Pengobatan Kolesterol Masih Banyak Keliru


Penggunaan obat penurun kolesterol untuk mengatasi hiperkolesterolemia di kalangan pasien ternyata masih banyak yang keliru.  Survei terbaru berskala Asia membuktikan, hampir 70 persen pasien di Indonesia gagal mencapai sasaran dalam menurunkan kadar kolesterol mereka.

Menurut hasil studi bertajuk CEPHEUS (Centralised Pan-Asian Survey on The Undertreatment of Hypercholesterolemia), hanya 31,3 persen pasien di Indonesia yang mencapai target penurunan kolesterol, sedangkan sisanya sebesar 68,7 persen gagal menurunkan tingkat kolesterol seperti yang diharapkan.

Angka ini merupakan pencapaian paling rendah dibandingkan negara-negara Asia lainnya yang dilibatkan dalam survei. Di mata Dr M Munawar SpJP, koordinator nasional dari Indonesia, hal ini mengkhawatirkan karena artinya pengobatan kolesterol selama ini sia-sia saja.

“Kalau kita seperti ini, artinya kita ya percuma saja dalam pengobatan dalam menurunkan penyakit kardiovaskuler di Indonesia,” ungkap Dr Munawar dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (16/11).

Munawar menambahkan, dalam survei yang digelar sejak November 2008 hingga Juli 2009 ini juga terungkap, begitu banyak pasien tidak disiplin selama pengobatan hiperkolesterolemia. “Sebanyak 44 persen dari pasien menyatakan lupa minum obat. Sedangkan 54 persen dari pasien berpikir bahwa dengan lupa meminum obat, tidak akan ada efeknya. Jadi lupa sehari dua hari tidak ada efeknya padahal ini sangat penting. Untuk mencapai sasaran haruslah tiap hari,” ujarnya.

Selain itu, ditemukan pula fakta bahwa para dokter seringkali tidak mau mengubah resep bila pasien gagal mencapai sasaran dalam menurunkan kolesterol.  “Tercatat sebanyak 64 persen pasien tidak pernah berganti obat sejak menjalani pengobatan,” ujar Munawar.

Studi CEPHEUS yang dipelopori AstraZeneca melibatkan 7281 pasien dan dokter di delapan negara Asia, dan sekitar 830 di antaranya adalah dari Indonesia.  Responden penelitian ini hanya terbatas pada pasien di atas usia 18 tahun dan memiliki sedikitnya dua faktor risiko penting penyakit jantung koroner.

Pasien yang dilibatkan adalah mereka yang tengah menjalani pengobatan menurunkan kadar kolesterol baik dengan golongan obat statin, fibrat atau jenis lain, selama 3 bulan dan tidak mengalami perubahan dosis selama paling   tidak 6 pekan terakhir.

Salah satu temuan kunci dari riset ini adalah sebanyak 50,9 persen pasien di Asia gagal mencapai sasaran menurunkan kolesterol LDL (kolesterol jahat) selama menjalani pengobatan.  Pengobatan penurun kolesterol pasien juga jarang berubah sejak pertamakali diresepkan. Sekitar 25 persen pasien beranggapan bahwa tidak meminum satu tablet lebih dari satu kali dalam seminggu tidak akan memengaruhi kadar kolesterol mereka.

Kompas, 16 November 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s