2010,Tahun Kecemasan?


TAHUN 2009 telah kita lewati dengan catatan sejumlah capaian. Ekonomi Indonesia tumbuh positif di atas 4% bersama sejumlah negara lain yang bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.

Kemampuan Indonesia berselancar di tengah krisis ekonomi global yang mendera sejak paruh kedua 2007 juga mendapat pengakuan luas. Indeks bursa efek yang melejit lebih dari 85% sepanjang 2009—meski belum menyamai rekor tertinggi sebelum krisis—setidaknya juga mencerminkan musim semi rasa optimis di kalangan pelaku usaha. Sejumlah ketakutan berlebih yang menghantui 2008 juga terbukti tak terjadi.Kita masih ingat, misalnya, saat terjadi perdebatan soal urgensi penyelamatan Bank Indover, Oktober 2008.

Pada saat itu krisis benar-benar dianggap sebagai hantu menakutkan,sehingga Bank Indonesia mendesak pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat agar menyetujui rencana penambahan modal bagi Indover, karena kalau dibiarkan akan lahir dampak negatif yang mengganggu kelancaran transaksi keuangan, perdagangan, kestabilan perbankan dan perekonomian nasional. Ketika setoran modal untuk Indover tidak dilakukan sesuai tenggat waktu (30/10/2008) dan bank ini dinyatakan bangkrut (forced liquidation) dampak yang semula dikhawatirkan ternyata tidak kita rasakan.

Keputusan sama yang dilakukan terhadap Bank IFI (17/4/2009) juga hanya menimbulkan riak yang jinak.Ekonomi kita ternyata cukup tahan banting. Menjelang 2010 energi insani kita sebagai bangsa tiba-tiba tersita untuk mengukuhkan kembali komitmen dalam memerangi korupsi. Kasus ”cicak lawan buaya” dan kasus Bank Century ternyata menggeser perhatian kita terhadap arti penting kesepakatan dalam Rembuk Nasional (National Summit) dan Program 100 Hari Kabinet Indonesia Bersatu II. Kasuskasus yang semula kita bayangkan dapat diselesaikan secara cepat dan tegas, ternyata berlarut-larut dan menambah komponen ketidakpastian dalam perjalanan bangsa ke depan.

Ketika kita mulai lelah menatap dan memahami apa yang sedang terjadi, tiba-tiba kita disadarkan bahwa mulai 1 Januari 2010 kesepakatan perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN dan China sudah berlaku. Kita seperti dibangunkan dari keterlenaan setelah para pengusaha nyaris berteriak bahwa mereka sebentar lagi akan menjadi mangsa empuk para industriawan China.

Dalam soal globalisasi dan liberalisasi ekonomi sesungguhnya kita bukan bangsa yang naif. Pada saat kita menjadi tuan rumah pertemuan APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation), 1994, kita mendapat pujian sebagai salah satu negara berkembang yang cukup sukses melakukan strategi penyesuaian terhadap tuntutan persaingan global.Meski rasa percaya diri kita sedikit berkurang akibat empasan krisis 1998,kita belum kehilangan antusiasme sebagai negara berkembang yang memiliki ambisi ikut menarik manfaat maksimal dari arus keterbukaan ekonomi. Dengan kata lain, saat kita membuat kesepakatan dan menyetujui jadwal pemberlakuan kerangka pasar bebas,modal kita bukan nekat semata.

Para petinggi dan diplomat kita sudah berhitung soal untung-rugi dari suatu pasar bebas. Benar kita akan dirugikan untuk sejumlah subsektor,tapi kita juga akan diuntungkan pada subsektor yang lain. Dalam tempo 20 tahun terakhir China secara konsisten memang muncul menjadi kekuatan ekonomi raksasa. Ini juga sudah kita antisipasi. Bahkan dalam banyak ulasan, kita sering dianggap memiliki banyak kesamaan dengan China dan India, seperti memiliki pasar domestik yang besar, mengandalkan nilai tambah dari armada tenaga kerja yang besar,berangkat dari industrialisasi berbasis pertanian, dan berada pada tahap perkembangan kemampuan teknologi yang sebanding.

Yang sedikit meleset dari perhitungan kita, dalam pacuan untuk menekan ekonomi biaya tinggi tampaknya China lebih berhasil dibanding kita. Kita sudah bicara upaya memerangi ekonomi biaya tinggi ini sejak awal 1980-an, ketika Presiden Soeharto memberi kewenangan koordinatif yang luar biasa untuk urusan investasi di bawah satu departemen. Dalam perkembangannya,pemusatan kewenangan ini terpecah-pecah lagi. Setelah kehilangan waktu cukup lama, hampir 20 tahun kita baru gemar bicara soal ”pelayanan satu atap”(one-stop service) lagi.

Perbaikan prakondisi bagi peningkatan daya saing kita juga terlambat. Dunia usaha kita terus dililit masalah yang tak kunjung tuntas, seperti persoalan infrastruktur yang parah, suku bunga yang kurang bersaing,perpajakan yang berbelit-belit, dan birokrasi yang rumit. Para pengusaha menilai, pada tingkat pabrik daya saing mereka cukup bisa diadu, tetapi di arena pasar (market place) daya saing mereka tergerogoti akibat ketidakefisienan eksternal yang bersumber pada rendahnya kualitas pelayanan pemerintah. Banyak pekerjaan rumah harus kita selesaikan di tahun-tahun mendatang.

Bila irama kerja kita seperti yang sudah-sudah, hampir dipastikan kita akan menjadi pecundang dalam globalisasi.2010 adalah tahun penentuan sekaligus tahun yang mencemaskan (annus solicitus). Rasa cemas harus kita konversi menjadi kekuatan untuk berubah, karena kalau tidak kita akan kehilangan momentum untuk meraih tahun-tahun berikut yang penuh capaian (annus gaudium). Bahkan kalau kita abai dan lalai kembali, kita akan tersingkir dari percaturan global.

Harian Seputar Indonesia, 06 Januari 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s