Melirik “Fashion Business”? Ya, Sekolah dululah!


Terlalu sayang menjadikan artistic make up (tata rias artistik) sekadar hobi, karena tren tata rias artistik kini semakin berkembang pesat seiring maraknya industri hiburan, baik musik dan film, televisi, maupun bisnis fesyen itu sendiri.

Demikian hal itu ditekankan oleh Ichwan Thoha, desainer yang juga seorang dosen mata kuliah Sejarah Mode Dunia di LaSalle College International, Jakarta, Sabtu (21/11). Hanya, kata Ichwan, untuk mengarah ke tujuan itu para siswi harus memperkuat kemampuannya dengan pendalaman materi yang lebih mumpuni, baik secara teori maupun praktik, di sebuah institusi pendidikan terkait.

“Banyak hal harus diperdalam dari dasar-dasar yang mereka miliki sebagai hobi, sebab industri pendukung utamanya sudah berkembang semakin melebar, mulai dari kehadiran artis-artis baru yang semakin banyak dan membutuhkan make up artist profesional, event organizer dan acara-acara hiburan, program -program televisi mulai dari musik sampai sinetron,” ujar Ichwan di sela kompetisi tata rias artistik “Ethnicity, Create Your Beauty Nature” di LaSalle College International, Jakarta, Sabtu (21/11).

Menurut Ichwan, demand terhadap tata rias artistik saat ini tak terhitung jumlahnya. Hal tersebut tentu saja membutuhkan kehadiran banyak penata rias, yang bisa berkecimpung di berbagai bidang bisnis hiburan yang berbeda-beda tersebut.

“Dengan memperdalamnya di institusi pendidikan, kemampuan mereka akan menjadi lebih konseptual, agar mereka siap terjun ke industri dengan lebih profesional dan bisa terus mengikuti perkembangan,” ujarnya.

Fashion business

Salah seorang peserta kompetisi tata rias, Janice Purnawan, mengaku ingin melanjutkan sekolah di bidang ilmu bisnis fesyen lantaran kadung mencintai hobi tata rias dan desain busana. Meski ia seorang siswi kelas III/IPS di SMU IPEKA Jakarta, dirinya mengaku tidak tertarik untuk melanjutkan kuliah di jurusan akuntansi atau keuangan.

“Selain hobi tata rias ini, aku juga sudah punya butik busana, jadi ke depan itu aku ingin mengambil kuliah di fashion business dan bisa langsung terjun,” ujar Janice.

Janice mengatakan, menjadi seorang entrepreneur di bidang bisnis fesyen adalah cita-citanya sejak menekuni hobi tata rias dan memiliki butik sendiri. Saat ini, selain bersekolah Janice mulai belajar memasarkan busana-busana butiknya itu melalui internet.

“Kalau untuk tata rias, biasanya aku diminta merias teman yang ingin merayakan ulang tahun atau pergi ke pesta,” tutur Janice. “Dan itu semakin meyakin, kalau ke depannya bisnis fesyen itu memang cocok buatku dan bisa dijadikan bisnis,” tambah siswi yang pernah menjadi foto model sebuah perusahaan film kamera analog ketika duduk di kelas 6 SD ini.

Senada Janice, Naomi Talitha Adjani, juga mengatakan akan mengambil kuliah di jurusan fashion business tahun depan. Saat ini, lanjut Naomi, bahkan sudah melirik LaSalle College Jakarta sebagai tempatnya kelak menimba ilmu fesyen.

Siswi kelas III/IPA SMU Al Izhar, Pondok Labu, Jakarta, itu mengakui, tata rias saat ini semata hanya sebagai hobi. Datang ke kompetisi tersebut, kata Naomi, tak lebih hanya ingin memberanikan diri memperlihatkan hasil riasannya dalam sebuah lomba.

“Kalau ke depannya dijadikan penghasilan, aku sebetulnya lebih tertarik untuk terjun ke bisnis sendiri, aku ingin punya wardrobe shop,” ujarnya, yang hari itu membawa sepupunya untuk dijadikan model riasan pada kompetisi tersebut.

Kompas, 23 November 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s