Film adalah Refleksi Zaman


Tingginya antusiasme masyarakat terhadap film-film Indonesia beberapa tahun belakangan ini tak lepas dari kualitas film yang semakin baik dari segi cerita, sinematografi, juga teknis.

Seperti terbukti pada film Sang Pemimpi besutan sutradara Riri Riza yang berhasil menarik 1,2 juta penonton dalam waktu 10 hari sejak debut perdananya. Tak heran, hal tersebut jugalah yang mendorong banyak anak muda ingin terjun ke dunia film. Masyarakat pun dengan demikian juga menuntut adanya unsur pendidikan atau edukasi dalam setiap film yang digarap.

Dalam sebuah diskusi film, Senin (28/12/2009) di Museum Bank Indonesia, aktor senior Didi Petet mengatakan keharusan bahwa sebuah film harus mampu mengedukasi masyarakat justru menjadi dilema sendiri bagi penonton dan pembuat film. “Ini yang selalu menjadi dilema pembuat dan penontonnya,” kata pemeran Emon dalam Catatan Si Boy tersebut.

Apakah sebuah film harus mengedukasi masyarakat, menurut Didi, jangan hanya dibebankan kepada orang-orang film. Biarkan masyarakat yang menilai sendiri.

Film adalah refleksi dari keadaan masyarakat pada zamannya. Film tahun 1950-an tentu berbeda dengan film tahun 1990-an. Karena itu, biarkan masyarakat mengedukasi dirinya sendiri. “Film itu mencerminkan masyarakat pada zamannya. Perkembangannya bisa kita lihat lewat film. Film bisa mengungkapkan semua, latar belakang budaya, pendidikan, dan sebagainya,” ungkap pemain film yang juga menjadi dosen di Institut Kesenian Jakarta tersebut.

Lebih lanjut ia menambahkan, penonton harus cerdas dalam menonton sebuah sajian film. “Penonton harus cerdas, kita semua harus cerdas. Kalau tidak perlu ditonton ya tidak usah ditonton. Kita nonton film yang bisa membuat kita menjadi cerdas,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Lola Amaria, pemain film Betina, mengatakan bahwa dalam sebuah film, etika, estetika, dan logika sangat penting. Ia mencontohkan hal-hal yang tidak logis yang masih ada di film dan sinetron Indonesia, seperti dandan berlebihan di dalam rumah dan memakai bulu mata palsu saat sedang tidur.

Bagaimanapun masyarakat memang harus cerdas memilih film yang layak ditonton atau tidak. Namun, film tetaplah karya yang merefleksikan bagaimana keadaan di dalam masyarakat ketika itu. Kita bahkan bisa belajar sejarah dari melihat film.

Kompas, 29 Desember 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s