Kemiripan DBD dan Penyakit Lainnya


Ayah seorang penderita demam berdarah dengue (DBD) yang baru saja meninggal sempat bingung. Sebelum meninggal sudah 3 kali anaknya dibawa ke dokter dan 3 kali itu juga mendapat diagnosis yang berbeda. Hari pertama ia didiagnosis infeksi tenggorok, pada hari ketiga setelah cek darah, diagnosis berubah menjadi tifus, dan akhirnya pada hari kelima ia divonis DBD sebagai penyebab kematiannya.

Peritiwa ini sering dialami oleh penderita DBD, karena gejala awalnya mirip dengan banyak penyakit lain. Oleh karena itu, masyarakat dituntut mempunyai pengetahuan yang baik dan kecermatan yang tinggi untuk membedakan DBD dari penyakit lainnya. Sedangkan seorang klinisi atau dokter dituntut kejelian dan pemahamannya tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue; dari proses terjadinya penyakit, ketajaman pengamatan klinis, sampai interpretasi terhadap hasil tes laboratorium yang benar. Keterlambatan diagnosis berakibat keterlambatan penanganan yang berpotensi meningkatkan risiko kematian.

Gejala Bervariasi

Diagnosis penyakit DBD paling sering “tertukar” dengan demam tifoid, faringitis akut (infeksi tenggorok), ensefalitis (infeksi otak), campak, flu atau infeksi sa-luran napas lainnya yang disebabkan virus. Bahkan belakangan ini terdapat beberapa kasus yang awalnya dicurigai flu burung tetapi ternyata penyakit DBD.

Hal ini terjadi karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD sangat bervariasi. Ada yang menimbulkan gejala klinis asimtomatik atau tidak jelas, dan ada pula yang menyebabkan gejala klinis berat. Penderita DBD dapat menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, nyeri tenggorok, nyeri perut, nyeri otot atau tulang, nyeri kepala, diare, kejang atau kesadaran menurun. Gejala ini juga dijumpai pada berbagai penyakit infeksi virus atau infeksi bakteri lainnya yang menyerang tubuh.

Menurut kriteria WHO (World Health Organization) diagnosis DBD hanya dibuat berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium trombosit dan hematokrit. Gejala DB diawali demam tinggi mendadak dalam 2-7 hari (38°C- 40°C) disertai pendarahan berupa bintik perdarahan di kulit, pendarahan selaput putih mata, mimisan, atau berak darah.

Penyakit ini ditandai oleh pembesaran hati, syok atau tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, dan tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah. Pemeriksaan laboratorium juga menunjukkan penurunan trombosit sampai ku-rang dari 100.000/mm+ pada hari ke-3 sampai ke-5 dan me-ningkatnya nilai hematokrit (>40%).

Bila tanda dan gejala di atas sudah cukup jelas, maka pemeriksaan laboratorium lain untuk konfirmasi diagnosis secara umum mungkin tidak diperlukan. Pemeriksaan dengue blot IgG dan IgM, isolasi virus dan pemeriksaan serologi mungkin hanya diperlukan dalam bidang penelitian atau kasus yang sulit. Karena pemeriksaan tersebut sangat mahal dan khususnya pemeriksaan dengue blot sensitivitasnya tidak terlalu tinggi.

Beda Gejaka DBD & Tifus

Kesalahan lain, demam akibat penyakit DBD sering dianggap muncul bersamaan dengan demam akibat tifus. Kesalahan ini sering terjadi karena pemahaman yang kurang baik tentang dasar diagnosis penyakit, perjalanan penyakit, dan interpretasi laboratorium.

Pola demam pada DBD biasa-nya mendadak tinggi, terus-me-nerus tidak pernah turun dalam 2 hari pertama, menurun pada hari ke-3 dan meningkat lagi di hari ke-4 atau ke-5. Sedangkan demam pada penyakit tifus biasa-nya tinggi terutama malam hari.

Pada penderita DBD sering ditemukan juga peningkatan hasil Widal. Pemeriksaan Widal adalah identifikasi antibodi tubuh terha-dap penyakit tifus. Kejadian seperti inilah yang menimbulkan kerancuan diagnosis DBD. Padahal pada minggu awal terjadinya panas, biasanya pada penyakit tifus malah tidak terdeteksi peningkatan titer Widal tersebut.

Jadi, bila hasil pemeriksaan Widal meningkat tinggi pada awal minggu pertama, hal itu tidak harus dicurigai sebagai penyakit tifus. Pada beberapa penelitian terlihat gangguan mekanisme pertahanan tubuh pada penderita hipersensitif atau alergi sering menimbulkan hasil Widal “false positive”. Artinya positif tetapi belum tentu benar mengalami penyakit tifus.

Hal lain yang harus diketahui, antibodi Widal dapat bertahan terus pada penderita selama 6 bulan hingga 2 tahun meskipun penyakit tifusnya sudah membaik. Jadi sebaiknya, pemeriksaan Widal dilakukan menjelang akhir minggu pertama panas atau awal minggu ke dua panas.

Sejauh ini akurasi tes Widal sebagai diagnosis penyakit tifus memang masih banyak memiliki kelemahan. Diagnosis pasti pe-nyakit tifus adalah dengan peme-riksaan kultur darah, bukan de-ngan pemeriksaan Widal. Penulis telah mengadakan pengamatan terhadap 24 penderita DBD yang disertai pemeriksaan Widal yang positif. Ternyata dalam evaluasi lebih lanjut, didapatkan hasil kultur darah kuman tifus negatif. Artinya, meskipun hasil Widal positif penyebabnya bukanlah penyakit tifus.

Beda Gejala DBD & Campak

Manifestasi yang tidak biasa pada penderita DBD adalah timbul rash atau bercak kemerahan yang mirip dengan penyakit campak. Hal ini sering terjadi

pada penderita yang sebelumnya sering mengalami riwayat hipersensitif atau alergi pada kulit. Pada penyakit campak, bercak merah timbul biasanya pada demam hari ke-3 sampai 5, kemudian akan berkurang pada minggu kedua dan menimbulkan bekas terkelupas dan bercak kehitaman.

Penyakit campak harus diawali dengan keluhan pilek dan batuk mulai demam hari pertama. Sedangkan pada penderita DBD, biasanya bercak ini timbul saat hari ke-2 sampai 3. Pada hari ke-4 dan 5 bercak menghilang tanpa diikuti proses terkelupas dan bercak kehitaman pada kulit.

Beda Gejala DBD dan ISPA

Pada awal perjalanan penyakit, DBD juga sangat sulit dibedakan dengan infeksi saluran napas akut (ISPA) seperti flu, infeksi tenggorok atau infeksi lainnya yang disebabkan virus. Gejala batuk, pilek, dan demamnya hampir sama. Mungkin yang sedikit dapat menjadi perhatian adalah penyakit flu biasanya diawali dengan batuk dan pilek pada saat demam hari pertama, dan akan menghilang secara bertahap setelah 7-14 hari. Sedangkan pada penyakit DBD, biasanya timbul batuk dan pilek saat demam hari ke-3 sampai 5, lalu setelah hari ke-6 batuk drastis menghilang. Penderita DBD yang mengalami keluhan batuk atau pilek, biasanya sebe-lumnya mempunyai riwayat hipersensitif pada saluran napas atas yang sering mengalami pilek, batuk berulang, batuk lama, atau asma.

Berjaga-jaga
Hasil pemeriksaan laboratorium tertentu bukan satu-satunya konfirmasi diagnosis. Karenanya, harus diikuti dengan ketajaman pengamatan klinis dan interpretasi yang benar. Penanganan ideal suatu penyakit juga bukan sekadar “mengobati hasil laboratorium” tetapi memberikan terapi yang benar berdasarkan tanda dan gejala penyakit yang ada pada penderita.

Memang benar, bukan berarti setiap demam harus dicurigai sebagai gejala DBD. Namun dengan meningkatnya kasus penyakit DBD seperti sekarang ini, sikap berjaga-jaga sangat dibutuhkan. Artinya, meskipun tanda dan gejala DBD disertai penetapan diagnosis penyakit lain, maka sebaiknya fokus utama diletakkan pada penatalaksanaan kecurigaan penyakit DBD.

Dengan kata lain, dalam keadaan tertentu mungkin lebih baik terjadi “overdiagnosis” DBD dibandingkan “underdiagnosis”. Alasannya, keterlambatan penanganan penyakit DBD lebih fatal dibandingkan penyakit lainnya yang memiliki gejala sama.

Kompas, 21 Desember 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s