Sindrom Resistensi Insulin Berisiko Diabetes


Sel-sel tubuh kita membutuhkan gula (glukosa) untuk energi. Agar glukosa dapat masuk ke dalam sel, tubuh akan mengeluarkan insulin, hormon yang berfungsi seperti kunci pembuka pintu sel, sehingga glukosa bisa masuk ke dalam sel. Pada sebagian orang, sel-selnya tidak merespon insulin dengan baik. Itulah sekilas gambaran yang terjadi pada resistensi insulin.

Menurut dr. Sandra Utami Widiastuti, Sp.PD dari Diabetic & Wound Care Clinic RS.Siloam Kebon Jeruk, Jakarta, resistensi insulin merupakan cikal bakal mengapa seseorang menderita diabetes tipe 2. “Insulinnya diproduksi oleh tubuh tapi tidak bisa bekerja dengan baik,” katanya.

Obesitas (kegemukan) adalah salah satu penyebab resistensi insulin. Simpanan adiposa yang tinggi pada orang gemuk mengaktifkan paling tidak salah satu enzim, yaitu lipoprotein lipase yang meningkatkan konsentrasi asam lemak bebas dalam darah. Konsentrasi tinggi asam lemak bebas menstimulasi pelepasan sitokin seperti TNF-a (tumor necrosis factor-alpha) yang memicu resistensi insulin.

“Penurunan berat badan pada pasien diabetes, terutama yang obesitas salah satunya untuk mengurangi gejala resistensi insulin tadi,” kata dokter Sandra. Selain obesitas, pola makan cepat saji yang tinggi kalori dan lemak juga beresiko meningkatkan resistensi insulin.

Pada awalnya, resistensi insulin memang belum menyebabkan diabetes klinis karena sel beta pankreas masih dapat mengompensasi sehingga terjadi hiperinsulinemi namun kadar glukosa darah sedikit meningkat. Pada sebagian orang gula darahnya masih normal. Kemudian jika sel beta mulai kelelahan, yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa, baru timbul diabetes melitus.

Peningkatan produksi insulin, sebagai respon terhadap resistensi insulin, memicu perubahan hormon-hormon reproduksi, terutama bertambahnya hormon testoteron pada wanita. Menurut Neal D.Barnard, MD dari Universitas Washington, resistensi insulin dapat menyebabkan penyakit kista indung telur pada wanita. Kondisi ini juga menyebabkan gangguan siklus ovulasi dan ketidaksuburan.

Resistensi insulin juga berkaitan risiko penyakit kardiovaskular.  Dalam jangka panjang lonjakan kadar gula darah akan merusak pelbagai organ tubuh. Oleh karena itu mencegah resistensi insulin berarti juga mencegah komplikasi penyakit-penyakit lain.

Kompas, 14 Desember 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s