Uniknya Gitar Sasando


Jika dilihat sepintas, gitar itu tak ubahnya gitar pada umumnya. Namun ketika dimainkan, gitar tersebut mampu memunculkan bunyi yang berbeda. Irama yang keluar dari gitar tersebut mirip dengan suara yang dihasilkan sasando. Sasando adalah instrumen musik khas Pulau Rote, pulau paling selatan Indonesia, di Nusa Tenggara Timur.

Sasando dimainkan dengan cara dipetik, bentuknya pun serupa dengan alat musik gitar, biola, dan kecapi. Bedanya, sasando berbentuk tabung panjang yang biasanya terbuat dari bambu. Tidak seperti alat musik lainnya, sasando mampu menghasilkan bunyi-bunyian yang khas. Tak heran, senarnya saja ada 28, malah ada sasando yang memiliki 56 senar, bahkan 84 senar.

Lantas, apa itu gitar sasando? Gitar sasando adalah sebutan bagi gitar yang mampu menghasilkan bunyi seperti sasando. Ditemukan pertama kali oleh seorang putra Pulau Rote bernama Frans Balla. Mengapa gitar biasa dapat menghasilkan bunyi seperti sasando? Frans menjelaskan, gitarnya tersebut memiliki jumlah senar yang sama dengan jumlah senar gitar pada umumnya. Namun, dapat meng-cover senar-senar yang ada pada sasando asli.

“Kita kombinasikan bunyi sasando dengan gitar, tapi ini bunyi dasarnya sasando. Senarnya biasa aja, tapi disetelnya berbeda,” ujar Frans, ditemui seusai tampil di Festival Budaya, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu (26/12/2009). Dengan temuannya tersebut, selain bisa memainkan lagu-lagu dari Pulau Rote, Frans juga bisa memainkan lagu-lagu dari daerah lain, seperti Ambon, Papua, dan Batak.

Pertama kali ia mengaku memainkan gitar sasando sejak akhir tahun 1960-an. Karena sering mendengar ayahnya bermain sasando, Frans kecil kemudian penasaran ingin mencoba-coba sasando. Namun, sayangnya ia tak bisa leluasa bermain karena dilarang ayahnya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang teman yang sangat ahli bermain gitar. Ketika memainkan gitar sasandonya, jari-jari Frans tampak sangat luwes memetik gitar tersebut. Bahkan untuk nada C, ia hanya tinggal memetiknya dengan satu tangan hingga timbul bunyi yang sangat khas sasando.

“Santai Mbak main ini, benar-benar santai, tangan yang satu bisa buat garuk-garuk kepala atau minum kopi,” katanya.

Frans sudah cukup sering bermain gitar sasando, baik di dalam maupun di luar negeri ketika ia sedang melanjutkan kuliah di Amerika. Saat ini, Frans berencana ingin membuat hak paten untuk hasil temuannya tersebut. Sampai sekarang, Frans baru menularkan ilmunya pada anaknya. “Saya juga main gitar sasando ini di gereja,” lanjutnya. Sasando termasuk alat musik daerah yang dilestarikan. Gambarnya sering kita temui di lembar uang kertas Rp 5.000 tahun 1990-an.

Kompas, 27 Desember 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s