Pasca Aborsi Tetap Ada Peluang Hamil


Banyak perempuan menjalani tindakan abortus karena berbagai alasan, salah satunya belum siap punya anak. Sayangnya, setelah semua siap, baik fisik maupun mental, buah hati yang dinanti-nanti tak jua hadir. Benarkah tindakan aborsi dapat memicu infertilitas atau gangguan kesuburan?

Mira, sebut saja begitu, pernah menggugurkan kandungannya bertahun-tahun lalu karena merasa belum siap punya anak. Profesinya sebagai wartawan pemula saat itu mengharuskan dia “stand by” 24 jam sehari. Suaminya juga baru merintis karier sebagai pegawai negeri sipil di sebuah departemen, sehingga merasa akan kerepotan bila harus begadang di malam hari untuk mengurus bayi.

Karena itu, ketika di bulan kelima pernikahan mereka Mira ketahuan hamil, mereka memutuskan tidak melanjutkan kehamilan tersebut. Atas bantuan tim dokter, salah satunya dokter ahli kandungan dan kebidanan, Mira pun menjalani abortus-saat janinnya berusia sekitar dua minggu.

Kemudian, saat merasa sudah siap secara mental maupun material, dan keinginan punya anak semakin kuat, mereka belum juga dikaruniai keturunan, meski sudah mencoba berbagai terapi. Mereka juga sudah mengadopsi anak sebagai upaya memancing datangnya si jabang bayi.

Harapan pasangan suami istri ini pun akhirnya pupus, apalagi usia Mira kini sudah lebih 45 tahun dan mulai merasakan tanda-tanda datangnya menopause.

Sebelum 20 minggu
“Sebenarnya yang dimaksudkan dengan tindakan abortus dalam dunia medis adalah proses penghentian kehamilan sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu. Tindakan ini bisa dilakukan karena berbagai indikasi, misalnya dari pemeriksaan USG dan kromosom diketahui ada kelainan bawaan pada calon bayi. Bila diteruskan, akan lahir bayi cacat,” papar Dr. Frizar Irmansyah, Sp.OG-(K)Fer, konsultan fertilitas endokrinologi reproduksi di RS Pusat Pertamina, Jakarta.

Menurut undang-undang, seperti dinyatakan Dr. Frizar, keputusan atas tindakan abortus tidak boleh datang dari satu dokter. Harus ada tim khusus yang menangani pasien, termasuk di dalamnya psikolog, dan dilakukan di tempat resmi yang sudah ditunjuk pemerintah. Meski demikian, keputusan akhir tetap ada di tangan pasien.

Sayangnya, dalam keseharian, yang dimaksud aborsi adalah pengguguran kandungan dalam konotasi negatif. Aborsi biasanya dilakukan karena kehamilan yang tidak dikehendaki ini adalah hasil hubungan seksual pranikah atau di luar pernikahan.

Padahal, tindakan aborsi, baik atas dasar pertimbangan medis atau lainnya, bisa berdampak negatif pada diri perempuan. Bukan hanya dampak fisik, tapi juga mental. Dari sisi fisik, yang paling sering dijumpai adalah timbulnya gangguan kesuburan atau infertilitas seperti dialami Mira di atas.

Tiga faktor
Sejatinya, seperti dijelaskan Dr. Frizar, sesudah tindakan aborsi, tidak ada masalah bila pasien ingin hamil lagi. Juga tidak ada ketentuan harus menunggu hingga waktu-waktu tertentu.

“Pasca tindakan abortus, pasien bisa langsung hamil lagi kalau memang menginginkan. Soal apakah tindakan abortus akan berdampak pada gangguan kehamilan berikutnya, jawabannya bisa ya, bisa tidak, karena ada faktor-faktor yang memengaruhi,” ujar Dr. Frizar.

Diungkapkannya, faktor pertama adalah usia kehamilan saat dilakukan tindakan. Bila tindakan abortus dilakukan pada trimester pertama, prosesnya akan lebih mudah. Sebaliknya, bila ibu sudah memasuki usia kehamilan trimester kedua, prosesnya lebih rumit karena dokter harus memakai alat laminaria untuk membesarkan mulut rahim.

Kedua, apakah tindakan dilakukan di tempat resmi. Ini berhubungan dengan fasilitas, mencakup kebersihan dan ada tidaknya perawatan sesudah pasien menjalani prosedur itu.
Ketiga, adakah komplikasi dari tindakan, misalnya perforasi (rahim bolong), jalur rahim terluka, atau infeksi yang bisa menyebabkan perlengketan organ genitalia.

Komplikasi ini pada sebagian pasien tidak menimbulkan rasa nyeri, sehingga mereka tak merasa perlu berobat. Kondisi ini tentu akan menyulitkan pasien untuk bisa hamil lagi.

Dr. Frizar pernah menjumpai perempuan yang rahimnya bolong, juga kandung kencing, ureter, dan ususnya bermasalah setelah menjalani tindakan aborsi bukan di rumah sakit. Meski sudah dioperasi, pasien itu akhirnya kehilangan nyawanya.

Karena lebar rahim cuma 5 cm, kalau bukan dikerjakan oleh orang yang ahli dan kompeten, tindakan abortus memang berisiko tinggi. Tidak hanya masalah ketidaksuburan yang menghadang, tapi juga berbagai gangguan pada organ reproduksi, dan yang paling fatal tentunya nyawa jadi taruhannya.

Kompas, 30 Desember 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s