Patung Peninggalan Majapahit Hilang di Pamekasan


Patung peninggalan umat Budha pada masa kerajaan Mahapahit yang ditemukan warga Desa Candi Burung, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, akhirnya hilang.

“Dulu yang menemukan patung itu bernama Dul Ahmad di lokasi bekas pembangunan candi,” kata Halifah (58) warga Desa Candi Burung, Minggu.

Patung yang ditemukan itu dua buah. Diperkirakan memang merupakan patung peninggalan umat Budha dulu saat akan membangun candi di desa tersebut.

Oleh warga setempat, dua patung temuan Dul Ahmad itu berupaya dipindah, akan tetapi sebagian warga tidak setuju karena di tempat patung yang ditemukan itu memang merupakan bekas bangunan candi.

“Katanya itu merupakan situs sejarah. Karena bekas bangunan candi yang ada di sini ini konon dibangun pada maha kerajaan Mahapahit dulu,” tutur Halifah.

Keinginan warga memindah dua buah patung tersebut, karena sebagian tokoh agama yang ada di wilayah Kecamatan Proppo tersebut khawatir bisa membuat masyarakat beralih kepercayaan.

Menurut cerita yang berkembang di sana, sebelumnya ada warga yang berupaya membuang patung tersebut, akan tetapi tidak bisa.

Dul Ahmad sendiri menemukan patung kuno itu melalui petunjuk mimpi, bahwa di bekas bangunan candi di desanya itu ada dua buah patung yang terpendam dan harus digali.

Sejarawan Pamekasan, Sulaiman Sadik menyatakan, wilayah Kabupaten Pamekasan memang pernah berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit, sebelum Islam masuk ke Madura.

Sedangkan desa Candi Burung sendiri, terekam dalam sejarah termasuk sebagai pusat pengembangan agama Hindu di Pamekasan. Sehingga di wilayah tersebut ada situs candi.

Diperkirakan Candi yang ada di desa itu pada sekitar abad ke-16 masehi, awal masuknya ajaran agama Islam ke Pamekasan.

“Disana itu memang ada situs bangunan candi yang gagal dibangun dan gagalnya pembangunan candi menjadi nama sebuah desa, yakni Candi Burung,” katanya.

“Burung” merupakan istilah bahasa Madura yang artinya adalah gagal. Gagalnya pembangunan candi di Desa Candi Burung tersebut, karena pada saat yang bersamaan, ajaran agama Islam juga mulai menyebar luas di Pamekasan yang juga berpusat di wilayah Kecamatan Proppo, yakni di Desa Jambringin.

Hal ini, terang Sulaiman Sadiq ditandai dengan adanya situs “Langgar” yakni sejenis musalla dan menjadi tempat ibadah umat Islam di rumahnya masing-masing akan tetapi terbuat dari kayu. Langgar itu bernama langgar Gayam.

“Kalau akhirnya ada warga yang menemukan patung di sekitar lokasi candi, itu jelas merupakan patung umat Budha pada masa kerajaan Majapahit dulu,” katanya.

Menurut Suheb, salah seorang aparat desa setempat, sejak patung itu ditemukan oleh warga bernama Dul Ahmad, patung tersebut tidak diperhatikan sama sekali. “Wong masyarakat di sini sudah berpikir tidak ada gunanya,” terang Suheb.

Kompas, 05 Oktober 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s