Depbudpar Telusuri Sejarah Pamekasan


Departemen Kebudaya dan Pariwisata (Depbudpar) melakukan penelitian situs sejarah di Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

“Penelusuran situs bersejarah ini untuk menggali dan mempublikasikan peninggalan sejarah yang ada di Madura,” kata Kasubdit Dokumentasi dan Publikasi Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Sri Suharni, di Pamekasan, Kamis.

Menurut Sri Suharni, kegiatan mempublikasikan peninggalan sejarah melalui media itu untuk memperkenal potensi masing-masing daerah yang ada di Indonesia.

“Kegiatan kali ini merupakan tahun ketiga. Sebelumnya kami juga melakukan penelusuran di Aceh, tentang peninggalan sejarah yang ada di sana,” kata Sri Suharni.

Pemilihan lokasi penelusuran sejarah di pulau Madura, karena hasil survei yang dilakukan menunjukkan, Madura banyak memiliki peninggalan sejarah sejak masa kerajaan hingga masa penyebaran Islam.

Di Pamekasan ada sejumlah lokasi peninggalan sejarah yang dikunjungi Depbudpar, yakni makam Pangeran Ronggosukowati yang merupakan makam raja Islam pertama di Pamekasan.

Makam ini terletak di Jalan Gatot Koco, Kelurahan Kolpajung Pamekasan yang berjarak sekitar tiga kilometer dari kota Pamekasan.

Di Makam itu peninggalan situs makam Ronggosukowati masih terjaga. Banyak pengunjung yang datang ke sana terutama sejak memasuki bulan suci Ramadhan.

Selanjutnya rombongan menuju langgar “gayam” di Dusum Barat, Desa Jambringin, Kecamatan Proppo. Langgar gayam  merupakan masjid kecil peninggalan adipati Aryo Damar, seorang adipati Islam pada abad ke-17.

Langgar atau tembat ibadah umat Islam sejenis musalla ini masih terlihat kokoh. Menurut juru kunci Zahid, kelengkapan bangunan yang diganti dari langgar peninggalan Adipati Aryo Damar itu hanya dinding dan atap  yang terbuat dari ilalang.

“Kalau atapnya ini setiap tiga tahun kami ganti. Akan tetapi kalau kayu dan bahan-bahan lainnya tetap, termasuk kayunya ini,” kata Zahid.

Di dekat langgar yang berusian ratusan tahun ini, juga ada situs peninggalan sejarah berupa rumah berukuran 7 x 12 meter.

Di dalam rumah itu terdapat dua  Alquran bertuliskan tangan dan terbuat dari kulit. Juga tempat tidur kuno yang biasa digunakan jaman dulu serta dua buah tombah berikut satu buah tempat penyimpanan senjata.

“Ini memang seperti ini kondisinya, kami tidak pernah menggantinya,” kaya Yasin, penghuni peninggalan itu.

Menurut sejarawan Pamekasan Sulaiman Sadik, di Madura memang sudah menjadi tradisi, masing-masing warga memiliki langgar atau “kopung”.

“Langgar”  ini menurut dia, memiliki banyak fungsi. Selain sebagai tempat ibadah, juga sebagai tempat menerima tamu.

Kunjungan terakhir rombongan Desbudpar adalah ke pasarean Batu Ampar yang juga terletak di wilayah Kecamatan Proppo. Di pasarean ini terdapat makam para ulama penyebar Islam di Madura.

Kompas, 11 September 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s