Studi di Negeri Paman Sam, Bukan Sebatas Impian!


Tingginya biaya kuliah dan mahalnya biaya hidup kerap mengaburkan impian seseorang menempuh studi di Amerika Serikat (AS). Sekolah di negeri Paman Sam pun akhirnya kembali hanya sebatas impian.

Satu-satunya jalan yang dirasakan masuk akal demi menjadikan impian itu sebagai kenyataan adalah beasiswa. Setidaknya, dengan jalan inilah, yang hanya bermodalkan nilai akademis dan kemampuan diri lainnya, kenyataan itu bisa terwujud. Karena memang, AS pun tak ubahnya negara lain seperti Jepang, Australia, Jerman, Inggris, ataupun Belanda, yang memberikan beasiswa bagi siapapun yang bermimpi melanjutkan studi di negaranya.

Secara umum terdapat dua jalur untuk memperoleh biaya studi di AS. Jalur pertama adalah melalui program beasiswa yang diberikan oleh lembaga kerjasama Indonesia-Amerika, yaitu American-Indonesian Exchange Foundation atau AMINEF. Badan inilah yang mewadahi berbagai program fulbright scholarships dari pemerintah AS, yang kerap memberikan sekitar 100 sampai 120 beasiswa pertahun kepada pelajar Indonesia untuk belajar atau mengadakan riset di berbagai disiplin ilmu di negaranya.

Terakhir, pada Oktober lalu (www.kompas.com/read/xml/2009/10/19/10432245/ini.dia.beasiswa.ke.amrik.khusus.lulusan.smasmk), AMINEF merilis Community College Summit Initiative Program (CCSIP). CCSIP adalah program beasiswa khusus untuk lulusan SMA/Sederajat yang sudah bekerja dan ingin melanjutkan kuliah di tingkat Community College selama 1 sampai 2 tahun di AS.

Selain itu, program beasiswa lainnya seperti Hubert H. Humphrey 2010/2011, misalnya. Beasiswa ini ditawarkan kepada para profesional tingkat-menengah di Indonesia. Batas pendaftarannya bahkan sampai 31 Mei 2010 mendatang seperti yang sudah dituliskan di www.kompas.com/read/xml/2009/10/21/11221828.

“Lubang Jarum”

Kasarnya, studi dengan fasilitas beasiswa, khususnya fullbright scholarships, bisa dikatakan “belajar ke luar negeri hanya bermodal dengkul”. Istilahnya, pergi ke AS tinggal membawa badan, karena semuanya sudah terjamin sejak berangkat sampai kembali pulang ke tanah air. Konsentrasi cuma tinggal pada studi dan keberhasilan studinya.

Tetapi, ya begitulah. Namanya dibiayai “semua-muanya”, perburuan terhadap beasiswa ini pun menjadi sangat tinggi dan dijamin persaingannya ketat sekali. Bukan tidak mungkin mendapatkannya, tetapi juga belum tentu seratus persen bisa memerolehnya. Istilahnya, perbandingan untuk penerima beasiswa ini adalah satu berbanding seribu pesaing yang harus bisa disingkirkan.

Sejatinya, persaingan itu tentu jangan dianggap sebagai penghambat. Ia hanya sebuah “lubang jarum”, yang membutuhkan banyak keahlian dan syarat untuk bisa dijadikan modal untuk melewatinya.

Alhasil, modal akademis yang tinggi tidak cukup dijadikan andalan melalui aral tersebut, melainkan juga unsur tambahan lainnya seperti keikutsertaan dalam organisasi kampus atau non kampus. Di sinilah nilai jual Anda kerap diperhitungkan dan bisa menambah kredit poin dalam persaingan.

Kerja atau ongkang kaki

Jalan kedua adalah beasiswa yang diberikan oleh universitas bersangkutan. Jalur ini tak ubahnya dengan jenis pertama. Hanya saja, pihak pemberi beasiswa adalah langsung dari universitas.

Sulit? Tidak. Karena tanpa membutuhkan perantara atau lembaga lain untuk mendapatkan beasiswa, pelamar bisa langsung mendaftarkan diri ke sekolah yang diminatinya. Bentuk beasiswanya pun biasanya beragam seperti Teaching Assistanships (TA), Research Assistanships (RA), atau Fellowships.

TA dan RA lebih menyerupai beasiswa kerja. Penerima kedua beasiswa ini akan disyaratkan bekerja di kampus selama 12-20 jam dalam sepekan. Tetapi, lamanya waktu bekerja itu pun bukan sebuah harga yang tidak bisa ditawar, karen semuanya kerap bergantung pada keputusan dosen atau profesor dari universitas.

Beruntungnya lagi, penerima TA, RA, atau Fellowships akan memeroleh uang bulanan plus biaya kuliah yang juga sudah dibayarkan oleh pihak manajemen universitas, kendatipun sebetulnya tidak selalu begitu. Sebab biasanya, ada jenis-jenis biaya yang memang ditanggung, ada pula yang tidak. Semua itu bisa ditanyakan langsung ke pihak universitas yang bersangkutan.

Sesuai namanya, “pekerjaan” bagi para penerima TA akan berkisar pada hal-hal untuk membantu dosen dalam mengerjakan tugas-tugasnya terkait perkuliahan, mulai dari mengoreksi tugas kuliah, hasil ujian mahasiswa, sampai menyiapkan ruang kuliah atau ruang praktikum.

Sementara di saat liburan summer, yang umumnya pihak universitas tidak membuka kelas, para penerima TA pun kerap ikut menikmati liburan. Di musim inilah mereka bisa mencari pekerjaan sampingan lain, mengingat di masa liburan ini biasanya tidak akan memeroleh bayaran sepeser pun. Bahkan, jika memang cukup punya uang, pulang kampung diperbolehkan.

Sementara itu, khusus “pekerjaan” bagi penerima RA akan lebih banyak berkisar pada pekerjaan membantu riset atau proyek-proyek yang sedang dikerjakan oleh profesor dari universitas. Tugasnya penuh dengan kegiatan untuk membantu kelancaran profesor mengerjakan riset dan proyek penelitiannya, mulai pekerjaan di dalam laboratorium, membuat analisa data, menulis laporan, menyertai studi lapangan, dan sebagainya.

Tidak perlu kuatir, kendatipun biasanya proyek penelitian ini memakan waktu hingga setahun, gaji bulanan akan tetap dibayarkan pada saat liburan summer. Plus, satu kelebihan lainnya. Pengalaman sebagai asisten profesor ini dapat dijadikan sebagai tambahan pengalaman kerja di dalam curriculum vitae untuk melamar kerja atau keperluan lainnya.

Nah, bagaimana dengan penerima fellowships? Boleh jadi, inilah bentuk beasiswa yang tergolong paling santai. Umumnya, pemberi fellowships tidak mewajibkan penerimanya untuk bekerja sekian jam perminggu. Kerja si penerima cukup ongkang-ongkang kaki menunggu kiriman uang dan belajar yang tekun agar nilai akademisnya selalu bagus.

Beruntungnya, pihak universitas pun memberlakukan aturan main yang lebih dinamis. Kerap, setelah penerima beasiswa ini lulus kuliah, mereka tidak diwajibkan untuk lantas pulang kampung. Kesempatan ini biasanya dimanfaatkan para penerima beasiswa untuk menjajal nikmatnya meraup dolar negeri Paman Sam. Berniat kembali melanjutkan sekolah pun sangat dimungkinkan.

Memang, soal saingan, karena melamar langsung ke universitas yang bersangkutan, jumlahnya tidak sebanyak seperti mendapatkan fulbright. Kendati begitu, “lubang jarum” tetap harus dilewati, sebab persaingan akan muncul dari para pelamar beasiswa yang berasal dari berbagai negara lain. Tidak terkecuali, pesaingnya adalah dari para pelajar AS itu sendiri.

Kompas, 16 November 2009

Iklan

Satu pemikiran pada “Studi di Negeri Paman Sam, Bukan Sebatas Impian!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s