“Perempuan adalah Pilihan Dewata”


Apakah makna Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember di Indonesia bagi kaum perempuan? Apakah sejak Kongres Perempuan Indonesia I pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta lalu kaum perempuan telah menikmati kemajuan jaman dengan teknologi komunikasi dan internet, jalan laying atau mal-mal mewah?

Di pinggiran kota, di desa-desa bahkan di daerah terpencil Indonesia, apakah kaum perempuan tahu dan peduli bahwa 22 Desember adalah Hari Ibu? Mereka tak pernah hadir dalam upacara dan seremoni yang diadakan organisasi perempuan di kantor-kantor pemerintah atau perusahaan terkemuka. Mereka juga tak mengenakan kebaya atau ceramah tentang hak-hak  perempuan Indonesia. Namun mereka tetaplah Ibu, seperti yang diungkapkan dalam setiap peringatan Hari Ibu.

Apa kaitan ketidaktahuan mereka, seperti halnya banyak perempuan Indonesia tentang hak dan Hari Ibu dengan Sastra Reboan ke-21 yang digelar di Warung Apresiasi, Bulungan kemarin (23/12)? Penampilan musik, teaterikal, musikalisasi puisi, pembacan cerpen da puisi tersaji bagi para pengunjung yang telah kenyang dengan berbagai persoalan ketidakadilan dan nasib perempuan Indonesia.

Pagelaran rutin setiap Rabu di akhir bulan yang diadakan oleh Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam) kali ini bekerjasa sama dengan Peace Women Across the Globe (PWAG) dengan mengusung tema “Kembali ke Awal”. Ketua PaSar MaLam, Johannes Sugianto dan aktivis PWAG Indonesia, Olin Monteiro membuka acara dengan sambutan singkatnya.

Coba disimak apa yang dikatakan penyanyi Trie Utami sebelum melantunkan suaranya diiringi sahabatnya, Dian HP. “Sudah saatnya menyebut diri kita sebagai manusia perempuan, tak sekedar perempuan. Saya pikir semua perempuan di muka bumi ini adalah pilihan dewata”, katanya. Kedua sahabat ini telah membentuk Duo Kumari dan akan meluncurkan album “Kumari untuk Perempuan”. Kumari berasal dari bahasa Tibet yang berarti “pilihan dewata”. Duo ini tak sekedar duet musical tapi ingin banyak menyuarakan tentang kehidupan dan keperempuanan, termasuk di dalamnya persoalan kemanusiaan, lingkungan hidup dan anak-anak.

Sebelumnya, di tengah acara, sekelompok perempuan yang merupakan penggiat Sastra Reboan, Dorsey Silalahi, Eva Budiastuti, Weni Suryandari, Fitri Yuliana dan Kirana Kejora tampil cukup memukau dengan pembacaan puisi karya masing-masing tentang sosok Ibu. Penampilan mereka dibuka oleh nyanyian gadis cilik, Nissa membawakan lagu “Bunda” diiringi biola oleh kakaknya, Fachry Bagus Pratama yang berulang kali mengundang tepuk tangan meriah.

Sastra Reboan #21 yang dipandu oleh MC Novia Astriani dan Weni Suryandari, setelah sambutan singkat Pasar Malam dan PWAG menampilkan pembacaan puisi oleh Agrita Widiastuti, mahasiswi Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Indonesia berjudul “Nama Saya Nurmala”. Dilanjutkan oleh Aksara (Aktualisasi Seni Sastra) Sekolah Tinggi Administrasi Negara yang membawakan puisi Sapardi Djoko Damono.

Aktivis perempuan, Debra Yatim menunjukkan kebolehannya sebagai penyair yang berpengalaman dengan membawakan satu puisinya. Penggiat pada Yayasan Visi Anak Bangsa, Yayasan Bustanus Salatin dan Yayasan Leuser Internasional ini telah menerbitkan 3 buku. Dilanjutkan oleh arek-arek Suroboyo, Gita, Nisa, dan Nawi dengan musikalisasi puisi “Pesan Seorang Ibu” dan “Untukmu Bunda”.

Reda Gaudiamo yang dikenal sebagai penyanyi dalam musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono kali ini tampil membacakan petikan kumpulan cerpen “Pengantin Baru” dengan tiga judul yaitu “Anak”, “Teman dan Bukti Cinta”. Dilanjutkan oleh penyair yang juga host “Panggung Gaul Sastra” di TVRI, Aurelia Tiara Wijanarko membaca satu puisinya sebelum aksi teaterikal oleh Febi Hakim.

Malam makin merangkak. Suasana di seputar panggung terasa gerah dengan membludaknya pengunjung yang lebih dari 100 orang. Tampak di deretan bangku beberapa penulis seperti Slamet Widodo, Saut Poltak Tambunan, Teguh Esha, Kurniawan Junaedi, Sinta Miranda, Helga Worotitjan, Gemmi Mohawk, Jodhi Yudhono serta para penulis lainnya dari berbagai komunitas sastra seperti Bunga Matahari, Apresiasi Sastra dan kemudian.com. Di tengah acara, MC membagikan door prize berupa buku-buku novel dan kumpulan cerpen sumbangan dari Penerbit Akoer.

Thinkerbell, grup musik perempuan yang terdiri Tere, Fia dan Ika tampil cantik membawakan dua lagunya. Pengunjung larut dalam permainan ketiga perempuan cantik yang kali ini dibantu pemain bass laki-laki. Thinkerbell adalah gabungan dua  kata. Thinker yang dalam bahasa Inggris berarti Pemikir, dan belle  dalam bahasa Perancis artinya perempuan.

Usai musik, penyair Sinta Ridwan diiringi Jabir menampilkan sebuah puisi. Keduanya baru saja tiba dari Bandung. “Lelah karena kesasar dan macet terobati dengan suasana meriah yang ada di Sastra Reboan. Penasaran, pengen tampil lagi”, kata Sinta Ridwan yang sedang menempuh program master di Universitas Padjadjaran. Perempuan lainnya, seorang cerpenis Susy Ayu kemudian tampil membacakan sebuah puisi karyanya sendiri berjudul “Air Mata”.

Setelah penampilan musikalisasi puisi oleh penggiat Arena Studi Apresaiasi Sastra (ASAS) Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, artis dan model cantik, Ine Febrianti membacakan dua puisi. Suaranya mantap membawakan baris demi baris. “Saya merasa senang bisa tampil di sini”, ujarnya. Hal yang sama dikemukakan oleh Indah Ariani, editor sebuah majalah wanita yang membawakan puisi “11 Juli” karya Oka Rusmini.

Di penghujung acara, saat Trie Utami berbicara tentang wanita dan Duo Kumari disaksikan Dian HP yang sedang mempersiapkan alat musiknya, ia mengundang Netta Kusumah Dewi, penyanyi yang belakangan menulis bahkan menerbitkan kumpulan puisinya “Catatan Harian”. Netta membawakan sebuah puisinya.

Pengunjung yang masih memadati berbagai sudut Wapres kemudian benar-benar terpuaskan oleh penampilan Duo Kumari yang membawakan dua lagu yaitu “Perempuan” “Anak-anak Dunia” yang menceritakan tentang kebersamaan dan keberagaman.
Waktu hampir menunjuk pukul 23.00. Pengunjung seperti enggan beranjak. Ada yang bergegas menghampiri Trie Utami, Dian HP atau Netta untuk sekedar foto bersama. Sampai bertemu di Sastra Reboan di tahun baru mendatang. (dung)

Kompas, 25 Desember 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s