Dikepung Skandal Bank Century


KASUS aliran dana Bank Century yang mengguncang pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mencapai titik klimaks keterdesakan. Rasa keadilan masyarakat perlu diobati melihat bagaimana ketimpangan kasus yang dialami masyarakat bawah yang secara tanggap terselesaikan, bahkan berlebihan, dengan kasus kelas kakap yang disebut mantan Wapres Jusuf Kalla sebagai perampokan uang negara sebesar Rp6,7 triliun, itu nyata-nyata terlihat.

Itulah benang merah diskusi panel ahli Media Group tentang analisis 100 hari program kerja pemerintahan SBY-Boediono, pekan ini. Diskusi meja bundar itu menghadirkan pakar ekonomi yang juga Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah, pakar hukum Zainal Arifin Mochtar, budayawan Radhar Panca Dahana, dan periset Media Group Andi Agung Prihatna.

Menurut Radhar Panca Dahana, jika persoalan Century berlarut-larut tanpa muara kejelasan, masyarakat tidak akan lagi merasionalisasi kebijakan yang dibuat pemerintah, tapi cukup menuntut penegakan keadilan. Lama-lama masyarakat bisa berada di titik tidak memedulikan kasus tersebut, tapi yang terpenting adalah kasus Century butuh pesakitan yang bisa disalahkan dan harus dihukum.

Ia mencontohkan kasus orang yang mengambil biji kakao saja dihukum sedemikian rupa, apalagi yang mengambil uang Rp6,7 triliun, mestinya dihukum lebih berat. Itulah yang ia sebut keterdesakan sebagai implementasi rasa apatisme yang semakin menguat di masyarakat terhadap proses hukum yang ada. Radhar berpijak pada kasus Bibit dan Chandra yang berlarut-larut, khususnya keengganan pemerintah menuntaskan rekomendasi Tim 8.

Kalau kondisi tersebut terus terjadi, dan apa yang akan dihasilkan oleh Panitia Khusus DPR soal Angket Bank Century hanyalah normatif dan bukan hal yang fundamental, Pansus Angket hanya akan mendinginkan emosi masyarakat tapi tidak menghasilkan penyelesaian yang tuntas.

Pengaruhi investasi

Keterdesakan transparansi tersebut, menurut pakar ekonomi Firmanzah, juga kan memengaruhi para investor dalam menentukan langkah investasi mereka di Indonesia. Masyarakat ingin mengetahui adanya keterbukaan proses bailout Century. Terutama soal kenapa dana tersebut dibuka, bagaimana konsekuensinya, serta bagaimana hasil akhir pengucuran dana tersebut. Apa pun yang dihasilkan Pansus Angket Century akan memengaruhi investor untuk menentukan langkah investasi mereka, apakah akan menanamkan uangnya atau tidak.

Bagi pakar hukum Zainal Arifin Mochtar, penyelesaian kasus Century setidaknya harus memerhatikan dua ranah yang harus digarap, yakni politik dan hukum. Untuk ranah politik, penyelesaian kasus Century mengarah ke kebijakan pemerintah dan penyalurannya adalah melalui Pansus DPR. Untuk ranah kedua, yaitu hukum, yang dilihat adalah apakah ada pelanggaran hukum atau tidak, dan itu menjadi lahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menyelidikinya.

Ia meminta kedua langkah tersebut berjalan dengan dimensi penyelesaian masing-masing. Jangan sampai proses politik meracuni atau menodai proses hukum, misalnya muncul rekomendasi dari proses politik dengan berkata bahwa proses hukum tidak boleh dilanjutkan. Pada saat yang sama, Zainal juga mengajak publik untuk mendorong proses hukum di KPK.

Meski diakuinya banyak lembaga penegak hukum yang bisa menangani Century di wilayah hukum, misalnya kejaksaan, semuanya sulit untuk diharapkan. Sebagian besar publik tidak bisa percaya begitu saja dengan kejaksaan setelah mereka secara sekilas langsung mengatakan tidak ada tindak pidana dalam kasus Century. Padahal, audit BPK ketika itu belum selesai. Jadi, KPK menjadi satu-satunya institusi yang bisa menjadi harapan masyarakat untuk menyelesaikan kasus Century di ranah hukum.

Hal senada juga diungkapkan Firmanzah. Ia berharap saat ini sebaiknya jangan ada yang mengadu kedua lembaga, yakni KPK dan DPR, karena memang lahan garapan penyelesaian mereka berbeda.

Meski demikian, semua panelis berpendapat senada bahwa ranah politik dalam penyelesaian kasus Century akan tersendat. Terpilihnya Idrus Marham sebagai Ketua Pansus Angket Century diindikasikan memiliki berbagai kepentingan. Belum lagi rekam jejak DPR yang begitu buruk di mata publik. Karena itu, berbagai kerisauan itu harus dijawab secara nyata oleh Pansus Angket.

Tiga dimensi

Menurut Zainal, ada tiga dimensi pelanggaran dalam penyelamatan Bank Century. Pertama, terkait pelanggaran perbankan. Penyelesaiannya, Robert Tantular yang telah berbuat kriminal dengan menilap uang Century harus dipenjara. Kedua, persoalan korupsi, yakni adanya penyalahgunaan wewenang, misalnya peraturan Bank Indonesia yang bisa berubah seperti menjentikkan jari saja. Itu terkait dengan rasio kecukupan modal Century yang hari ini 8%, lalu besoknya masih positif, tapi saat dana dikucurkan sudah minus.

Persoalan ketiga, semua hal-hal yang ada kaitannya dengan memperkaya diri atau orang lain dengan menggunakan uang negara di balik bailout Century tentu memiliki motif. Motifnya bisa politik maupun uang. Apalagi, saat bailout itu terjadi, waktunya berdekatan dengan pemilu. Ada tendensi politik di balik pengucuran dana talangan itu, lalu uang tersebut lari ke partai politik tertentu. Dari soal itu, muncullah dimensi keempat, yaitu pencucian uang melalui dana kampanye.

Menurut Firmanzah, agar semua tudingan itu terjawab, harus ada upaya keras dan tuntas untuk mengusut ke mana aliran dana Century mengalir. Kendati, ia tidak menafikan bahwa situasi saat kebijakan penyelamatan Century diambil tidak mudah. Ia menyebut kondisi ekonomi global yang memburuk, psikologis bank sentral terguncang, juga ekspor turun dan depresiasi rupiah yang tajam hingga mencapai 12.000 per dolar AS, serta kondisi politik yang memanas menjelang pemilu.

Zainal berpendapat, kasus Century harus dibedah. Itu akan membuat semuanya terang-benderang dan aksi serupa di kemudian hari tidak terulang.

Media Indonesia, 11 Desember 2009

Iklan

Satu pemikiran pada “Dikepung Skandal Bank Century

  1. Hoho, polemik, hahehoh masalah duit. Money changes everything, debat duit kali ini saya garis bawahi sebagai sepak bola, harus diakhiri nantinya dengan peluit panjang wasit. Yang satu senang karena nyimpan kepentingan politis, mau kudeta katanya, yang satu lagi senang karena yakin bakal ngebuktiin kebenaran bahwa ada indikasi dampak sistemik, dengan sekolahnya yang di luar negeri, yang satu lagi yang sekolahnya lokal, lebih tau konteks katanya, bergembira sebagai pengamat karena bisa memberikan komentarnya, yang satu lagi merasa senang ketika menginvestigasi siapa sih yang paling bertanggung jawab, ada bakteri apa sih di neraca keuangan, yang satu lagi senang karena ada kerjaan demonstrasi dan bakar-bakar foto wajah, yang satu lagi senang dengan banyaknya iklan yang masuk, wartawan ada pekerjaan, yang satu senang produknya dibeli karena masang iklan di layar sinetron Century, yang satu lagi senang ada topik buat blognya. Hahehoh. Jadi intinya semua senang. Termasuk nasabah Century, senang karena banyak orang membicarakan duitnya. 😉

    http://themiphz.wordpress.com/2009/12/16/senang-senang-bank-century/

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s