Aris Riyadi: Asyiknya Belajar Sejarah Lewat Kartun!


Keinginan besar supaya para siswa lebih mencintai sejarah, Aris Riyadi, guru sejarah dari SMPN 4 Widodaren, Ngawi, Jawa Timur, melahirkan inovasi baru dalam mengajar. Aris menggunakan media kartun, yang digerak-gerakkan dan didialogkan di depan kelas.

“Saya menggerak-gerakkan gambar dan meniru suara-suara tokohnya, jadi seperti berlakon,” ujar Aris, yang baru saja meraih Juara I Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) XVII bidang IPSK tingkat SMP yang digelar oleh LIPI.

Berbekal kegemarannya menggambar kartun sejak semasa sekolah, Aris mengaku memberanikan diri untuk membuat media ini. Dia menggambar kartun menyerupai tokoh sejarah di kertas yang ditempel di gabus.

Kompas, 12

Di bawah gabus, Agus merekatkan kayu sebagai pemberat. Agus kemudian menambah alat bantu lainnya untuk menggerak-gerakkan. Sampai saat ini, kata Agus, ia sudah memiliki tiga seri kartun peristiwa sejarah Indonesia yaitu peristiwa ’10 November 1945′, proklamasi dan pascaproklamasi, hingga peristiwa di tahun 1949.

“Saat ini belum semua cerita sejarah yang dibuat kartun karena waktunya belum ada, masih dalam tahap penelitian. Baru setahun lalu saya memulai¬† metode ini,” ujar Aris. “Tapi saya punya cita-cita, semua peristiwa sejarah Indonesia bisa dibuatkan kartunnya,” lanjutnya.

Aris mengakui, siswa-siswi yang tadinya tidak menyukai sejarah, kini perlahan mulai suka dan menyenanginya.

“Sangat-sangat signifikan karena dengan pembelajaran kartun gerak ini mereka jadi lebih menyukai sejarah dan menambah nasionalisme mereka,” aku Aris. “Nilai mereka juga meningkat, kalau mereka senang pasti akan lebih giat lagi belajar sehingga nilainya pasti naik,” jelasnya.

Manfaat lainnya, para siswa juga turut aktif dalam media pembelajaran ini. Mereka juga diberi tugas untuk membuat kartun dengan menggunakan teks dan bahasa mereka sendiri sebagai bahan presentasi.

“Saya membuat ini agar siswa lebih kreatif, tidak terpaku oleh buku, dan imajinasinya bermain sendiri,” ujar Aris.

Namun, untuk membuat media ini, Aris mengeluarkan biaya sendiri. “Saya membuat sendiri, meneliti sendiri, untuk murid saya,” aku Aris.

Sampai saat ini, Aris sudah mensosialisasikan media kartun bergerak ini di Kabupaten Ngawi, tempat asalnya. Para guru juga antusias dan tertarik untuk menggunakan metode ini di kelas mereka.

“Saya sudah mulai memberikan pembinaan ke guru yang lain,” ujar Aris.

KKompas, 12 Agustus 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s