Lebih PD Setelah Punya Keterampilan


Begitu lulus SMA pertengahan tahun lalu, Rinzani (17) tidak bisa segera bergegas untuk mempersiapkan diri menjadi mahasiswa. Meski ingin, kondisi ekonomi keluarga membuat remaja putri asal Desa Haruman, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut itu tidak bisa melanjutkan kuliah.

“Bapak saya pensiunan tentara dan sudah lama sakit-sakitan. Untuk biaya SMA saja, saya banyak dibantu kakak-kakak. Kalau kuliah, biaya dari mana?” kata bungsu dari empat bersaudara ini, Sabtu (16/5) lalu.

“Keinginan untuk mandiri bahkan menambah pendapatan keluarga mendorong Ririn panggilan akrabnya- untuk mencari pekerjaan. Namun, hanya memiliki ijazah SMA dan tanpa keahlian khusus, Ririn belum berhasil menerobos persaingan mencari kerja. Saya sudah melamar ke beberapa perusahaan, tapi belum ada panggilan,” kata Ririn.

Hal serupa dialami Febi (17) yang berasal dari Karawang. Febi sempat melamar ke sebuah perusahaan garmen.

&q uot;Tapi, karena lalu lintas macet, saya terlambat datang ketika wawancara. Akibatnya, saya tidak diterima kerja di tempat itu,” kata Febi.

Asep Gojali (17) juga mengalami masalah serupa. Asep memang sempat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi setelah mendapat kesempatan beasiswa dari sebuah lembaga. Sayangnya, putra pertama sebuah keluarga petani di Karawang ini tidak lolos ujian. Ia pun sibuk mencari kerja dan belum juga berhasil.

Berbeda halnya dengan Yudha (22) yang juga berasal dari Karawang. Lulus dari sebuah SMA di Karawang lima tahun lalu, Yudha sempat bekerja di beberapa tempat. Tapi, semuanya belum memuaskan baik dari segi jenis pekerjaan maupun pendapatan. Hanya dengan ijazah SMA, kemana-mana dapatnya pekerjaan kuli, kata Yudha.

Dalam kebuntuan itu, Februari lalu Ririn, Febi, dan Yudha mendapat informasi untuk mengikuti seleksi program magang di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta. Setelah menjalani serangkaian tes di daerah masing-masing, ketiganya dinyatakan lolos. Mereka pun berangkat ke Jakarta untuk bergabung dengan tujuh remaja lain yang juga terjaring dalam program serupa.

Sejak bulan Maret, sepuluh remaja ini pun sibuk dengan pelatihan ketrampilan di bidang perhotelan. Senin hingga Jumat, mereka sibuk menjalani pelajaran di kelas dan praktik langsung di lapangan. Pada hari Sabtu, sehari penuh mereka praktik di bagian masing-masing.

“Setiap hari, kami harus membuat laporan kegiatan dalam hari itu dalam bahasa Inggris,” kata Febi. Hari Minggu pun belum tentu mereka bisa istirahat penuh. Sesekali pihak pengajar membawa mereka berkunjung ke tempat-tempat yang bisa menambah wawasan dan pengetahuan.

“Tantangannya berat. Kami menghadapi situasi yang benar-benar berbeda dan banyak orang baru,” kata Ririn. Ririn dan Febi bahkan sempat shock dengan keharusan memakai sepatu dengan hak yang sebenarnya tidak terlalu tinggi. “Pertama memakai (sepatu ini) kaki lecet-lecet,” kata Febi.

Dalam waktu tiga bulan, peserta secara bergantian mendapat pelatihan intensif di bagian food and beverage, kitchen, dan house keeping. “Setiap dua bulan, kami pindah bagian. Jadi setelah selesai magang, kami sudah berpengalaman di semua bagian,” kata Ririn.

Ia pun bersemangat menceritakan pengalaman belajarnya di bagian house keeping. “Di awal-awal belajar menata tempat tidur, saya pernah butuh waktu sampai 50 menit. Padahal, seharusnya 15 menit sudah selesai,” kata Ririn.

Namun, beratnya pelatihan tidak membuat mereka menyerah. “Magang di sini merupakan kesempatan yang sangat berharga. Saya belum tahu mau ke mana setelah lulus magang. Mungkin saya akan kembali ke Bandung. Setidaknya saya sudah punya ketrampilan,” ujar Rispan Agustiawan (19).

Pembekalan ketrampilan dan wawasan memang menjadi tujuan utama dari program yang oleh penyelenggaranya diberi nama Youth Career Development Program (YCDP) ini.

“Setelah selesai magang, mereka tidak wajib bekerja di hotel ini. Mereka bisa bekerja di mana saja dan di bidang apa saja. Namun, dengan ketrampilan ini, kami berharap mereka punya posisi tawar yang lebih baik dalam persaingan kerja,” kata Wawan Julia, Education Coordinator Sari Pan Pacific.

Sejatinya, ini bukan program baru bagi Hotel Sari Pan Pacific. Program ini diawali tahun 1995 oleh Pan Pacific Bangkok, Thailand, dengan dukungan Unicef lalu diikuti Pan Pacific Philiphina. Pan Pacific Indonesia baru mulai menggelar program ini di tahun 2003 dan setiap tahun rutin dilaksanakan. Untuk seleksi, mereka bekerja sama dengan lembaga luar yang menjadi mitra.

Tahun ini, mereka bermitra dengan lembaga Save The Children yang kemudian memilih untuk melakukan seleksi di daerah-daerah kantung pengangguran di Jawa Barat. “Kami berharap, program serupa bisa diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan,” kata Wawan.

Ia mengakui, biaya yang dikeluarkan perusahaan memang cukup besar. Sebab, membebaskan biaya pendidikan, perusahaan juga menanggung biaya hidup sehari-hari para peserta.

“Sebenarnya, biaya tidak akan terlalu menjadi masalah bagi perusahaan ketika pemerintah ambil bagian dalam program serupa. Dengan sistem ini, beban biaya bisa dibagi antara perusahaan dengan pemerintah. Lagipula, bentuk program tidak harus persis. Perusahaan bisa membuat program sesuai kemampuan anggaran mereka,” kata Wawan.

Kompas, 20 Mei 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s