budaya warga desa ini. Rata-rata warga desa ini antipati terhadap wisatawan.

Warga pun sepertinya tak mau lokasi desanya dijadikan sebagai obyek wisata. Sehingga rumah-rumah tua yang masih berdiri ratusan tahun itu dibiarkan apa adanya.”Mungkin harus perlahan-lahan. Kami sudah mencoba merangkul mereka,” katanya.

Ketenangan Pantai Parai
Dari sekian banyak obyek wisata yang saya kunjungi di Pulau Bangka ini, mungkin Pantai Parai Tengiri yang paling terkenal karena sudah dikelola oleh perusahaan El John Indonesia.

Rata-rata, wisatawan dari Jakarta, jika mengunjungi Pulau Bangka pasti menginap di Parai Resort. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarga juga pernah berlibur di kawasan ini.

Pantai Parai memang paling siap untuk menjadi obyek wisata dibandingkan kawasan pantai lainnya yang ada di Pulau Bangka. Pantainya menghadap perairan tenang Teluk Bangka. Pantai ini sudah dilengkapi berbagai fasilitas, antara lain hotel berbintang, restoran, banana boating, dan parasailing.

Dibandingkan Bali, tarif hotel di Parai tak terlalu mahal. Menurut seorang pegawai, karena lokasi itu belum disentuh oleh wisatawan mancanegara. ”Entahlah nanti kalau banyak wisatawan asing datang kesini, mungkin tarifnya bisa berlipat-lipat,” ujarnya.

Pantai tersebut juga menawarkan ketenangan bagi orang-orang yang ingin istirahat dari sumpeknya kota besar. Saya beberapa kali bertemu dengan rombongan wisatawan lokal yang usianya sudah tua sedang berjalan-jalan di pinggir pantai. Kabarnya, kawasan ini juga menjadi favorit bagi para pengantin baru.

Republika, 18 April 2009

Iklan

Satu pemikiran pada “Pantai dan Pasir Putih Bangka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s