Kenapa Anak-anak Bertanya “Kenapa?”


Perilaku anak-anak yang selalu bertanya kepada pada orangtua adalah hal lumrah. Pertanyaan “kenapa?” seakan tak putus-putusnya keluar dari mulut mereka sehingga orangtua kerap dibikin kelimpungan.

Menurut para ilmuwan, rentetan pertanyaan yang dilontarkan anak sebenarnya bukan untuk mengganggu orang tua. Tapi sebaliknya, pertanyaan-pertanyaan itu merupakan usaha anak-anak mencari kebenaran, dan beberapa jawaban orangtua direspon lebih baik oleh mereka.

Penemuan baru ini adalah hasil penelitian dua tahap yang melibatkan anak-anak berumur dua sampai lima tahun. Berdasarkan riset, anak-anak ternyata lebih aktif mengumpulkan pengetahuan dari yang diduga sebelumnya.

“Bahkan dari sejak dini ketika mereka mulai bertanya ‘kenapa’ dan ‘bagaimana’, mereka sedang mencari penjelasan,” ungkap kepala peneliti, Brandy Frazier dari Universitas Michigan.

Ketika anak-anak menemukan penjelasan, mereka bertanya lebih lanjut. “Peran anak-anak untuk belajar tentang dunia sekitar ternyata lebih tinggi dari yang tadinya dikira,” kata Frazier.

Namun penemuan baru ini, yang dijabarkan dalam edisi November/Desember dari jurnal Child Develepoment, belum tentu berlaku untuk semua anak-anak karena sampel yang diteliti sangat kecil.

Obrolan dari rasa ingin tahu
Riset terdahulu dari tahun 1990an mengenai perkembangan anak mengindikasikan bahwa anak-anak kecil baru menyadari hubungan antara dua kejadian di umur tujuh atau delapan tahun, dan sebelumnya mereka tak bisa membedakan antara sebab dan akibat.

Ada pula studi lainnya yang mengindikasikan hal berbeda. Sejak usia tiga tahun anak-anak ternyata sudah mengerti sebab-akibat. Yang kurang dari penelitian tersebut adalah reaksi anak-anak terhadap informasi yang mereka peroleh dari pertanyaan sebab-akibat.

Untuk mempelajari respon anak-anak pada berbagai pertanyaan, Frazier dan para koleganya mengamati transkrip percakapan sehari-hari dari enam anak, berumur dua sampai empat tahun.  Anak-anak ini berbicara pada orang tua, saudara-saudara kandung, dan tamu di rumah mereka. Hanya dengan enam anak, para peneliti menganalisa lebih dari 580 transkrip sebagai dasar penelitian. Secara keseluruhan ada lebih dari 3.100 pertanyaan sebab-akibat seperti, “Kenapa perutku besar, Ma?”; “Kenapa lampunya tak dibiarkan nyala saja?”; dan “Bagaimana ular mendengar kalau tak punya telinga?”

Hasil penelitian menunjukkan, kemungkinan anak menanyakan kembali pertanyaan yang sama bila diberi jawaban yang kurang jelas adalah dua kali lipat dibanding bila mendapat jawaban yang jelas, atau tepatnya 37 persen lebih mungkin. Dan kemungkinannya empat kali lebih besar bagi mereka untuk menyusulkan pertanyaan lanjutan bila mereka mendapat jawaban tak jelas.

Tapi hasil awal dari penelitian terpisah yang dilakukan Frazier menandakan bahwa ada juga yang namanya jawaban berlebihan. “Sepertinya anak-anak memiliki level optimal untuk detil yang menarik,” kata Frazier.

Penelitian dengan objek-objek aneh
Bagian berikutnya dari penelitian itu adalah riset melibatkan 42 siswa TK, berumur tiga sampai lima tahun, yang ketika mengobrol diberikan mainan, buku cerita, dan video. Semua benda-benda ini dimaksudkan untuk menimbulkan situasi yang mengagetkan dan mengundang pertanyaan.

Contohnya, anak-anak itu diberi sekotak krayon berwarna merah, mainan puzzle dengan bagian yang tak cocok di manapun, dan buku cerita yang menampilkan anak yang menuangkan jus jeruk ke serealnya.

Para orang dewasa yang memperlihatkan objek-objek tersebut memberikan jawaban-jawaban tertentu yang jelas dan tak jelas. Jadi, bila ada anak bertanya tentang skenario jus jeruk itu, “kenapa dia berbuat begitu?” mereka dijawab dengan jelas, “Ia mengira teko itu isinya susu,” atau dijawab dengan tak jelas, “Kalau aku suka susu untuk serealku.”

Para peneliti menemukan perbedaan mencolok pada reaksi terhadap jawaban yang jelas dan yang tak jelas. Hampir 30 persen kejadian anak-anak akan setuju, mengangguk dan mengatakan “oh begitu” ketika mendapat jawaban yang jelas. Sedangkan hanya 13 persen yang setuju terhadap jawaban yang tak jelas.

Untuk jawaban-jawaban yang tak jelas, lebih dari 20 persen kejadian anak-anak itu akan menanyakan hal yang sama. Hanya 1 persen anak yang bertanya lagi ketika sudah mendapat jawaban jelas.

Penelitian ini sebagian dibiayai oleh National Science Foundation dan Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development.

Kompas, 25 November 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s