Disiplinkan Anak dengan Negosiasi


Di antara tipe hubungan orang tua dengan anak, manakah yang menjadi pilihan kita untuk menerapkan disiplin? Apakah otoriter atau demokratis?

Dr Rose Mini A Prianto, MPsi, psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, menyarankan kita agar melakukan pendekatan demokratis saat mengenalkan displin pada anak. Bagi psikolog yang akrab disapa Bunda Mini ini, pendekatan demokratis lebih membentuk anak untuk bertanggung jawab atas setiap hal yang diperbuatnya karena anak bukanlah warga kelas dua dalam sistem kekeluargaan.

“Proses negosiasi yang terjadi di awal, membuat mereka bisa menciptakan sistem ‘alarm’ sendiri,” paparnya. Negosiasi yang dimaksud Mini adalah orang tua dan anak sama-sama mendefinisikan apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Bantu anak dengan memberi gambaran bahwa sesuatu yang tidak boleh dilakukan itu diterapkan karena merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Dari sinilah anak mengerti konsep menghargai keberadaan orang lain.

Setelah itu, lanjut Mini, diskusikan juga konsekuensi apa yang akan dilakukan ketika anak tidak berpegang pada komitmen bersama. “Disebut konsekuensi karena anak sudah diberi tahu aturannya dari awal. Jadi tidak hukuman satu arah,” jelasnya.

Adapun pilihan konsekuensi yang dapat ditawarkan adalah membatasi interaksinya pada hal-hal yang disukai. Dengan demikian anak semakin mengerti mengapa dirinya harus lebih peka mendengar “alarm” yang sudah disepakati bersama.

Kompas, 02 November 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s