UGM Rebut Posisi Ketiga Aerial Indoor Robot Contest


Tim Go-Black yang mewakili Universitas Gadjah Mada meraih juara ketiga dalam Aerial Indoor Robot Contest kategori perguruan tinggi, kontes robot terbang dengan misi pemantauan dalam ruangan. Pencapaian ini cukup membanggakan mengingat UGM baru pertama kali mengikuti kontes tersebut.

Juara pertama dan kedua Indonesian Indoor Aerial Robot Contest (IIARC) diraih Tim Big Butterfly (Universitas Kristen Maranatha) dan Underground (Institut Teknologi Bandung). Kontes yang sudah dua kali ini, diselenggarakan Fakulas Teknik Mesin dan Dirgantara bersama Keluarga Mahasiswa Teknik Penerbangan ITB.

Tim Go-Black UGM beranggotakan Pidar Febriaji, Fredy Darmawan, Prima Ardiyanto, dan Lambang Wicaksono yang semuanya mahasiswa Program Studi Elektronika dan Instrumentasi. Mereka membuat pesawat mini dengan bahan stereoform dengan dimensi bentang sayap 64 cm, dan panjang badan 40 cm. Pesawat mengusung mesin brushless dengan tenaga penggerak baterai lithium tiga sel. Kecepatan maksimal pesawat 5 meter per detik.

Berat pesawat itu hanya 115 gram, dan setelah dipasangi kamera mini, beratnya menjadi 130 gram. Dalam IIARC, berat pesawat memang dibatasi maksimal 150 gram.

Pesawat buatan Tim Go-Black memiliki keunikan sayap yang berbentuk multi dehidral, yakni pada kedua ujungnya dibuat melengkung sedikit ke atas.

Menurut Lambang, model multidehidral membuat pesawat terbang stabil. “Jika posisi pesawat agak miring dan sedikit oleng karena terpaan angin, dua ujung sayap akan saling mengoreksi sehingga posisi pesawat stabil kembali,” kata Lambang, Jumat (16/10).

IAARC dilaksanakan 11-12 Oktober lalu, dan diikuti 14 tim. Pada hari pertama peserta melaksanakan sesi presentasi dan validasi. Saat presentasi, peserta menjelaskan desain dan keunikan pesawat. Sedangkan saat sesi validasi, ketahanan pesawat diuji saat motor dijalankan maksimal. Adapun pada hari kedua dilakukan sesi terbang. Pesawat-pesawat mini ini dikendalikan dengan remote control.

Saat sesi validasi, baling-baling pesawat Tim Go-Black sempat terlepas, sedangkan saat sesi terbang, sayap pesawat pun sempat patah. Namun Go-Black berhasil menyelesaikan lomba walau harus puas di tempat ketiga. Menurut Pidar, pesawat timnya bisa bersaing secara desain, dan hanya kurang maksimal saat sesi terbang.

“Persiapan kami sepertinya terlalu mepet, hanya dua minggu. Sepekan di antaranya untuk berlatih menerbangkan pesawat, terutama bermanuver. Waktu sepekan, jelas kurang. Tim-tim lain sudah menyiapkan diri berbulan-bulan. Namun pencapaian ini sedikit banyak memberi kami gambaran jika nanti berlaga di IIARC mendatang,” papar Pidar.

Lambang menambahkan, pesawat timnya merupakan prototipe, dalam arti bisa dibuat dengan dimensi ukuran lebih besar. Jika ukuran dan bahan lebih berat, pesawat bisa tahan terpaan angin dan dipakai untuk misi pengintaian di udara terbuka, seperti memantau arus lalu lintas, mengamati obyek tertentu dari udara, dan mengamati areal perkebunan. “Tapi kalau ukuran pesawat kecil seperti yang kami buat, hanya bisa digunakan di area terbatas, misal di lingkungan fakultas,” katanya.

Kompas, 16 Oktober 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s